Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
80.


__ADS_3

Rosalinda dan Ticia di sidang di ruang ruang selama hampir dua jam. Selama itu mereka kena omel guru BP mereka. Bukan karena berantem, tapi karena mereka sama-sama menolak untuk berbaikan.


Karena keras kepalanya mereka. Akhirnya guru BP pun memberikan hukuman skorsing kepada Ticia dan Rosalinda. Beruntung orang tua mereka tidak dipanggil ke sekolah.


Tapi sebagai peringatan. Jika mereka kembali membuat keributan atau berkelahi lagi. Orang tua mereka akan dipanggil ke sekolah.


Skorsing tiga hari itu dimulai dari hari ini. Jadi hari ini mereka di persilahkan pulang untuk melanjani masa hukuman mereka.


Saat mereka berjalan ke kelas pun mereka sempat adu mulut lagi. Itu di mulai dari Rosalinda yang masih tidak terima mamanya dituduh yang membuat hancur keluarga Varen.


"Gue benar-benar nggak nyangka, demi membela diri lo, lo sampai fitnah mama gue." Rosalinda sangat yakin jika mamanya tidak seperti yang Ticia bilang.


Rosalinda masih berpikir jika itu semua adalah fitnah Ticia untuk menyulut amarahnya. Dan mengakibatkan terjadinya perkelahian tadi.


"Ngapain gue harus bela diri? Gue nggak salah! Lucu emang lo, sampai-sampai bikin gue gedeg." jawab Ticia dengan tersenyum geli.


"Lo udah fitnah mama gue, masih ngerasa nggak salah? Emang bener-bener songong lo." ucap Rosalinda sembari menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Ticia sepicik itu. Kenapa harus bawa-bawa orang tua saat mereka bertengkar.


"Fitnah?" Ticia bertanya dengan sinis.


"Udahlah, susah kalau ngomong sama orang yang sukanya mau menang sendiri." lanjut Ticia kemudian mempercepat langkahnya.


Dia tidak mau meladeni omongan Rosalinda lagi. Karena itu pasti akan menyulut emosinya lagi. Dan akibatnya akan lebih buruk dari tadi.


Dari jauh terlihat Varen yang berlari dengan panik. Varen diberi tahu Rafa kalau Ticia dibawa ke ruang guru karena bertengkar dengan Rosalinda.


Saat itu Rafa hendak ke toilet dan dia melihat keributan itu. Awalnya Varen langsung ingin menyusul Ticia ke ruang guru. Tapi pada saat itu di kelasnya sedang ulangan. Jadi Varen mengurungkan niatnya.


Selama ulangan berlangsung pun. Varen sangat tidak tenang. Dia gelisah sepanjang waktu. Sampai-sampai dia fokus mengerjakan ulangan tersebut. Karena ingin cepat-cepat keluar dari kelas.


Begitu selesai mengerjakan ulangan. Varen buru-buru ke kelas Ticia. Tapi kata Anabella, Ticia belum balik. Jadi Varen menyusul ke ruang guru.


"Lo katanya dibawa ke ruang guru?" tanya Varen dengan panik ketika mendapatkan Ticia ada di depannya.

__ADS_1


"Iya tadi, dan sekarang gue di skors tiga hari." jawab Ticia tanpa berdalih.


"Kenapa kalian bertengkar?" tanya Varen kepada Ticia dan juga Rosalinda yang berjalan di belakang Ticia.


Akan tetapi antara Ticia dan Rosalinda. Kedua tidak ada yang menjawab pertanyaan Varen.


"Rose, gue tahu lo marah saat ini. Tapi semua ini nggak ada kaitannya sama Ticia. Gue yang nggak bisa move on dari dia. Jadi please, jangan bikin masalah ke Ticia!" ucap Varen yang membuat Rosalinda semakin kecewa.


Kenapa Varen harus menyalahkan Rosalinda. Kenapa dia tidak berpikir jika semua itu karena Ticia yang memulainya.


Karena Varen yakin, Ticia tidak akan memulai perkelahian. Bukan karena dia dibutakan oleh cintanya kepada wanita itu. Tapi dia sangat paham bagaimana sifat wanita yang dia cintai.


Karena Ticia sangat dewasa. Dia tidak akan memancing masalah yang tidak berfaedah.


"Kenapa kak Gio nyalahin gue? Semua inu tidak akan terjadi jika seandainya Ticia tidak keterlaluan." ucap Rosalinda dengan marah.


