Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
16. Varen Berhak Jatuh Cinta Dan Bahagia


__ADS_3

Ticia sempat mendengar beberapa teman sati tim Varen membicarakan perubahan positif Varen. Dan tentunya itu juga terdengar oleh Tika yang tidak beranjak dari tempat duduknya. Dengan tatapan tajam, Tika terus saja menatap Ticia yang duduk tidak jauh dari dia.


"Biasa aja keles ngelihatinnya!" ucap Ticia dengan sedikit keras, dan pasti itu terdengar oleh Tika yang hanya berjarak dua kursi dari tempat duduk Ticia.


Sedangkan Tika yang mendengar ucapan Ticia semakin membulatkan matanya. Tika merasa sangat kesal, karena Ticia sama sekali tidak takut oleh tatapan tajamnya.


"Ngapain melototin gue terus?" tanya Ticia yang mulai merasa risih oleh tatapan tajam Tika.


"Lo nggak suka gue ada disini?" imbuhnya sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Nggak usah belagu deh! Mentang-mentang Gio suka sama lo," Tika juga mulai terpancing emosinya.


Ticia tertawa kecil mendengar ucapan Tika, "Belagu gimana maksud lo? Daritadi gue diem aja, tapi lo pelototin gue mulu."


Tika merasa geram, dia bahkan hampir saja menyiram Ticia dengan minuman yang ada di depannya. Akan tetapi, Iqbal yang ada di dekatnya menahannya. Iqbal tidak ingin terjadi keributan di tempat itu. Malu. Apalagi hanya karena seorang lelaki.


"Gemes banget gue, lo lihat sendiri kan dia yang mulai duluan?" ucap Tika kembali meletakan gelas berisi minuman di meja depannya.


"Kok gue? Aneh lo! Jelas-jelas daritadi lo yang melototin gue terus-terusan, emang nggak risih apa?" Ticia tersenyum geli melihat Tika yang seolah ingin memutar balikan fakta.


Tak lama kemudian Varen bersama temannya yang lain kembali ke meja. Tapi sedikit kaget karena mendengar sedikit perdebatan antara Ticia dan Tika.


"Ada apa sih?" tanya Varen sembari kembali duduk di bangkunya.


"Pulang yuk!" ajak Ticia.


"Kenapa? Hm?" tanya Varen dengan sangat lembut. Varen bisa melihat dari raut wajah Ticia, jika Ticia sedang bete.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Varen lagi.


Dengan tersenyum kecil Ticia menatap Varen lalu berkata, "Nggak apa-apa, kan udah sore.."


Ticia sengaja menyembunyikan ke-bete-annya di depan Varen. Meskipun dia kesal dengan Tika. Tapi Ticia tidak ingin Varen marah ketika Varen tahu jika dia bete karena Tika. Biar bagaimanapun Tkka adalah teman dekat Varen.


"Gue tadi denger kalau lo sama Tika ribut, kenapa sih?" tanya Varen penasaran. Sementara Ticia hanya terdiam, dia takut salah ngomong dan malah membuat persahabatan Tika dan Varen jadi renggang.


Ticia berusaha untuk diam. Tapi ternyata justru Tika yang bersuara. Tika mengutarakan unek-uneknya, berharap Varen akan mengerti tentang perasaannya yang tidak suka jika Ticia ikut nongkrong bersama mereka.


"Dia tuh belagu orangnya, dia songong, sok cantik...." Tika mengatakan dengan penuh semangat.


"Tadi aja dia berani ngata-ngatain gue, nggak sopan banget kan?" imbuhnya.


"Gue ngata-ngatain lo gimana ya? Gue cuma bilang ke lo supaya biasa aja ngelihatin gue, gue risih! Terus bagian ngata-ngatain lo dimana?" Ticia mulai terpancing, dia merasa tidak terima dengan tuduhan Tika. Faktanya memang tidak ngata-ngatain Tika.


"Coba aja tanya ama yang tadi nggak ikut ke mushola, gue ngata-ngatain lo apa!" imbuh Ticia dengan sedikit marah. Dia berusaha menyembunyikan semua di depan Varen. Tapi bisa-bisanya Tika malah memfitnahnya.


"Lo nggak suka Ticia ikut nongkrong sama kita?" tanya Varen masih dengan lembut.


