
Sepanjang hari wajah Ticia selalu tampak kusut. Seperti dia sedang memikirkan banyak hal. Saat di kantin pun dia tidak merespon sama sekali gurauan Iqbal dan teman-temannya yang lain.
Tentu saja sikap Ticia tersebut membuat Varen menjadi gundah. Selepas pulang sekolah. Varen bergegas ke rumah Ticia.
Semenjak Ticia ke sekolah bawa mobil. Varen sudah tidak pernah mengantar Ticia pulang. Biasanya dia akan langsung pulang ke rumah.
Siang itu matahari masih terasa sangat terik. Sengatannya pun sangat terasa di kulit.
Varen memakai kaos warna hitam dan juga jaket yang senada dengan warna kaos oblongnya. Dia pamit ke mamanya hendak ke rumah Ticia.
"Makan dulu sayank!" ucap mamanya, karena Varen baru saja sampai dan kemudian akan pergi lagi. Dia hanya berganti pakaian saja.
"Nanti aja ma," jawab Varen sembari berlari kecil.
Dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan. Varen melajujan motornya ke rumah Ticia yang tidak jauh dari rumahnya. Hanya sekitar lima belas menit dia sudah sampai di rumah Ticia.
"Ticia ada mbak?" tanyanya kepada pembantu rumah tangga di rumah tersebut.
"Ada mas, sebentar saya panggilkan, mas Varen tunggu aja di dalam!" ucap pembantu itu.
Akan tetapi, Varen tidak masuk ke dalam rumah. Tapi memilih untuk menunggu di depan kolam ikan yang ada di teras rumah Ticua.
Varen melihat ikan yang saling berenang kesana kemari, saling berkejaran. Seolah tidak memiliki beban hidup sama sekali. Varen pun tersenyum kecil. Betapa konyolnya dia yang membandingkan hidup manusia dengan seekor ikan.
"Ada apa kak?" tanya Ticia mengagetkannya.
Varen menoleh, menatap Ticia terlihat tidak bersemangat. Duduk di kursi yang ada di teras tersebut dengan wajah lesu.
"Lo sakit?" tanya Varen begitu panik. Varen mendekat dan berjongkok di depan Ticia. Menempelkan punggung tangannya ke kening Ticia.
"Nggak kok." jawab Ticia sambil menepis tangan Varen.
Varen pun sedikit terkejut dengan perilaku tak biasa kekasihnya. Tapi Varen selalu berpikir positif. Dia masih mengira jika pacarnya itu sedang tidak enak badan. Atau kalau nggak mungkin sedang PMS, pikir Varen.
__ADS_1
Varen kemudian meraih tangan Ticia dengan lembut. "Lo kenapa sih? Dari tadi kok diem terus? Kenapa? Hmm?" tanya Varen masih dengan sangat lembut.
"Lo marah sama gue? Kenapa? Ngomong dong, biar gue bisa intropeksi diri!" lanjtu Varen.
Ticia menatap Varen dalam. Dia bisa melihat wajah ketakutan di raut wajah Varen yang tampan. Dia juga bisa melihat betapa gelisahnya Varen saat itu.
Ticia pun tidak tega melihat wajah sendu lelaki yang saat ini mengisi hatinya. Rasanya tidak adil jika dia menghakimi Varen tanpa mendengar kejelasan dari pihak Varen.
Maka dari itu. Ticia menghela nafas panjang dan mulai bertanya kepada Varen. Ticia mengatakan jika Rosalinda menemuinya tadi pagi.
Setelah beberapa minggu tidak bertegur sapa dengan Ticia. Meskipun ketemu di kelas dan tempat duduknya juga dekat. Tapi Rosalinda selalu melengos saat bertemu atau berpapasan dengan Ticia. Mungkin karena Rosalinda masih belum terima dengan penolakan Varen.
Kejadian di toilet tadi pagi adalah pertama kalinya mereka berbincang setelah pertengkaran beberapa waktu yang lalu.
"Dia bilang apa?" tanya Varen yang sepertinya sudah bisa menebak apa yang Rosalinda katakan ke Ticia.
