
"Gi mama ingin melihat Rose!" pinta Dina kepada anaknya.
"Ma, jika mama mau berterima kasih sama Rose, Gio mohon jangan korbanin kebahagiaan Gio." Varen juga mengatakan hal yang sama kepada mamanya. Sama seperti papanya. Mamanya Varen terdiam mendengar permintaan anaknya.
"Iya, mama janji." ucap Dina dengan yakin.
Varen lalu mendorong kursi roda mamanya menuju ruang iccu. Dimana Rosalinda dirawat.
Dina sangat sedih melihat kondisi Rosalinda. Dia tahu Roslinda pasti tidak baik-baik saja. Karena dengan matanya sendiri dia melihat Rosalinda yang terpental sampai akhirnya tertabrak untuk kedua kalinya.
Dina mulai menangis melihat alat medis yang banyak terpasang di tubuh Rosalinda. Dalam hatinya, dia berdoa supaya Rosalinda diberikan mukjizat. Supaya Rosalinda masih memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupannya.
Ketika melihat Jane yang lemas dengan bersandar di kursi depan ruang iccu. Dina menjadi semakin sedih. Dia bisa merasakan apa yamg sedang dirasakan Jane saat ini.
Meskipun Dina tidak menyukai Rosalinda karena terus menganggu anaknya. Bukan berarti dia kehilangan rasa empati dengan apa yang menimpa Rosalinda. Apalagi, Rosalinda seperti sekarang karena menolongnya.
"Ma," Darwis melihat istrinya keluar dari ruangannya pun mulai mendekat.
"Kamu yang sabar ya Jane! Aku yakin Rose anak yang kuat." ucap Dina menyemangati Jane.
Sementara Jane hanya menganggukan kepalanya pelan. Terlihat jelas kesedihan Jane. Dia terus saja menangis membuag Darwis tidak tega meninggalkannya tadi.
"Tante Jane belum makan kan? Aku beliin makan ya!" Jane tersenyum mendapat perhatian Varen. Tapi, Jane menggelengkan kepalanya.
"Tante tidak lapar Gi," ucapnya lirih.
"Tapi kamu harus makan Jane, kamu juga butuh tenaga untuk menunggu Rose. Jangan sampai saat Rose sadar, kamu malah sakit.." sahut Darwis.
"Kamu beliin makanan untuk tante Jane, juga untuk papa, Gi!" perintah Darwis yang langsung dilaksanakan oleh Varen.
Sebenarnya sih, Varen hanya ingin keluar untuk merokok. Sudah dari siang dia tidak merokok karena harus menunggu mamanya.
Varen berjalan melewati lorong yang cukup panjang. Sebelum akhirnya dia sampai di depan rumah sakit. Varen sengaja tidak mau membeli makanan di kantin rumah sakit. Karena dia ingin merokok dulu. Jadi Varen memilih membeli makanan di warung makan yang terdapat di depan rumah sakit swasta tersebut.
Setelah habis dua batang rokok. Varen kembali masuk ke dalam rmah sakit. Sekilas dia melihat wanita yang mirip dengan kekasihnya, Ticia.
"Kayak Ticia?" gumam Varen ragu.
Varen mencari ponselnya dan ingin memastikan apakah itu benar pacarnya. Tapi sial, ponsel Varen tertinggal di kamar rawat mamanya.
Varen menduga jika Ticia datang untuk menjenguk mamanya. Sebelumnya dia udah mengirim pesan ke Ticia. Tapi hanya dibaca saja oleh Ticia tanpa dibalas.
Tapi yang Varen merasa aneh. Wanita yang mirip dengan Ticia tersebut berjalan bersama seorang lelaki. Dan Varen juga tidak asing dengan perawakan lelaki itu.
Varen yang selalu cemburu setiap kali melihat pacarnya bersama lelaki lain pun menjadi marah. Pikirannya sudah tidak karuan karena kejadian yang menimpa mamanya. Ditambah dengan rasa cemburunya.
__ADS_1
Ketika sampai di persimpangan. Lelaki itu mengambil jalan lurus. Sementara si wanita berhenti di tempat. Sepertinya wanita itu sedang menunggu seseorang. Dan, saat itu Varen melihat dengan jelas jika wanita itu benar-benar adalah kekasihnya.
Karena marah, Varen yang berjalan dari arah belakang pun hanya melewati Ticia begitu aja. Padahal saat itu, Ticia yang sudah duluan menoleh sedang menyapanya.
Merasa aneh dengan sikap Varen. Ticia mulai mengikuti Varen. "Kak, gue bawain roti buatan gue sendiri buat tante Dina." ucap Ticia dengan senang sambil menunjukan bungkusan yang dia bawa.
Akan tetapi, Varen terus saja diam. Dia tidak mengindahkan Ticia sama sekali. Terus saja berjalan tanpa menoleh.
"Kak Vava kenapa sih?" tanya Ticia bingung dengan sikap Varen yang mendadak berubah.
"Kak!!" seru Ticia menahan tangan Varen.
"Lepasin!" ucap Varen dengan sangat dingin.
"Lo kenapa sih?" Ticia semakin tidak ngerti ada apa sebenarnya dengan Varen.
"Pikir aja sendiri!"
"Gue bukan dukun ya yang bisa nebak pikiran seseorang, bahkan dukun pun nggak bisa nebak pikiran orang." Ticia tidak ngerti lagi apa yang sebenarnya terjadi.
