
"Kak Vava semalem ke club malam?" tanya Ticia dengan sedikit cemberut.
"I...ya, lo tahu darimana?" Varen sedikit terkejut dengan pertanyaan Ticia.
Ticia menghentikan langkahnya lalu menoleh dan menatap Varen tajam. Udara pagi yang hangat berubah menjadi begitu panas.
"Cuman nemenin Digta curhat aja, nggak yang aneh-aneh, orang gue bawa air mineral sendiri dari rumah." ucap Varen yang takut jika Ticia akan marah. Dan mengira jika dia masih suka minum minuman keras.
"Tanya Tika kalau nggak percaya, atau tanya anak-anak yang lain!" imbuh Varen. Semakin bingung karena kebisuan Ticia.
"Yank,," Varen meraih tangan Ticia. Dia menarik tangan Ticia supaya menghentikan langkahnya.
Ticia hanya terdiam. Pandangannya lurus ke depan. Seolah dia tidak melihat Varen yang ada tepat di sebelahnya.
Varen menyadari kesalahannya. Kemudian meminta maaf kepada Ticia. Dan kembali menjelaskan jika dia tidak mabuk semalem. Dan, tidak aneh-aneh juga. Hanya mendengarkan curhatan Digta.
Saat Varen terus menatap Ticia. Dia melihat cairan bening dipipi Ticia. Varen kemudian berpindah posisi ke depan Ticia.
Ya, dia melihat Ticia yang menangis. Rasa bersalah pun terasa dalam hatinya. Ditatapnya wajah cantik itu dengan sedih. Ibu jarinya menyapu air mata yang membasahi wajah cantik tersebut.
Varen menempelkan dahinya ke dahi Ticia. Tidak peduli dengan berapa pasang mata yang melihatnya. Meskipun mereka berada di parkiran sekolah sekalipun. Dimana banyak murid yang berlalu lalang.
Varen hanya ingin menenangkan kekasihnya saat ini. Rasa bersalah itu semakin menjadi di dalam hatinya.
"Maafin gue!" lirihnya.
Setelah sekian lama terdiam. Ticia mulai bersuara. "Ayah lihat lo keluar dari club malam semalam, ayah marah, ayah kecewa sama lo, ayah ingin kita putus." ucap Ticia dengan suara serak.
Mendengar perkataan Ticia membuat Varen menjadi terkejut. Varen langsung memeluk erat kekasihnya. "Gue nggak mau putus dari lo, gue cinta banget sama lo.." ucapnya dengan suara serak pula.
Semalam Varen keluar dari club malam bersama ketiga temannya yang sudah mabuk berat. Dan satu wanita yang bersamanya juga. Tapi Varen tidak melihat ada ayah Ticia.
Atau mungkin ayah Ticia tidak sengaja lewat dan melihatnya. Pikiran Varen pun di penuhi dengan kekacauan. Dia tidak mau kehilangan wanita yang dia dekap saat ini.
"Nanti gue ke rumah dan jelasin semua ke ayah. Gue nggak mau putus, gue nggak mau putus!" Varen semakin mempererat pelukannya. Dia benar-benar takut kehilangan wanita ini.
"Ayah masih marah, sebaik jangan sekarang, tunggu sampai emosi ayah mereda."
"Tapi gue nggak mau putus dari lo!"
__ADS_1
"Gue juga nggak mau." lirih Ticia tersedu di dalam pelukan Varen.
Varen merasa lega karena Ticia tidak terpengaruh. Varen mengecup kening Ticia dengan lembut. Serius, saat ini mereka tidak mempedulikan orang-orang yang berjalan di sampingnya. Tidak mempedulikan orang-orang yang berbisik-bisik membicarakan mereka.
Udara yang tadinya terasa panas. Kembali menjadi hangat. Daun-daun kering beterbangan mengikuti kemana angin membawanya.
....
Sepanjang pelajaran berlangsung. Ticia sama sekali tidak bisa fokus. Dia memikirkan hubungannya dengan Varen yang malah tidak direstui ayahnya. Padahal sebelumnya, ayahnya suka sekali dengan kekasihnya itu.
"Sutt.." Anabella menyenggol tangan temannya yang sedang melamun itu.
"Kenapa sih kayak nggak semangat gitu?" tanya Anabella sangat pelan. Karena, saat itu gurunya masih ada di dalam kelas.
Ticia hanya menggelengkan kepalanya saja. Kemudian lanjut mencatat pelajaran yang ada di papan tulis.
Anabella mencium ketidakberesan dari sahabatnya tersebut. Anabella mengernyitkan keningnya. Dan masih memperhatikan Ticia yang sedang galau.
"Marahan sama kak Varen?" tanya Anabella penasaran.
