
Keesokan harinya, Varen sengaja meminta Rafa untuk membawa motornya. Sementara dia akan naik angkot yang sama dengan Ticia.
Pagi itu terasa begitu indah buat Varen. Untuk pertama kalinya dia memiliki seorang kekasih. Ticia adalah pacar pertama Varen. Meskipun Ticia tidak menjawab pernyataan cintanya, tapi dia beranggapan jika mereka sudah pacaran.
"Hai," sapa Varen ketika Ticia tiba di depan gerbang komplek perumahan tempat tinggalnya.
"Kok disini?" Ticia kaget melihat Varen ada di depan komplek tempat tinggalnya. Lebih penasaran saat dia tidak melihat motor Varen.
"Gue mau naik angkot bareng pacar gue," jawab Varen yang membuat Ticia tersenyum geli.
"Terus motor lo?"
"Dibawa Rafa," jawab Varen cepat.
Sekitar sepuluh menitan, angkot yang mereka tunggu baru datang. Varen lalu mengikuti Ticia masuk ke dalam angkot itu.
"Kenapa sih lo suka banget naik angkot?" pertanyaan itu yang ingin Varen tanyakan dari dulu. Ticia bukannya dari keluarga tak mampu. Bahkan di rumahnya juga ada beberapa mobil. Tapi entah kenapa dia lebih memilih untuk naik angkot ke sekolah.
"Nggak kenapa-napa, suka aja naik angkot." Memang tidak ada alasan khusus kenapa Ticia lebih suka naik angkot ke sekolah.
"Gue pernah lihat di rumah lo juga ada motor sport, punya lo?"
"Bukan, punya almarhum kakak gue, dia meninggal karena kecelakaan motor." jawab Ticia sedih, teringat kakaknya yang telah lebih dulu menghadap Sang Khalik.
"Oh, sorry, gue bukan bermaksud bikin lo sedih." Varen menarik Ticia ke dalam pelukannya. Varen tidak peduli dengan pandangan penumpang lain.
"Jangan sedih lagi! Ada gue yang nggak akan pernah ninggalin lo," imbuh Varen yang benar-benar membuat Ticia tersentuh. Sampai-sampai dia lupa kalau dia masih ada di dalam angkot.
"Yaelah pacaran di angkot, ngertiin dikit ngapa perasaan jomblo," sindir salah seorang penumpang dari sekolah lain.
Baru saat itu Ticia sadar jika dia sedang berpelukan dengan Varen di depan umum. Seketika Ticia melepas pelukannya dan mendorong Varen pelan.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah. Ticia hanya diam tanpa bersuara. Mungkin dia malu dengan kejadian barusan. Makanya dia lebih memilih diam.
Sampai turun dari angkot pun Ticia masih aja diam. Varen yang ada bersamanya menjadi tidak sabar, karena merasa dicuekin oleh Ticia.
"Yank!" Varen meraih tangan Ticia.
"Apaan sih kak?" Ticia kaget dengan tindakan Varen.
__ADS_1
"Kenapa sih diem mulu?" tanya Varen.
"Kan gue udah bilang, jangan sedih, ada gue disisi lo!" Varen masih berpikir jika Ticia sedih karena teringat almarhum kakaknya.
Padahal, alasan kenapa Ticia diam adalah karena dia merasa malu sudah memeluk Varen di depan umum tadi.
"Kak bisa nggak kakak jangan meluk gue di depan umum kayak tadi. Malu tahu nggak," ucap Ticia dengan malu.
"Oh jadi lo daritadi diam aja itu karena masalah itu?" Varen menertawakan keluhan Ticia.
"Jadi kalau nggak di depan umum boleh dong?" imbuh Varen sembari tersenyum menggoda Ticia yang sudah memerah wajahnya.
Melihat Ticia yang malu-malu membuat Varen semakin senang menggodanya. Sepanjang perjalanan menyusuri gang menuju sekolah tak hentinya Varen menggoda Ticia.
"Kenapa merah gitu wajahnya, keinget pelukan gue tadi ya? Nyaman banget kan?" godanya lagi.
"Bilang gitu terus, nanti siang gue nggak jadi nonton lo tanding," ancam Ticia dan ancaman itu berhasil.
"Jangan gitu dong, kalau lo nggak nonton ntar gue nggak semangat, kalau nggak semangat ntar sekolahan kita kalah lho," rayu Varen.
