
Varen tanpa sengaja bertemu dengan Rosalinda sewaktu dia berjalan ke kantin. Awalnya dia ingin cuek kepada Rosalinda. Tapi dia teringat akan masalah kemarin.
"Kak Gio.." sapa Rosalinda seperti biasa.
"Rose, gue mau ngomong bentar!" pinta Varen menghentikan langkah Rosalinda yang mendahuluinya.
Rosalinda kemudian berhenti dan berbalik. "Ada apa kak?" tanya Rosalinda yang merasa senang sekali karena Varen masih mau bicara dengan dia.
"Rose, gue mohon lo jangan provokasi Ticia lagi! Gue tahu lo kecewa sama gue, tapi semua itu tidak ada hubungannya dengan Ticia. Gue yang nggak bisa move on dari dia." ucap Varen memperingati Rosalinda.
Varen ingin menjalani hubungan yang tenang dengan Ticia.
Rosalinda yang tadi senang karena Varen mau bicara dengannya lagi. Mulai berubahlah raut wajah Rosalinda. Dia merasa Varen sedang memarahinya.
"Kenapa harus Ticia sih kak? Apa kurangnya gue? Gue lebih cantik dari dia, lebih kaya, dan juga yang penting kita seiman." Rosalinda bertanya apa kekurangannya jika dibandingkan dengan Ticia.
"Banyak kurangnya lo. Banyak yang lo nggak punya tapi dia punya. Rasa nyaman contohnya." sahut Varen dengan cepat. Dia sangat tidak suka jika ada orang yang membanding-bandingan dirinya dengan kekasihnya. Di matanya, Ticia lebih dari semua wanita yang dia kenal.
"Gue cuma peringatkan saja, kalau lo masih mencoba ganggu hubungan gue dengan Ticia. Lo akan tahu sendiri akibatnya!" tutur Varen kemudian meninggalkan Rosalinda yang terkejut dengan sikap Varen yang begitu dingin. Lebih dingin dari sebelumnya.
Melihat Varen yang pergi tanpa menoleh ke belakang. Membuat Rosalinda merasakan sesak di dada. Mungkin dia sudah tidak memiliki harapan lagi kepada pria itu.
Rosalinda berhenti dan tidak jadi ke kantin. Dia memutar arah dan kembali ke kelasnya. Dengan langkah berat dia terus berusaha menegakkan kepalanya. Hatinya sakit, dan dadanya terasa sesak.
Dia baru pertama kali merasakan rasa seperti itu. Pria yang dia kenal pada saat dia masa kecil. Pria yang dia sukai selamanya ini. Akhirnya, tidak mungkin dia dapatkan.
"Ah, tapi mereka juga tidak akan bisa bersatu, jadi gue masih punya kesemparan untuk itu." ucapnya pada diri sendiri untuk membangkitkan semangat dalam dirinya kembali.
Rosalinda memilih mundur selangkah dan maju tiga langkah sekalian. Artinya, dia memilih mundur untuk saat ini. Dan merencanakan langkah yang langsung bisa sejauh tiga langkah.
"Gue yakin masih ada kesempatan." gumamnya dengan penuh keyakinan. Meskipun hatinya masih terasa sakit. Tapi dia sangat yakin, pria itu akan menjadi miliknya di kemudian hari.
*Di kantin sekolah*
__ADS_1
Varen dan Ticia sedang mengolok Tika dan Nathan yang semakin hari semakin dekat. Tidak lupa Ticia juga menyentil Iqbal yang selama ini selalu dijodoh-jodohkan dengan Tika.
"Lo kelamaan sih kak, jadinya kak Tika diambil sama kak Nathan." ucapnya kepada Iqbal.
"Nih anak mulutnya ngegosip mulu.." Tika yang kesal menarik bibir Ticia sambil tertawa.
"Emang nih anak minta dinikahin, biar nggak ngegosip mulu, mau nggak gue nikahin?" seru Iqbal dengan raut wajah serius. Tapi sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi konyol. Karena saat itu Varen langsung menatapnya dengan tajam.
"Ogah..." seru Ticia sambil bergidik.
"Bercanda doang Gi, lo lihat gitu banget, kayak mau makan orang." ucap Iqbal dengan tersenyum beg*.
"Nah lo, macem-macem sih. Orang Ticia maunya nikah sama gue, ya nggak Cia?" sahut Digta sembari menaik turunkan alisnya.
