Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
15. Pujian Leticia Untuk Varen


__ADS_3

Masuknya Varen dalam pertandingan itu menambah semangat untuk teman-temannya yang lain. Perlahan-lahan mereka mampu mengejar ketertinggalan. Semangat pun mulai berkobar dan kekompakan mulai terjalin.


Di detik-detik terakhir ketika bola ada ditangan Varen. Dia sedikit kebingungan karena skor mereka masih tertinggal 2 poin. Varen melihat teman-temannya sudah dijaga oleh tim lawan semua. Pilihan satu-satunya dia harus menembak secara langsung. Tapi Varen merasa ragu karena jarak dia dengan ring masih sangat jauh. Tapi jika untuk mengumpan juga susah.


Varen melirik timer hanya tersisa kurang dari 30 detik. Dia juga sempat melirik ke arah Ticia yang sepertinya begitu berharap dirinya memberi yang terbaik untuk sekolah mereka.


Dan, setelah memikirkan dengan cepat. Varen kemudian memutuskan untuk menembak secara langsung. Meskipun dia ragu apakah bola itu akan masuk atau tidak. Tapi Varen tidak punya pilihan lain. Yang terpenting dia sudah berusaha.


Ketika bola itu mulai melayang, semua yang ada di tempat itu menahan nafas mereka sembari menatap geraknya bola itu. Bahkan dari sekolah lain pun harap-harap cemas. Mereka tentunya berharap jika bola itu tidak akan masuk. Atau kalau nggak kehabisan waktu sebelum bola itu sampai.


"Yeyyyy....." teriakan menggema di ruangan itu, tatkala bola terakhir tersebut masuk ke dalam ring. Itu artinya poin dari sekolah Varen bertambah 3. Dan itu sama saja dengan sekolah Varen menang dengan selisih poin yang tipis.


Tak lama setelah bola masuk dan jatuh memantul. Wasit meniup peluit karena waktu telah habis. Maka dari itu teriakan semakin kencang atas kemenangan Varen dan teman-temannya.


Dipinggir lapangan Ticia tersenyum bangga kepada tim basket sekolah barunya. Ticia juga mengacungkan kedua jempolnya ketika Varen berjalan mendekatinya. "Hebat.." katanya memuji Varen dan teman-teman satu tim basketnya.


"Lo beneran hebat Gi," Tika tiba-tiba berlari dan memeluk Varen yang sedang berjalan mendekati Ticia.


Melihat itu entah kenapa hati Ticia merasa aneh. Seakan-akan dia tidak rela melihat itu semua. Tapi Ticia tetap berusaha tersenyum.


"Jangan salah paham! Gio sama Tika cuma temenan aja. Lo tahu sendiri seperti apa Gio mencintai lo." ucap Rafa disamping Ticia. Meskipun Rafa terlihat cuek, tapi dia sangat peduli dengan perasaan sahabat-sahabatnya. Dan Rafa tahu jika Varen sangat mencintai Ticia. Dia bisa melihat dari mood Varen yang ceoat banget berubah ketika Ticia hadir dan menonton pertandingan siang ini.


"Gue tahu kok," jawab Ticia sembari tersenyum.


Sementara Varen tidak ingin Ticia menjadi salah paham. Varen kemudian meminta Tika untuk melepaskan pelukannya, dengan alasan banyak orang yang melihat. Setelah Tika melepas pelukannya, Varen melanjutkan langkahnya mendekat ke Ticia dan kedua teman Ticia.


"Kak Varen hebat.." puji Indah dengan senang.

__ADS_1


"Iya, kita beruntung banget punya kak Varen, kak Varen hebat banget.." Anabella tak kalah heboh dari Indah. Akan tetapi Varen tak menjawab hanya tersenyum kecil saja.


"Selamat ya kak, lo hebat banget," ucap Ticia.


"Itu karena ada lo disini," Barulah saat Ticia yang memujinya, Varen mau menjawab.


"Nggaklah, sebelumnya lo juga udah hebat, sebelum kenal gue malahan."


"Tapi kan nggak sesemangat sekarang." Varen menarik hidung Ticia pelan. Dan itu membuat wajah Ticia terlalu dekat dengan wajah Varen.


Varen menatap Ticia dengan lekat sembari sedikit tersenyum manis, membuat jantung Ticia berdetak tidak karuan. Varen kembali tersenyum lebar ketika melihat wajah Ticia yang memerah.