Mendengar ucapan Varen yang begitu lembut, membuat Tika berpikir jika Varen masih tetap sama. Seseorang yang selalu mengerti tentang perasaannya. "Iya..." jawab Tika.


Setelah menghela nafas beberapa kali, Varen kemudian berkata, "Oke, mulai sekarang Ticia tidak akan pernah lagi ikut nongkrong."


Tentu saja perkataan Varen itu membuat Ticia kaget. Apa maksudnya ini, apa itu artinya Varen akan berhenti mengganggunya. Mengingat itu entah kenapa hati Ticia merasa tidak enak.


Sedangkan Tika tersenyum senang mendengar perkataan Varen. Dia bahkan melirik Ticia setelah kemudian memutar bola matanya, seolah dia ingin menunjukan kepada Ticia bahwa 'lo boleh dapetin dia, tapi perhatiannya tetap buat gue'.

__ADS_1


"Karena mulai sekarang gue juga nggak akan nongkrong sama kalian!" lanjut Varen.


Perkataan Varen yang kedua itu membuat Ticia dan semua teman-temannya terkejut. Apalagi keempat teman dekatnya.


Varen mengambil tas dan jaketnya kemudian menarik tangan Ticia. "Yuk pulang!" ajaknya.


"Gi, jangan ginilah! Jangan hanya karena seorang wanita lo jadi jauhin teman-teman lo!!" seru Digta yang paling terpukul dengan keputusan sahabatnya. Secara Digta berteman dengan Varen sejak dari SMP.


"Teman?" Varen membalikan badan dengan tersenyum sinis.


"Kalau kalian teman gue, kalian harusnya ngertiin perasaan gue!" ucapnya dengan nada marah.


"Gue juga pengen bahagia, gue juga butuh cinta dari seorang wanita yang gue cinta. Selama ini gue selalu ngertiin kalian, kalian kepengen gue fokus dengan persahabatan kita, gue ikutin, bahkan gue tolak-tolak semua wanita yang deketin gue, supaya gue tidak ngecewain lo pada. Tapi untuk kali ini, maaf gue nggak bisa! Gue pertama kalinya jatuh cinta sama seorang wanita, gue baru pertama kali merasakan indahnya kasih sayang seorang wanita. Jadi, karena kalian nggak bisa nerima dia, mending gue keluar dari geng kita!" ucap Varen dengan serius. Setelah itu tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya, Varen menggenggam tangan Ticia dan membawanya keluar dari kafe tersebut.


Setelah Varen meninggalkan tempat itu dengan marah. Rafa dan Iqbal mendekati Digta dan menepuk pundak Digta. "Gio bener, dia juga butuh bahagia!" ucap Rafa.


"Jadi selama ini dia tidak bahagia sama kita gitu?" tanya Digta dengan sengit.


"Bukan gitu maksudnya, Gio lelaki normal, dia juga ingin punya kekasih, kita juga harus ngertiin perasaan dia!" sahut Iqbal.


"Tau ah, gue mau pulang, capek.." Digta tidak mau mendengar nasehat siapapun saat ini. Hatinya dipenuhi kekecewaan yang dalam atas tindakan Varen.


"Dig!!!" panggil Rafa, akan tetapi Digta terus saja berjalan meninggalkan teman-temannya.


Rafa dan Iqbal lalu menegur Tika supaya lebih bisa menghargai apa keputusan Varen. Karena biar bagaimanapun, Varen juga berhak untuk jatuh cinta dan bahagia. Sementara Tika tidak menjawab perkataan Iqbal dan Rafa. Dia juga masih sangat terkejut dengan keputusan Varen yang ingin keluar dari geng mereka.


Tika benar-benar merasa jika saat itu dia tidak lagi memiliki harapan. Dia merasa benar-benar kehilangan sosok lelaki yang selama ini selalu mengerti perasaannya.

__ADS_1


"Lo mau gue anter atau dianter Rafa?" tanya Iqbal ke Tika yang sedang melamun.


"Ha? Gue,, gue bareng sama lo aja!" jawab Tika. Setelah itu mereka semua, termasuk pelatih basket mereka,membubarkan diri dan pupang ke rumah masing-masing. Sudah cukup drama yang mereka saksikan hari ini.


__ADS_2