
"Kak, kak Varen nggak serius kan dengan ucapan kakak tadi?" tanya Tucia sembari meletakan minuman di atas meja, tepat di depan Varen. Sejak tadi Ticia selalu memikirkan apa telah diperbuat oleh lelaki yang memaksa untuk menjadi pacarnya itu.
"Ucapan yang mana? Yang gue bilang kalau gue baru pertama jatuh cinta?" Varen bertanya balik dengan sedikit tersenyum menggoda, sambil menengguk minuman yang ada di depannya.
"Bukan itu, tapi yang kak Varen bilang nggak akan mau lagi nongkrong sama teman-teman kakak?" tanya Ticia serius.
Varen hanya menganggukan kepalanya pelan. Setelah itu dia kembali menengguk minuman yang kali ini sudah ada ditangannya. Terlihat jelas raut kesedihan diwajah Varen.
Ticia tahu jika pilihan itu adalah pilihan yang sangat berat untuk Varen. Akan tetapi Ticia sama sekali tidak memaksa Varen untuk memilih antara dirinya dan teman-temannya.
"Kak, gimana kalau kakak mulai sekarang jauhin gue?" ucapan Ticia itu seketika mengagetkan Varen. Dengan tatapan tajam Varen menatap Ticia.
"Maksud lo apa? Lo mainin perasaan gue? Gue lebih milih lo daripada teman-teman gue, tapi dengan gampangnya lo nyuruh gue buat jauhin lo?" Varen bertanya dengan tersenyum sinis. Tapi tatapannya tak bisa terungkapkan kemarahan yang begitu dalam.
Ticia bahkan tidak berani menatap mata Varen yang sepertinya terlihat sangat marah. Ini pertama kalinya, semenjak kenal Varen, baru kali ini Ticia melihat Varen marah. Bahkan waktu itu, ketika Ticia menyiramnya dengan air. Varen tidak marah. Berbeda dengan saat ini.
"Bukan gitu maksud gue kak. Gue cuma nggak mau, lo berantem sama temen lo hanya demi gue." Ticia mencoba menjelaskan apa maksud ucapannya tadi, tapi tanpa berani menatap Varen yang duduk di sebelahnya.
"Gue juga nggak mau kayak gini, Cia.. Tapi mereka sama sekali nggak ngertiin perasaan gue. Gue bisa jauhin semua wanita yang mencoba deketin gue, tapi gue nggak bisa jauhin lo, gue cinta sama lo.."
"Tapi gue nggak mau jadi penyebab hancurnya persahabatan kalian," lirih Ticia semakin tidak berani menatap Varen. Karena kelembutan Varen, benar-benar membuat Ticia salah tingkah.
"Apapun yang terjadi, gue minta lo jangan pernah jauhin gue! Please," mohon Varen. Varen juga meraih tangan Ticia dan menggenggamnya.
"Entah kenapa, deket sama lo, bikin gue nyaman banget, bikin gue ngerasain kasih sayang seorang ibu, lo mirip banget ama nyokap gue-"
"Aw... Sakit, Cia.." belum juga Varen selesai bicara, tapi Ticia memukul lengannya duluan, membuat Varen mengerang kesakitan.
__ADS_1
"Lo kira gue udah setua itu, ha?? Sialan lo, samain gue sama nyokap lo," protes Ticia.
"Bukan soal umur, tapi sifat dan karakter lo sama seperti nyokap gue, gitu maksudnya.." jelas Varen masih dengan mengelus-elus lengannya yang sakit.
"Oh, gitu. Kirain.." Ticia malah tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Untung sayang," gumam Varen pelan. Dan meskipun itu pelan, tapi Ticia masih bisa mendengarnya. Maka tersenyum malu-malulah si Ticia.
"Mama gue juga masih muda keles,"
"Oh ya? Kalau gitu salam ya buat mama lo," Mendengar ucapan Ticia, seketika raut wajah Varen berubah sedih. Tapi Varen dengan cepat menyembunyikan ekspresi sedihnya. "Iya, ntar kalau mama pulang, gue salamin.. Gue bakal bilang ke mama 'dapat salam dari calon mantu'.." kata Varen dengan senyuman lebar.
"Apaan sih," Ticia juga tersenyum mendengar gombalan Varen.
Tak lama setelah itu, Varen berpamitan karena hari sudah semakin sore. "Jangan kangen!" katanya sebelum keluar dari rumah Ticia.
