Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
52. Amin Yang Sama, Iman Yang Berbeda


__ADS_3

Tiga hari selanjutnya. Tepatnya hari minggu. Darwis sengaja mengajak Varen dan mamanya makan malam di luar. Kali ini Varen tidak mengajak Ticia. Karena kata papanya, papanya ingin menikmati makan malam bersama keluarga yang sudah lama tidak mereka lakukan.


Darwis memilih tempat yang romantis untuk makan malam mereka. Ketiga orang dalam satu keluarga tersebut terlihat sangat bahagia.


Akan tetapi, kebahagia tersebut tidak berlangsung lama. Sebelum mereka menikmati makanan yang sedang dihidangankan. Entah datang darimana. Jane dan Rose tetiba duduk di meja yang sama.


"Maaf, aku terlambat." ucap Jane kemudian duduk bersama dengan Rose.


"Hai, Din, gimana kabar kamu?" tanya Jane tanpa merasa canggung sama sekali.


"Baik," jawab Dina.


"Ini sebenarnya ada apa sih pa? Katanya papa udah putus sama tante Jane?" tanya Varen yang merasa kesal karena moment indah itu rusak karena kehadiran Jane dan Rosalinda.


"Papa kamu emang udah putus sama tante, Gi. Tapi baik tante sama papa kamu tidak mau hubungan persahabatan kita ini bubar begitu aja. Jadi kami berniat untuk menjodohkan kamu dengan Rosalinda." Jane yang menjawab pertanyaan Varen. Karena Jane melihat, Darwis masih enggan untuk memberitahu maksud kedatangannya kepada Varen dan mamanya.


Pranggg..


Varen menjatuhkan sendoknya dengan sengaja ke atas meja. "Maksudnya apa ini pa?" tanyanya dengan marah.


"Maksudnya gini Gio! Papa kamu janji akan memberi tante kompensasi karena dia memutuskan hubungan kami secara sepihak. Terus, karena tante tidak mau dikasih saham papa kamu, tapi tante minta supaya kamu dijodohin dengan anak tante, Rosalinda." lagi-lagi Jane yang menjawab pertanyaan Varen.


"Itu benar pa?" tanya Varen dengan marah ke papanya.


"Maafin papa nak," jawab Darwis pelan. Dia tidak sanggup menghadapi kemarahan anaknya lagi.


Lagi?


Ya, lagi. Selama dua tahun setelah kepergiaan mamanya Varen. Varen selalu marah kepada papanya. Varen selalu menuduh papanya yang menyebabkan kepergian mamanya. Dan hubungan mereka menjadi renggang.


"Papa tahu kan kalau Gio udah punya kekasih. Dan Gio cinta banget sama dia?" tanya Varen menatap papanya amarah yang hampir meledak.


"Papa nggak ada pilihan lain Gio. Papa udah janji akan kasih kompensasi kepada tante Jane."

__ADS_1


"Itu masalah papa, kenapa harus Gio yang jadi korban?" seru Varen dengan marah. Bahkan dia berteriak yang membuat pelanggan lain yang ada ditempat itu menoleh ke arah meja mereka.


"Papa sudah tawarin hal lain, tapi tante Jane tidak mau. Bahkan papa juga tawarin 5 persen saham papa, tante Jane tetap menolak." jelas Darwis kepada anaknya.


"Sampai kapanpun, Gio tidak akan pernah mau dijodohin!" ucap Varen lalu pergi begitu saja dari tempat itu.


"Gio!!!" seru Darwis ketika Varen meninggalkan tempat itu.


"Gio..." seru Dina dan berusaha mengejar anaknya. Disusul dengan Darwis yang juga khawatir kepada anaknya yang pergi dengan marah.


Di rumah..


Varen yang marah, mengunci diri di dalam kamarnya. Dia tidak menyangka jika papanya akan bertindak sejauh itu tanpa memberitahunya sama sekali sebelumnya.


Tok tok tok


"Gi, buka pintunya sayank!" seru Dina dari luar kamar Varen. Akan tetapi Varen masih belum mau membuka pintu kamarnya.


"Udah ma, nanti tangan kamu sakit, kalau terus-terusan ketuk-ketuk pintu." terdengar suara Darwis menghentikan Dina.


