Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
8. Gue Bakal Kerja Dia


__ADS_3

Setelah memastikan Ticia beneran tidak pulang ke rumah. Varen kemudian membelokan motornya. Varen mengendarai motornya tanpa arah dan tujuan selama lebih dari satu jam. Setelah kemudian dia menghentikan laju motornya di tempat dimana dia biasa nongkrong bersama teman-temannya.


"Muka lo kusut amat Gi?" tanya Iqbal ketika Varen berjalan mendekat dengan wajah yang ditekuk.


"Katanya tadi mau jemput Ticia?"


"Oh gue tahu, lo nggak ketemu kan sama dia? Makanya muka lo kusut gitu?" sahut Rafa.


"Ketemu, tapi dia nggak mau gue anter. Dia pulang bareng si cupu." jawab Varen dengan sedikit geram.


"Wah kayaknya dia udah kangen dengan candaan kita, berani bener dia deketin wanita incaran lo?" sahut Digta memprovokasi Varen.


Harus diakui, semenjak mereka berhenti membully teman-temannya yang lain. Mereka merasa tidak lagi bersemangat datang ke sekolah. Karena mereka menganggap bullyan itu adalah bentuk candaan mereka.


"Gimana kalau besok kita kerjain dia lagi?" Rafa mengusulkan ide apa yang akan mereka pakai untuk ngerjain Nathan.


Saat itu Varen tidak berkomentar apapun. Karena hatinya lagi marah. Padahal sebelumnya dia udah janji tidak akan mengganggu Nathan atau temannya yang lain. Tapi karena marah, dia lupa janji yang telah ia buat dengan Ticia beberapa hari lalu.


"Ntar malam ke rumah Tika nggak? Ada pengajian untuk mendoakan almarhum orang tua Tika."


"Gue lagi males kemana-mana," jawab Varen tidak bersemangat sama sekali. Apalagi saat dia teringat Ticia yang berboncengan dengan Nathan. Pakai acara bercanda lagi. Semakin membuat Varen menjadi kesal.


"Ayolah! Tika masih membutuhkan kita bro!" ucap Digta sedikit memaksa Varen. Karena dia tahu, Tika akan senang jika Varen mau datang mendoakan orang tuanya.


"Iya, kasihan dia. Saat ini pasti dia merasa sedih banget, tadi di makam, gue nggak tega ngelihatnya. Ikutan sedih gue nj*r.." sahut Iqbal.


"Sama gue juga.." ucap Rafa juga.


"Lihat gimana nanti aja.. Gue mau pulang, capek gue.." pamit Varen kemudian meninggalkan tempat itu.


Varen tetap aja tidak bisa berhenti memikirkan Ticia yang tiba-tiba cuek lagi sama dia. Pikirannya dipenuhi oleh Ticia. Waktu dia hendak memejamkan matanya pun dia masih saja kepikiran Ticia.


Varen kembali memeriksa ponselnya. Dan bertambah marahlah dia saat melihat story wa Ticia bersama Nathan. Mereka foto berdua di rumah Nathan. Varen tahu dari caption yang ditulis oleh Ticia di foto itu.

__ADS_1


"Ah,,terserah.." Varen melempar ponselnya di samping.


"Apa sih kurangnya gue?" Varen mengacak-acak rambutnya dengan marah, setelah kemudian dia melempar tubuhnya ke kasur.


Varen tidak memejamkan matanya. Dia menatap ke arah langit-langit kamarnya. Teringat pertama kali dia melihat Ticia. Varen sudah merasakan hal aneh dalam hatinya waktu pertama kali melihat Ticia.


****


Pagi hari saat Ticia tiba di sekolah. Indah dan Anabella yang sudah tiba duluan berlari dan menarik tangan Ticia. Ticia yang baru tiba pun kaget dengan apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya. "Kenapa sih?" tanya Ticia bingung.


"Buruan!!" hanya itu yang Indah dan Anabella katakan sambil terus menarik tangan Ticia. Sementara Ticia semakin bingung, karena Indah dan Anabella ternyata tidak membawanya ke kelas, melainkan ke kantin.


"Kenapa sih?" Ticia bertanya lagi.


Tapi setelah mereka bertiga sampai di kantin. Barulah Ticia paham apa maksud dari kedua temannya tadi.


Di kantin, Varen dan ketiga temannya tanpa Tika karena Tika masih belum masuk sekolah. Mereka kembali melakukan pembullyan kepada Nathan. Mereka meminta Nathan menghabiskan minuman yang telah mereka pesan. Jika Nathan tidak mau, mereka akan memukul Nathan.


