
"Kenapa masih sedih aja?" tanya Varen ketika melihat Ticia yang masih saja murung.
"Kita kan masih bisa sembunyi-sembunyi dari ayah." tutur Varen.
Ticia menghentikan langkahnya. Kemudian duduk di salah satu bangku yang ada di sekitar lapangan basket yang ada di sekolahnya. Wajah lesu, dan pandangan yang kosong.
Bukkk..
Varen menangkis bola basket yang hendak mengenai kekasihnya. "Hati-hati woi!!" seru Varen mengomeli teman-temannya yang sedang main basket.
Ticia yang sedang melamun. Akhirnya tersadar mendengar seruan Varen. Menghirup nafas dalam-dalam untuk mengatur suasana hatinya.
"Kak, gue dijodohin." ucap Ticia membuat Varen membulatkan matanya.
"Dijodohin???" Varen tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tapi, ketika Ticia menganggukan kepalanya dengan berat. Varen menjadi sedih karenanya.
"Dijodohin sama siapa? Terus gue gimana?" Varen berjongkok di depan Ticia sembari menggenggam tangan Ticia erat.
Ticia menatap iba melihat kekasihnya. Dan hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa berkata. Dia juga dilanda kebingungan. Dia sudah memohon kepada ayahnya. Tapi ayahnya selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali dia memohon.
Entah apa yang akan dia lakukan. Yang jelas, Ticia masih sangat mencintai Varen.
Varen kembali duduk disamping Ticia. Menarik Ticia ke dalam pelukannya. Serta memohon supaya Ticia tidak meninggalkannya. "Gue cinta banget sama lo." lirihnya masih mendekap kekasihnya.
Ticia tidak menjawab lagi. Tapi, dia mengulurkan tangannya membalas pelukan Varen. Sama seperti yang Varen rasakan. Dia juga sangat mencintai pria yang memiliki bulu mata sangat lentik tersebut.
Pagi itu awan gelap membumbung di atas mereka. Seolah alam juga ikut merasakan kesedihan sepasang kekasih berbeda keyakinan tersebut.
Perjuangan yang tiada habisnya dalam menjalani hubungan percintaan mereka. Akankah cinta mereka akan berujung atau cinta mereka hanya tempat persinggahan dalam menjalani kehidupan mereka.
Entahlah.
"Ayah masih belum percaya sama gue?" tanya Varen lagi. Dia benar-benar menyesal, kenapa harus pergi ke club malam lagi. Seandainya dia tidak pergi. Mungkin hubungannya dengan Ticia masih berjalan baik. Hanya saja, dia akan kehilangan kesempatan menjadi sahabat yang baik untuk Digta.
Mendengar pertanyaan Varen. Ticia tiba-tiba teringat akan ucapan ibunya. Tentang siapa wanita yang diantar Varen malam itu.
__ADS_1
"Malam itu kak Vava nganterin pulang siapa?" tanya Ticia melepaskan pelukan Varen.
Varen pun mengerutkan keningnya. Dia kembali mengingat malam dimana dia pergi ke club malam itu. Cukup lama Varen mengingat. Sampai akhirnya dia ingat.
Malam itu, Angel yang sedang mabuk berat memaksa untuk masuk ke dalam mobil Varen. Saat itu Varen sempat menolak dan mendorongnya. Tapi, melihat Angel yang terjautuh dan terkapar. Varen menjadi tidak tega. Lagipula ketiga sahabatnya sudah mabuk juga. Dan Tika juga naik motor.
"Itu... itu, Angel. Gue anterin dia pulang karena gue nggak tega, Digta, Rafa, Iqbal semua pada mabuk, dan Tika juga naik motor. Jadi gue nggak tega, terus anterin dia pulang." jawab Varen dengan sedikit gugup. Takut jika Ticia akan marah. Tapi, dia tidak menyembunyikan apapun dari Ticia. Dia berbicara apa adanya.
"Angel yang katanya suka sama kak Vava?" wajah Ticia sudah berubah masam.
"Iya. Tapi benaran gue cuma kasihan, nggak yang aneh-aneh. Sumpah." Varen menarik Ticia lagi ke dalam pelukannya. Dengan mengangkat dua jarinya sebagai simbol sumpah.
"Cinta gue udah habis buat lo." Varen memegang kedua pipi Ticia dan kemudian menciumnya. Tidak peduli dengan banyak mata yang menatap mereka.
"Uhm..." Ticia memukul tangan Varen dengan cukup keras. Dia tidak menyangka jika Varen akan menciumnya di depan umum.
