
Senyuman selalu menghiasi wajah Varen. Malam itu adalah malam yang membahagiakan untuk dirinya. Setelah papanya mengumumkan bahwa hotel baru itu akan menjadi miliknya. Varen akan mengumumkan kepada dunia, bahwa Ticia adalah kekasihnya.
Para kolega Darwis terpukau dengan ketampanan Varen. Tidak sedikit dari mereka yang mengatakan ingin menjadikan Varen sebagai menantu. Entah itu hanya basa-basi atau sungguhan. Dalam dunia bisnis hal semacam basa-basi itu sudah biasa.
Saat Darwis mengajak Varen menemui koleganya. Saat itu Ticia sedang mengobrol bersama teman-temannya yang mendapat undangan dari papanya Varen.
Sebenarnya Varen ingin Ticia menemaninya menemui kolega papanya bersama papanya. Akan tetapi Ticia menolak.
Setelah pertemuan dan perdebatannya dengan Darwis beberapa waktu lalu. Ticia merasa agak gimana ketika ketemu Darwis. Makanya Ticia lebih memilih bersama teman-temannya yang lain.
"Gila, hotel mewah ini akan menjadi milik Gio. Dia pengusaha muda sekarang." ucap Rafa merasa kagum dengan kemegahan hotel milik keluarga Varen.
Sepertinya, Darwis sudah lama mempersiapkan semua ini untuk anak semata wayangnya. Karena proses pembangunan hotel semegah itu pasti memerlukan waktu yang lama.
"Dia kan anak tunggal bro, jelaslah kerajaan bisnis papanya jatuh ke tangan dia semua." sahut Iqbal.
"Gimana ya jadi anak sultan?" tanya Rafa dengan tersenyum kecil.
"Lah bersyukur lo jadi orang, orang tua lo juga bukannya orang tak mampu, ini semua udah jadi takdir Gio terlahir sebagai anak sultan." Digta menoyor kepala Rafa yang sering kali tak masuk akal tersebut.
Padahal faktanya, dari keempat teman Varen. Tidak ada yang dari keluarga kurang mampu. Mereka berempat terlahir dari keluarga kaya juga. Meskipun tidak sekaya keluarga Varen dan keluarga Tika.
"Iya lo nyet, bersyukur napa? Lo liat tuh diluar sana, banyak orang tidak seberuntung kita!" sahut Iqbal menjitak kepala Rafa pelan.
"Iya gue tahu, gue cuma nanya doang, hmm," Rafa memegangi kepalanya yang sakit karena dijitak mulu oleh teman-temannya. Hanya karena pertanyaan konyolnya tadi.
Di meja sebelah. Ticia yang berubah selama satu minggu terakhir ini pun hanya diam saja. Membuat teman-temannya merasa aneh. Karena Ticia yang mereka kenal, adalah seorang wanita yang ceria, konyol, dan cerewet.
Tapi selama satu minggu belakangan. Semua itu hilang entah kemana. Yang ada hanya Ticia yang pendiam, terlihat selalu murung, dan seperti orang yang sedihnya mendalam.
__ADS_1
"Cia, lo kenapa sih? Gue perhatiin beberapa hari belakangan, lo jadi pendiem. Kalau ada masalah cerita dong!" ucap Anabella yang tidak tega melihat wajah kusut sahabatnya.
"Lo juga cuek sama kak Varen, kalian lagi ada masalah?" tanya Anabella lagi.
Akan tetapi, Ticia tidak menjawab pertanyaan Anabella. Dia hanya tersenyum kecil dengan raut wajah yang sedih. Seperti dia memiliki beban pikiran yang sangat berat. Bahkan pandangan matanya pun terlihat kosong.
Tak lama kemudian. Acara pun dimulai. Di awali dengan sambutan dari papanya Varen. Kemudian dilanjut dengan peresmian hotel tersebut. Lalu ke acara inti, yaitu mengenalkan Varen sebagai pemilik hotel tersebut.
"Dan puncak dari acara ini adalah pertunangan anak saya dengan Rosalinda."
Dyarrr..
Ticia dan teman-temannya merasa kaget dengan apa yang mereka dengar. Bagai tersambar petir di siang bolong. Hati Ticia terasa sakit. Meskipun sebenarnya dia telah mempersiapkan hati untuk menghadapi itu semua. Tapi tidak disangka, jika kejadian itu akan datang begitu cepat.