Melihat itu membuat Ticia menjadi geram. Apalagi Varen sudah janji tidak akan melakukan hal semacam itu lagi kepada teman-temannya. Ticia menghampiri meja dimana Varen dan teman-temannya sedang menindas Nathan. Kemudian Ticia mengambil gelas yang masih ada minumannya dan menyiramnya ke arah Varen.


"Heh, berani bener lo!!" ucap Digta marah. Dia tidak terima temannya disiram oleh adik kelasnya.


"Gue kecewa sama lo, mulai sekarang jangan pernah temuin gue lagi!!" Ticia marah lalu menarik tangan Nathan meninggalkan kantin.


"Jangan belagu lo, anak baru!!" Digta semakin marah karena Ticia bahkan tidak merasa takut sama sekali kepadanya. Digta juga sudah ancang-ancang ingin memukul Ticia. Tapi ditahan oleh Rafa.


"Kalau lo pukul dia, Gio pasti akan marah sama lo.." ucap Rafa memperingati Digta yang sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi.


"Emosi gue," kata Digta sambil menatap Ticia tajam.


Saat itu juga Varen bangkit dari tempatnya duduk. Dia menahan tangan Ticia dan meminta maaf. Akan tetapi Ticia yang sudah sangat kecewa kepada Varen tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Varen. Ticia meronta, mencoba melepaskan tangannya digenggam oleh Varen.


"Maafin gue!" ucap Varen.

__ADS_1


"Lepasin!!" Ticia menarik paksa tangannya. Setelah bisa melepaskan tangannya, Ticia kembali menarik tangan Nathan dan keluar dari kantin.


Ticia berkali-kali meminta maaf kepada Nathan. Dia tahu kenapa Varen kembali mengganggu Nathan. Itu karena masalah kemarin siang.


"Nggak apa-apa kok, hoek..." Nathan tidak tahan ingin memuntahkan kembali minuman yang telah dia minum tadi. Perutnya terasa sakit karena memaksanya terus-terusan.


Ticia membiarkan Nathan muntah di kamar mandi. Sementara dia menunggu di luar dengan perasaan cemas. Ticia juga sempat mengumpat dalam hati karena tindakan Varen dan teman-temannya.


"Cia, dengerin gue!" Varen mengikuti Ticia sampai ke depan toilet.


"Udahlah kak, semuanya sudah jelas kan, kakak nggak akan pernah bisa berubah.."


"Gue hanya kasih dia sedikit pelajaran aja, karena dia berani deketin lo.."


"Kak Varen!! Gue mau dekat dengan siapa aja itu nggak ada urusannya dengan kakak," Ticia tidak suka dengan sikap semena-mena Varen.


"Gue bakal dengerin semua omongan lo, tapi please jangan jauhin gue!" mohon Varen.


Ticia menjawab, tapi dia memilih untuk pergi dari tempat itu. Karena kebetulan Nathan juga sudah selesai dari kamar mandi. Tapi setelah beberapa langkah Ticia menghentikan langkahnya. "Lo tadi bilang akan dengerin apapun omongan gue kan?"


"Gue mohon jangan pernah ganggu kak Nathan dan teman-teman yang lain lagi!" imbuhnya setelah kemudian dia pergi meninggalkan Varen yang mematung di depan toilet.


Meskipun Varen tidak menjawab. Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mengganggu teman-teman yang lain. Itu dia lakukan untuk menujukkan kepada Ticia. Kalau dia benar-benar nuruti apa mau Ticia. Dan berharap bisa kembali dekat dengan Ticia.


"Apa rencana lo bro?" tanya Iqbal yang ada dibelakang Varen dari tadi. Bahkan juga sempat mendengar percakapan Varen dengan Ticia.


"Kaget gue sat!!" omel Varen, dia tidak tahu jika Iqbal diam-diam mengikutinya.


"Gue bakal kejar dia, dan tunjukin ketulusan gue kepadanya." jawab Varen tanpa ragu.


"Tapi kalian beda keyakinan?" tanya Iqbal lagi.


"..." Varen terdiam mendengar pertanyaan Iqbal. Akan tetapi dia sudah memikirkan hal itu jauh-jauh hari saat dia mulai tertarik kepada Ticia. Jika Ticia mau menerima cintanya, biarlah semua berjalan seperti apa adanya dulu. Tentang perbedaan itu bisa dipikir belakangan.

__ADS_1


__ADS_2