Karena pukulan tidak membuat Varen melepaskan ciumannya. Ticia pun mencubit lengan Varen. "Akh..." erang Varen melepaskan ciumannya.
"Sakit yank!!" ucapnya sembari mengusap-usap lengannya.
"Tunggu yank!" seru Varen mengikuti Ticia.
Tetapi, Ticia yang merasa malu pun mempercepat langkahnya meninggalkan Varen yang terus-terusan memanggilnya.
Ticia masuk ke kelas dengan wajah yang masih merah. Dengan ngedumel dia meletakan tasnya ke dalam laci. Dalam benaknya teringat jelas, saat Varen menciumnya barusan.
"Dasar tidak tahu malu!!" ucap Rosalinda dengan sengit.
Awalnya Ticia tidak menghiraukan perkataan Rosalinda. Karena dia pikir, Rosalinda sedang ngomong sama temannya yang lain.
Tapi ketika Ticia menoleh dia tidak melihat siapapun di dekatnya selain Rosalinda. Ada beberapa teman juga di dalam kelasnya. Tapi mereka duduk di depan, dan jaraknya cukup jauh dari Ticia dan Rosalinda.
Ticia mengernyitkan keningnya. Tapi masih tidak mau menghiraukan Rosalinda. Ticia terlalu malas meladeni Rosalinda.
"Ciuman di sekolah, emang lo pikir lo oke gitu? Norak." ucap Rosalinda lagi.
__ADS_1
"Lo ngomong sama gue?" Ticia bertanya dengan santai.
"Iyalah, siapa lagi yang norak, kalau bukan lo. Sok-sok an pamer kemesraan di depan umum, ciuman segala, nggak tahu malu banget!" Rosalinda semakin sengit.
"Ya, yang sabar aja! Itu ujian bagi seorang jomblo." ucap Ticia masih dengan santai. Bahkan dia masih aja tersenyum. Meskipun sebenarnya dia kesal dengan ucapan Rosalinda.
"Lo ngehina gue? Mentang-mentang lo punya pacar, songong banget lo. Semua orang juga tahu, kalau pacar lo itu bekas gue!" Rosalinda merasa dihina oleh perkataan Ticia. Dia menjadi marah karena perkataan Ticia yang mengatakan jika dia seorang jomblo.
Mendengar ucapan Rosalinda. Ticia menjadi tersenyum bahkan terdengar seperti tertawa. "Lo lupa atau pikun?" tanya Ticia.
"Sebelum dia sama lo, dia itu milik siapa? Dan yang sebenarnya, lo itu cuma pelarian." kali ini Ticia yang berkata dengan sengit.
Mendengar perkataan Ticia. Maka, marahlah Rosalinda. Dia bahkan menggebrak meja dulu sebelum berdiri. Merasa dihina oleh Ticia.
"Jangan songong lo!" marahnya.
"Lah kok marah?" Ticia masih dengan santai menghadapi amarah Rosalinda.
Dia yang mulai duluan, dia juga yang marah tidak karuan. Melihat itu Ticia menjadi tersenyum sinis.
"Bilang aja kalau lo masih belum bisa move on dari kak Vava, lo cemburu kak Vava cium gue tadi?"
"Iya, dan gue akan buat kak Gio ninggalin wanita murah*n kayak lo!" sahut Rosalinda cepat.
"Harusnya kata murahan itu lo tujuin buat diri lo sendiri! Lo tahu kak Vava udah punya, tapi masih aja ngedeketin dia, lo itu murahan atau emang nggak laku?" Ticia tersenyum smirk.
"Bac*t lo!! Lo lihat aja, kak Gio akan ngemis-ngemis cinta gue,"
"Jangan ngimpi Rose!" Varen yang mendengar perkataan Rosalinda kemudian menyahut.
"Gue nggak cinta sama lo, nggak mungkin gue ngemis-ngemis cinta lo. Lupain gue! Gue nggak akan pernah sama lo, meskipun di dunia ini cuma tersisa lo doang." ucap Varen dengan cukup kejam. Tapi itu memang harus dilakukan.
Supaya Rosalinda bisa membuka hatinya untuk orang lain. Dan tidak menjadi duri di dalam daging terus. Rosalinda juga berhak untuk bahagia. Dan Varen tidak bisa memberi kebahagiaan itu.
Jleb..
__ADS_1
Hati Rosalinda bagai tertusuk ribuan jarum. Sakit, tapi tak berdarah.