Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
75. Varen Marah Kepada Rosalinda


__ADS_3

Saat Ticia sedang bertemu dengan mamanya Varen. Ternyata Varen juga datang bersama dengan Rosalinda. Awalnya Rosalinda meminta diantar ke salon. Akan tetapi Varen menolak. Varen mengatakan jika dia mau mengantar mamanya jalan-jalan. Maka Rosalinda kekeh ingin ikut. Bahkan dia datang ke rumah Varen tanpa diminta


Sementara Ticia menunggu kedatangan mamanya Varen dengan cukup lama. Sudah lebih dari satu jam Ticia menunggu dengan sabar. Itu dikarenakan drama yang terjadi sebelum Varen dan mamanya berangkat, karena Rosalinda.


Ticia sempat mengerutkan keningnya ketika melihat mamanya Varen datang bersama Varen dan juga Rosalinda.


"Leticia, maafin tante karena terlambat!" ucap mamanya Varen dengan lembut kepada mantan kekasih putranya tersebut.


"Nggak apa-apa tante, aku belum lama juga kok sampainya." jawab Ticia sembari membalas pelukan lembut mamanya Varen.


Melihat kedekatan mamanya Varen dengan Ticia. Membuat Rosalinda semakin kesal kepada Ticia. Dia menatap Ticia dengan tatapan tidak mengenakan. Dan itu disadari oleh Ticia.


"Hai ka Varen, hai Rose, kalian mau jalan-jalan?" maka dari itu Ticia duluan yang menyapanya.


"Nggak, kak Gio mau anterin gue ke salon katanya." jawab Rosalinda dengan semangat sembari menggandeng tangan Varen yang terlihat risi. Berulang kali dia menyingkirkan tangan Rosalinda yang melingkar dilengannya.


"Nggak, siapa bilang. Gue udah bilang kalau gue mau temenin mama." sanggah Varen yang membuat Rosalinda sedikit malu di depan Ticia.


"Kak Gio kok gitu sih, jadi kak Gio lebih suka disini daripada nemenin gue ke salon?" tanya Rosalinda dengan marah.


"Bilang aja kalau kak Gio pengen ketemu sama Ticia tapi gunain tante Dina sebagai alasan kan? kak Gio belum bisa move on dari Ticia kan?" seru Rosalinda dengan cukup keras.


"Jangan bikin keributan disini!" ucap Varen dengan geram. Sejujurnya Varen tidak menyukai sifat posesif Rosalinda. Apalagi setiap marah, Rosalinda akan selalu membawa nama Ticia dalam amarahnya.


"Kak Gio jahat tahu nggak." ucap Rosalinda dengan mata berkaca-kaca.


Itu adalah senjata Rosalinda ketika dia sedang marah, atau ketika Varen hendak marah kepadanya. Rosalinda selalu menggunakan air matanya sebagai trik menarik kembali perhatian Varen.


"Udah-udah nggak usah ribut, malu dilihatin banyak orang. Sini duduk dulu, makan dulu, habis itu Gio anterin Rose ke salon! Nanti mama biar naik taksi aja." Dina menengahi pertengkaran Varen dengan Rosalinda. Dina pusing menghadapi mereka berdua. Sebelumnya mereka juga ribut seperti itu. Dimana Rosalinda yang bersikeras untuk ikut mengantar mamanya Varen. Sedangkan Varen tidak mau Rosalinda ikut. Karena Varen ingin ngobrol dengan Ticia.


Karena, jikalau Rosalinda ikut. Varen pasti tidak bisa ngobrol dengan Ticia. Karena pasti Rosalinda akan berusaha menjauhkan mereka seperti biasa.

__ADS_1


Hal seperti itu yang tidak pernah Dina lihat selama anaknya berpacaran dengan Ticia. Dina belum pernah melihat Varen dan Ticia ribut seperti itu. Malah justru melihat anaknya yang manja kepada Ticia.


"Nanti biar aku yang anter tante aja, aku bawa mobil kok." sahut Ticia.


"Boleh tuh." ucap Dina.


Varen dan Rosalinda kemudian duduk bersama Ticia dan mamanya Varen. Akan tetapi, Varen sama sekali tidak mengundahkan Rosalinda yang sedang murung.


Setelah selesai makan. Ticia kembali mengobrol dengan bahagia bersama mamanya Varen. Sesekali Varen juga akan menyahut obrolan mereka.


Tapi kemudian Rosalinda kembali membuat keributan dengan menarik-narik tangan Varen. "Ayo kak, katanya mau anterin gue ke salon!" ucapnya.


"Rose, gue nggak pernah nemenin cewek ke salon. Makanya gue selalu nolak setiap lo minta ditemenin ke salon, gue orangnya nggak sabaran." ucap Varen menolak permintaan Rosalinda dengan sabar.


