
Ticia masih saja cuekin Varen. Dia bahkan tidak tersentuh sama sekali dengan surat-surat yang dikirim oleh Varen. Mungkinkah hatinya benar-benar sudah tertutup untuk Varen.
Tapi, Varen tidak menyerah sama sekali. Dia semakin gencar mendekati Ticia. Semakin berusaha menunjukan rasa cintanya kepada wanita berzodiak Aquarius tersebut.
Bahkan berkali-kali Ticia menyuruhnya untuk tidak lagi mendekatinya. Tapi tidak peduli dengan larangan itu.
Pagi itu, Varen sengaja menunggu Ticia di parkiran. Bersandar di kusen mobil milik salah satu temannya, sembari memainkan ponselnya.
"Kak Varen, selamat ya, karena kakak dan tim kakak berhasil masuk ke babak final, kak Varen kemarin keren banget." puji beberapa orang adik kelasnya.
"Ya," jawab Varen singkat.
"Nungguin siapa sih kak?"
"Eh, temen." karena Varen sangat dingin. Adik-adik kelas itu tahu jika Varen sedang tidak ingin diganggu. Maka pergilah mereka dari tempat itu.
Sepuluh menit kemudian mobil Ticia terlihat memasuki sekolah. Varen tersenyum senang. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
"Sayank,," sapa Varen ketika Ticia baru saja keluar dari mobil.
"Sayank, sayank, kepala lo peyang?" Ticia tidak mau Varen sembarang memanggilnya.
"Bisa nggak jangan ganggu gue terus!" omel Ticia yang sudah merasa risi karena Varen terus saja mengikutinya.
"Harusnya gue bilang gitu ke lo," Varen malah protes ke Ticia.
"Kok jadi gue?"
"Iyalah, karena lo selalu gangguin gue, tiap gue mau makan gue ingat lo, gue mau mandi gue ingat lo, gue mau tidur juga ingat lo.." Varen mengatakan kalimat itu dengan nada seperti menyanyikan lagu duo maia.
"Apaan sih lo," Ticia tertawa melihat Varen yang konyol sembari mendorong kepala Varen pelan.
"Jangan ketawa!"
__ADS_1
"Suka-suka gue, kenapa jadi lo yang ngatur!" Ticia tidak terima Varen melarangnya sembarangan.
"Kalau lo ketawa, manisnya tuh nggak ada obat."
"Jangan diobatin dong, nanti manisnya berkurang," Ticia semakin tertawa sambil meneruskan langkahnya. Diikuti oleh Varen.
Varen merasa senang, karena Ticia sudah mau bercanda dengan dirinya. Tidak lagi ketus kepadanya. Dia merasa bersalah setiap kali Ticia terlihat marah kepadanya. Dan juga merasa menyesal.
Varen melihat rambut Ticia yang ikat. Maka muncullah ide jail seperti yang Iqbal biasa lakukan. Dia mempercepat langkahnya, lalu menarik ikat rambut Ticia. Terurailah rambut indah Ticia.
"Kak Vava!!!" Ticia kesal, nggak Iqbal nggak Varen semua suka banget menarik ikat rambutnya.
"Kembaliin nggak! Kalau nggak gue nggak akan mau ngomong lagi sama lo!" ancam Ticia. Dan ancaman itu berhasil.
Varen memberikan ikat rambut itu kepada pemiliknya. "Jangan diikat! Lo cantik kalau rambut lo terurai gini!" Varen mengacak-acak rambut Ticia. Semakin membuat Ticia mengomel.
"Kak Vava!! Akh..." tanpa sengaja Ticia tersandung kakinya sendiri. Beruntung Varen dengan sigap menangkapnya.
"Modus tuh,," ucap Anabella yang berjalan di belakang mereka.
"Ck, udah ditolong juga, coba kalau nggak ada gue, lo bakal jatuh tadi, makasih dikit ngapa." gerutu Varen karena dituduh Ticia mencari kesempatan dalam kesempitan. Padahal Ticia terjatuh karena dirinya sendiri yang kurang hati-hati.
Ticia bukannya merasa bersalah malah pergi begitu saja sembari menarik tangan Anabella. "Woi, tungguin!" seru Varen berlari mendekati Ticia lagi.
