Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
46. Final


__ADS_3

Hari itu adalah hari dimana tim Varen akan menjalani laga final melawan tim dari sekolah Darma Bhakti. Final kali ini adalah laga untuk membuktikan sekolah mana yang lebih hebat dalam hal olahraga basket.


Dimana kedua sekolah tersebut memang selalu saling kejar prestasi dalam hal olahraga. Terutama olahraga basket.


Para pendukung dari kedua tim sudah tidak sabar untuk menjadi saksi sekolah mana yang paling hebat. Sorakan dari tribun untuk tim masing-masing, bergemuruh memenuhi lapangan indoor tersebut.


Ticia berjalan mendekati Varen yang telah melakukan pemanasan. Ticia memberikan dukungan sepenuhnya untuk sang kekasih bersama timnya. Akan tetapi, Ticia juga tidak menaruh beban yang begitu berat untuk kekasihnya.


"Berusahalah yang terbaik! Tapi jangan memaksakan diri. Kalah atau menang, lo tetep pemenang dihati gue." ucap Ticia sembari mengelap keringat yang sudah membasahi kening Varen.


"Iya sayank." ucap Varen dengan tersenyum senang.


Beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Varen mendapat kejutan yang tak terduga. Kehadiran papa dan mamanya Varen adalah kejutan yang tak terduga untuk Varen.


Sehari sebelumnya. Ticia yang mulai akrab dengan papa dan mamanya Varen. Menghubungi mereka dan meminta kedua orang tua Varen untuk datang menyaksikan pertandingan final yang akan dilakoni oleh anak mereka.


Ticia berpikir, setidaknya kehadiran kedua orang tuanya akan memberikan semangat positif untuk sang kekasih. Apalagi selama ini, kedua orang tua Varen belum pernah sama sekali menyaksikan anak mereka tanding.


Ticia tersenyum senang ketika melihat papa dan mamanya Varen berjalan memasuki ruangan tersebut. "Om, tante!" seru Ticia sembari melambaikan tangannya.


"Mama, papa.." gumam Varen merasa begitu surprise.


Bukan hanya Varen. Akan tetapi juga Tika yang kaget melihat mamanya Varen yang ternyata sudah pulang. "Tante Dina?" gumam Tika juga dengan terkejut.


"Itu mamanya Gio?" tanya Iqbal yang berada disamping Tika. Selama hampir dua tahun berteman dengan Varen. Iqbal sama sekali belum pernah ketemu sama mamanya Varen. Kalau papanya sih, sudah dua kali kayaknya Iqbal ketemu.


"Iya." jawab Tika singkat. Lalu Tika berjalan mendekat dimana kedua orang tua Varen berjalan mendekati anaknya.


"Mama kapan tiba?" tanya Varen dengan bahagia.


"Baru aja, dijemput sama papa kamu." jawab Dina juga merasa bahagia karena bisa melihat anaknya tanding untuk pertama kalinya.


"Papa tumben?"


"Iya, kemarin papa diminta sama Leticia buat datang kesini, nonton kamu tanding. Papa juga penasaran, apa kamu juga sehebat papa waktu masih muda." jawab Darwis dengan sedikit bergurau.

__ADS_1


Varen yang merasa sangat senang pun memeluk Ticia dan berterima kasih. Varen sama sekali tidak menduga jika Ticia akan melakukan hal seperti itu untuk dirinya. Padahal Varen sendiri tidak berani berpikir untuk meminta papanya datang, melihatnya tanding.


"Tante Dina, gimana kabarnya?" tanya Tika sembari memeluk mamanya Varen.


"Ini Tika ya? Tante baik sayank, gimana kabar kamu? Gimana kabar orang tua kamu?"


Mendengar pertanyaan mamanya Varen. Membuat Tika jadi teringat kedua orang tuanya. Seketika wajah Tika berubah menjadi sedih. "Mama sama papa udah meninggal tan," lirihnya sembari meneteskan air matanya.


"Maaf, tante nggak tahu. Maafin tante ya sayank!" ucap Dina merasa bersalah kemudian memeluk Tika yang sudah menangis karena teringat kedua orang tuanya.


Pritttttt


Suara peluit wasit mengagetkan mereka semua. Varen sekali lagi meminta doa dari papa dan mamanya supaya dia menghasilkan yang terbaik untuk timnya, terlebih untuk sekolahnya.


