Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
43. Nasehat Untuk Putranya


__ADS_3

Varen merasa sangat bahagia setelah ketemu dengan mamanya lagi. Dua tahun dia menyimpan rindu untuk mamanya yang pergi tanpa sepatah kata pun. Dua tahun bertanya-tanya, alasan dibalik kepergian mamanya.


"Ma, apa bener kata papa, kalau mau pergi dulu karena mama merasa bersalah, udah selingkuhin papa?" tanya Varen yang masih tidak percaya dengan apa yang sampaikan oleh papanya. Makanya Varen bertanya langsung kepada mamanya.


"Papa kamu bilang gitu?" Varen menganggukan kepalanya mendengar pertanyaan mamanya.


Dina kemudian tersenyum kecil. Dalam hatinya sebenarnya dia merasa sakit. Bisa-bisanya suaminya sendiri menuduhnya berselingkuh. Bahkan sampai memberitahu anaknya tentang hal itu.


Dina menceritakan dari awal sampai akhir. Kenapa papanya bisa menuduh mamanya berselingkuh. Dengan seksama Varen mendengarkan cerita mamanya.


Varen memeluk mamanya ketika mamanya bercerita sembari menangis. Bercerita tentang betapa sakit hatinya ketika suaminya lebih percaya dengan perkataan orang lain.


"Mama tahu nggak kalau papa mau nikah sama tante Jane? Gio nggak mau punya ibu tiri ma.." ucap Varen dengan tegas.


Dina tidak tahu tentang rencana pernikahan suaminya dengan sahabatnya. Tapi sebelumnya, dia sempat curiga mengenai hubungan mereka. Sepanjang perjalanan di dalam mobil. Jane terus saja menatap tidak suka kepada dirinya.


Apalagi posisinya, dia duduk di sebelah Darwis yang mengemudikan mobil tersebut.


"Oh, iyakah?" tanya dengan sedikit tersenyum. Dina sengaja menyembunyikan rasa kecewanya di depan anaknya.


"Gio nggak mau punya ibu tiri." ucap Varen sekali lagi dengan tegas.


"Bobok yuk! Kamu capek pasti," Dina sengaja mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau membahas apapun tentang hubungan suaminya dengan Jane.


"Bentar ma, Gio masih chattingan sama pacar Gio."


"Kamu udah punya pacar?" tanya Dina terkejut mengetahui anaknya sudah memiliki kekasih.


Varen menganggukan kepalanya dengan cepat. Varen lalu menceritakan awal mula dia bertemu dan jatuh cinta dengan Ticia, kepada mamanya. Varen juga menunjukan kepada mamanya foto pacarnya.


Varen juga menceritakan tentang keyakinan mereka yang berbeda.


"Kamu cinta sama dia?" tanya Dina sembari mengelus rambut anaknya. Gio rebahan dengan kepalanya berada di paha mamanya. Sambil chattingan dengan sang kekasih. Kenikmatan yang hakiki.

__ADS_1


"Cinta dong, cinta banget malah."


"Nak, kamu harus tahu kalau hubungan dengan perbedaan keyakinan, itu tidak akan pernah berujung. Kecuali salah satu diantara kalian mengalah. Tapi itu juga tidak menjamin tidak ada konflik yang akan datang."


"Tapi bukannya semua hubungan pasti memiliki konflik ya ma?"


"Iya kamu bener, semua hubungan pasti memiliki konflik di dalamnya. Tapi semua itu berbeda sayank. Karena dasar pemahaman yang tidak sama. Pokoknya intinya, cinta berbeda agama itu tidak akan berujung. Jadi kalau bisa cintai dia sewajarnya saja! Supaya kelak jika kalian pisah, kalian tidak akan merasakan sakit yang begitu dalam." begitulah nasehat dari mamanya.


Varen meletakan ponsel yang sedari tadi dia pegang. "Kadang Gio berpikir, apakah Gio sanggup jika harus berpisah dengan dia. Gio nggak bisa bayangin itu semua ma." ucapnya dengan sedih.


"Jangan berpikiran terlalu jauh! Jalani aja dulu apa yang ada saat ini." Dina berusaha menenangkan perasaan anaknya. Ini pertama kalinya Varen cerita masalah cewek ke dia. Bisa dipastikan jika Varen sangat mencintai kekasihnya.


"He em." Varen bersenandung sembari menganggukan kepalanya.


"Eh ma, gimana kalau besok, Gio ajak mama ketemu sama Ticia?" ucap Varen dengan antusias.


"Besok mama harus balik kerja sayank,"


"Ayolah ma, please!" Varen memohon dengan wajah sedih. Tentu saja membuat Dina merasa tidak tega menolak ajakan anaknya.


