
"Kamu istirahat aja dulu! Kalau butuh apa-apa panggil aku atau Ticia aja!" ucap Daniel lalu meninggalkan Varen sendiri di dalam kamar.
Varen menganggukan kepalanya. Dia melihat ke seluruh sudut kamar tersebut. Dia yang terbiasa tidur di kamar yang besar dengan langit-langit kamar yang tinggi. Hanya tersenyum kecil, lalu merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur.
"Nggak apalah gue kayak gini, yang penting gue bisa dekat dan melihat Ticia." gumamnya seorang diri.
Tok tok tok
Ketukan pintu kamar mengagetkan tidurnya. Entah kapan dia mulai tertidur.
Dengan matanya yang masih mengantuk, Varen membuka pintu kamar. Dan begitu melihat Ticia di depan pintu. Varen pun tersenyum bahagia.
"Ada apa? Kangen?" tanyanya menggoda Ticia.
"Nih makan dulu, habis itu mandi terus sholat, udah jam 6 lebih!" ucap Ticia tidak mau menanggapi gurauan Varen.
"Nih pakai baju om Daniel aja!" Ticia masuk ke dalam kamar tersebut untuk mengambil pakaian milik om-nya buat di pakai Varen. Karena postur Varen tidak jauh beda dengan om-nya. Setelah memberikan nampan berisi makanan dan mengambilkan baju ganti buat Varen. Ticia kemudian berjalan menuju pintu kamar.
"Yank." Varen dengan cepat menahan tangan Ticia yang hendak pergi.
"Makasih ya, lo selalu ngingetin gue untuk tidak lupa sholat." lanjut Varen masih dengan menahan tangan Ticia.
"Karena ibadah itu penting. Yaudah, gue mau bantu-bantu di dapur dulu, nanti ada ibadah penghiburan untuk mendoakan kakek dan nenek. Kak Vava nunggu di dalam kamar aja nanti!" ucap Ticia sudah tidak sedingin sebelumnya.
Ada satu hal yang membuat Varen merasa sangat bahagia. Karena Ticia masih saja memanggilnya dengan sebutan 'kak Vava'. Dimana panggilan tersebut adalah panggilan kesayangan Ticia untuk dirinya.
"Iya," jawab Varen dengan tersenyum. Varen juga menatap Ticia dengan penuh cinta. Sama seperti sebelumnya.
Selepas Ticia pergi. Varen kembali masuk ke dalam kamar. Sebelum mandi, dia makan terlebih dahulu. Varen makan dengan lahap. Dia baru sadar, jika sejak siang dia belum makan sama sekali.
Setelah itu dia mandi dan menjalankan ibadah sholat di kamar Daniel. Setelah itu dia kembali berbaring sambil mainan ponselnya. Varen membuka galeri foto di ponselnya. Varen tersenyum sendiri melihat foto-foto yang ada di ponselnya.
Varen ikut ngobrol di wa grup kelasnya. Disana sedang membahas acara liburan kenaikan kelas mereka yang sudah hampir berakhir. Ada yang mengusulkan ke pantai. Ada juga yang usul liburan naik gunung dan camping.
__ADS_1
"Gue mah udah liburan," gumam Varen seorang diri sambil tersenyum. Entah apa yang membuat Varen merasa sangat bahagia hari ini. Sebelumnya dia selalu uring-uringan dan bahkan mengurung diri di kamar. Hanya keluar, ke rumah Ticia.
Mungkin karena hari ini dia ketemu dengan Ticia. Bisa berbicara dengan Ticia. Sudah lebih dari dua minggu dia tidak bertemu dengan Ticia. Sejak Ticia memutuskan hubungan mereka.
Di dalam hatinya. Varen tidak pernah menganggap jika hubungan mereka sudah putus. Dia hanya menganggap bahwa Ticia hanya marah saja.
Sekitar pukul 9 malam. Acara untuk mendoakan kakek Ticia sudah selesai. Saat itu Varen keluar untuk membantu beberes sisa acara tadi.
"Kamu duduk aja Va! Kamu kan nggak biasa dengan pekerjaan seperti ini." perintah Daniel, om Ticia. Daniel tahu dari penampilan Varen. Jika Varen adalah anak orang kaya.
"Nggak papa kok om, tiap seminggu sekali malah aku kerja di hotel, nyuci piring." ucap Varen sambil tertawa kecil.
"Kamu kerja? Bukannya kamu teman sekolah Ticia?" Daniel tidak tahu kerja yang dimaksud oleh Varen, adalah menjalankan tradisi keluarganya.
