
Iqbal, Nathan dan Rafa sudah ada di kantin duluan. Sementara Digta masih sibuk dengan Risma dan teman-temannya. Melihat Iqbal yang sedang makan membuat Ticia iseng mengagetinya.
"Kak Iqbal..." ucap Ticia sambil menepuk pundak Iqbal dari belakang.
"Uhuk..." karena kaget, Iqbal sampai memuncratkan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Kampret lo!" omel Iqbal hendak memukul Ticia tapi dengan cepar Varen menangkisnya. Meskipun maksud Iqbal hanya bercanda. Tapi Varen tetap tidak rela jika kekasihnya dipukul orang.
"Wuihh siapa nih kok cakep banget?" ucap Iqbal berbinar melihat Rose yang ada di belakang Varen.
"Hai, kenalin gue Rafa.." Rafa mencuri start. Dia duluan berdiri dan memperkenalkan dirinya.
"Gue Rosalinda panggil aja Rose." jawab Rose dengan tersenyum sembari menjabat tangan Rafa yang terulur.
"Gue Iqbal.." sahut Iqbal tak mau kalah.
Melihat Iqbal yang antusias berkenalan dengan Rose. Diam-diam Ticia memperhatikan Tika yang duduk semeja dengan dia. Ticia melihat raut wajah Tika yang sedikit berubah ketika Iqbal terlihat akrab dengan Rose.
Ticia menyenggol lengan Varen dengan sikutnya. Setelah Varen menoleh, Ticia menggerakan kepalanya ke arah Tika. Seolah ingin berkata supaya Varen melihat ekspresi Tika.
Tanpa banyak kata, Varen paham yang dimaksud oleh pacarnya. Varen juga memperhatikan raut wajah sedih Tika ketika melihat Iqbal yang sedang menggombali Rose.
"Kalau lo suka sama Iqbal, ngomong aja Tik! Jangan sampai lo nyesel kalau Iqbal udah punya pacar nanti.." ucap Varen membuat Tika kaget dan menoleh ke arah Varen dan Ticia.
"Nggaklah, apaan. Gue sama Iqbal cuma temenan kok." Tika berusaha menyangkal perasaannya. Tapi ekspresinya tidak bisa dia pungkiri. Terlihat jelas kalau Tika sedih.
Varen memesan bakso untuk sarapannya. Di rumah sebenarnya pembantunya juga menyiapkan sarapan. Akan tetapi Varen tidak punya selera makan saat di rumah. Karena selalu aja dia sendirian.
"Lo nggak mau pesen makan yank?" tanya Varen sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.
"Gue udah sarapan tadi." jawab Ticia sembari menatap kekasihnya yang sangat lahap menikmati makanannya. Ticia tahu jika Varen selalu suka makan di sekolah. Alasannya karena di sekolah ada temannya sementara di rumah selalu sendirian.
"Gi, kemarin gue kayak lihat mama lo, waktu gue nemenin tante gue ke pasar." ucap Tika pelan. Teman-teman Varen yang lain belum tahu tentang kepergiaan mamanya. Jadi Tika berkata dengan pelan supaya teman yang lain tidak mendengar.
__ADS_1
Mendengar ucapan Tika, membuat Varen seketika berhenti menguapkan makanan ke dalam mulutnya. Raut wajahnya pun berubah menjadi mendung. Jika sebelumnya Varen sangat ingin ketemu dengan mamanya. Setelah pengakuan papanya beberapa hari yang lalu. Varen jadi sangat tidak suka ketika mendengar nama mamanya. Atau ada yang membahas tentang mamanya.
Akan tetapi masih belum bisa dipungkiri. Jika dia sangat merindukan mamanya. Tapi rindu itu kalah dengan rasa kecewanya yang begitu dalam.
"Kayaknya mama lo punya usaha di bidang kuliner deh, karena gue lihat dia kayak belanja banyak banget, sampai satu mobil pick up penuh sayur-sayuran." imbuh Tika yang sebenarnya juga masih ragu apakah benar itu mamanya Varen atau bukan.
Ticia menggenggam tangan Varen. Ticia tahu apa yang Varen pikirkan saat itu. Hatinya bergejolak antara kangen dan juga kecewa. Saat raut wajah Varen mulai berubah suram, Ticia tahu jika ada sesuatu yang menyakitkan dalam hati Varen.
Harus diakui, genggaman lembut dari sang kekasih. Mampu membuat hati Varen terasa sejuk. Jika awalnya dia ingin marah. Tapi kemudian dia lebih bisa mengontrol emosinya.
Dengan tersenyum Varen mengelus punggung tangan Ticia. Matanya menatap Ticia dengan teduh. Seperti berkata,"gue baik-baik aja sayank." Tapi kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Hanya matanya yang teduh yang berbicara.
