
Tak lama kemudian Ticia dan Varen sampai di kafe tempat Arka nongkrong bersama teman-temannya. Ticia yang sudah merasa sangat geram. Langsung turun dari mobil tanpa menunggu Varen yang lebih dulu memarkirkan mobilnya.
Ticia masuk ke dalam kafe. Dia mencari-cari dan tak butuh waktu lama. Ticia menemukan keberadaan Arka. Tanpa pikir panjang, Ticia menghampiri meja Arka dan menggebraknya.
Brakk..
"Gue mau ngomong sama lo!" ucapnya sambil menatap Arka tajam.
Arka yang melihat wajah marah Ticia pun paham alasan Ticia mencarinya. Tapi belum Arka menjawab. Perempuan yang bersama dengan Arka menjadi marah karena ketidak sopanan Ticia.
"Lo siapa?" ucap wanita itu sambil mendorong Ticia.
"Jangan kasar lah, lo nggak apa kan cantik?" ucap lelaki yang menolong Ticia.
"Makasih," ucap Ticia dengan menggerakan sedikit tubuhnya supaya teman Arka itu tidak lagi memegang kedua bahunya.
"Jangan ketus gitu dong cantik, kenalin gue-"
"Maaf, gue kesini mau ngomong sama Arka, bukan mau kenalan sama kakak." Ticia memotong ucapan perkenalan teman Arka.
"Lo tahu nggak, gue suka banget sama cewek judes kayak lo." lelaki itu mencolek dagu Ticia.
"Lo percaya nggak, kalau gue akan patahin tangan orang yang kurang ajar ke pacar gue!" Varen tiba-tiba menggenggam tangan lelaki itu dan memlintirnya.
Melihat temannya kesakitan. Membuat teman Arka yang lain ikut berhenti. "Lepasin dia nggak!" ucap salah satu dari mereka kepada Varen.
"Ajarin temen lo, sopan santun ke cewek!" Varen melepaskan tangan lelaki yang berani mencolek Ticia dengan sedikit mendorongnya.
Brakk..
"Mau jadi jagoan lo?" teman Arka ada yang tidak terima. Dia menggebrak meja untuk menggertak Varen.
"Udah, mereka temen gue!" Arka menahan temannya yang hendak menyerang Varen.
__ADS_1
"Kita bicara di luar aja!" ucap Arka sambil berdiri dari tempat duduknya.
Di luar kafe. Ticia dengan geram menampar pipi Arka dengan cukup keras. Ticia menyesalkan apa yang telah Arka lakukan kepada sahabatnya. Di saat Indah sedang sakit akibat ngidam. Sementara Arka malah senang-senang dengan wanita lain di luar.
"Lo keterlaluan tahu nggak, anak yang dikandung Indah itu juga darah daging lo!" seru Ticia dengan marah. Bahkan saking marahnya dia hampir menangis mengingat kondisi sahabatnya.
"Sabar!" Varen memeluk Ticia yang hampir menangis. Varen tahu Ticia sangat marah saat ini.
"Gue tahu anak itu darah daging gue, tapi gue harus gimana? Gue baru aja masuk kuliah dan Indah juga masih sekolah, gue belum siap. Apa gue minta Indah buat gugurin saja."
Bukkk..
Varen memukul Arka sampai Arka terjatuh. Apa yang menyulut kemarahan Varen ialah perkataan Arka yang mengatakan jika dia belum siap. Lantas kenapa dia berani melakukan hal seperti itu jika belum siap. Kalaupun tidak bisa menahan, kenapa tidak pakai pengaman.
Lagipula, anak itu adalah hasil perbuatannya sendiri. Darah dan dagingnya. Bisa-bisanya Arka kepikiran meminta Indah untuk menggugurkannya.
Apakah masih pantas dia disebut manusia.
"Kalau belum siap, kenapa lo lakuin itu?" tanya Varen dengan geram.
Beruntung, Ticia langsung menghentikan Varen dengan memeluknya. Jadi, Arka tidak terlalu banyak terluka.
"Sumpah gue baru ketemu orang yang tidak berperasaan seperti lo." ucap Ticia juga sangat geram dengan apa yang dikatakan oleh Arka.
"Lo banyangin! Bayangin aja dulu! Atau lo lihat anak kecil itu!" Ticia menunjuk seorang anak kecil berusia sekeitar dua tahun yang sedang berlarian dengan gemasnya.
