Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
99. Pelangi Di wajah Sendu


__ADS_3

Saat itu Varen sedang pergi kencan bersama gebetan barunya. Wanita kesekian yang Varen deketin setelah putus dari Ticia.


Entah apa yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Apa yang ingin dia cari dengan mendekati begitu banyak perempuan. Baik dari murid sekolahnya sendiri maupun sekolah lain.


Kepopuleran Varen sudah melejit semenjak dirinya sering memenangkan beberapa perlombaan basket antar pelajar. Selain wajahnya yang tampan, skill-nya dalam bidang basket pun tidak perlu diragukan.


Varen bersama gebetan barunya pergi ke sebuah kafe. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Davin, orang yang sempat dia curigai selingkuhannya Ticia.


Tapi, saat itu Davin tidak bersama Ticia, melainkan bersama seorang wanita yang ternyata adalah teman dari gebetan barunya.


Davin pun kaget ketika melihat Varen bersama dengan wanita lain, bukan Ticia. Setahu Davin, Varen adalah pacar Ticia. Karena itu, Ticia menolak cintanya beberapa waktu yang lalu.


Akan tetapi, baik Varen maupun Davin. Mereka berpura-pura tidak saling mengenal. Meskipun sebenarnya mereka juga tidak saling kenal. Hanya pernah ketemu dan itu juga terjadi insiden waktu itu.


Mereka juga saling berkenalan setelah gebetan masing-masing saling memperkenalkan. Disitu, Varen seperti biasa, dia bersikap dingin dan tidak banyak bicara.


Berbeda dengan Davin yang sangat cerewet sebagai seorang lelaki. Dia terus saja nyerocos menceritakan dirinya sendiri. Menceritakan kehebatannya di bidang olahraga, terutama basket.


"Varen juga pemain basket, berkali-kali juara juga." sela gebetan Varen.


"Oh, iya kah?" tanya Davin dengan sedikit malu. Malu karena pencapaiannya dalam bidang basket yang dia banggakan ternyata masih kalah dengan pencapaian Varen. Dia bersama timnya belum pernah juara. Hanya pernah menjadi runner-up. Itu menurutnya sudah pencapaian yang maksimal dalam hidupnya.


"Pantas aja Ticia setia banget sama dia," gumam Davin dalam hatinya.


"Iya, selain itu, Varen juga pemilik Vareno Hotel," ucap gebetan Varen dengan bangga. Bagaimana tidak bangga, dia di dekati seorang CEO muda. Masa depannya sangat cerah bukan. Semua wanita berlomba-lomba untuk mendapatkannya.


Davin seketika kicep. Ternyata saingan cintanya adalah orang yang begitu hebat. Pantas saja jika Ticia tidak mau menerima dia, bahkan ketika dia mengajukan diri menjadi selingkuhan. Ticia tetap saja menolaknya.


Gebetan Varen hendak membanggakan Varen kembali. Tapi Varen menatapnya dengan tajam. Seketika dia langsung diam. Dengan mudah dia mengerti apa maksud tatapan Varen.


Varen bukan orang yang suka menunjukan kehebatan dan kelebihannya. Jikalau ada orang yang mengaguminya, itu karena mereka melihat sendiri kehebatan Varen. Bukan dari apa katanya. Melainkan dari penilain orang itu sendiri.


"Eh, kalau gitu, gue pamit ke toilte bentar!" saking gugupnya, gebetan Varen sampai takut sendiri. Dia beralasan pergi ke toilet karena tidak ingin semakin nerocos dan membuat Varen marah.


Gebetan Varen juga menarik tangan temannya supaya menemaninya ke toilet. Jadi, di meja itu hanya ada Davin dan Varen.

__ADS_1


"Lo pacarnya Susi?" Susi nama teman gebetan Varen.


Davin menganggukan kepalanya. "Iya, lo bukannya pacarnya Ticia? Kenapa sama Vania?" sedangkan Vania adalah nama gebetan Varen.


"Kita udah putus," jawab Varen singkat.


"Oh pantesan udah putus," Davin mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tapi hebat juga lo, baru aja putus udah dapet pacar lagi aja," sindir Davin.


"Tapi Vania semok juga sih, meskipun nggak secantik Ticia, tapi body-nya aduhai." imbuh Davin yang membuat Varen menggebrak meja.


Brakkkk...


"Cantik tapi nggak setia." ucap Varen marah. Entah marah karena Davin membandingkan Vania dengan Ticia. Atau karena hal lain, tidak tahu.


"Maksud lo Ticia selingkuh?" Davin hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Nggak usah pura-pura beg*! Bukannya lo selingkuhan Ticia?" Varen berkata dengan emosi yang hampir meledak-ledak. Apalagi teringat pertengkaran dengan Ticia di rumah sakit waktu itu.


