
*Senyumanmu memabukanku
Tatapan matamu membuatku rindu
Tawamu selalu teringang-ngiang dalam mimpiku
Suaramu sungguh membuatku candu
Wahai, bidadariku
Dekaplah daku, dan dengarkan bisikan hatiku
Dalam setiap denyut nadiku
Rasakan detak jantungku
Hanya berdetak untuk namamu, Leticia-ku..
Love, Vava*..
Puisi tersebut tertulis di white board di dalam kelas Ticia.
Ketika Ticia melangkah memasuki kelas. Banyak pasang mata menatapnya sembari berbisik. Ticia belum tahu tentang puisi yang ada di white board. Karena setiap dia masuk ke kelas. Ticia tidak pernah menoleh ke kanan atau ke kiri.
Ticia meletakan tasnya di atas mejanya. Dia yang bingung dengan tatapan teman-temannya pun bertanya kepada Anabella yang juga senyum-senyum sendiri sambil menatapnya.
"Kenapa sih?" tanya Ticia penasaran.
Anabella masih tersenyum dan hanya menggerakkan kepalanya ke kiri. Ticia pun mengikuti gerakan kepala Anabella. Dan..
"Kak Varen romantis banget ya," ucap Anabella tersenyum lebih lebar ketika melihat Ticia membulatkan matanya karena kaget.
"Emang itu dia yang nulis? Tau darimana?" tanya Ticia.
"Tuh ada namanya, Vava, itu kan panggilan kesayangan lo buat dia." jawab Anabella dengan yakin. Dia sering banget mendengar Ticia memanggil Varen dengan sebutan 'kak Vava'.
Ticia kemudian tersenyum kecil. Tapi buru-buru maju ke depan dan menghapus tulisan tangan yang bisa dibilang rapi sebagai seorang lelaki.
Sebelum Ticia sampai ke papan tulis. Dia berpapasan dengan Rosalinda yang baru datang. Dan Rosalinda sempat membaca tulisan tersebut. Raut wajah Rosalinda berubah drasti ketika membaca bagian akhir dari puisi tersebut.
"Rose," sapa Ticia. Tapi Rosalinda tidak menjawab sapaan Ticia. Dan malah memalingkan wajahnya.
Ticia sangat paham apa yang dirasakan Rosalinda. Tahu kenapa Rosalinda bersikap seperti itu kepada dirinya. Tapi Ticia tidak mau ambil pusing. Dia tersenyum kecil lalu kemudian mencari penghapus dan menghapus tulisan tersebut.
"Cia, kalau pacaran jangan di kelas dong, anj*r gue kan jadi pengen, mana gue jomblo lagi." seru salah seorang teman lelaki Ticia di kelas tersebut.
__ADS_1
"Ya jangan bilang ke gue, bilang ke yang nulis ini dong." ucap Ticia masih berusaha menghapus tulisan yang mungkin membuat banyak orang iri.
Betapa romantisnya lelaki dingin itu. Di saat banyak wanita yang ingin dekat dengan lelaki itu. Tapi lelaki itu justru lebih memilih Ticia dari sekian banyak wanita cantik. Bahagia banget nggak sih.
"Ah sama aja cari mati kalau itu." gumam teman Ticia itu lagi. Dia tahu jika tulisan itu adalah Varen yang menulis. Jadi dia lebih memilih mengalah, dibanding harus cari gara-gara dengan Varen.
Ticia kembali ke tempat duduknya. Dia sempat melirik ke arah Rosalinda yang duduk di meja depannya. Antara kasian dan kesal melihat ekspresi tak suka Rosalinda kepadanya yang terlihat semakin jelas.
"Eh, by the way, Indah tumben belum datang?" tanya Ticia celingukan mencari dimana sahabatnya yang satu lagi.
"Sakit dia," jawab Anabella.
"Jadi story dia yang kemarin katanya ke rumah sakit itu beneran? Gue kira cuma status aja." ucap Ticia.
"Hmm, muntah terus katanya sampai lemes." jawab Anabella lagi.
"Kalau gitu ntar siang jengukin dia yuk!" ajak Ticia terdengar panik ketika tahu sahabatnya sakit.
"Boleh juga. Ke kantin yuk!" ajak Anabella. Tanpa banyak cincong Ticia dan Anabella keluar dari kelas.
Tapi Ticia sempat juga mengajak Rosalinda. Akan tetapi, sama saja, dia dicuekin oleh Rosalinda. Yang akhirnya membuat Anabella menjadi kesal.
Ticia menarik Anabella supaya tidak membuat keributan di kelas. Ticia tahu kalau Rosalinda masih kesal kepada dirinya.
Di kantin. Anabella masih saja mengomel. Dia gemes ingin jambak rambut Rosalinda. Meskipun Ticia sudah menenangkannya, tapi Anabella masih saja emosi.
