
"Gue mau tidur, besok lo harus pulang!" ucap Ticia begitu dia sadar bahwa dia telah memeluk Varen.
"Lo juga pulang?" tanya Varen menahan tangan Ticia.
"Gue pulang hari sabtu," jawabnya.
"Kalau gitu gue juga pulang hari sabtu."
"Ntar lo dicari papa sama mama lo!"
"Biarin aja," Varen masih kekeh tidak mau pulang. Dia hanya akan pulang jika Ticia pulang.
"Terserah lo!" ucap Ticia lalu kemudian menarik tangannya. Dia berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Wajahnya memerah karena malu.
Sementara Varen tidak ikut masuk ke rumah. Dia kembali duduk di teras seorang diri. Baru kali ini dia nginep di luar rumah, selain di hotelnya. Apalagi di pedesaan seperti ini. Untuk pertama kalinya dia tidak merasa risih.
Meskipun sedikit tidak terbiasa. Tapi demi bisa dekat dengan wanita pujaannya. Varen berusaha untuk menyesuaikan diri.
"Va, belum tidur?" tanya ayah Ticia yang terbangun karena haus. Sewaktu dia hendak ke dapur, dia melihat bayangan di depan rumah. Karena penasaran, Daniel pun membuka pintu. Dia mendapati Varen yang sedang duduk seorang diri di teras rumahnya.
"Belum ngantuk yah, tadi sore udah sempat tidur sih." jawab Varen dengan tersenyum.
"Kenapa? Nggak betah tinggal di desa?" tanya ayah Ticia, kemudian dia duduk di sebelah Varen.
"Betah kok yah, ya, meskipun tidak terbiasa."
"Kamu nggak dicari papa kamu?"
"Papa mana ada waktu buat nyariin aku, yah."
Melihat Varen yang menundukan kepalanya dengan sedih. Membuat ayah Ticia tersenyum kecil. Dia paham kehidupan orang kaya. Dia juga merasa beruntung. Meskipun tidak bisa memberikan putrinya harta yang melimpah. Setidaknya dia dan istrinya bisa memberikan perhatian yang lebih untuk putrinya.
"Semua orang tua ingin membahagiakan anaknya, ayah yakin, papa kamu juga sama. Mungkin saat ini dia sedang berusaha keras untuk masa depan kamu." ucap ayah Ticia.
"Mungkin juga sih yah,"
__ADS_1
"Ayah dengar, papa kamu bangun hotel baru, dan di berikan ke kamu?"
Varen tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya. "Sejak masuk SMP, Varen sudah diajari papa cara mengelola hotel. Dan saat ini, meskipun Varen masih sekolah, tapi Varen siap mengelola hotel tersebut. Doain Varen ya yah, supaya Varen mampu bersaing dengan pebisnis lain di bidang perhotelan!" ucap Varen meminta doa restu kepada ayah Ticia.
"Ayah seneng lihat pemuda yang penuh semangat seperti kamu. Ayah doain semua bisnis kamu berjalan dengan lancar, sukses ke depannya." ayah Ticia menyanjung semangat Varen. Baru kali ini dia melihat seorang anak muda. Bahkan masih sangat muda. Tapi punya pemikiran jauh ke depan untuk berbisnis. Tentunya semua itu juga didukung oleh finansial yang kuat dari papanya, selaku pengusaha hotel yang cukup terkenal.
"Tapi inget, jangan jumawa, semua itu hanyalah titipan. Tetap rendah hati!" pesan dari ayah Ticia.
"Makasih yah!" ayah Ticia merangkul Varen dan menepuk pundak Varen pelan.
Ketika merangkul Varen. Tiba-tiba ayah Ticia merasa sedih. Dia teringat anak sulungnya yang sudah meninggal dunia. Umurnya kira-kira sepantaran dengan Varen. Semangatnya juga sama seperti Varen.
"Ayah balik ke kamar dulu! Kamu juga cepat tidur!" ayah Ticia berusaha keras menyembunyikan kesedihannya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi sedih dengan kepergian putranya.
Tapi, ternyata ayah Ticia mendatangi kamar yang digunakan Ticia. Dia meminta putrinya untuk menemani Varen yang melamun seorang diri di depan rumah.
Ticia pun terpaksa keluar kembali. Dia berusaha untuk menghindari Varen karena takut baper lagi. Tapi ayahnya malah memintanya untuk menemani Varen. Dengan menggerutu Ticia akhirnya keluar lagi. Meskipun menggerutu, Ticia tidak berani membantah perintah ayahnya.