****
Di dalam kelas. Rose bersikeras duduk di sebelah Ticia. Sepanjang pelajaran, Rose selalu menceritakan masa kecilnya dengan Varen. Bagaimana mereka bisa saling ketemu. Dan akhirnya berteman.
"Kak Gio tuh dulu baik banget, perhatian sama gue. Setiap kali ada anak yang gangguin gue, dia akan selalu berusaha melindungi gue." ucapnya dengan tersenyum, mengenang masa kecilnya.
"Sekarang juga masih baik." jawab Ticia dengan masih menggerakan tangannya mencatat pelajaran di papan tulis.
"Karena apa?" tentu saja Ticia penasaran apa yang terjadi dulu tentang masa kecil Varen.
"Ah nggak apa kok." jawab Rose semakin membuat Ticia penasaran.
Ticia menghentikan tangannya lalu dengan cepat menatap Rose yang juga sedang mencatat pelajaran. Ticia sangat penasaran dengan masa kecil kekasihnya. Dia ingin tahu tentang masa kecil kekasihnya.
Ticia memaksa Rose supaya memberitahunya apa yang terjadi dengan Varen di masa kecilnya. Akan tetapi Rose menolak memberitahu Ticia. Supaya tidak menjadi kesalahpahaman diantara dirinya dan Varen.
"Gue janji nggak akan salah paham." Ticia masih saja memaksa.
Sampai akhirnya Rose menceritakan semuanya. Berawal dari persahabatan mamanya dengan mamanya Varen.
Flashback..
__ADS_1
Setelah menikah dengan papanya Rose. Jane, atau mamanya Rose, meninggalkan kota dan hidup di pedesaan tempat asal mamanya Rose. Selama enam tahun mereka menetap di desa. Sampai akhirnya papanya Rose diangkat sebagai manager di kantor tempatnya bekerja. Tapi dia ditempatkan di kota besar. Mau tidak mau Rose dan mamanya harus ikut papanya ke kota.
Setelah beberapa hari tinggal di kota. Mamanya Rose menghubungi mamanya Varen, mengajaknya untuk ketemu. Mereka akhirnya ketemu dan membawa anak-anak mereka masing-masing. Itulah pertama kalinya Varen dan Rose bertemu.
Karena seringnya bertemu membuat Varen dan Rose menjadi semakin akrab. Ketika mama mereka bertemu hanya sekedar ingin mengobrol. Mereka akan main dengan senang. Varen akan selalu melindungi Rose saat dia ditindas oleh anak lainnya.
Sampai akhirnya, mamanya Rose mempergoki suaminya selingkuh dengan atasannya. Karena tidak terima telah dikhianati. Mamanya Rose memutuskan untuk bercerai. Kemudian dia mencari pekerjaan di kota. Sementara Rose di kirim lagi ke desa. Karena di kota tidak ada yang mengurusnya.
"Kenapa sih kamu pergi?" tanya Varen kecil dengan sedih.
"Kak Gio jangan sedih! Aku janji, aku nggak akan pernah lupain kebaikan kakak.." ucap Rose kecil pada saat dia berpamitan.
"Ingat, kakak jangan jutek-jutek lagi sama orang!" ucap Rose. Memang sejak dini, Varen sudah sangat jutek kepada orang yang tidak dia kenal. Tapi ketika bertemu Rose, entah kenapa Varen bisa menjadi lembut.
"Aku hanya bisa lembut sama kamu.." ucap Varen.
"Maafin aku kak, tapi..."
"Terserah, kalau kamu mau pergi, pergi sana! Nggak usah kembali sekalian!!" ucap Varen kecil dengan marah. Sampai pada saat Rose dan mamanya berangkat ke desa. Varen tidak mau mengantar mereka. Padahal papa dan mamanya yang mengantar mereka ke terminal.
Rose selalu merasa jika Varen marah karena tidak mau ditinggal oleh dirinya.
Flash On..
"Mungkin sampai sekarang kak Gio masih marah karena masalah itu." ucap Rose dengan sedikit sedih.
"Tapi gue nggak nyangka kalau kak Gio akan dengan mudah melupakan cinta masa kecilnya." imbuh Rose.
Cinta masa kecil?
Bukannya Varen pernah bilang kalau dia baru pertama jatuh cinta?
Apa semua itu hanya omong kosong dia aja?
__ADS_1
Ticia bertanya-tanya dalam hatinya. Setelah akhirnya dia tersadarkan oleh ucapan Rose lagi. "Gue cerita ini semua karena lo yang minta, gue nggak punya maksud apa-apa, beneran!" ucap Rose merasa bersalah.
"Iya, santai aja.." Ticia hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya.