Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
98. Gue Juga Bisa


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Dina sakit. Tapi Ticia sama sekali belum menjenguknya. Bahkan dia sudah di rumah selama hampir seminggu. Ticia juga tidak datang main ke rumah seperyi biasa. Dina merasa aneh, ditambah Varen yang selalu saja murung.


Maka, Dina memberanikan diri bertanya kepada Varen. Dina yakin ada yang tidak beres dengan hubungan percintaan anaknya.


Dina masuk ke kamar anaknya yang tidak terkunci. Dia melihat anaknya sedang melamun di depan televisi.


"Ticia kok lama nggak kelihatan ya Gi?" tanya Dina mengagetkan lamunan anaknya.


"Sibuk mungkin ma," jawab Varen singkat.


"Varen mau ke toilet, mau membasuh muka bentar ma, biar nggak ngantuk." ucap Varen sembari berdiri.


Sebenarnya dia hanya tidak mau mamanya melihat dia menangis. Sejak putus dari Ticia. Varen selalu menangis diam-diam. Entah apa yang dia tangisi. Mungkinkah dia menyesal karena telah memutuskan hubungannya dengan Ticia. Atau entahlah.


Begitu Varen kembali. Dina masih tidak menyerah. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Kamu ada masalah sama Ticia? Kok dia nggak jengukin mama?" tanya Dina lagi.


Kali ini Varen tidak lagi mau menghindar. Dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga tidak mau mamanya terus mengharapkan Ticia datang menjenguknya.


"Aku udah nggak sama Ticia ma," ucap Varen terlihat sedih saat mengatakan semua itu.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa ma, kita cuma mau intropeksi diri aja." Dina memeluk anaknya yang terlihat sedih.


"Dalam pacaran, putus itu hal yang biasa. Nggak usah sedih lagi, kamu harus bangkit dan tunjukin kalau kamu pria yang kuat!" Dina memberi semangat kepada anaknya yang sepertinya hampir kehilangan semangat hidupnya.


Dina tahu jika anaknya sangat sedih saat ini. Itu pertama kalinya anaknya jatuh cinta pada seorang wanita.


"Rose katanya udah pulang, nanti sore temenin mama jengukin dia ya! Mama cuma mau berterima kasih aja kok." Varen menganggukan kepalanya.


"Senyum dong, jangan sedih lagi!" Dina mengusap wajah dan kepala Varen dengan lembut.


Varen lalu memeluk mamanya dengan manja. Yang dia butuhkan saat ini memang pelukan dan perhatian dari papa dan mamanya.


Setelah bangun dari tidur siang. Varen langsung mandi karena dia sudah janji akan mengantar mamanya ke rumah Rosalinda.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Rosalinda. Varen awalnya tidak mau turun dari mobil. Dia tidak mau Rosalinda akan kembali mengharapkan dia.


Akan tetapi karena paksaan sekaligus nasehat dari mamanya. Akhirnya Varen ikut turun dari mobil juga.


Varen tidak banyak bicara. Hanya menanyakan kabar dan kondisi Rosalinda saat ini. Sisanya dia hanya mainan hape selama mamanya berbicang dengan Rosalinda dan Jane.


Jane menawarkan makan malam sekalian. Dina tidak enak untuk menolak. Jadinya, mereka menerima permintaan makan malam tersebut.


Selama makan pun, Varen hanya diam tanpa banyak berkata. Hanya akan menjawab pertanyaan dari Rosalinda dan Jane saja. Selanjutnya akan diam jika tidak ada yang bertanya.


Setelah setengah jam, akhirnya Varen dan mamanya pamit pulang. Jane sempat menyinggung tentang kondisi Rosalinda saat ini karena melindungi Dina. Tapi baik Dina maupun Varen, mereka tidak mau menanggapi perkataan itu. Dan memilih untuk segera meninggalkan rumah Jane.


Meskipun Varen jomblo sekarang. Tapi dia tidak sama sekali berniat untuk menjalin hubungan dengan Rosalinda kembali.


"Sebaiknya mama jangan sering-sering kesini-lah, nanti tante Jane malah minta yang aneh-aneh lagi!" ucap Varen menegur mamanya.


Bukan tidak tahu terima kasih. Tapi, terkadang Jane sangat keterlaluan dalam menuntut keinginannya.


"Iya sayank." Dina tidak mau semakin membuat anaknya kesal.


****


Pagi hari, saat Ticia berangkat ke sekolah. Dia kembali melihat Varen berboncengan dengan seorang wanita. Tapi kayaknya bukan murid di sekolahnya. Karena seragamnya berbeda.