"Halah bilang aja kalau kak Gio pengen disini sama Ticia kan? Kak Gio belum bisa move on kan?" seru Rosalinda yang kembali membuat Varen naik pitam.


"Dan lo Cia, lo kenapa nggak lepasin kak Gio? Lo sengaja kan cari cara supaya bisa deket sama kak Gio lagi? Atau jangan-jangan lo juga manfaatin tante Dina supaya bisa deket lagi sama kak Gio, pelakor lo ya!!" seru Rosalinda memarahi Ticia.


Varen sudah tidak bisa lagi bersabar. Dia menggebrak meja dengan cukup keras. Dan bahkan membuat pelanggan di sebelahnya terkejut.


"Cukup ya Rose!! Gue muak dengan sifat posesif lo! Lo selalu nyalahin Ticia setiap kali lo marah, gue bukan orang yang bisa lo atur-atur semau jidat lo!!" ucap Varen dengan marah.


"Gio, udah sayank, malu dilihat banyak orang!" Dina menenangkan emosi anaknya.


"Ma..maafin gue kak," ucap Rosalinda dengan sendu. Dia bahkan meneteskan air matanya. Berharap, Varen akan luluh setelah melihat kesedihannya. Seperti itulah trik yang selalu digunakan Rosalinda.


Tapi ternyata, itu tidak cukup mampu membuat emosi Varen stabil. Dia malah semakin menajamkan tatapannya.


"Kak Vava, udah. Kasihan Rosalinda, dan malu dilihat banyak orang." giliran Ticia yang berkata. Ticia merasa tidak enak dengan pelanggan lainnya yang merasa terganggu dengan keributan itu.


Baru saat itu Varen menghela nafasnya untuk menurunkan tensi kemarahannya. Seharusnya Rosalinda bisa melihat dengan jelas. Siapa yang bisa meredamkan amarah Varen hanya dengan satu perkataan.

__ADS_1


Varen menatap Ticia. Mungkin dia berpikir, betapa baiknya wanita ini. Bahkan saat dia harus dituduh pun dia tidak marah, dan malah berbelas kasihan.


Sementara disudut pandang Rosalinda. Dia berpikir jika Ticia sengaja mengejeknya. Karena dia bisa menenangkan amarah Varen dengan satu perkataan saja.


"Gio, kamu anter Rosalinda pulang aja, kalau kamu nggak mau nemenin dia ke salon!" perintah mamanya.


"Kamu pulang aja yang Rose, jangan bikin Gio marah lagi!" ucap Dina kepada Rosalinda.


Rosalinda menganggukan kepalanya dengan air mata yang masih membasahi dipipinya. Sementara Varen menatap mamanya, kemudian menatap Ticia.


Ticia seperti tahu apa yang ingin Varen ucapkan. Sehingga dia tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan.


Selepas Varen dan Rosalinda meninggalkan tempat tersebut. Dina mengutarakan unek-uneknya kepada Ticia. Tentang Rosalinda dan Varen yang selalu saja bertengkar.


"Beda banget saat masih sama kamu, Gio tidak pernah marah, atau bahkan murung. Saat sama kamu, dia terlihat sangat bahagia, dan manja." ucap Dina dengan tersenyum kecil.


"Tante, apapun yang dilakukan Rose, itu semata hanya ingin mendapat perhatian kak Vava. Lagipula biar bagaimanapun, Rose adalah pilihan kak Vava." ucap Ticia tidak mau besar kepala hanya karena pujian.


"Tante juga kaget saat Gio bilang mau menerima perjodohan itu. Padahal saat itu tante sama om Darwis sudah tahu kebenaran yang sesungguhnya." ucap Dina mengenang.


"Kebenaran?" gumam Ticia penasaran.


Dina menganggukan kepalanya. Lalu kemudian menceritakan semuanya kepada Ticia. Dina juga minta maaf kepada Ticia mewakili suaminya. "Maafin om Darwis ya yang sudah memaksa kamu memilih pilihan yang sulit!" ucap Dina dengan wajah sedih.


"Jadi sebenarnya jika Gio tidak mau menerima perjodohan itu pun, keluarga kita juga akan kembali." lanjut Dina.


Ticia sebenarnya juga sedih dengan apa yang telah terjadi. Tapi semua juga sudah lewat. Ticia meraih tangan Dina. "Aku sudah maafin om Darwis kok tante, sebelum tante minta maaf." ucapnya dengan lembut.


"Tante berharap kamu bisa kasih Gio kesempatan, tante pengen lihat senyum Gio lagi, Cia!" mohon Dina.


"..."

__ADS_1


__ADS_2