
"Yank, lo sama Samuel udah kenal lama ya?" tanya Varen yang merasa pikirannya terganggu dengan pujian Samuel ke Ticia.
"Hmm, dulu kita tetanggaan di tempat tinggal gue yang dulu." jawab Ticia tidak mau menyembunyikan apapun dari Varen.
"Samuel ganteng ya?"
"Banget, dulu waktu kecil dia jadi idola di kalangan tetangga. Dulu gue juga sempat naksir sih." Ticia terus saja nyerocos tanpa melihat lelaki yang disampingnya sudah memasang wajah yang cemberut.
"Sama gue gantengan mana?" Mendengar suara Varen yang sedikit marah. Ticia pun langsung menoleh dan sudah mendapati raut bete kekasihnya.
Menyadari itu Ticia langsung mengecup pipi Varen. "Gantengan lo lah, meskipun nggak beda jauh, tapi masih gantengan pacar gue dong. Apalagi kalau dia senyum, ihh, gantengnya nggak ada obat." ucap Ticia sembari mengalungkan tangannya ke leher Varen.
Siang itu orang tua Varen sedang ke resto milik Dina yang ada di daerah wisata. Tempat pertama Dina membuka usaha kulinernya. Jadi, Varen dan Ticia sedikit leluasa bermesraan di rumah Varen.
Varen tidak menggubris pujian kekasihnya. Akan tetapi, Ticia yang cerdik terus saja merayunya. Sampai akhirnya membuat Varen tersenyum.
"Tuh kan ganteng banget," ucap Ticia ketika Varen tersenyum kecil. Setelah mendengar pujian itu Varen pun kemudian tersenyum lebar.
Varen mengulurkan tangannya memeluk pinggang ramping Ticia. Dia menatap Ticia dengan penuh kasih sayang. Dia benar-benar jatuh cinta kepada wanita yang mengisi hatinya untuk pertama kalinya tersebut.
Dalam, dalam, dan semakin dalam. Mata mereka saling bertatapan dengan hangat. Ada cinta, ada kebahagiaan, dan ada kasih sayang disana.
"I love you," ucap Varen.
"I love you more." balas Ticia membuat Varen tersenyum bahagia.
Wajah Varen pun akhirnya sedikit maju dan mendekat ke wajah Ticia. Tidak ada penolakan, artinya Ticia tidak menghindar. Varen pun semakin maju, maju, dan maju. Sampai akhirnya bibirnya menempel di bibir Ticia.
Di kecupnya pelan bibir merah mungil tersebut. Tidak ada penolakan. Varen kembali mengecup bibir Ticia. Dan kali ini Ticia merespon dengan mengecup balik bibir tipis Varen.
Setelah itu kedua remaja yang saling jatuh cinta tersebut tenggelam dalam hasrat masing-masing. Keduanya bercium*n dengan cukup lama. Seakan tidak mau melepaskan satu sama lain.
Setelah keduanya melepaskan cium*n tersebut. Ticia mengelap air liur yang ada dipipinya ke baju Varen.
"Jorok banget sih lo," ucap Varen dengan tersenyum. Dia tidak merasa ilfil atau gimana. Tapi justru geli melihat tingkah konyol kekasihnya.
"Biarin!" Ticia mengambil sate donat yang ada di meja.
Tapi dengan cepat Varen ikut menggigit donat tersebut begitu Ticia menggigitnya. Ticia yang kaget pun langsung memukul lengan Varen dengan cukup keras.
__ADS_1
"Aw.." erang Varen sembari memegangi lengannya.
"Rasain! Siapa suruh ngagetin." ucap Ticia sambil mengunyah doant tadi.
"Cuma minta dikit doang."
"Tuh di meja kan ada!" omel Ticia.
****
*Di rumah Digta*
Digta mendapati papanya sedang bermesraan dengan seoran wanita muda di rumahnya. Dia merasa marah karena belum lama ini mamanya pergi dari rumah.
"Apa papa juga seperti ini sewaktu mama masih ada di rumah?" tanya Digta dengan marah.
"Anak kecil jangan ikut campur urusan orang tua!" ucap papanya dengan kejam. Kejam karena tidak mengerti perasaan anaknya.
"Mama udah dua bulan pergi, dan papa malah mesra-mesraan dengan wanita lain. Papa masih punya hati nggak sih?" seru Digta dengan marah.
Plakkk..
Digta mendapat tamparan yang cukup keras dari papanya. "Masuk ke kamar kamu!" ucap papanya.
Dua bulan yang lalu. Dia terbangun di tengah malam karena mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Dia juga melihat papanya memukul mamanya.
Dan, keesokan paginya mamanya sudah pergi dari rumah. Digta menyimpan sendiri pertanyaan yang ada di pikirannya. Apa yang membuat mamanya pergi. Dan apa yang membuat kedua orang tuanya bertengkar.