Indah yang melihat kedekatan Ticia dengan Varen kemudian menyenggol pelan tangan Anabella. Dan dengan gerakan kepala Indah meminta Anabella nengok ke sebelah, dimana Ticia yang terlihat tersipu oleh tatapan Varen.


"Ehem..." Anabella dan Indah berdehem ria mengagetkan Ticia dan Varen.


Tak selang beberapa lama. Indah dan Anabella pamit pulang. Ticia juga pamit pulang, tapi dia dilarang oleh Varen yang ingin mengajak Ticia makan siang bersama pelatih dan teman-teman satu tim basketnya.


"Ntar gue anterin pulang," ucap Varen. Dan Ticia pun menganggukan kepalanya, tanda dia mau menerima ajakan Varen.


Di kafe yang tak jauh dari tempat mereka tanding tadi, mereka merayakan kemenangan tim basket mereka. Lebih heboh lagi ketika pelatih sekaligus guru olahraga mereka mengatakan jika beliau yang akan mentraktir mereka semua.


"Gitu dong pak, sering-sering kek.." seru Rafa dengan senang.


"Giliran gratisan aja lo maju duluan, giliran latihan males-malesan!" seru Digta sembari melempar Rafa dengan kacang yang ada di depannya.


"Lo juga mau kan kalau ditraktir?" tanya Rafa dengan sengit.

__ADS_1


"Nggak.. Nggak nolak maksudnya." jawab Digta yang membuat mereka semua tertawa.


Akan tetapi di tengah kehebohan mereka, Tika yang juga ikut merayakan kemenangan hanya diam dengan wajah murung. Tika merasa tidak senang melihat Varen yang terlihat bahagia saat ngobrol dengan Ticia. Juga merasa cemburu saat Varen begitu perhatian kepada Ticia.


Saat Varen menyuapi Ticia camilan kesukaan Varen. Tika juga merasa sangat ingin marah. Dan itu membuat dia menjadi tidak senang dan berat untuk tersenyum.


"Tik, lo inget nggak sama cewek yang kemarin di mall? Diem-diem ternyata chattingan sama Digta, kemarin katanya bukan tipe-nya, tapi ternyata jiwa jomblonya nggak nahan juga." ucap Rafa meledek Digta sembari tertawa.


"Anj*r lo, lemes banget mulut lo!" Digta merasa malu karena ledekan Rafa, kemudian memukul lengan Rafa dengan keras.


"Aw, sakit tahu nj*r..." seru Rafa kesakitan sambil mengelus-elus lengannya.


Lagi-lagi Rafa yang sangat peka dengan situasi yang terjadi. Maksud Rafa mengatakan itu semua untuk menghibur Tika yang sedari tadi hanya diam. Rafa tahu jika Tika tidak suka dengan situasi saat ini. Dimana didepannya Varen asyik pacaran dengan wanita lain. Rafa paham betul perasaan Tika.


Sedangkan Tika yang terlanjur bete, tidak menjawab atau merespon pertanyaan Rafa. Tika justru menatap Ticia dengan tatapan kebencian.


Ticia bukannya tidak merasa dengan tatapan tajam Tika. Akan tetapi Ticia biasa saja, karena dia merasa tidak melakukan salah apapun kepada Tika. Dia dekat dengan Varen karena memang Varen adalah seorang single.


Tak lama kemudian adzan berkumandang. Varen berrdiri dan pamit mau sholat. Tentu saja ucapan Varen itu membuat teman-teman sekaligus pelatihnya menjadi melongo. Sejak kapan Varen sholat, pertanyaan itu yang ingin disampaikan oleh-oleh teman-temannya. Akan tetapi mereka urungkan, karena takut menyinggung Varen.


Sedangkan sejak saat kemarin Ticia menasehatinya untuk beribadah, Varen mulai berusaha untuk beribadah tepat waktu.


"Bapak juga mau sholat, kita bareng aja.." ucap pelatihnya dengan senang melihat perubahan positif dari Varen.


Di sebelahnya, Ticia menatap Varen dengan lembut sembari tersenyum senang. Senang karena Varen mau mendengarkan nasehatnya. Itu artinya Varen beneran serius dengan perasaannya.


"Bentar ya!" pamit Varen sembari mengelus lembut puncak kepala Ticia. Dan Ticia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2