
Darwis mengantar Rosalinda pulang ke rumahnya. Sekalian Darwis ingin bertemu dengan Jane, untuk membahas pembatalan rencana pernikahannya. Darwis sudah memantapkan hatinya. Dia memilih untuk kembali mengejar istrinya. Pertimbangannya jelas, dia masih mencintai Dina. Dan ingin memberikan anaknya keluarga yang kembali utuh.
"Tumben om mau ke rumah?" tanya Rosalinda sudah sedikit curiga setelah melihat mamanya Varen yang telah kembali.
"Ada hal yang penting yang ingin om sampaikan ke mama kamu." jawab Darwis yang sebenarnya masih bingung. Darwis berharap kepatusannya tidak akan membuat Jane sakit hati. Meskipun itu semua mustahil.
"Tante Dina kapan pulang om?" tanya Rose.
"Sebenarnya bukan pulang sih, tepatmya, om sudah menemukan mamanya Gio lagi. Tapi dia masih belum mau pulang ke rumah." jawab Darwis tanpa menutupi apapun di depan Rosalinda.
Setelah sampai di rumah Jane. Darwis berulang kali menghela nafasnya. Dia sedikit gugup.
Saat itu Jane sudah pulang dari kantor. Baru saja melepas lelahnya dengan meminum teh hangat yang disediakan oleh pembanyu rumah tangganya.
Beberapa hari setelah bertemu dengan Dina. Pikiran Jane memang selalu kacau. Apalagi Darwis yang tidak pernah menghubunginya setelah itu. Membuat Jane semakin harus mempersiapkan diri lebih awal untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
"Ma, dicari om Darwis." ucap Rosalinda yanga baru saja masuk ke dalam rumah. Dan mendapati mamanya sedang mengesap teh dari cangkir keramik berwarna putih itu.
Jane sedikit kaget mendengar perkataan anaknya. Seketika terangkatlah kepalanya dan melihat lelaki yang telah memenuhi pikiran selama bertahun-tahun tersebut berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Mas Darwis." gumamnya sembari meletakan cangkir yang ada ditangannya, kembali ke meja.
"Jane, aku ganggu nggak?" tanya Darwis dengan nada lembut.
"Nggak kok mas," jawab Jane merasa sedikit bahagia. Selama beberapa hari dia merindukan lelaki itu.
Rosalinda tidak mau menganggu urusan orang tua. Akhirnya dia pamit ke kamarnya.
Setelah Rosalinda pergi. Darwis tanpa basa basi mengatakan maksud tujuannya datang mencari Jane. Darwis mengutarakan keinginannya yang ingin membatalkan rencana pernikahan mereka.
__ADS_1
"Maksud mas?" Jane tampak kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Darwis. Meskipun sebelumnya dia sudah mempersiapkan untuk hal tersebut. Tapi ketika mendengar langsung dari mulut Darwis, hatinya tidak bisa tidak terluka.
"Maafin aku Jane, aku hanya ingin memberi anakku keluarga yang utuh. Dia tidak mau aku menikah dengan orang lain, dia menginginkan ibunya." ucap Darwis berusaha untuk bersikap kejam. Padahal kenyataannya Darwis sebenarnya tidak tega mengatakan hal tersebut.
"Aku mengerti sekarang, bukan Gio yang tidak mau punya mama tiri, tapi karena mas yang sebenarnya tidak pernah mencintai aku." ucap Jane dengan sedikit marah.
"Iya kan mas?" teriak Jane meminta jawaban yang pasti dari Darwis tanpa melibatkan Varen di dalam alasannya.
"Maafin aku Jane, apa yang kamu bilang itu benar. Aku belum bisa benar-benar melupakan Dina. Aku masih mencintai dia." jawab Darwis yang tentu saja membuat Jane menjadi murka.
"Terus kenapa mas mau berjanji untuk nikahin aku?" tanya Jane dengan emosi yang tidak terkontrol. Dengan menangis, Jane memukul dada Darwis pelan.
Darwis hanya terdiam tanpa menghentikan tindakan Jane. Dia tidak mau menghindar, dan membiarkan wanita itu meluapkan amarahnya sesuka hatinya. "Maafin aku. Kamu orang baik, aku yakin kamu akan dapat lelaki yang baik dari aku. Maafin aku!" ucap Darwis lagi.
Jane semakin marah. Dia menangis dan bahkan melempar cangkir teh-nya ke lantai. Pranggg. Cangkir tersebut pecah menjadi berkeping-keping.
Sama seperti hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Dia sudah sejak lama mencintai lelaki itu. Jauh sebelum dia menikah dengan papanya Rosalinda.