"Bodo amat.." Ticia terus saja melangkah tanpa menghiraukan rayuan Varen.
"Yank, ah,,," Varen merajuk seperti anak kecil.
"Satu lagi, jangan panggil gue yank yenk yank yenk, emang gue eyang lo?" Ticia belum menerima panggilan yank dari Varen.
"Kenapa? Lo kan memang pacar gue," Varen menjadi keras kepala.
"Sejak kapan?" Ticia protes, dia merasa tidak menerima pernyataan cinta Varen. Dan juga menolak juga.
"Sejak kemarin, buktinya sekarang lo pakai kan kalung couple dari gue, itu artinya mulai sekarang kita udah pacaran," Varen menunjukan kalung yang sama dengan yang Ticia kenakan. Kalung itu sengaja Varen berikan untuk Ticia. Dan sekarang Ticia memakainya. Betapa bahagianya Varen.
****
Ketika Ticia masuk ke dalam kelas. Baru saja dia memasukkan tasnya ke dalam laci. Tiba-tiba Tika berdiri tepat disampingnya.
"Ada waktu nggak? Gue mau bicara sama lo!"
"Ngomong aja disini!" jawab Ticia santai.
__ADS_1
"Ikut gue!" Tika menarik tangan Ticia secara paksa.
"Nggak usah tarik-tarik!" Ticia menarik tangannya.
Ticia mengikuti Tika sampai di halaman belakang sekolah. "Buruan ngomong!" ucap Ticia, karena di rasa sudah sepi.
"Lo pacaran sama Gio? Maksud gue Varen," tanya Tika.
"Nggak," jawab Ticia terus terang, karena faktanya dia juga tidak menjawab pernyataan cinta Varen.
"Gue peringatin ke lo buat jauhin dia!!"
"Kenapa? Lo takut kalah saing sama gue? Lo suka sama kak Varen?"
"Gue kasih tahu lo, semenjak dia deket sama lo, dia udah berubah bukan lagi Gio yang dulu." Tika merasa geram dengan ketengilan Ticia.
"Berubah jadi superman atau spiderman?" Bisa-bisanya Ticia masih bercanda dalam situasi itu.
"Nggak lucu!!!!!" bentak Tika kesal.
"Gue emang bukan pelawak," Ticia masih belum serius menanggapi kemarahan Tika.
Tika membululatkan matanya dengan marah. Saat itu Tika sedang tidak ingin bercanda. Tapi Ticia begitu sulit diajak bicara serius.
"Lo tahu nggak, karena lo, sekarang Gio udah tidak mau lagi gangguin teman-temannya, padahal dulu dia paling suka kalau gangguin Nathan. Dia juga udah jarang nongkrong bareng kita, itu semua karena lo." Tika berkata dengan marah.
"Bagus dong, bearti kak Varen tahu kalau gangguin teman itu adalah hal tak berfaedah. Kalau masalah dia udah jarang nongkrong, lo tanya aja ama dia kenapa, mungkin dia capek. jadi jangan nanya ke gue, karena gue nggak tahu."
"Udah ya, udah bel juga. Tanya ke kak Varen, jangan ke gue!!" Ticia berbalik badan dan meninggalkan Tika yang merasa sangat kesal. Tika beranggapan jika Ticia adalah orang yang egois.
"Gue udah nggak punya siapa-siapa lagi, gue mohon jangan rebut Gio dari gue! Tolong jauhin dia!!" ucap Tika dengan sedih.
Seketika Ticia merasa kasihan kepada Tika. Tapi dia juga tidak merebut Varen dari siapapun. Selama ini Varen yang selalu mendekati dia, dan Varen yang menyatakan cinta duluan. Lagipula Varen sendiri yang bilang kalau dia belum punya pacar.
"Seharusnya lo ngomong itu ke kak Varen!! Suruh dia buat jauhin gue!" Alasan kenapa Ticia percaya kalau Varen masih single adalah, karena Varen selalu menunjukan perhatiannya ke Ticia secara terang-terangan.
Jika benar Varen memiliki hubungan dengan Tika. Kenapa Tika tidak langsung protes saja ke Varen. Kenapa harus meminta Ticia buat jauhin Varen. Sementara bukan rahasia lagi kalau Varen yang selalu mendekati Ticia.
Meskipun Ticia menganggap biasa keluhan Tika. Tapi sebenarnya dia juga kepikiran. Apa bener Varen semakin jauh dari teman-temannya.
__ADS_1