"Gue keterlaluan gimana? Lo sendiri yang mulai mancing-mancing emosi gue, pakai segala ngatain gue pelakor lah, bermuka dua lah, munafik lah." sanggah Ticia. Dia tidak merasa memulai perkelahian itu.


"Tapi kalau lo tidak fitnah mama gue, nggak mungkin gue akan emosi."


Ticia menatap Varen dengan tatapan bersalah. Seolah Ticia ingin mengatakan jika dia tidak bermaksud membuka aib keluarga Varen. Dengan wajah sendu Ticia terus menatap Varen yang terdiam.


Di sudut pandang Rosalinda. Dia melihat Varen yang terdiam dan wajah Ticia yang takut. Dia berpikir jika Varen akan marah kepada Ticia. Rosalinda pun tersenyum penuh kemenangan.


Tapi, eits, tunggu dulu!!


Varen justru tersenyum dan menyentuh pipi Ticia denga lembut menggunakan ibu jarinya. Varen bermaksud menenangkan Ticia yang merasa salah.


"Maaf, karena dia tadi udah sangat keterlaluan." gumam Ticia pelan sambil memegang tangan Varen.


"Nggak apa-apa kok, itu kan emang kenyataan. Kenyataan jika mamanya Rose yang udah buat keluarga gue hampir hancur." ucap Varen tersenyum kepada Ticia. Tapi sesaat kemudian, dia menoleh dan menatap Rosalinda dengan tajam.


"Maksud kak Gio?" Rosalinda hampir tidak bisa mempercayai apa yang dia dengar barusan.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan Ticia benar. Mama lo adalah orang yang membuat keluarga gue hampir hancur. Mama lo udah fitnah mama gue, sehingga membuat mama dan papa gue bertengkar sampai hampir bercerai." jawab Varen tidak menyembunyikan kenyataan apapun dari Rosalinda.


"Nggak mungkin, mama gue nggak mungkin lakuin itu. Nggak mungkin." Rosalinda masih belum percaya meskipun Varen sudah menjelaskannya.


"Itu kenyataan Rose. Gue tegasin sekali lagi, gue tidak pernah mencintai lo, dari dulu sampai sekarang, wanita yang gue cintai adalah Ticia. Jadi gue mohon, jangan lakuin hal yang akan buat gue bukan hanya ilfil tapi bahkan benci sama lo." ucap Varen dengan tegas. Varen juga menggenggam tangan Ticia dengan erat.


"Gue berharap lo akan nemuin lelaki yang lebih baik dari gue, dan tentunya yang cinta sama lo." ucap Varen lagi lalu menarik tangan Ticia meninggalkan Rosalinda yang terpukul dengan kenyataan yang dia dengar.


Kenyataan tentang mamanya. Dan juga kenyataan bahwa lelaki yang dia cintai tidak pernah mencintainya.


Sedangkan Varen tidak lagi menoleh ke belakang. Tapi justru Ticia yang sempat menleh ke belakang. Ada rasa iba dihatinya melihat Rosalinda yang sangat terpukul dengan kenyataan yang di dengar.


"Rose kasihan kak, harusnya kak Vava jangan terlalu kejam ke dia!" ucap Ticia.


"Terus lo mau gue baik ke dia, terus gue harus berbohong bilang kalau gue suka sama dia, supaya dia seneng. Itu akan jauh lebih kejam buat dia." ucap Varen masih menggenggam tangan Ticia.


"Ya nggak gitu juga, tapi kan-"


"Udahlah, nggak usah bahas dia lagi. Akan lebih jika dia tidak lagi menggangu hubungan kita. Daripada lo mikirin dia, mending lo buruan jawab pertanyaan gue!" ucap Varen.


"Pertanyaan apa?"


"Lo mau nggak balikan sama gue?"


Seketika Ticia menoleh dan menatap Varen yang memandang lurus ke depan. Pertanyaan itu sudah pertanyaan yang ke sekian kalinya. Akan tetapi Ticia tidak pernah menjawab pertanyaan itu sama sekali.


Sebenarnya tanpa menjawab pun. Varen seharusnya udah tahu jawabannya.


"Nggak usah dijawab! Pokoknya mau atau nggak, lo tetep pacar gue."


"Ish kok maksa?"


"Biarin, abisnya lo sok jual mahal sih."

__ADS_1


"Sialan lo!" Ticia memukul lengan Varen dengan cukup keras. Tapi kemudian mereka tertawa bersama.


__ADS_2