Ticia sempat mendengar dari Tika. Jika Varen sekarang sering banget gonta ganti cewek. Mungkin cewek tadi juga salah satu mangsanya.


Saat itu kebetulan lampu merah. Dan Varen berhenti tepat di sebelah kanan mobil Ticia. Awalnya Ticia membuka jendela karena merasa gerah. AC mobilnya rusak.


Eh siapa sangka, Varen jga berhenti tepat di samping mobilnya. Mereka sempat juga saling melirik. Tapi fokus Ticia justru ke tangan si perempuan yang melingkar diperut Varen.


Setelah lebih dari seminggu, siapa sangka jika hati Ticia masih terasa sakit melihat itu semua.


"Kenapa lo jadi cewek sangat tidak berguna sih Cia? Harusnya lo lupain dia! Dia aja nggak peduli dengan perasaan lo." gumam Ticia memarahi dirinya sendiri.


Lagi lagi lamunannya harus buyar karena klakson yang terus berbunyi di belakangnya. Karena lampu juga sudah berganti hijau. Ticia kemudian menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Ternyata, wanita yang bersama Varen itu bersekolah di SMK yang ada di sebelah barat lampu merah tadi. Ticia tidak sengaja melihat Varen menurunkan wanita tersebut di depan sekolahnya.


Ticia juga mengklakson Varen saat dia mendahului Varen. Melihat dari kaca spion, ternyata Varen sudah tertinggal cukup jauh karena sudah tidak terlihat lagi.


"Yah, gue harus bisa lupain dia, dan move on. Dia aja bisa kenapa gue enggak?" gumamnya lagi.


Mulai saat itu Ticia bertekad untuk melupakan Varen. Meskipun dia sangat sulit membuka hatinya lagi untuk orang lain. Setidaknya dia bisa melepaskan perasaannya kepada Varen.


"Dunia tidak selebar daun kelor cuyyy, gue juga berhak untuk bahagia. Dan bahagia itu tidak harus memiliki kekasih."


Begitu sampai, dia sudah ditunggu oleh Anabella yang duluan sampai di sekolah. Melihat Ticia yang sudah kembali tersenyum cerah. Anabella merasa sangat gembira. Akirnya Ticia bisa melepaskan perasaan sakitnya.


"Senyum mulu neng, lagi happy ya?" tanya Anabella.


"Hmm, gue sekarang udah sadar, jika bersedih terus gue akan merugikan wakgu gue sendiri, mending melakukan hal yang menyenangkan daripada terus bersedih." Ticia merangkul Anabella berjalan menuju kelasnya.


"Nah pinter, biarin jomblo yang penting happy." tutur Anabella.


"Mana ada jomblo happy, yang ada ngenes," tiba-tiba Iqbal menyahut dari belakang.


Iqbal juga menarik kucir Ticia membuat rambut Ticia terurai dengan sangat indah. "Lo kenapa sih gangguin gue mulu?" seru Ticia marah.


"Karena lo cantik waktu marah." Iqbal bukannya mengembalikan kuncir Ticia malah mengacak-acak rambut Ticia. Bukan hanya rambut Ticia. Tapi juga rambut Anabella.


Tentu saja itu membuat Ticia dan Anabella menjadi kesal. Ticia dan Anabella membenahi rambut mereka sembati mengomeli Iqbal yang sangat usil.


"Kembaliin nggak kuncir gue!" ucap Ticia. Iqbal pun dengan tersenyum langsung mengembalikan kuncir Ticia.


Ticia kembali mengikat rambutnya setelah merapikannya dengan tangannya. Tapi lagi-lagi Iqbal kembali usil. Belum jauh Ticia berjalan. Tepat ditengah halaman sekolah.


Iqbal kembali menarik ikat rambut Ticia. Dan terurai kembalilah rambut hitam nan panjang milik Ticia.


Kebetulan juga angin pagi itu bertiup dengan cukup kencang. Sehingga membuat rambut Ticia berkibas mengikuti hembusan angin. Dan itu justru membuat Ticia semakin terlihat cantik dengan rambut yang berkibas-kibas.


Dari jauh, Varen melihat penampilan Ticia yang seperti itu. Maka tersenyumlah dia. Varen memang sangat menyukai penampilan Ticia dengan rambut yang terurai indah. Menurutnya kecantikan Ticia meningkat seratus persen.

__ADS_1


Tapi sayangnya, kecantikan itu bukan lagi miliknya.


__ADS_2