Meskipun malam itu bukan pertengkaran pertama kedua orang tuanya. Tapi malam itu pertengkaran terhebat mereka.
"Apa papa selama ini sudah selingkuhi mama?" Digta bertanya-tanya dalam hati.
Tapi, meskipun selama dua bulan dia di rundung masalah di rumah. Tapi di sekolah dia mampu menyembunyikan kesedihannya. Dia masih bersikap biasa saja di depan teman-temannya.
Betapa kuatnya Digta menyimpan semua itu sendiri.
Di dalam kamar, Digta mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Asap rokok mengempul di udara. Untungnya Digta menghidupkan pembersih udara, jadi kamarnya tidak terlalu menyengat bau rokoknya.
Digta merasa tidak kuat lagi menahan amarah di dalam dirinya. Dia memutuskan untuk menceritakan masalahnya kepada teman-temannya. Setidak itu bisa mengurangi sedikit beban pikirannya.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Digta dan teman-temannya sudah berkumpul di club malam. Tempat biasa mereka kesana kalau lagi ada masalah.
Varen datang paling akhir. Sebenarnya Varen tidak setuju untuk datang ke tempat tersebut. Tapi karena kata Digta dia butuh banget cerita. Akhirnya Varen mau datang ke tempat itu.
Kedatangan Varen tentunya disambut bahagia oleh Angel. Perempuan yang bekerja di club malam tersebut. Yang juga memiliki perasaan kepada Varen.
"Hai Gi, lama tidak kesini? Gue kangen tahu." ucap Angel sembari menggandeng tangan Varen.
"Gue sibuk kak," jawab Varen sopan. Varen juga berusaha melepaskan tangan Angel yang melingkar di lengannya.
"Ish, dibilangin jangan panggil kak, panggil Angel!" protes Angel dengan genit. Angel memang lebih tua dari Varen makanya Varen memanggilnya kakak. Tapi, Angel tidak mau dipanggil kakak. Dia maunya dipanggil nama langsung. Biar lebih akrab katanya.
"Mau minum apa? Biar gue temenin.."
"Nggak usah kak, gue udah bawa air mineral dari rumah." Mendengar jawaban Varen. Angel pun melongo. Menurutnya Varen benar-benar sudah berubah. Varen tidak lagi mau minum minuman keras. Bahkan tidak malu membawa sebotol air mineral ke club tersebut. Tentunya dia taruh di dalam tas. Karena kebijakan di club tersebut, tidak boleh bawa minuman dari luar.
"Gue denger, lo udah punya pacar ya sekarang?" Varen hanya menganggukan kepalanya saja.
"Yeah, gue udah nggak ada kesempatan dong?" Angel sengaja memajukan badannya. Dia menempelkan dadanya di lengan Varen.
"Kak Angel jangan gangguin Gio ya! Dia pacarnya adik gue!" ucap Tika yang tidak suka dengan cara Angel merayu Varen.
"Oh, oke." Angel melepaskan tangannya dari pundak Varen yang sudah duduk daritadi.
"Kalau lo butuh selingan, hubungin gue aja, lo masih simpen kan nomer gue?" bisik Angel dengan manja.
"Nggak perlu kak, gue sangat puas dengan pacar gue.." jawab Varen cepat.
Setelah Angel pergi. Digta pun mulai menceritakan masalahnya kepada teman-temannya. Dengan air mata yang tak terkendali, dia mengutarakan perasaannya.
Varen berusaha menguatkan Digta. Dia juga pernah ada di posisi Digta saat ini. "Cari mama lo kemanapun! Gue yakin dia juga sangat menyayangi lo." ucap Varen.
"Tapi kenapa mama gue hanya mau bawa adik gue, sementara gue ditinggal?" tanya Digta dengan hati yang terluka.
"Mungkin mama lo kepengen ada salah satu dari anaknya yang menemani papanya. Biar bagaimana pun dia tetep papa lo." ucap Varen lagi.
Sementara Digta yang tidak kuat dengan semuanya mulai menenggak minuman keras yang ada di tangannya.
"Seenggaknya lo masih punya kita, Dig.." ucap Iqbal mengangkat gelas dan kemudian menenggak minuman keras yang ada di gelas itu juga.
__ADS_1
Di susul oleh Rafa yang juga ikut merasakan kepedihan sahabatnya. Tapi Varen dan Tika tidak ikut minum minuman keras itu. Sudah sejak beberapa bulan lalu Varen dan Tika berhenti minum minuman keras.
Kalau Varen mungkin semenjak kenal Ticia dia sudah berhenti. Kalau Tika mungkin setelah kedua orang tuanya meninggal. Atau lebih tepatnya setelah dekat dengan Nathan. Tapi meskipun begitu, mereka berdua juga ikut merasakan kepedihan sahabat mereka.