
Bel pulang sekolah seperti bunyi surga bagi oara siswa dan siswi. Ketika bel mulai terdengar, teriakan dan sorak sorai memenuhi sekolah. Mereka yang jenuh dengan pelajaran sepanjang hari, mulai berhamburan keluar kelas. Dengan sendau gurau mereka melepaskan ketegangan pikiran dan tubuh mereka.
"Langsung balik lo?" tanya Indah.
"Hmm," Ticia hanya bersenandung menjawab pertanyaan Indah.
"Lo nggak mau nebeng gue aja?" tanya Anabella. Kebetulan siang itu Indah pulang dengan pacarnya. Jadi Anabella bawa motor seorang diri.
"Nggak usah, gue bareng ama kak Varen aja."
"Bukannya kalian berantem ya?" tanya Anabella dengan mengerutkan kening.
Ticia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Anabella sembari masih berjalan santai menuju parkiran.
"Lo beneran nggak mau bareng gue?" tanya Anabella lagi.
"Nggak," jawab Ticia kekeh.
Ticia mencari di parkiran tapi sosok Varen belum terlihat. Akan tetapi motornya masih terparkir di tempat biasa Varen parkir.
Karena Ticia kekeh ingin bareng dengan Varen. Akhirnya Anabella pun meninggalkannya. Sebenarnya Anabella ragu meninggalkan Ticia seorang diri. Anabella takut jika ternyata Varen tidak mau memberi tumpangan Ticia karena sedang marah. Tapi melihat Ticia yang begitu yakin, membuat Anabella hanya bisa berdoa semoga Ticia tidak akan kecewa.
Saat Varen berjalan menuju motornya. Ticia pun berlari kecil menghampiri Varen. "Kak, nebeng dong!" ucapnya saat Varen hendak memakai helm. Tapi Varen juga tidak menjawab permintaan Ticia.
"Kak!!" Ticia memegang tangan Varen.
"Gue capek mau langsung pulang.." ucap Varen menggerakan tangannya supaya Ticia tidak lagi memegangnya.
"Oh, yaudah, kalau gitu gue nebeng kak Roman aja!" ucap Ticia dengan raut wajah kecewa.
"Naik!" Dengan cepat Varen menarik tangan Ticia dan meminta Ticia untuk naik ke motornya.
Diam-diam Ticia tersenyum senang. Dia sengaja bilang akan nebeng kakak kelasnya yang bernama Roman. Agar supaya Varen cemburu. Ticia tahu Varen tidak akan rela melihat Ticia berboncengan dengan pria lain.
__ADS_1
Roman sendiri adalah teman sekelas Varen yang tadi pagi menggoda Ticia di depan Varen. Dan Roman juga seorang playboy. Varen tidak mau Ticia akan luluh oleh ucapan manis Roman. Secara dia adalah playboy dengan mantan kurang lebih sebanyak 15 orang. Sudah pasti ucapannya akan sangat manis.
Perlahan Varen melajukan motornya meninggalkan sekolah. Sepanjang perjalanan Varen yang biasanya cerewet, hanya diam tanpa bersuara.
"Makan dulu yuk kak! Gue yang traktir deh!" ajak Ticia. Dia sengaja mengulur waktu supaya bisa lebih lama bersama Varen. Jadi dia memiliki kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman diantara mereka.
Tanpa menjawab, Varen melajukan motornya menuju kafe tempat biasa dia dan Ticia makan. Begitu sampai pun, Varen tidak berkata sepatah kata pun.
Ticia lalu menggandeng tangan Varen ketika mereka memasuki kafe itu. Varen sempat kaget dengan sikap Ticia yang berubah dari biasanya. Tapi karena dia merasa senang, Varen tidak berusaha menarik tangannya.
Sembari menunggu pesanan mereka datang. Ticia memanfaatkan kesempatan itu untuk menjelaskan kesalahpahaman mereka. "Kak, tadi pagi itu nggak seperti yang kakak pikir." ucap Ticia.
"Gue nggak mau bahas itu sekarang!" jawab Varen cepat.
"Tadinya gue mau bilang, akan nasehatin lo supaya nggak marah dan jauhin temen-temen lo. Dan gue juga mau bilang kalau gue nggak akan pernah jauhin lo,-"
"Udahlah nggak usah senengin hati gue kalau akhirnya lo akan jatuhin lagi!"
"Gue cuma mau jelasin itu aja, terserah kalau kak Varen nggak percaya, itu hak kakak.." Ticia sudah sedikit lega akhirnya bisa menjelaskan semuanya kepada Varen.