Saat itu Darwis yang masih dipenuhi amarah karena perselingkuhan istrinya, menerima ajakan nikah Jane. Darwis berpikir, jika istrinya tidak akan pernah kembali lagi. Bahkan Darwis berpikiran jika Dina kawin lari dengan selingkuhannya. Makanya tanpa berpikir panjang, dia menerima Jane dalam hidupnya.
"Aku mencintai kamu sudah lebih dari dua puluh tahun mas, kamu masih berpikir aku dapat membuka hati aku untuk laki-laki lain?" seru Jane dengan marah.
"Maafin aku Jane, aku akan memberi kamu kompensasi, apapun yang kamu mau."
"Aku nggak butuh kompensasi dari kamu, aku cuma kamu!" teriak Jane dengan sangat menyedihkan.
"Kamu lagi marah sekarang, kalau perasaan kamu udah baikan, kamu temui aku dan ajukan permintaan kamu, apapun itu. Aku pulang dulu." Darwis meninggalkan rumah Jane dengan langkah tegas tanpa menoleh ke belakang.
Sementara Jane hanya bisa menangisi nasibnya yang lagi-lagi harus kalah dari Dina. Selepas kepergian Darwis. Jane menjadi gila. Dia membalikan meja yang ada di depan dengan marah. "Brengs*k, kenapa aku harus kalah lagi dengan perempuan itu." ucapnya dengan emosi.
__ADS_1
Sedangkan Rosalinda yang sedari tadi mengintip pembicaraan mamanya dengan Darwis hanya bisa menahan amarahnya. Rosalinda menatap mamanya yang menangis dengan sangat menyedihkan.
Ini kali pertama dia melihat mamanya menangis seperti itu. Dulu waktu mamanya berpisah dengan papanya. Mamanya bahkan tidak meneteskan air mata sedikitpun.
Tanpa sadar Rosalinda mengepalkan tangannya. Dan sorot matanya menyiratkan kebencian yang tak bisa terkatakan.
****
Karena akibat kecelakaan dilapangan waktu pertandingan final. Varen harus berada di rumah selama kurang lebih satu minggu. Selama satu minggu juga, mamanya tidak pernah meninggalkannya. Urusan restorannya dia serahkan kepada orang kepercayaannya untuk sementara waktu.
Selama satu minggu itu juga. Ticia sepulang dari sekolah akan mampir dulu ke rumah Varen. Selain untuk memberikan semangat untuk sembuh. Juga untuk menyuapi Varen yang semakin manja selama sakit.
"Kak, kan yang sakit kaki lo ya, kenapa makannya juga harus disuapin sih?" protes Ticia sembari menyuapkan makanan ke dalam mulut sang kekasih.
"Tangan sama kaki itukan satu anggota tubuh. Jadi kalau kaki sakit, tangan juga ikut sakit." alibi yang sangat tidak masuk akal dari Varen.
"Mana ada teori kayak gitu. Meskipun satu amggota tubuh, tapi kan beda fungsi." protes Ticia lagi.
"Ada dong teori kayak gitu. Coba lo mikir tentang cinta pada pandangan pertama. Yang lihat matanya kan, kenapa hatinya yang merasakan?" tanya Varen dengan menatap Ticia.
"Karena semua anggota tubuh itu saling berkaitan. Sama halnya dengan cinta. Ketika lo sakit, gue juga merasa sedih. Begitu sebaliknya, ketika gue sakit, lo juga sedih kan? Itu karena hati kita sudah terikat satu sama lain." lanjut Varen.
"Nggak, siapa bilang gue sedih." sanggah Ticia dengan wajahnya memerah. Dia terlalu terpesona dengan perkataan Varen. Kata-kata yang sederhana tapi mengena dihatinya.
"Kemarin siapa yang nangis waktu gue jatuh dan kesakitan?" sindir Varen sambil tersenyum kecil melihat wajah Ticia yang malu-malu.
"Atau kapan hari itu siapa yang nangis, takut kalau gue mau bunuh diri." imbuh Varen, semakin membuat Ticia menjadi malu.
"Lo cantik kalau sedang malu-malu gitu." ucap Varen sambil menyentuh pipi Ticia dengan satu tangannya. Sedangkan Ticia hanya menggigit bibir tipisnya menahan senyum. Dia menatap Varen dengan lembut. Mereka saling bertatapan dengan sangat dekat.
__ADS_1
Setelah empat bulan bersama. Hati mereka masih saja berbunga ketika mereka saling bertatapan dengan mesra. Cinta yang semakin hari semakin tumbuh kuat dalam hati mereka.