"Jangan ngaco lo!" tuturnya.


"Gue emang sempet suka sama dia, tapi gue ditolak cuyy, bahkan waktu gue bilang mau jadi yang kedua, dia tetap aja nggak mau." jelas Davin.


"Tapi waktu itu gue lihat kalian berdua dia rumah sakit?"


Davin mengerutkan keningnya sejenak. Mengingat-ingat kapan dia berduaan dengan Ticia di rumah sakit. Setelah beberapa menit, barulah dia ingat.


"Oh waktu itu? Itu sih nggak sengaja gue ketemu dia, katanya mau jengukin seseorang, dia datang bareng temannya, tapi temannya tiba-tiba sakit perut, jadinya dia jalan duluan, dan kita nggak sengaja ketemu, gue mau jengukin teman gue juga waktu itu. Lagi pula gue juga bareng temen-temen gue, tapi mereka udah duluan." Davin menjelaskan panjang kali lebar.


Saat itu Varen sudah tidak lagi menghiraukan penjelasan Davin sampai akhir. Karena hatinya bergetar saat mengetahui kebenaran jika Ticia memang tidak pernah mengkhianatinya.


Jantung berdesir merasa sangat menyesal telah memutuskan hubungan mereka. Apalagi hatinya terasa sakit ketika dia teringat tuduhannya kepada Ticia saat itu.


"Jadi kalian udah putus kan? Kalau gitu gue akan kejar Ticia lagi.." batu setelah Davin mengatakan dia akan mengejar Ticia lagi. Varen mulai tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Lo kan udah punya Susi?" Varen sengaja mengingatkan Davin jika dia sudah memiliki kekasih saat ini.


Davin tersenyum kecil dan penuh misteri. "Kalau Ticia mau sama gue, Susi akan gue putusin. Jika ada seratus Susi dan satu orang Ticia. Gue akan milih Ticia." tutur Davin.


"Ticia tuh berbeda dengan cewek kebanyakan." ucap Davin. Dan, Varen setuju dengan pendapat Davin tersebut.


"Selain cantik, dia tuh juga baik, rajin ibadah, tidak takut menegur teman yang salah, perhatian, tulus, pokoknya dia tuh kayak malaikat yang menjelma menjadi manusia." tutur Davin.


"Beruntung banget lelaki yang bisa memilikinya, seseorang dengan hati yang sangat tulus, dan apa adanya." imbuh Davin.


Perkataan Davin tersebut semakin membuat Varen menjadi sedih. Apa yang dikatakan Davin memang begitu adanya.


Di banding dengan Vania dan Susi, Ticia memang jauh lebih cantik dari mereka berdua. Hanya bentuk badan Ticia saja yang kalah dengan mereka berdua. Ticia memiliki tubuh yang agak kurus. Dengan berat badan 48 kilogram, dan tinggi 155 centimeter. Tidak terlalu kurus sebenarnya. Cukup ideal.


"Gue minta tolong sama lo, jangan deketin Ticia, karena gue akan kejar dia lagi." pinta Varen kepada Davin.


Sejujurnya, meski dia sering gonta ganti gebetan. Tapi dalam hati Varen sama sskali belum bisa melupakan Ticia. Wanita yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Ya kita lihat aja nanti!" jawab Davin ambigu.


Davin sebetulnya juga berniat mengejar cinta Ticia lagi. Dia sudah di tolak, itu rasanamya malu. Dia tidak mau semakin malu lagi.


Hanya saja, dia ingin memprovokasi Varen. Dan juga mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak mau disalahkan oleh Varen maupun Ticia. Dan dianggap orang yang menghancurkan hubunhan Varen dan Ticia.


"Lo kan juga sudah punya Vania?" Davin bertanya balik.


"Kita belum jadian, gue belum tembak dia." jawab Varen jujur.


Entah kenapa sampai Varen dan Davin mencapai kesepakatan. Vania dan Susi belum juga kembali dari toilet. Sudah lebih dari lima belas menit.


Varen bukan orang yang sabaran. Tapi, karena suasana hatinya sedang baik. Dia tidak marah meskipun menunggu cukup lama.


Setelah murung selama dua minggu. Akhirnya ada pelangi juga dia hidup Varen. Wajahnya yang dingin mulai menanampakan sedikit sinar kehangatan. Hidupnya yang kosong dan hampa. Kembali bersorai dan ceria.


Harapannya kembali bangkit. Setelah cukup lama menghilang. Hatinya yang beku sudah mulai bergejolak kembali. Senyuman mengembang di bibirnya yang tipis nan merah. Wajahnya tampan mulai memancarkan aura kebahagia. Seperti jiwanya yang lama mati, bangkit kembali.

__ADS_1


__ADS_2