"Siapa bilang?"
"Siapa bilang gue nggak suka sama lo?" tanya Ticia balik.
Saat itu Varen sudah tak bisa lagi berkata. Dia hanya menatap Ticia dengan sedikit tersenyum. Varen bertanya-tanya, apa maksud dari pertanyaan Ticia barusan.
"Nggak tahu sejak kapan gue mulai merasa nyaman tiap kali dekat sama lo." ucap Ticia lagi, dan itu semakin membuat Varen merasa sangat bahagia.
"Mungkin sejak gue pakai ini," imbuhnya sembari menunjukan kalung yang ia kenakan. Kalung itu adalah kalung couple yang dibelikan Varen untuk mereka.
Senyuman mengembang di wajah Varen. Dia tidak menyangka jika Ticia akan menyatakan perasaannya. Varen tadinya berpikir jika cintanya hanyalah bertepuk sebelah tangan. Tapi setelah mendengar perkataan Ticia barusan. Dia merasa bahwa Ticia juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.
"Gue minta maaf karena udah bikin hati lo sakit,," ucap Ticia teringat ucapan Varen tadi pagi.
__ADS_1
"Lo nggak salah, cuman gue aja yang terlalu ceoat menyimpulkan apa yang baru gue denger." jawab Varen sembari meraih tangan Ticia.
"Gue terlalu takut lo bakal jauhin gue.." lanjutnya dengan lembut, sambil menggenggam tangan Ticia.
"Gue janji, gue nggak bakal jauhin lo. Karena gue juga nggak bisa jauh dari lo." Ticia dan Varen saling bertatapan. Varen sangat bahagia dan semakin erat menggenggam tangan Ticia.
"Jadi mulai sekarang kita pacaran?" Ticia menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
Varen tidak bisa menyembunyikan rasa bahaginya. Berkali-kali dia mencium punggung tangan Ticia, sambil mengatakan jika dia sangat mencintai Ticia.
"Dan untuk masalah keyakinan kita, kita jalani dulu aja ya!" pinta Varen yang sebenarnya juga bingung. Tapi cinta tidak bisa dia bohongi perasaan sendiri.
"Iya, yang penting kita saling hargai aja.." Ticia sebenarnya juga memikirkan hal tersebut. Tapi cintanya tidak bisa dia pendam. Sama seperti Varen, Ticia tidak membohongi perasaannya sendiri. Bahwa dia telah jatuh cinta kepada lelaki yang berbeda keyakinan dengan dia.
Setelah selesai makan Varen langsung mengantar Ticia pulang ke rumahnya. Hari semakin sore, dan Varen juga ada urusan pribadi.
Jadi setiap seminggu sekali, tepatnya hari Sabtu. Varen harus ke hotel milik keluarganya untuk bantu-bantu di dapur. Hal itu sengaja papanya lakukan supaya Varen terbiasa mengurus hotel milik keluarganya. Dan juga untuk memperkenalkan Varen dengan bisnis yang kelak akan diwarisi.
"Tapi ntar jam 7 gue jemput, kita jalan.. Ini kan malam minggu pertama kita." ucap Varen.
"Tapi nanti malam gue ada ibadah khusus remaja kak, gimana kalau besuk malam kita jalannya?"
"Selesai jam berapa ibadahnya?" tanya Varen merasa sedikit kecewa.
"Jam 8 udah selesai sih, kenapa?"
"Ya udah nanti biar gue anter lo ke gereja, terus pulangnya gue jemput, setelah itu kita jalan, kan belum terlalu malam juga kan?"
"Boleh, kalau nggak ngerepotin.."
"Nggaklah, masa nganter pacar sendiri, ngerepotin sih."
Sesampainya di rumah Ticia. Varen langsung pamit. Dia akan segera menyelesaikan tugasnya, supaya bisa mengantar Ticia ke gereja tanpa terlambat.
__ADS_1
Tugasnya di hotel milik keluarganya, mempersiapkan makan malam untuk tamu vvip yang menginap di hotel milik papanya. Makan malam itu merupakan fasilitas yang ditawarkan kepada para tamu vvip di hotel tersebut. Sesuai dengan jurusannya di sekolah. Varen memang pandai memasak. Bukan hanya memasak, tapi Varen juga mempelajari tata cara menyambut tamu, dan juga tata cara membersihkan kamar hotel. Sebagai pewaris hotel ternama dia harus mempelajari beberapa hal yang terkait dengan bisnis perhotelan yang merupakan bisnis turun menurun di keluarganya.