"Kak Vava kenapa belum masuk?" tanyanya sembari menguap.
Mendengar suara khas Ticia. Varen pun menoleh dan tersenyum melihat Ticia keluar lagi. "Belum ngantuk yank." jawab Varen.
"Tidur aja dulu kalau udah ngantuk!" ucap Varen sambil menatap Ticia yang terus-terusan menguap.
"Kak, kenapa sih lo nggak terima aja perjodohan lo dengan Rose?" tanya Ticia.
"Gue nggak cinta sama dia. Gue hanya akan menikah dengan wanita yang gue cintai."
"Tapi kita beda keyakinan, nggak mungkin kita menikah."
"Emang gue bilang mau nikahin lo?" tanya Varen dengan tersenyum. Dia bermaksud menggoda Ticia.
"Tadi katanya wanita yang lo cintai," Ticia berkata dengan sedikit kesal.
"Emang gue cinta sama lo?" Varen kembali menggoda Ticia. Dan pertanyaan Varen tersebut. Membuat Ticia membulatkan matanya. Dia merasa sangat malu. Karena sudah dengan pede-nya berkata jika mereka tidak mungkin bisa menikah.
__ADS_1
"Oh ya gue lupa, gue kan bukan siapa-siapa lo." ucap Ticia dengan sedikit cemberut.
Melihat wajah Ticia yang cemberut. Membuat Varen menjadi terbahak. Varen lalu menarik Ticia ke dalam pelukannya. "Gue cuma bercanda. Lo tahu cinta gue cuma buat lo." ucapnya.
Seketika memerahlah wajah Ticia. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Varen. Tapi Varen semakin erat memeluknya, dan membuatnya tidak bisa bergerak.
"Sakit kak Vava!" keluh Ticia berusaha lebih keras melepaskan pelukan Varen. Akan tetapi tenaganya tidak cukup kaut untuk melawan tenaga Varen.
"Bilang dulu kak Vava ganteng." suruh Varen masih tidak mau melepaskan pelukannya.
"Ish, narsis. Nggak mau." permintaan Varen ditolak mentah-mentah oleh Ticia.
"Bilang aja kalau lo emang suka gue peluk kayak gini." tingkat kepercayaan diri Varen naik seratus persen.
"Kak Vava ganteng banget." ucap Ticia dengan tersenyum yang dipaksakan.
"Hah..." Ticia bernafas lega setelah Varen melepaskan pelukannya.
"Kak kita kan sudah putus, jadi gue harap lo bahagia selamanya dengan Rose! Kalian cocok kok,"
"Gue hanya akan nikah dengan wanita yang gue cintai." Varen menatap tajam ke arah Ticia. Membuat Ticia menjadi salah tingkah.
"Tapi itu nggak mungkin." ucap Ticia dengan menundukan kepalanya. Dia tidak berani menatap mata Varen yang tajam.
"Jangan dulu ngomongin tentang pernikahan! Kita jalani aja apa yang ada di depan kita sekarang!"
"Tapi semakin kita melangkah melewati jembatan itu, kita akan semakin sakit saat kita sadar jika jembatan itu tidak mampu kita seberangi." ucap Ticia dengan sedih.
"Kita bisa menjadikan perbedaan itu untuk berdampingan, ketika kita tidak mampu menyatukan perbedaan itu! Kita bisa menjadi teman, kita bisa saling mendukung, bisa saling mendoakan." lanjut Ticia.
"Nggak!" ucap Varen dengan tegas.
"Gue mau cinta lo, gue nggak mau berteman sama lo. Karena gue nggak rela, lo dimiliki laki-laki lain. Lo milik gue, hanya milik gue. Gue cinta sama lo." Varen kembali memeluk Ticia dengan erat.
Takdir yang telah mempertemukan mereka. Dan takdir juga yang telah menaruh cinta di dalam hati mereka masing-masing. Mereka kedua orang yang saling mencintai. Tapi jarak antara mesjid dan gereja, terasa begitu sangat jauh bagi mereka.
__ADS_1
Bukan hanya jauh. Tapi tidak akan pernah bisa bertemu dan sejalan.
Ticia tidak tahu kenapa cinta itu hadir di dalam hatinya. Cinta yang tidak akan pernah berujung. Kenapa dia jatuh cinta kepada lelaki yang berbeda keyakinan dengan dia. Kenapa dia harus menghadapi pilihan yang sulit. Antara cinta kepada Tuhannya. Atau cinta kepada kekasihnya.