Tak lama kemudian Varen pun terlelap di samping mamanya. Dengan lembut Dina mengelus-elus rambut anaknya sampai anaknya tertidur. Begitu Varen sudah terlelap. Dengan penuh kasih sayang, dia menyelimuti anaknya. Kemudian mencium kening anaknya.


Dina tersenyum senang melihat anaknya sudah beranjak dewasa. Memiliki ketampanan yang turun dari papanya, membuat Dina tak henti-hentinya menyentuh dan mencium pipi anaknya.


Bayi yang dulu selalu bermanja kepadanya. Sekarang tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan.


Krekkk..


Pintu kamar Varen terbuka. "Gio udah tidur?" tanya Darwis sambil berjalan masuk ke kamar putranya.


"Udah. Mas, mari kita bicara!" ajak Dina.


Dina dan Darwis akhirnya keluar dari kamar Varen. Mereka memilih ngobrol di tepi kolam renang yang ada di sebelah samping ruang tamu.

__ADS_1


Selama beberapa saat, tidak ada satu dari mereka yang memulai untuk berbicara. Mereka berdua bingung ingin memulai darimana pembicaraan mereka.


"Mas," setelah lewat dari lima belas menit saling terdiam. Akhirnya Dina mulai membuka suaranya. Kata 'mas' itu terasa asing untuk Darwis. Sebelumnya, Dina selalu memanggilnya dengan sebutan 'papa' setelah Varen lahir.


"Aku mau kita cerai!" lanjut Dina membuat Darwis terbelalak.


"Ma, aku tahu kamu kecewa sama aku. Tapi kamu juga harus tahu jika hati aku sakit karena perselingkuhan kamu."


"Mas!! Aku nggak pernah selingkuh!" seru Dina dengan cukup keras. Luka dihatinya yang belum kering kembali tergores.


"Aku sama Leo tidak memiliki hubungan apapun. Leo juga sudah jelasin semua ke kamu kan?!"


"Tapi foto itu?"


"Aku nggak tahu kamu dapat foto itu darimana, yang jelas kebenarannya waktu itu aku nggak sengaja ketemu sama Leo, dan dia undang aku untuk mencoba usaha kulinernya. Udah gitu aja."


Leo adalah teman satu PKL Dina dan Jane. Mereka sama-sama PKL di hotel milik keluarga Darwis. Dan Leo sempat memiliki perasaan ke Dina. Tapi karena Dina sudah pacaran dengan Darwis. Maka Dina menolak cinta Leo. Semenjak itu mereka memutuskan untuk berteman dan saling mendukung satu sama lain. Tidak ada yang namanya Leo balas dendam kepada Dina karena telah menolak cintanya.


Hanya saja saat itu. Yang tahu masalah Leo menyatakan cintanya ke Dina. Hanyalah Jane, karena Jane adalah sahabat Dina.


"Aku juga denger dari Gio, kamu mau nikahin Jane?" Dina bertanya dengan sedikit tersenyum yang ambigu. Entah tersenyum karena bahagia, atau karena kecewa.


"Selamat. Aku harap kamu segera selesaiin urusan kita!"


"Ma," Darwis masih terbawa dengan suasana. Dia terus-terusan memanggil Dina dengan sebutan 'mama'.


"Selama dua tahun aku belum benar-benar bisa lupain kamu, ma. Aku selalu berharap kamu masih mau kembali ke aku dan anak kita. Agar keluarga kita bisa kembali lagi seperti dulu."


"Mas, kita bukan anak muda lagi. Rayuan seperti sudah tidak mempan lagi untuk aku. Aku tidak minta apapun, aku cuma minta hak asuk Gio aja."


"Gio bilang dia nggak mau punya ibu tiri, jadi biarin dia tinggal sama aku!" Tidak ada yang lebih penting dari anaknya, bagi Dina. Dia tidak keberatan jika suaminya menikah lagi. Tapi dia tidak bisa kehilangan anaknya. Sudah cukup dua tahun dia tersiksa karena pergi meninggalkan anaknya.


Dia selalu merasa tersiksa karena rindu yang begitu sangat kepada anaknya.

__ADS_1


Karena anaknya tidak mau memiliki ibu tiri. Maka dia meminta hak asuh Varen. Supaya dia memiliki hak sepenuhnya membawa Varen tinggal bersamanya. Meskipun usahanya tidaklah seberapa dengan kekayaan suaminya. Tapi kalau hanya untuk membiayai biaya sekolah dan kehidupan Varen sehari-hari masih mampulah.


__ADS_2