"Cia..." Anabella dan Indah menggenggam tangan Ticia. Mereka ingin memberi kekuatan untuk sahabatnya. Meskipun mereka berdua juga kaget dengan apa yang mereka dengar.
Anabella dan Indah memeluk Ticia. Mereka akhirnya tahu, alasan kenapa Ticia akhir-akhir ini berubah.
Bukan hanya Ticia dan teman-teman yang diundang saja. Tapi juga Varen dan mamanya yang merasa sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar.
"Apa-apaan ini pa?" tanya Varen dengan marah. Lebih marah lagi saat melihat Ticia yang dipeluk oleh Anabella dan Indah. Dia tahu, Ticia kaget dan sedih saat ini.
"Kenapa papa buat keputusan sepihak seperti ini? Papa tahu, aku udah punya pacar, kenapa papa nggak tanya pendapat aku dulu?" tanya Varen menekan amarahnya. Dia tidak mau membuat papanya malu di depan kolega-kolega.
"Kalau papa tanya pendapat kamu, pasti kamu akan nolak."
"Jelas aku nolak. Karena aku sudah punya kekasih, dan aku juga tidak mencintai Rosalinda." Varen berseru dengan cukup keras. Dan pastinya suaranya itu di dengar oleh semua orang yang ada di tempat tersebut.
"Kamu jangan bikin malu papa! Kamu harus milih, kamu pilih wanita itu, atau pilih keluarga kita?" tanya Darwis sedikit pelan.
__ADS_1
"Aku memilih untuk tidak menjadi anak papa." ucap Varen dengan tegas. Kemudian berjalan mendekat kepada kekasihnya yang mungkin sedang merasa sangat sedih.
"Gio!!" seru Darwis, tapi tidak diindahkan oleh Varen.
Varen menarik tangan Ticia dan mengajaknya keluar dari ruangan tersebut. Varen bahkan tidak menghiraukan teriakan papanya. Dia terus menarik tangan Ticia keluar dari tempat tersebut.
Akan tetapi, tepat di depan mobil Varen Ticia menarik tangannya dari genggaman Varen. Tentu saja itu membuat Varen merasa terkejut.
"Cia?"
"Kak, mungkin sebaiknya hubungan ini, kita sudahi sampai disini saja!" ucap Ticia dengan begitu dingin dan tanpa ekspresi. Ticia bahkan tidak berani menatap wajah Varen.
"Cia, gue tahu lo kaget dan sedih saat ini. Tapi ini semua rencana papa, gue nggak tahu apa-apa soal pertunangan itu. Tolong percaya sama gue!" pinta Varen dengan sedih.
"Jangan tinggalin gue! Please!" Varen memohon sambil memeluk Ticia. Varen benar-benar belum siap kehilangan Ticia.
"Alasan kenapa gue cuek sama lo akhir-akhir ini, karena gue udah tahu soal perjodohan lo dengan Rose." Seketika Varen membulatkan matanya. Dia berusaha memegang kembali tangan Ticia.
"Lo tahu?" tanya Varen dengan terbata-taba.
"Iya. Om Darwis minta gue menemuinya, dan dia memberitahu gue soal perjodohan lo."
"Itu sebabnya lo menyerah dengan hubungan kita?" tanya Varen sedikit marah.
"Lo janji nggak akan ninggalin gue! Tapi kenapa lo menyerah Cia?" tanya Varen dengan emosi yang tidak stabil. Dia bahkan dia menggertakan giginya menahan amarahnya.
"Maafin gue kak, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Sekarang atau nanti, kita juga akan berpisah." ucap Ticia dengan tegas. Dan tidak mengindahkan raut wajah Varen yang menyedihkan.
Ticia sengaja tidak mengatakan alasan kenapa dia akhirnya memilih untuk berpisah. Ticia tidak mau Varen akan merasa sedih dengan pilihan sulit yang dia hadapi juga. Pilihan antara keluarganya yang utuh atau wanita yang dia cintai. Atau menyalahkan papanya karena mengakibat terjadinya pilihan yang sulit ini.
__ADS_1