"Nggak kok, cuma kangen aja sama Indah. Ntar sore ke rumahnya yuk!" Ticia mengalihkan pembicaraan. Dia memang sedang kangen sama Indah. Sudah empat bulan mereka tidak ketemu. Semenjak Indah keluar dari sekolah dan menikah dengan Arka.
Sebenarnya rumah Anabella dengan Indah itu tidak terlalu jauh. Tapi semenjak menikah, Indah ikut ke rumah Arka. Jadinya, Anabella jarang ketemu dengan Indah.
Waktu jam istirahat pun. Ticia tidak pergi ke kantin. Dia hanya bermalas-malasan di dalam kelas. Anabella yang ke kantin untuk membeli makanan mereka berdua.
"Lo sendirian An? Ticia mana?" tanya Varen ketika Anabella masuk ke kantin seorang diri.
"Ticia di kelas kak, lagi males katanya." jawab Anabella.
Varen sempat terdiam. Dia tahu apa yang menjadi beban pikiran kekasihnya. Karena itu sama dengan apa yang menjadi beban pikirannya.
"Kalian harus bantuin gue!" ucap Varen begitu kembali ke mejanya.
"Kenapa Gi kok kayak bingung gitu?" Iqbal yang merespon cepat.
"Kalian harus yakinin Ticia kalau semalam gue nggak mabuk sama sekali!"
"Ticia tahu lo ke club malam semalam? Lo kasih tahu dia?" sahut Rafa bertanya. Sebenarnya Rafa menyayangkan sih kenapa Ticia dan Varen selalu terbuka satu sama lain. Memang itu baik untuk sebuah hubungan. Tapi setiap orang kan juga butuh privasi.
__ADS_1
"Enggak, tapi ayahnya semalam lihat kita keluar dari club malam. Sekarang ayahnya Ticia maksa Ticia buat putusin gue." jawab Varen sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Gue nggak mau putus sama Ticia. Gue cinta banget sama dia." ucap Varen dengan suara yang menyedihkan.
"Ah...." Brakkk, Varen marah sambil menggebrak meja yang ada di depannya.
"Sabar Gi, biar gue yang ngomong sama Ticia." sahut Tika. Dia yang lebih dekat dengan Ticia. Biarin dia yang menjelaskan semuanya.
"Gue ikut Tik. Gue yang bikin mereka kayak gini, biarin gue yang jelasin ke Ticia." ucap Digta. Dia merasa bersalah kepada Varen dan Ticia. Jika saja dia tidak mengajak Varen ke club malam. Mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Tika bersama Digta bergegas ke kelas Ticia. Dan disusul oleh Varen, Iqbal dan Rafa. Mereka juga akan membantu menjelaskan kepada Ticia.
Sesampainya di kelas Ticia. Mereka melihat Ticia yang sedang tidak bersemangat sama sekali.
Tika menepuk pundak Ticia, mengagetkannya. Ticia pun menoleh dan kaget melihat Varen beserta gengnya ada di kelasnya.
"Lo nggak berani lawan gue sendirian? Kenapa harus bawa temen-temen lo? Lo mau keroyok gue?" omel Ticia ke Tika.
Tika pun tertawa mendengar banyolan Ticia. "Bisa aja lo." Tika menoyor kepala Ticia pelan.
"Cia, kita mau jelasin semuanya lo. Gue berani sumpah, jika semalam Gio nggak mabuk, dia cuma datang dengerin curhatan gue." ucap Digta tidak mau basa basi.
"Gue juga saksinya." ucap Iqbal mengangkat tangannya.
"Gue juga." sahut Rafa dan Tika bersamaan.
Ticia tersenyum kecil. Dia sangat terharu dengan persahabatan Varen dan teman-temannya. Mereka selalu ada satu sama lain. Saling menguatkan, saling mendukung dan saling memahami.
"Gue percaya, tapi masalahnya, ayah gue ingin gue putusin kak Vava, ayah kecewa banget sama kak Vava." ucap Ticia sedih.
"Malam minggu besok, kita ke rumah lo dan jelasin semua ke ayah lo, gimana?" tanya Digta. Dia yang merasa paling bersalah.
"Lihat aja nanti, kalau ayah gue udah nggak emosi, nanti kita atur untuk ketemu ayah."
"Gue minta maaf ya Cia, semua karena gue.." Digta berkata dengan sangat menyedihkan.
"Iya kak, jangan sedih, sebisa mungkin gue akan pertahanin hubungan gue sama kak Vava, gue akan berusaha semampu gue." ucap Ticia tersenyum kecil.
Ticia tidak mau menyalahkan siapapun. Dia akan berusaha mempertahankan hubungannya dengan Varen sebisa mungkin. Karena untuk saat ini. Dia belum siap kehilangan Varen.
__ADS_1