"Biarin mas, aku mau hibur anak aku. Lagian mas kenapa sih lakuin ini ke Gio?" Dina sedikit marah kepada Darwis yang tega melakukan hal itu kepada anaknya.


"Aku laki-laki ma, aku harus tepati janji aku. Aku juga nggak nyangka Jane akan meminta hal ini, aku nggak kepikiran sampai kesitu ma." jelas Darwis yang sepertinya sedikit menyesal.


"Kalau aku nggak lakuin ini, Jane akan terus meminta aku nikahin dia, kalau aku nggak mau, aku akan merasa bersalah, karena biar bagaimanapun, dia yang selalu ada saat kamu pergi dulu. Aku merasa hutang budi sama dia." lanjut Darwis lagi. Dia juga tidak punya pilihan lagi.


Darwis tidak mau selamanya Jane akan menjadi duri dalam daging. Karena Jane tidak akan pernah ikhlas melepaskannya. Kecuali Darwis memenuhi permintaannya, menjodohkan anak-anak mereka.


"Ya udah kalau gitu kamu nikahin Jane!" ucap Dina.


"Dan Gio akan kehilangan keluarganya yang utuh? Kamu tahu kan Gio nggak mau ibu tiri," sahut Darwis.


"Gio bisa tinggal sama aku,"

__ADS_1


"Itu sama aja Gio kehilangan kasih sayang papanya."


"Gio harus memilih! Dia ingin keluarganya yang utuh, atau pacar yang sewaktu-waktu bisa pergi ninggalin dia, karena perbedaan diantara mereka tidak bisa dilewati." ucap Darwis dengan cukup keras. Dan mungkin terdengar oleh Varen yang ada di dalam kamarnya.


****


"Yank, lo mau nggak janji, lo tidak akan pernah ninggalin gue?!" tanya Varen dengan serius kepada Ticia.


"Gue nggak mau milih antara lo sama mama, gue cinta sama lo, dan juga sayang sama mama. Gue kepengen punya keluarga yang utuh, dan punya pacar yang membuat gue bahagia." lanjut Varen sembari menyenderkan kepalanya di bahu Ticia.


"Lo kenapa sih? Lo sakit?" tanya Ticia sedikit bercanda. Tidak biasanya Varen berkata seperti itu.


"Oh, ya, Yank, lo jangan lagi duduk sebangku dengan Rose! Pindah, jangan dekat dia!"


Ticia mengerutkan keningnya. "Lo kenapa sih?" tanyanya masih bingung.


"Lo tadi juga kasar banget sama Rose. Sebenarnya ada apa sih?" Ticia benar-benar tidak mengerti dengan perilaku kekasihnya hari ini.


"Nggak apa-apa, pokoknya pindah!" Varen memeluk Ticia dengan sangat erat.


Entah kenapa Ticia merasa Varen sangatlah manja. Dan itu aneh. Ticia merasa Varen sedang menyembunyikan sesuatu dari dia. Tapi apa.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalin gue ya! Gue nggak bisa hidup tanpa lo." Ticia tidak menjawab pertanyaan Varen. Tapi dia mengulurkan tangan dan memeluk pinggang Varen.


Ticia tidak mau berjanji. Tapi dia akan berusaha untuk terus bertahan demi hubungan cinta mereka.


Hanya saja, Ticia kembali tertampar oleh kenyataan. Perbedaan itu semakin terasa nyata. Dan karena semakin terlihat nyata. Membuat Ticia takut. Takut menghadapi kenyataan itu.


Ujian cinta yang paling berat bukanlah ujian yang dilalui oleh si kaya dan si miskin. Bukanlah ujian yang dilalui oleh kedua orang terikat karena perjodohan tanpa cinta.


Tapi ujian cinta yang paling berat. Ialah ujian cinta yang dihadapi oleh kedua insan yang sama-sama saling mencintai. Tapi harus berhadapan dengan jembatan perbedaan yang tak bisa untuk diseberangi.


Mungkin raga dan hati mereka berdekatan. Tapi jarak mereka jauh melebihi mereka yang terhalang oleh jarak tempat. Karena ldr paling jauh ialah mereka yang berada diamin yang sama, tapi iman yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2