Varen tidak menjelaskan apa maksudnya. Tapi dia hanya tersenyum sambil meneruskan pekerjaannya. Saat melihat Ticia lewat di belakangnya. Varen dengan cepat mengikuti Ticia sampai di dapur.
Varen melihat Ticia yang sedang mencuci piring. Diapun mendekat dan membantu membilasnya. Awalnya Ticia kaget melihat Varen berdiri di sampingnya, membantu membilas piring yang dia cuci. Tapi kemudian dia hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun.
Varen tidak kuat melihat kediaman Ticia. Dia pun mengambil sedikit air dan mencipratkan ke Ticia.
Sementara Varen malah tersenyum tanpa merasa bersalah. "Lo tahu nggak, gue seneng banget hari ini." ucapnya.
"Kenapa?" tanya Ticia tanpa menoleh dan masih sibuk dengan piring kotornya.
"Karena akhirnya gue bisa melihat wajah cantik lo." jawab Varen dengan sedikit menyenggol tubuh Ticia.
Akan tetapi Ticia hanya terdiam. Tiba-tiba bibi yang biasa bantu-bantu di rumah kakek Ticia muncul. Dia meminta Ticia untuk meninggalkan pekerjaan itu. Karena itu adalah tugasnya.
Ticia pun menyerahkan pekerjaan itu kepada ahlinya. Karena Ticia juga tidak terbiasa mencuci piring. Di rumah tugas itu dilakukan oleh pembantu rumah tangganya.
Ticia kemudian duduk di teras karena merasa gerah. Diikuti oleh Varen yang duduk di sebelahnya. Sementara ayah dan ibu serta keluarganya yang lain sudah istirahat ke kamar masing-masing. Karena sudah pada capek dengan kegiatan hari ini.
"Kak Vava kenapa kesini?" tanya Ticia.
__ADS_1
"Gue kangen sama lo," jawab Varen cepat.
"Kak, tolong jangan kayak gini terus. Gue nggak mau dituduh ngerebut calon suami orang."
"Suami orang apaan." gumam Varen dengan kesal.
"Cia, kenapa lo nyerah untuk hubungan kita?" tanya Varen sambil menatap Ticia.
Ticia tidak langsung menjawab. Dia menatap jauh ke kegelapan yang ada di depannya. Karena tempat itu termasuk di pedesaan terpencil. Penerangannya pun kurang. Lampu jalanan pun hanya ada beberapa.
Dan di depan rumah kakek Ticia itu masih tanah kosong dengan rumput liar yang hampir setengah meter tingginya.
Tuk..
Varen menyentil hidung Ticia dengan lembut. "Malah ngelamun." ucapnya.
"Kak, kita udah selesai. Gue doain semoga lo selalu bahagia sama Rose."
Varen tiba-tiba menarik Ticia kedalam pelukannya. Varen memeluk Ticia dengan erat. "Gimana gue bisa bahagia, sementara kebahagiaan gue adalah lo." ucap Varen pelan. Varen juga mengecup kening Ticia.
Ticia ingin mendorong tubuh Varen. Tapi kelembutan Varen membuat Ticia tidak bisa melakukan hal tersebut. Otak dan hatinya tidak sinkron.
"Gue nggak bisa tanpa lo, sayank. Nggak ada wanita yang bisa bikin gue bahagia seperti saat bersama lo."
"Gue cinta banget sama lo." lanjut Varen.
Ticia diam-diam meneteskan air matanya di pelukan Varen. Tanpa sadar, dia memeluk lelaki itu. Lelaki yang sama sekali tidak pernah pergi dari hati dan pikiran. Meskipun dia telah memutuskan hubungan mereka.
Harus diakui, dia juga masih sangat mencintai lelaki itu. Tapi jembatan pemisah itu semakin nyata di depan mata.
Mencintai adalah sebuah takdir yang tak bisa ditolak. Cinta juga sesuatu yang tidak bisa diatur. Cinta datang tanpa permisi dan bersemayan di dalam hati.
Ketika cinta itu datang. Dia akan menerobos dengan paksa ke dalam hati. Menerjang kuat sampai ke sanubari. Bahkan cinta tidak mengenal perbedaan. Kata orang, cinta itu buta. Juga tidak sedikit mereka yang rela mati untuk cinta.
__ADS_1
Cinta bisa membuat kita kuat. Dan juga bisa melemahkan. Cinta tidak mengenal kasta dan tidak memandang rupa.