"Bayangin anak itu anak lo, saat dia lahir dia membuka matanya dan melihat lo dengan mata kecilnya, kemudian dia menangis karena dia ingin lo gendong dia, setiap hari bertingkah menggemaskan, saat lo pulang, dia akan berlari dengan bahagia dan memanggil 'papa'." saat Ticia berkata, entah kenapa Arka terdiam dan terus memperhatikan anak kecil tersebut.
"Semakin dia besar, dia akan semakin menunjukan kasih sayangnya, atau dia akan selalu berkata 'papaku sangat mencintaiku', dan saat lo tua, anak lo yang akan menjadi tongkat lo. Apa lo masih tega untuk menghilangkannya sekarang? Anak yang di dalam tubuhnya mengalir darah lo." seperti dihipnotis oleh kata-kata Ticia. Tanpa di sadari, Arka pun menangis sesegukan.
Mungkin dia membayangkan kehidupannya di masa depan bersama anaknya.
"Lo benar Cia, anak itu akan menjadi tongkat gue ketika gue tua kelak, dia tidak bersalah," lirih Arka dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
__ADS_1
"Anak itu adalah anugerah kak, banyak di luar sana yang ingin punya anak, bahkan sudah melakukan berbagai cara, lo orang yang beruntung, karena lo diberi rejeki itu tanpa lo meminta," ucap Ticia lagi.
Setelah mempertimbangkan dengan yakin. Arka akhirnya memutuskan untuk bertanggung jawab. Tidak peduli apa kata orang kepadanya. Yang penting dia ingin memberi anaknya keluarga yang utuh. Karena anak itu adalah kelangsungan hidupnya.
"Makasih ya Cia, Va! Karena kalian udah ngingetin gue akan kewajiban gue, kalau bukan karena kalian, gue pasti akan menyesal seumur hidup gue. Thank." ucap Arka sambil menepuk lengan Ticia dan Varen pelan.
Arka yakin tidak akan menyesali keputusannya untuk memberikan anak itu sebuah kehidupan. Arka kemudian bergegas menuju rumah sakit untuk menemui Indah.
Melihat Arka yang pergi dengan yakin. Ticia pun tersenyum bahagia. Dia tiba-tiba memeluk Varen yang ada di sampingnya.
"Kenapa? Hmm?" tanya Varen juga membalas pelukan Ticia.
"Nggak apa-apa. Gue lega aja, awalnya gue takut kalau Arka tidak mau tanggung jawab. Tapi ternyata, dia masih Arka yang gue kanal dulu. Arka yang baik, dan juga sangat mencintai Indah." jawab Ticia merasa sangat lega. Dia menghela nafas berkali-kali dan masih belum mau melepaskan pelukannya.
"Tapi gue agak kecewa sih, kenapa mereka harus melakukan itu dulu sebelum sah jadi suami istri." imbuh Ticia.
"Mungkin mereka terbawa dengan kemajuan jaman. Jaman sekarang kan hal seperti itu wajar-wajar aja. Emang lo nggak pengen?" tanya Varen dengan tersenyum.
"Apaan sih, mes*m banget lo!" Ticia mendorong Varen dengan kesal.
"Kalau mau kayak gitu, cari aja wanita lain! Jangan deketin gue!" ucap Ticia marah dan terus mendorong Varen menjauh.
"Bercanda doang sayank!" awalnya Varen memang hanya ingin menggoda Ticia. Eh, malah Ticia beneran marah.
"Jangan deket-deket gue!" seru Ticia terus mundur saat Varen mendekat.
"Apaan sih yank, orang cuma bercanda doang." Varen memaksa memeluk Ticia. Tapi Ticia terus saja meronta.
"Gue nggak ada pikiran kayak gitu, gini-gini gue juga takut dosa tahu." ucap Varen lagi tanpa melepaskan pelukannya.
"Awas aja kalau punya pikiran kayak gitu!" ancam Ticia yang sudah mulai tenang dalam pelukan Varen.
"Enggak sayankku." jawab Varen. Dia memang hanya ingin menggoda Ticia saja. Kalaupun dia orang yang mes*m seperti yang Ticia pikirkan. Apa mungkin Varen akan pergi saat Rosalinda bertelanj*ng di depannya.
__ADS_1
Mungkin penampilannya memang seperti anak nakal. Tapi Varen sama sekali tidak pernah punya pikiran ke arah sana, sebelum menikah.
Dia ingin mencintai wanita dengan menghargai dan menjaga kehormatan wanita itu. Itu baru di sebut pria sejati.