"Dah..." pamitnya sembari mengangkat tangannya. Sementara Ticia hanya menganggukan kepalanya dengan tersenyum bahagia.
Selepas Varen pergi. Ticia dengan melompat-lompat bahagia masuk ke kamarnya. Setelah itu dia mulai merebahkan tubuhnya. Hari ini hati yang melelahkan.
Tak lama setelah dia membalas chat dari Indah Tiba-tiba Ticia kepikiran lagi masalah tadi di kafe. Ticia senang, sekaligus sedih.
Senang, karena Varen tidak segan-segan mengakui cintanya di depan orang-orang. Dan sedih, karena dia melihat persahabatan Varen renggang karenanya. Meskipun bukan salah dia. Tapi mau tak mau, dia terseret dalam keributan itu.
"Pokonya besuk gue harus ngomong sama temen-teman kak Varen." gumamnya seorang diri. Ticia merasa harus meluruskan masalah itu. Meskipun dia sendiri tidak yakin. Apakah teman-teman Varen akan mendengarkannya atau tidak. Yang terpenting Ticia sudah berusaha.
Ticia memiliki tekad, membuat persahabatan Varen kembali membaik. Dia tidak ingin disalahkan atas retaknya hubungan persahabatan Varen dan teman-temannya.
__ADS_1
****
Keeseokan harinya..
Begitu sampai di sekolah, ternyata Ticia sudah ditunggu oleh Tika di dalam kelasnya. Ticia berangkat sendiri ke sekolah. Jika biasanya dia akan datang bersama Varen. Karena dia ada misi khusus makanya dia memilih untuk datang ke sekolah lebih awal.
"Kebetulan lo ada disini, gue mau ngomong!" ucap Ticia dengan santai sambil memasukan tasnya ke dalam laci mejanya.
"Sama, kalau gitu kita ke belakang sekolah!" ucap Tika dengan berjalan begitu anggun dan mendahului Ticia.
Ticia pun mengikuti Tika. Mereka berjalan menuju halaman belakang sekolah mereka. Tempat itu cukup sepi, jarang ada murid yang kesitu. Di bawah pohon yang ada di halaman itu terdapat bangku tua. Ticia dan Tika duduk di bangku tersebut.
"Mau ngomong apa?" Ticia memberikan kesempatan Tika untuk bicara terlebih dahulu.
"Gue nggak mau basa basi, gue cuma mau ngingetin supaya lo jauhin Gio! Lo lihat sendiri kan, karena lo, persahabatan kita jadi berantakan.." ucap Tika dengan sengit.
"Gue bukannya nggak bersimpati dengan persahabatan kalian, gue juga udah minta kak Varen buat jauhin gue, tapi dia nggak mau.."
"Jadi lo mau bilang kalau lo lebih penting daripada kita, sahabat yang selalu ada buat Gio saat dia terpuruk karena nyokapnya pergi, gitu maksud lo?" Tika tidak lagi bisa menahan amarahnya, jadi tanpa sadar dia mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan.
"Lo itu hanya orang yang tiba-tiba datang di hidupnya Gio, dan merusak hubungan yang udah terjalin selama bertahun-tahun.." Saking emosinya Tika sampai sedikit berteriak.
"Gue nggak pernah merasa begitu! Gue juga nggak minta kak Varen buat milih antara gue dan kalian. Sadar nggak, kalau ini semua karena lo sendiri?" pertanyaan Ticia membuat Tika tersentak.
"Seandainya lo nggak egois, lo ngertiin perasaan kak Varen, semua ini nggak akan terjadi!! Apa yang diinginkan kak Varen adalah pengertian kalian, kak Varen juga manusia yang punya hati dan perasaan. Apa salah jika dia mencintai seorang wanita?" lanjut Ticia.
"Lo bilang gue egois? Lo bilang gue nggak ngertiin perasaan Gio?" Tika bertanya dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Selama ini gue yang ada buat dia, gue selalu ngertiin apa mau dia, gue korbanin perasaan gue ke dia supaya apa? Supaya persahabatan ini tidak jadi renggang. Tapi begitu lo hadir, dia lebih milih lo daripada gue, lo tahu nggak seberapa sakit hati gue?" Secara tidak sengaja Tika mengungkapkan perasaannya kepada Ticia.