Pertandingan final tersebut berjalan dengan sangat sengit. Lebih sengit dari pertandingan semi final sebelumnya.


Karena kehebatan dari kedua tim. Maka pertandingan tersebut menjadi sangat menegangkan di menit-menit akhir.


Varen meminta teman-temannya untuk terus menembakan bola selagi memiliki kesempatan. Jangan melulu dioper ke dirinya. Ciptakan peluang selagi ada kesempatan.


"Kak Vava..." teriak Ticia dari pinggir lapangan.


"Gio.." seru Dina menjadi khawatir.


Wasit menghentikan pertandingan dan mengatakan kalau Varen tidak bisa lagi melanjutkan pertandingan. Akhirnya Varen dibawa keluar lapangan. Sementara pertandingan kembali dilanjutkan.


Wasit menyatakan jika tim Darma Bhakti telah melakukan pelanggaran. Maka itu menguntungkan tim dari sekolah Varen.


Free throw akan diambil oleh Rafa. Rafa memiliki temtramen yang cukup bagus dibanding teman satu timnya yang lain. Kenapa dia menjadi pilihan, karena temtramennya yang bagus, tentu saja fokus dan konsentrasinya juga lebih bagus.


Rafa menghela nafas sebelum melakukan tembakan. Saat itu sebenarnya skor mereka juga sudah ungguh empat poin. Akan tetapi tetap saja, Rafa tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.


Dengan sedikit melompat. Rafa berhasil memasukan bola itu ke keranjang. Maka otomatis poin mereka pun juga bertambah.


Unggul enam poin dari lawannya. Membuat tim Varen sedikit bernafas lega. Tapi sebelum pertandingan selesai. Mereka masih harus fokus. Supaya tim lawan tidak bisa mengejar poin atau mengungguli poin tim mereka.

__ADS_1


5, 4, 3, 2, 1


Priiittttt


Akhirnya wasit meniup peluit yang menandakan jika pertandingan final tersebut telah berakhir. Dan pertandingan ditutup dengan kemenangan sekolah Varen yang unggul 6 poin dari tim lawan.


Sorak sorai terus terdengar dari tribun para penonton. Sampai saatnya tim sekolah Varen menerima mendali dan piala atas kemenangan mereka.


Hanya saja, akibat kecelakaan di lapangan tadi. Membuat Varen sementara waktu harus duduk di kursi roda. Akibat kakinya yang keseleo.


"Lo hebat Fa," puji Varen yang duduk di kursi roda dengan didorong oleh Ticia.


"Thanks bro, tapi kemampuan gue belum seberapa dibanding kemampuan lo." Rafa balik memuji Varen.


"Enggaklah, kalian semua hebat. Gue bangga sama kalian semua."


"Kaki lo?" tanya Digta sedikit khawatir ketika harus melihat temannya memakai kursi roda.


"Cuma keseleo aja kok."


Untuk merayakan kemenangan tim anaknya. Papanya Varen mengajak semua teman-teman Varen makan di restaurant yang tidak jauh dari tempat tersebut.


"Saya yang traktir semuanya." ucap Darwis yang disambut teriakan bahagia oleh teman-teman Varen.


Ticia masih mendorong kursi roda Varen. Tapi tiba-tiba Rose memohon untuk menggantikan Ticia. Awalnya Ticia merasa tidak enak, dan membiarkan Rose mendorong kursi roda Varen. Tapi karena Varen menolak dan marah. Maka Ticia kembali menggantikan Rose mendorong kursi roda Varen.


"Rose, nanti pulang dari sini, om mau ngomong sama kamu!" ucap Darwis.


Rose yang sedang bete karena penolakan Varen hanya menganggukan kepalanya saja tanpa menjawab.


"Yank, pokoknya lo nggak boleh biarin wanita lain buat dorong kursi roda gue! Gue nggak butuh cewek lain perhatian sama gue. Cukup lo aja yang perhatian sama gue." omel Varen merasa tidak senang dengan tindakan Ticia sebelumnya.


"Iya," Ticia tersenyum menanggapi kemanjaan kekasihnya.


Di sebelahnya ada mamanya Varen yang juga tersenyum melihat anaknya yang bertingkah kekanakan. Dina jadi teringat waktu dirinya dan suaminya pacaran dulu. Tingkah anaknya itu sama persis dengan tingkah papanya waktu muda. Dingin kepada orang lain. Tapi konyol di depan wanita yang dia cintai.

__ADS_1


__ADS_2