Varen lalu menghentikan langkahnya. Lalu dia menoleh menatap Ticia yang kebingungan dengan sikapnya yang berubah.
"Lo tahu kan mama habis kecelakaan, tapi bisa-bisanya lo nggak bersimpati malah dua-duaan dengan lelaki lain." ucap Varen dengan marah.
"Jelas-jelas gue lihat lo baru aja datang kesini bareng laki-laki lain kan?"
"Nggak, gue kesini sama Anabella." sahut Ticia cepat. Dia merasa tidak datang bersama laki-laki lain.
Mendengar alasan Ticia. Varen pun tersenyum sinis. Jelas-jelas dia tidak melihat Anabella sama sekali. Bisa-bisanya Ticia beralasan seperti itu untuk menutupi kebohongannya.
"Lo pikir gue buta? Mana Anabella? Nggak ada!" bentak Varen cukup nyaring. Membuat beberapa pengunjung rumah sakit merasa terganggu. Mereka menoleh ke arah Varen dan Ticia yang sedang bertengkar.
"Udahlah," Varen menghempaskan tangan Ticia. Dia berjalan meninggalkan Ticia.
"Tunggu! Gue beneran kesini bareng Anabella, dia periksa dulu karena perutnya sakit." ucap Ticia lagi.
Memang benar apa yang Ticia katakan. Dia datang memang bersama Anabella. Tapi, tiba-tiba perut Anabella sangat sakit. Ticia menyarankan Anabella untuk periksa dulu. Sementara Ticia menjenguk mamanya Varen.
Dan, pertemuannya dengan Davin itu juga bukan disengaja. Awalnya Davin datang bersama teman-temannya. Davin datang menjenguk temannya yang juga sedang dirawat.
Tanpa sengaja dia melihat Ticia yang berjalan seorang diri. Davin lalu memperlambat langkahnya dan meminta teman-temannya untuk duluan. Sementara dia berjalan bersama dengan Ticia.
"Gue nggak butuh alasan lo. Dan lagi, mama nggak suka makan roti." ucap Varen masih dengan sangat dingin.
"Mending lo pulang! Saat ini yang mama butuhkan hanyalah Rose cepat sadar." imbuh Varen. Tentunya itu melukai hati Ticia ketika nama Rose diucap.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Ticia sudah merasakan sesuatu yang sakit dalam hatinya.
"Rose mengorbankan nyawanya untuk melindungi mama, sekarang dia dalam masih kritis." jawab Varen tanpa menyembunyikan apapun dari Ticia.
"Oh jadi ini alasan kenapa lo nyuruh gue pulang?" Ticia terbawa suasana yang panas. Dia tidak lagi bisa berpikir jernih. Sama seperti Varen yang tidak bisa berpikir jernih saat itu.
"Dia selamatin mama dan ngorbanin dirinya sendiri."
"Jadi lo udah mulai jatuh cinta sama dia?" sahut Ticia cepat.
"Belum."
"Itu artinya akan jatuh cinta kan?" Ticia menatap Varen tajam.
"Gue awalnya nggak berpikiran seperti itu. Tapi setelah gue lihat lo main-main dengan cowok lain, kenapa nggak?" ucap Varen membuat Ticia terhenyak.
"Gue tahu dia lakuin ini karena cintanya yang begitu besar ke gue, sementara apa yang udah gue lakuin, gue justru memilih wanita yang mengkhianati gue."
"Gue nggak pernah khianatin lo!" Ticia marah dengan tuduhan Varen yang tidak masuk akal.
"Gue rasa, mending kita intropeksi diri dulu!"
"Itu artinya lo mutusin gue?" tanya Ticia dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika akhirnya Varen yang memutuskan hubungan mereka.
"Yang gue butuhkan, wanita yang mencintai gue dengan tulus, yang menyayangi keluarga gue tanpa pamrih."
"Stop! Itu sama aja lo mau bilang, kalau bukan gue kan orangnya?"
"Jangan banding-bandingkan gue sama dia. Kita beda dan tidak akan pernah sama." Ticia berusaha keras menahan air matanya.
"Kalau itu mau lo, oke gue turuti. Mulai sekarang kita tidak punya hubungan apapun."
"Buat tante Dina sama lo, kalau nggak suka, buang aja!" Ticia memberikan bungkusan berisi roti buatannya sendiri ke Varen. Setelah itu Ticia balik badan meninggalkan Varen tanpa menoleh ke belakang lagi.
Baru saat itu, air mata Ticia mengalir tanpa bisa di bendung. Tidak pernah sama sekali menduga jika akhir dari cerita cintanya akan seperti ini.
Ticia berlari menuju parkiran dimana mobilnya terparkir. Buru-buru dia masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil dia menangis sejadinya.
Beberapa menit kemudian Anabella menyusul masuk ke dalam mobil. Setelah menerima pesan dari Ticia. Anabella bingung melihat Ticia yang menangis di dalam mobil.
"Lo kenapa Cia? Kenapa lo nangis?" Anabella tidak kuat melihat sahabatnya menangis seperti itu. Dipeluklah Ticia oleh Anabella.
Ticia tidak mengatakan apapun. Dia hanya menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Anabella. Dadanya terasa sangat sesak. Ingin sekali berteriak tapi suaranya tidak mau keluar. Hanya air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
Anabella yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Ticia. Ikut menangis melihat Ticia menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
__ADS_1