
"An..." seru Varen ketika Anabella berjalan seorang diri menuju kelasnya. Anabella menoleh dan melihat Varen yang melambaikan tangannya. Akan tetapi, Anabella tidak menanggapi Varen. Dia melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan panggilan Varen.
Melihat Anabella yang tidak menghiraukan panggilannya. Varen buru-buru turun dari motornya dan berlari ke arah Anabella.
"Ticia belum datang?" tanya Varen saat berada di sebelah Anabella.
"Belum." jawab Anabella dengan ketus. Dia sudah terlanjur marah karena Varen yang dianggapnya telah menyakiti sahabatnya.
"An, gue mau nanya! Apa waktu itu beneran lo ke rumah sakit sama Ticia?" Anabella seketika menghentikan langkahnya. Dengan cepat menoleh dan menatap Varen tajam.
"Menurut lo? Lo pikir Ticia datang dengan seorang cowok gitu?" Anabella berkata dengan sengit.
Apa-apaan, bukankah Ticia sudah menjelaskan sebelumnya. Tetapi Varen sendiri yang tidak percaya, dan menuduh Ticia selingkuh. Kemudian memutuskan hubungan mereka dengan alasan intropeksi diri. Prettt.
Mendengar dari jawaban Anabella yang ketus. Varen jadi semakin yakin jika Ticia tidak pernah selingkuh di belakangnya. Apa yang dikatakan Davin tentunya jujur semua.
"Ticia udah punya cowok belum sih?"
"Belum, dia udah nggak mau pacaran, pacaran cuma bikin pusing katanya." Anabella masih saja ketus ketika menjawab pertanyaan Varen.
"Jadi gue masih ada kesempatan dong." gumam Varen tersenyum senang.
"Oke, makasih ya Anabella cantik." Varen berlari kecil setelah mengucapkan terima kasih kepada Anabella.
Sementara Anabella hanya menatap kepergian Varen dengan tersenyum geli. Dia bukannya mau ketus ke Varen tadi. Hanya saja saat teringat tangisan menyedihkan Ticia beberapa waktu lalu. Anabella selalu akan marah.
"Kenapa lo senyum-senyum lihatin kak Gio?" tanya Rosalinda yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.
"Jangan-jangan lo juga suka sama kak Gio? Hayo ngaku!" lanjutnya menuduh Anabella.
"Nih orang kayaknya gila beneran." ucap Anabella yang sebenarnya malas meladeni Rosalinda. Tapi, Anabella juga tidak mau, Rosalinda akan berpikiran hal seperti terus. Takutnya gosip seperti itu akan mempengaruhi hubungannya dengan Ticia.
__ADS_1
"Lo pernah punya sahabat nggak? Kalau nggak temen-lah, lo punya nggak? Kalau lo punya, lo pasti tahu prinsip seorang sahabat." ucap Anabella kemudian berjalan meninggalkan Rosalinda yang langsung terdiam.
Harus diakui, di dalam hidup Rosalinda. Dia belum pernah sama sekali memiliki seorang sahabat. Mungkin teman ada beberapa, tapi kalau sahabat. Sama sekali tidak punya.
Jika teman hanya sebatas kenal dan bergaul. Tapi sahabat lebih dari itu. Prinsip seorang sahabat, boleh berbagi apapun tapi tidak boleh berbagi cinta atau pasangan.
"Gue yakin sebenarnya lo suka kan sama kak Gio? Gue bisa lihat dari cara lo mandang dia." Rosalinda belum menyerah. Dia terus mengikuti Anabella dan menuduhnya suka sama Varen. Hanya karena tadi dia melihat Varen dengan tersenyum.
"Lo lebih baik tahu dari Ticia, lo lebih cantik, baik, tapi sayangnya, lo cuma jadi bayangan Ticia." Rosalinda terus memprovokasi Anabella. Mungkin Rosalinda ingin membuat hubungan Ticia dan Anabella menjadi renggang.
Anabella menghentikan langkahnya. "Bener sih kata lo." ucap Anabella pelan.
Rosalinda tersenyum senang mendemgar perkataan Anabella. Dia merasa telah berhasil memprovokasi Anabella.
"Tapi itu menurut lo, bukan menurut gue.. Bagi gue tidak ada teman yang lebih baik dari Ticia dan Indah." Rosalinda terkejut di paruh kedua perkataan Anabella.
