Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
14. Perselisihan Dengan Teman


__ADS_3

Sepulang sekolah Ticia bersama Indah dan Anabella menuju ke tempat dimana sekolahnya tanding yang tak jauh dari sekolahnya. Bukan hanya mereka berdua tapi banyak dari siswa siswi sekolah itu yang ingin menyaksikan tim basket mereka bertanding, termasuk beberapa guru yang juga tidak mau ketinggalan.


Awalnya Varen yang sedang pemanasan mencoba mencari dimana pujaan hatinya berada. Akan tetapi dia harus menelan kekecewaan, karena Ticia tidak ada dibarisan penonton.


"Lo nyariin siapa sih?" tanya Rafa yang juga termasuk dalam tim basket sekolah.


"Kenapa Gi, kok kayak lemes gitu?" tanya Digta yang juga termasuk dalam tim basket sekolah.


"Bantuin gue cariin Ticia dong! Gue udah cari-cari dia kok nggak nemu juga," jawab Varen masih dengan mata yang mencari keberadaan sang pujaan hati.


"Elah, kirain ada apa," Digta mulai sewot. Memang dari awal dia agak kurang setuju Varen dekat dengan Ticia.


"Mungkin dia ada acara atau ada kepentingan lain kali," Rafa yang berusaha menghibur sahabatnya.


"Tapi dia udah janji mau nonton," ucap Varen dengan tidak bersemangat.


"Ayolah, jangan bucin gini! Masa cuma karena cewek lo korbanin tim kita sih?" Digta sudah mulai jengah melihat kebucinan Varen kepada wanita yang baru dia kenal kurang dari empat bulan tersebut.


"Kalau nggak ada dia, gue nggak ada semangat."


"Jadi lo korbanin tim kita hanya demi wanita yang baru lo kenal?" Digta mulai tersulut emosinya.


"Bener kata Tika, lo sekarang berubah semenjak kenal tuh cewek baru, lo udah bukan kayak Gio yang gue kenal dulu,"


Rafa berusaha menenangkan Digta. Dia tidak ingin tim lawan mengetahui jika mereka sedang ada konflik internal. Takutnya jika situasi itu dimanfaatkan oleh tim lawan. Juga karena Rafa tidak ingin melihat kedua sehabatnya bertengkar hanya karena masalah sepele.


Varen dari awal memang sudah tidak bersemangat ditambah sedang emosi karena perselisihannya dengan Digta. Lalu kemudian Varen meminta kepada pelatihnya untuk tidak ikut dalam pertandingan kali ini.

__ADS_1


Tentu saja keputusan Varen itu mengejutkan pelatih dan juga teman-teman satu tim yang lain. Karena selama ini dialah pemain inti dari tim tersebut. Kehebatan dan ketangkasannya yang membuat tim itu banyak meraih mendali dalam satu setengah tahun ini.


"Ayolah bro, jangan kayak gini! Lo adalah andalan dalam tim ini," bujuk Rafa selaku teman terdekat Varen.


"Kalian juga pada hebat, lebih hebat dari gue malahan, gue yakin tanpa gue kalian pasti juga akan menang.." Varen benar-benar tidak memiliki semangat pada saat ini.


Bukan hanya Rafa, tapi pemain lain juga membujuk supaya Varen mau main. Akan tetapi Varen masih pada pendiriannya, dia tidak ingin main untuk saat ini. Dia juga ingin memberi kesempatan temannya yang lain untuk unjuk kehebatan juga.


"Udah biarin aja! Dia udah bukan Gio yang dulu, yang selalu mentingin tim kita, dia sekarang udah nggak peduli dengan tim kita!" Digta semakin emosi karena keputusan Varen.


"Maksud lo ngomong gitu apaan? Gue cuma lagi nggak ada semangat buat main, lagian teman-teman yang lain kan juga butuh kesempatan buat main juga." Maka perdebatan tak bisa terhindarkan.


"Udah, jangan kayak bocah gini!" Rafa mencoba menjadi penengah.


"Ada apa sih?" Iqbal dan Tika berlari mendekat, karena mereka berdua melihat seperti terjadi sesuatu yang tak biasa dengan tim basket sekolahnya.


