Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
77. Tidak Dicintai


__ADS_3

Setelah ditolak oleh Varen. Rosalinda tidak gairah di dalam hidupnya. Dia merasa sangat sedih. Karena apa yang dia perjuangkan akhirnya sia-sia.


Pagi itu Jane merasa aneh dengan tingkah anaknya. Tidak seperti biasanya dia mengurung diri di dalam kamar. Apalagi sudah waktunya ke sekolah.


"Rose!!" seru Jane memanggil putri semata wayangnya. Tapi, tidak ada sahutan dari Rosalinda.


Jane akhirnya bangkit dari tempatnya duduk. Jane berjalan menuju kamar anaknya. Dua kali dia mengetuk pintu kamar. Tapi tidak ada jawaban dari dalam.


"Apa masih tidur?" gumam Jane seorang diri di depan pintu kamar anaknya.


Perlahan-lahan Jane membuka pintu kamar Rosalinda. Ternyata tidak dikunci. Jane pun kemudian masuk ke dalam kamar Rosalinda. Dia sempat mengernyitkan keningnya, ketika melihat Rosalinda masih tidur.


Jane berpikir, jika anaknya kurang enak badan. Diapun mendekat dan menyentuh kening Rosalinda. Benar saja, badan Rosalinda sangat panas. Mungkin efek karena Rosalinda tidak makan seharian kemarin. Katanya pembantunya, Rosalinda tidak keluar dari kamar sejak siang.


"Rose kamu sakit? Kita ke dokter!" ucap Jane dengan panik.


"Aku nggak apa-apa kok ma, aku nggak sakit, tapi hati aku yang sakit ma." Rosalinda berkata dengan menangis tersedu-sedu.


Jane memeluk anaknya. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan anaknya. Tapi Jane bisa melihat jika mata Rosalinda terlihat besar. Sepertinya karena terus menangis.


"Kenapa? Bilang sama mama!" ucap Jane sembari mengelus punggung Rosalinda dengan lembut.


"Kak Gio ma, kak Gio jahat. Dia mutusin aku, katanya dia nggak cinta sama aku." kata Rosalinda masih dengan terisak.


Jane akhirnya paham. Jika anaknya sedang putus cinta. Jane memeluk Rosalinda dengan begitu erat. Kenapa nasib anaknya bisa sama seperti nasibnya. Ditinggalkan orang yang mereka cintai dengan alasan yang sama. Tidak dicintai.


"Udah nggak usah nangis anak mama yang cantik! Pacaran putus cinta itu sudah biasa, udah jangan nangis, nanti mama ikutan sedih!" ucap Jane sambil memeluk anaknya dan mengelus punggung anaknya.


Sebisa mungkin Jane harus bisa membuat anaknya merasa disayangi. Itulah peran Jane sebagai ibu dan bapak untuk Rosalinda. Karena selama ini Rosalinda hanya mendapat kasih sayang mamanya. Papanya sudah sejak lama menikah lagi dan memiliki keluarga bahagia. Meski sesekali papanya akan berkunjung atau mengajaknya ketemu.


"Kalau gitu mama ambilin sarapan ya? Nggak usah masuk sekolah dulu nggak apa-apa." ucap Jane dengan penuh perhatian.


"Mama jangan pergi, Rose nggak mau ditinggal sendiri!" ucap Rose menahan mamanya supaya tetap tinggal.


Dia merasa tidak memiliki siapapun sekarang, selain mamanya. Rosalinda memeluk mamanya lebih erat lagi. Sesakit apapun hatinya saat ini. Pelukan mamanya-lah yang mampu meredam kesakitan itu.


Setengah jam kemudian Rosalinda sudah terlelap dalam pelukan mamanya. Dengan sangat hati-hati, Jane memposisikan kepala Rosalinda supaya lebih nyaman.


Menatap dalam ke wajah Rosalinda yang sembab. Guratan kesedihan nampak di wajahnya yang putih bersih. Jane mencium kening putrinya.

__ADS_1


"Maafin mama belum bisa jadi mama yang baik buat kamu." ucap Jane sedih.


Kasih sayang seorang ibu yang tak bisa tertandingi. Seorang ibu yang rela membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Meskipun waktunya akan tersita habis. Tapi dia ikhlas melakukannya.


Terlepas dari perbuatan Jane yang cukup jahat. Dia masih seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.


****


Di kantin sekolah saat jam istirahat berlangsung.


Varen dan teman-temannya yang lain sedang menggoda Ticia yang sedang makan bersama Indah dan Anabella. Saat itu Varen yang sudah kembali ceria seperti biasa, mulai merayu Ticia seperti ketiga temannya.


"Cia, lo tahu nggak apa persamaan ujian sama lo?" tanya Varen dengan recehnya.


Ticia yang sedang makan pun hanya menjawab singkat, "Nggak." jawab Ticia sambil terus memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Sama-sama bikin gue deg deg-an.." ucap Varen sambil tertawa.