Rosalinda padahal sudah sangat bahagia bisa memprovokasi Anabella. Tapi ternyata, Anabella sama sekali tidak terprovokasi. Apa yang Ticia punya, dan dia tidak punya. Kenapa begitu banyak orang yang menyayangi Ticia. Sementara dirinya harus selalu sendiri.
Bagi Anabella, Ticia dan Indah bukan lagi seorang teman atau sahabat. Tapi lebih daripada saudara sendiri. Dengan mereka berdualah, Anabella sering mencurahkan perasaannya. Dengan mereka pula, Anabella menjadi diri sendiri. Dengan mereka juga, Anabella sering berbagi beban.
"Jangan pernah memprovokasi gue, karena lo nggak akan berhasil! Persahabatan kita lebih kuat dari sebuah perasaan iri dan dengki!" Anabella memperingati Rosalinda supaya tidak lagi mengusik pertemanannya dengan Ticia.
Kemudian dengan langkah tegas, Anabella melanjutkan langkahnya menuju kelas. Senyuman bangga juga tersungging di wajah manisnya. Teringat wajah Rosalinda yang menahan amarah karena rencananya gagal. Rencana untuk mengganggu pertemanannya dengan Ticia.
****
*Waktu jam istirahat*
Varen masih menanggapi adik-adik kelasnya yang centil. Tapi, berbeda dari kemarin. Hari ini Varen terlihat risi berdekatan dengan adik-adik kelasnya.
"Tadi pagi kak Varen nanyain lo," ucap Anabella sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Masa?" Anabella menganggukan kepalanya.
"Kayaknya dia nggak bisa move on dari lo, sama kayak lo yang nggak bisa move on."
"Siapa bilang gue nggak bisa move on?" Ticia tidak terima dituduh belum bisa move on dari Varen.
"Nggak usah sok deh, nggak inget apa kemarin hampir nangis waktu bilang 'kak Vava udah nggak inget sama gue'," sindir Anabella yang membuat Ticia jadi memerah wajahnya.
"Lemes banget mulut lo!" Ticia mencubit bibir Anabella masih dengan wajahnya yang memerah.
Varen yang melihat Ticia sedang bersendau gurau dengan Anabella. Kemudian berjalan mendekat. Tumben Iqbal nggak ganggui Ticia. Biasanya dia paling gencar gangguin Ticia.
Baru saja Varen berpikir begitu. Tiba-tiba Iqbal sudah ada di sebelah Ticia duluan. Seperti biasa, Iqbal usil sekali ke Ticia.
Ada-ada saja apa yang Iqbal lakuin untuk menganggu Ticia maupun Anabella. Kali ini, Iqbal membawa pergi minuman Ticia di saat Ticia sedang merasa kepedasan. Karena tidak sengaja menambahkan banyak sambal ke baksonya.
"Huh hah kak Iqbal huh balikin hah minuman gue!" Ticia tidak kuat menahan rasa pedas yang amat sangat itu.
Anabella yang merasa kasihan melihat Ticia kepedasan, memberikan minumannya untuk Ticia. "Awas lo!" ancam Ticia sudah berkurang rasa pedas di mulutnya.
"Lagian lo mikirin apa sih Cia, kok bisa masukin sambal begitu banyak? Pasti mikirin kak Varen ya?" goda Anabella.
"Nggak, ngapain mikirin dia, nggak penting." sanggah Ticia dengan cepat.
"Nih!" terdengar suara seseorang sembari meletakan gelas minuman di mejanya. Dan suara itu sangat familiar buat Ticai dan juga Anabella.
Ticia dan Anabella seketika menoleh. Dan benar saja, orang itu adalah Varen. Dia berhasil merebut minuman Ticia dan Iqbal. Bukan merebut, mungkin lebih tepatnya meminta dari Iqbal. Dan, Iqbal tidak berani membantahnya.
"Makasih tapi gue udah nggak haus." ucap Ticia dengan ketus.
"Kenapa nggak mau balas chat gue?" tanya Varen yang duduk di sebelah Ticia dengan menopang dagunya menatap Ticia.
__ADS_1
"Nggak apa, nggak penting aja." Ticia masih sangat ketus menjawab pertanyaan Varen.
Akan tetapi, Varen tidak merasa tersinggung dengan sikap Ticia tersebut. Varen tahu, kesalahannya kepada Ticia tidak mudah untuk di lupakan. Ticia pasti masih marah sama dia. Varen bisa memaklumi itu. Karena semua memang salahnya.