"Gue nggak pernah bilang kalau gue nggak peduli dengan tim kita, bac*t lo kalau ngomong bisa yang bener nggak?" Varen meraih baju Digta dengan marah.


Pelatih yang juga guru olahraga mereka akhirnya melerai perselesihan itu. Karena pertandingan juga harus segera di mulai. Maka pelatih mengizinkan Varen untuk tidak tampil kali ini, dan menggantinya dengan pemain lain.


Sepuluh menit kemudian pertandingan basket antar sekolah itu di mulai. Karena masalah yang baru saja terjadi membuat para pemain dalam mood yang tidak stabil. Dan itu semua mengakibatkan buyarnya konsentrasi para pemain. Akibatnya mereka ketinggalan skor yang cukup jauh.


"Konsentrasi, fokus!!!" teriak pelatih mereka dari pinggir lapangan. Sesekali pelatih itu juga melirik Varen yang hanya diam di bangku cadangan. Pelatih itu ingin melihat reaksi Varen saat tim-nya ketinggalan skor.


Saat Ticia dan kedua temannya tiba, mereka sudah ketinggalan seperempat pertandingan. Karena Indah yang tiba-tiba harus ke toilet karena perutnya sakit, membuat mereka harus terlambat menyaksikan pertandingan siang itu.


"Telat kan," keluh Anabella, apalagi saat dia melihat skor sekolahnya yang telah tertinggal.

__ADS_1


"Elo sih!" omelnya sembari menjitak kepala Indah pelan.


Sementara Ticia lebih fokus melihat ke arah pemain. Tapi ternyata dia tidak melihat Varen ada di dalam lapangan. Maka Ticia mulai mengerutkan keningnya. "Bukankah dia maksa supaya gue nonton dia, tapi kenapa dia malah nggak main?" gumamnya seorang diri.


Bukan hanya Ticia, tapi Indah dan Anabella juga bertanya-tanya kenapa Varen tidak ikut dalam pertandingan itu. Padahal biasanya Varen tidak pernah absen sekalipun. Varen kan pemain inti, dia tidak pernah terganti selama ini.


Saat mereka bertiga mulai fokus menyaksikan pertandingan yang sengit itu. Tiba-tiba Iqbal mendekati mereka. Maksud Iqbal mendekat, dia ingin meminta Ticia untuk membujuk Varen, supaya mau main dalam pertandingan kali ini. Iqbal khawatir sekolahnya akan kalah jika Varen tidak main. Meskipun belum tentu juga sekolahnya akan menang jika Varen main. Tapi setidaknya mereka tidak akan tertinggal skor yang jauh.


"Gue mohon sama lo, Cia!" pinta Iqbal.


Dan Ticia pun mau memenuhi permintaan Iqbal. Bukan demi Iqbal, tapi demi semua siswa dan guru yang sedang menyaksikan secara langsung. Iqbal kemudian menemani Ticia untuk mendekat ke pinggir lapangan.


"Gi!" panggil Iqbal ketika Varen terlihat sedang dalam mood yang jelek. Mendengar namanya dipanggil, Varen seketika menoleh. Tanpa sengaja dia bertemu mata dengan wanita yanh dia tunggu sedari tadi. Maka mengembanglah senyuman di wajah Varen.


"Cia," gumamnya dengan senyum senang.


"Gue kira lo nggak datang." ucap Varen masih dengan senyuman bahagianya.


"Harusnya gue nggak datang aja sih, lo yang maksa gue buat nonton tapi malah lo-nya sendiri yang nggak main." ucap Ticia dengan pura-pura kecewa.


"Gue kira lo nggak mau nonton, makanya gue nggak ada semangat."


"Tapi gue seneng banget, akhirnya lo datang dan mau nonton gue tanding." Semenjak melihat Ticia, mood Varen perlahan-lahan mulai membaik.


"Tapi gue mau pulang aja ah, lo-nya juga nggak main.."


Mendengar ucapan Ticia, seketika Varen mendekat ke pelatihnya dan meminta ia untuk dimainkan dalam pertandingan itu. Tentunya itu membuat pelatih senang.

__ADS_1


__ADS_2