"Eaaa.." seru Digta, Iqbal dan Rafa bersamaan.


"Si es batu bisa ngereceh juga." sahut Tika sembari ikutan tertawa.


Sementara Ticia yang sedang makan. Tiba-tiba memuncratkan makanannya kembali. Dia tidak kuat menahan tawa mendengar kerecehan Varen.


"Kayaknya ada yang balikan In," sindir Anabella dengan tersenyum senang.


"Jangan lupa traktirannya!" sahut Indah.


Setelah Varen berhasil bikin heboh. Giliran Digta yang berjalan dan mendekat ke meja Ticia. Dengan santai Digta duduk di sebelah Ticia yang memang kosong.


Tapi anehnya, Digta tidak berkata sepatah katapun. Dia hanya diam sembari terus menatap Ticia yang sedang menghabiskan makanannya.


"Kenapa sih kak liatin mulu?" tanya Ticia saat dia memasukan suapan terakhir ke mulutnya.


"Sssst diem, jangan berisik!" kata Digta semakin membuat Ticia tidak mengerti.


"Gue baru menikmati keindahan Tuhan." ucap Digta masih terus menatap Ticia.


Tapi lagi-lagi Ticia tidak kuat menahan tawa mendengar kerecehan kakak kelasnya. Kali ini Ticia tidak memuncratkan makanan karena makanannya sudah habis. Tapi, dia yang sedang minum. Tidak sengaja menyemburkan minuman yang sedang ia minum ke wajah Digta.

__ADS_1


Tentunya apa yang Ticia lakukan itu membuat kantin kembali heboh.


"Mamp*s lo!" seru Iqbal yang sepertinya sangat bahagia sekali melihat temannya menderita.


"Enak nggak tuh?" tanya Varen sambil terbahak.


Ticia yang tidak bermaksud begitu pun akhirnya minta maaf. Dia beneran tidak sengaja menyembur wajah Digta. "Maafin gue kak, gue nggak sengaja.." ucap Ticia mencoba mengelap wajah Digta dengan tissue.


"Mana gue lupa gosok gigi tadi." gumam Ticia yang semakin membuat teman-teman Digta bersorak.


Sementara Digta hanya tersenyum kecil. Padahal sebenarnya didalam hatinya, dia malu banget. Tapi saat melihat Ticia yang begitu perhatian dengan membantunya mengelap wajah. Membuat Digta tidak bisa marah. Dia juga tahu jika Ticia tidak sengaja.


"Gimana kalau sebagai ucapan permintaan maaf lo. Lo traktir gue makan ntar malem, sekalian dinner." ucap Digta.


Tukk..


Tapi tiba-tiba kepala Digta digeplak oleh Varen. "Gue hajar lo! Jangan macem-macem sama dia!" ucap Varen dengan marah.


Varen masih terima saat Ticia dirayu oleh teman-temannya. Karena itu semua hanyalah candaan. Tapi kalau Ticia diajak kencan. Varen tidak bisa terima.


"Kenapa sih emangnya?" tanya Digta sambil mengusap kepalanya yang digeplak oleh Varen tadi.


"Dia milik gue, jangan punya pikiran untuk ajak dia dinner." omel Varen.


"Lah emang kalian udah balikan? Terus Rosalinda lo kemanain?" tanya Digta lagi.


Sebenarnya Digta sudah tahu sejak tadi. Jika Varen dan Ticia kembali dekat. Itu karena sikap Varen yang sudah mulai berubah ceria kembali. Bahkan juga sangat receh kepada Ticia.


Bukan hanya Digta yang menyadari. Mungkin teman-teman Varen yang lain juga menyadari jika Varen dan Ticia kembali dekat. Karena hanya dengan Ticia saja. Varen bisa menjadi receh seperti itu.


"Nggak gue kemana-manain. Tapi namanya cinta tidak bisa dipaksa." jawab Varen santai sambil terus memegang tangan Ticia supaya tidak lagi mengelap wajah Digta.


"Oh, kayaknya hari ini ada yang happy nih, bolehlah sekali-kali ditraktir!" seru Rafa.


"Makan aja sepuasnya! Tapi bayar sendiri!" ucap Varen sambil tertawa.


"Ahh, pelit lo." kata Iqbal.


Iqbal kemudian berjalan mendekat dan berbisik ke Ticia. "Jangan mau balikan sama dia, dia orangnya pelit.. Mendingan sama gue, gue nggak pelit, hanya saja gue nggak punya duit. " bisik Iqbal yang mampu didengar oleh Varen yang ada di samping Ticia.

__ADS_1


"Sialan lo! Sama aja itu namanya." omel Varen sembari menendang kaki Iqbal.


Sementara Ticia yang lain hanya tertawa mendengar ucapan Iqbal yang membagongkan.


__ADS_2