"Dia bilang... Dia bilang kalau kalian... Kalian..." Ticia ragu untuk mengatakannya. Di tambah pembantunya yang keluar dengan membawa minuman untuk mereka.
Varen terus menatap Ticia setelah mengucapkan terima kasih kepada pembantu Ticia. Dia sebenarnya sudah tahu apa yang akan Ticia katakan. Tapi dia berusaha tenang, karena dia memang tidak melakukan apapun.
"Dia bilang gitu?" tanya Varen yang terlihat biasa saja, bahkan sempat tersenyum kecil.
Ticia menganggukan kepalanya cepat. "Dia juga mau minta kak Vava tanggung jawab, apa mungkin dia hamil?" tanya Ticia dengan hati-hati.
"Gimana bisa hamil? Ngada-ngada aja!" jawab Varen dengan cepat sambil mengetuk kening Ticia pelan.
"Gue sama dia nggak ngelakuin apa-apa, gua aja belum pernah pegang tangannya." ucap Varen sembari berdiri, kemudian mengambil kursi dan duduk di depan Ticia.
"Waktu itu gue pernah lihat kalian pelukan di halaman belakang,"
"Itu dia yang meluk gue, gue kan nggak ," tutur Varen.
Varen kembali menatap Ticia dengan lekat. Masih dengan menggenggam tangan Ticia. Varen menghela nafasnya berkali-kali. Kayaknya Varen bersiap untuk memberitahu Ticia apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Rosalinda.
__ADS_1
"Jujur," Varen tidak melanjutkan perkataannya.
Itu membuat Ticia terbelalak. Seketika dia menatap Varen dengan wajah cemberut. Ticia juga menarik tangannya. Tapi Varen lebih erat menggenggamnya.
"Waktu itu dia sempat godain gue. Dia telanj*ng di depan gue waktu gue numpang sholat di rumahnya." Varen mengatakan semuanya kepada Ticia.
Sementara Ticia membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan Varen. Tapi kemudian dia kembali penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Terus lo gaskuen gitu?" tanya Ticia yang mendapat jitakan di kepalanya oleh Varen.
"Lo pikir gue laki-laki kayak gitu? Nggaklah, gue sama sekali tidak tertarik dengan dia meskipun dia lakuin itu di depan gue. Gue masih takut dosa anj*r."
"Tapi kan nggak ada yang tahu." desak Ticia.
"Iya tapi Tuhan kan tahu. Lagipula gue nggak akan lakuin itu ke wanita yang tidak gue suka."
"Gue pergi gitu aja waktu itu. Mungkin karena itu dia marah. Mungkin juga karena malu pada dirinya sendiri." lanjut Varen menjelaskan.
Varen semakin mempererat genggaman tangannya. Dia menatap mata indah Ticia dengan dalam. "Nggak perlu khawatir, gue bukan lelaki pecundang seperti itu. Semisal gue lakuin, gue pasti akan tanggung jawab, nggak mungkin gue lari." tutur Varen yang membuat Ticia akhirnya bernafas lega.
Ticia percaya dengan apa yang dikatakan Varen. Meskipun Varen nampak brutal tapi dia sama sekali tidak pernah memaksa Ticia untuk melakukan hal seperti itu. Jadi tidak mungkin Varrn akan melakukan hal itu kepada wanita yang tidak pernah sama sekali dia cintai.
"Tapi kalau itu lo, mungkin gue nggak akan pergi, tapi malah gaskuen." ucap Varen sembari tertawa.
"Dasar mes*m!!" seru Ticia sambil memukul lengan Varen dengan tangannya yang bebas.
"Bercanda doang." Varen tertawa, lalu menarik Ticia ke dalam pelukannya. Sementara Ticia meronta-ronta tidak mau dipeluk Varen.
"Makan yuk, gue laper!" ajak Varen.
"Emang belum makan?" tanya Ticia sembari membenahi rambutnya yang berantakan.
"Gimana bisa makan, orang lo aja cuekin gue."
__ADS_1
"Hais, lebay.. Gue ambil jaket dulu!"