"Udahlah biarin aja! Mending kita makan, laper banget gue." ucap Ticia.
"Emang belum sarapan lo?" tanya Anabella.
"Udah sih, tapi laper lagi."
"Dasar rakus emang lo. Tapi gue heran kok lo nggak gemuk-gemuk ya?" cibir Anabella.
"Nggak gemuk apanya, berat badan gue naik 2 kilogram tahu, semenjak pindah kesini." kata Ticia sembari memonyongkan bibirnya.
"Bagus dong, itu namanya lo lebih bahagia disini."
"Iya, karena gue punya sahabat kayak lo sama Indah. Thanks ya," ucap Ticia sembari memeluk Anabella.
"Gue juga mau dong dipeluk." ucap Iqbal yang entah datang darimana. Tiba-tiba udah ada di belakang mereka aja.
"Anj*r kaget gue.." seru Ticia kaget.
"Kak Iqbal!!!" seru Ticia sembari memukul lengan Iqbal dengan cukup keras.
__ADS_1
"Akh... sakit c*k.." erang Iqbal sembari memegangi lengannya yang sakit.
"Sukurin, siapa suruh ngagetin.." udah sakit malah kena omel Ticia juga.
Varen dan yang lain juga ikutan tertawa melihat ekspresi Iqbal yang memelas. Belum lagi dia kena omel Tika karena gangguin Ticia mulu.
"Nah lho dimarahin kan sama pawang lo." ucap Ticia lagi.
"Nih anak, dibelain malah ngeledekin mulu.." Tika juga mengomeli Ticia. Dia juga menarik telinga Ticia. Meskipun pelan menariknya.
"Ampun kak, ampun." ucap Ticia menahan tangan Tika yang masih menarik telinganya.
Tiba-tiba datang beberapa murid yang seperti adik kelas mereka. Dengan gayanya yang centil para adik kelas itu meminta nomer telepon Varen beserta ketiga temannya.
"Oh boleh, sini nomer hape kalian, biar gue save nomer gue di hape kalian." ucap Digta penuh semangat.
Memang dari keempat sahabat itu. Digta-lah yang terkenal sering gonta ganti gebetan. Sudah banyak wanita yang jadi korbannya. Dari teman seangkatannya, adik kelasnya, bahkan kakak kelasnya dulu. Bukan hanya itu, juga beberapa wanita yang kenal dia saat di club malam, atau saat dia sedang nongkrong. Pokoknya banyak.
"Nanti gue kirim nomer mereka bertiga." ucap Digta sambil mengembalikan ponsel milik adek kelasnya.
"Kak Varen, ini untuk kakak!" ucap salah satu dari mereka sambil memberikan bungkusan makanan kepada Varen. Sepertinya kue.
Varen menatap Ticia dulu sebelum menerima bungkusan itu. Meskipun Ticia tidak merespon apapun. Varen masih ragu menerimanya. Tapi karena terus dipaksa, akhirnya Varen menerima bungkusan tersebut.
"Makasih ya!" ucap Varen dengan gugup. Dia takut jika Ticia akan marah kepadanya. Dan tidak membiarkan dia dekat-dekat dengan Ticia.
"Tapi besok-besok nggak usah ngasih-ngasih lagi ya! Bukannya gimana, tapi gue nggak biasa nerima barang dari wanita. Gue hanya akan nerima barang dari wanita yang gue cinta." lanjut Varen yang membuat Ticia seketika menoleh menatapnya.
"Maaf ya kak," ucap adek kelas itu dengan sedikit menundukan kepalanya.
"Nggak apa, tapi gue tetep berterima kasih untuk ini." jawab Varen mengangkat bungkusan itu.
Setelah adek kelas itu pergi. Iqbal dan Rafa mengomeli Varen yang begitu tega kepada adek kelas tadi, menurut Iqbal dan Rafa.
"Gue nggak mau kasih harapan palsu ke wanita yang nggak gue suka." kata pembelaan dari Varen.
"Noh lihat kan, Gio begitu sangat mencintai lo, tapi kenapa lo sok-sokan nggak mau balikan sama dia. Kurang apa dia coba? Ganteng? Sama kayak gue. Keren? nggak beda jauhlah sama gue. Tajir? bueh jangan ditanya. Kurang apa lagi coba? Ntar kalau Gio diambil orang, nangis.. Nanti nangis.." ucap Iqbal sedikit kesal kepada Ticia yang masih sok jual mahal kepada Varen.
"Berisik lo." ucap Ticia mendorong kepala Iqbal.
"Woi, dosa banget lo, dorong-dorong kepala orang tua.." omel Iqbal.
"Cieee yang udah tua.." ucap Varen, Rafa, Digta dan Tika bersamaan. Kemudian mereka tertawa bersama.
Dan itu membuat Ticia dan Anabella ikutan tertawa melihat ekspresi Iqbal.
__ADS_1