****
Sudah beberapa hari Digta tidak masuk sekolah. Kabar terakhir katanya dia sakit. Tapi siang itu, Rafa mendapat kabar dari pembantu Digta, kalau Digta dirawat di rumah sakit karena melakukan pencobaan bunuh diri. Saat itu Rafa datang bermaksud menjenguk Digta. Tapi tidak menduga dia malah mendengar berita yang sangat mengejutkan dari pembantu di rumah Digta.
Tanpa pikir panjang, Rafa memberitahu teman-temannya yang lain melalui wa grup. Sementara dirinya segera bergegas ke rumah sakit yang dikasih tahu pembantu di rumah Digta.
Rafa menyesalkan tindakan bodoh temannya itu. Dia mengendarai motornya dengan sedikit tidak fokus. Pikirannya sama sekali tidak tenang.
"Den Digta meminum banyak obat tidur, sekarang dia dirawat di rumah sakit xxx." begitulah pembantu Digta memberitahu Rafa.
__ADS_1
Rafa tahu apa yang dialami Digta belakangan ini. Dia tidak bisa tidur karena memikirkan masalah orang tuanya yang semakin memanas. Belum lagi mamanya yang masih belum diketahui keberadaannya. Sementara papanya setiap hari selalu membawa perempuan berbeda ke rumah.
Karena tidak fokus. Beberapa kali Rafa hampir bertabrakan. Beruntung, dia tersadar disaat yang tepat. Kalau nggak, mungkin dia sudah dilarikan ke rumah sakit.
Setelah lima belas menit kemudian. Rafa berlari menuju ruangan tempat Digta di rawat. Hatinya sudah sangat kacau.
Sementara Varen dan yang lain baru tiba setelah setengah jam kemudian. Sama seperti Rafa, mereka semua sangat khawatir dengan keadaan Digta. Juga menyesalkan tindakan nekad Digta.
Sangat tidak tenang, dan juga gelisah menunggu dokter yang berusaha menyelamatkan nyawa Digta. Tapi, pada saat itu papa Digta justru tidak kelihatan sama sekali. Hanya ada sopir dan tukang kebun Digta yang menunggu, tak kalah panik juga.
"Om Dewa?" Varen menanyakan keberadaan papanya Digta kepada kedua orang yang bekerja di rumah Digta.
"Sudah saya kabari, tapi katanya masih ada di luar kota, setelah urusannya selesai, akan segera kesini." jawab salah seorang dari keduanya. Tepatnya sopir Digta.
"Emang gila tuh orang tua, nggak khawatir apa tentang anaknya?" gumam Iqbal marah.
"Mungkin memang beneran lagi ada pekerjaan penting, positif tinking aja!" ucap Varen menenangkan Iqbal yang terlihat sangat marah.
"Halah, paling-paling juga lagi seneng-seneng sama pec*nnya." timpal Rafa juga tak kalah emosi.
"Positif tinking aja!" sahut Tika yang sudah tidak kuat menahan air matanya.
"Lo jangan nangis terus!" Rafa menarik Tika ke dalam pelukannya.
Sebagai seorang wanita sendiri di geng itu. Tika memang sangat sensitif perasaannya. Dia tidak bisa sama sekali melihat teman-temannya menderita atau sedih.
"Atau lo pulang dulu aja, biar dianter Iqbal!" ucap Varen.
"Nggak, gue mau nungguin Digta, gue nggak akan tenang kalau gue pulang." Tika bersikeras tinggal. Dia tidak mau meninggalkan Digta yang sedang berjuang melewati masa kritisnya.
Keempat sahabat itu kemudian saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain. Dan berkeyakinan jika Digta mampu melewati masa kritisnya.
Keep fighting, Digta.
__ADS_1
Doa yang tiada putus dari teman-temannya. Berharap yang terbaik untuk Digta. Dan berharap dokter bisa menyelamatkan nyawa Digta.
Meskipun Digta tidak menginginkan nyawanya. Tapi teman-temannya berharap Digta masih bisa selamat. Dan kemudian menjalani hidupnya dengan lebih baik lagi. Karena Digta tidak sendirian. Masih ada teman-temannya yang akan mendukungnya. Menjadi tempatnya berbagi beban.