"Ini lagi ikut-ikutan, orang maunya sama gue." Rafa tak mau kalah dari kedua temannya.
"Idih, nggak mau gue. Gue maunya sama kak Vava." Ticia sangat pandai membuat hati Varen senang. Dia menggeser tubuhnya supaya lebih dekat ke Varen yang sudah memasang wajah menakutkan.
Varen pun mulai mencair. Dia terlihat tersenyum kecil sambil mencubit kedua pipi Ticia.
"Iya Gi, nggak mungkinlah kita tikung lo. Santai bro.." tutur Rafa juga tak kalah geli melihat raut wajah Varen yang menakutan.
"Iya, lagian kayak nggak ada cewek tang lebih cakep aja." sahut Iqbal sambil tertawa. Karena perkataannya tersebut adalah sindiran untuk Ticia.
"Woi, gue cakeplah.. Enak aja. Ya kan yank?" srru Ticia merasa tidak terima dengan sindiran Iqbal.
Ticia kemudian bertanya kepada Varen untuk mencari bala bantuan. "Yank??" tanyanya lagi sambil melotot.
"Iya dong, kalau nggak cakep mana mungkin gue mau, mana mungkin gue sampai nggak bisa move on." jawab Varen sambil menatap Ticia.
"Itu karena lo beg*, orang sama Pretty aja masih cakepan Pretty.." ucap Iqbal.
"Pretty siapa yank?" tanya Ticia.
__ADS_1
"Kucingnya dia." jawab Varen yang membuat Ticia mencak-mencak karena disamakan dengan seekor kucing.
Ticia menendang kursi Iqbal dengan marah. "Kampret lo ya, masa gue lo samain dengan kucing lo. ****** emang lo!" omelnya.
Iqbal bukannya takut diomeli Ticiam Eh, dia malah tertawa terbahak-bahak. Dan lagi, si Rafa dan Digta juga ikutan tertawa. Mereka bertiga malah bertos ria melihat Ticia yang merasa kesal.
Melihat kekasihnya merasa kesal dan manyun. Varen pun menariknya ke dalam pelukannya. "Nggak usah hiraukan mereka. Bagi gue lo lebih cantik dari siapapun." ucapnya memenangkan Ticia.
"Ntar pulang sekolah beli camilan kesukaan lo mau nggak?" tanya Varen dengan lembut. Dan masih dengan mendekap Ticia.
"Yang banyak tapi!" lirih Ticia.
"Iya nanti beli yang banyak, jangan sedih lagi." ucap Varen sembari mengecup puncak kepala Ticia dengan lembut.
Tentu saja pemandangan uwu tersebut membuat Rafa, Iqbal dan juga Digta menjadi heboh. Mereka menuduh Varen dan Ticia pasangan yang tidak berperasaan. Mereka juga bilang Varen dan Ticia pasangan yang suka pamer kemesraan.
"Padahal si Ticia cuma modus tuh, biar dipeluk Gio." seru Digta memulai kegaduhan.
"Emang, dia kan cuma pengen pamer kemesraan." sungut Rafa.
"Ngertiin perasaan jomblo ngapa?" ucap Iqbal dengan melas.
"Kasihan noh si Iqbal belum pernah ngerasain pacaran karena ditolak mulu sama gebetannya." ucap Digta balik mengolok-olok cinta tak sampainya Iqbal.
"Anj*r, orang lo juga sama kayak gue. Lo kan cuma dimanfaatin doang," balas Iqbal sambil memukul lengan Digta yang duduk di sebelahnya.
"Pengen ya? Pengen ya? Makanya punya pacar!" olok Ticia sambil menjukurkan lidahnya. Dia merasa senang karena bisa mengolok-olok balik ketiga sahabat pacarnya tersebut.
"Tapi tunggu dulu, gimana mau punya pacar, orang kalian nggak ada yang modal." Ticia tertawa dengan sangat bahagia.
"Mana ada wanita yang mau kalau modal bac*tan doang, apalagi cuma modal bunga setangkai doang." Varen juga mengolok-olok ketiga temannya tersebut.
"Anj*r lo, ikut-ikutan." seru ketiga teman Varen bersamaan.
__ADS_1
"Karena yang kasih mawar, akan kalah sama kasih mahar.." celetuk Ticia yang membuat tawa semua teman-temannya.
"Pinter nih anak," sahut Tika yang juga terbahak-bahak mendengar penuturan Ticia.