
"Gi, habis ini temenin papa ketemu sama seseorang ya!" ucap papanya Varen ketika Varen sudah hampir selesai dengan tugasnya.
"Nggak bisa pa, Gio ada janji sama temen Gio." jawab Varen menolak ajakan papanya.
"Kamu nggak ada hak buat nolak!" ucap papanya dengan arogan. Ya, begitulah papanya Varen. Selalu bersikap seenaknya sendiri. Suka memaksa kehendaknya sendiri. Mungkin itu salah satu alasan mamanya Varen pergi dari rumah.
"Tapi kali ini Gio bener-bener nggak bisa." Varen yang telah menyelesaikan pekerjaannya, kemudian melepas celemek yang dia pakai. Lalu berjalan meninggalkan dapur.
Akan tetapi belum sempat Varen keluar dari dapur, papanya sudah mennghentikan langkahnya dengan menarik bahunya. Lalu tiba-tiba. Plakk. Varen ditampar dengan cukup keras oleh papanya, di depan karyawannya.
"Berani kamu tidak nurut sama papa?" katanya dengan mata melotot.
Varen memegang pipinya yang merah, bekas tamparan papanya. Dia sedikit tersenyum sinis, lalu menatap papanya yang sudah melotot. "Sudah cukup atau belum pa?" tanya Varen dengan begitu santai. Sepertinya kejadian itu bukan pertama kalinya terjadi. Sehingga Varen terlihat biasa saja setelah kejadian itu.
"Kalau belum cukup, silahkan papa tampar pipi Gio yang satunya!" Varen mendekatkan pipi satunya ke papanya.
"Gio bener-bener nggak bisa ikut papa, Gio ada janji penting." imbuhnya, kemudian Varen meninggalkan papanya yang masih mematung di tempatnya.
Varen berjalan menuju salah satu kamar di hotel tersebut. Kamar itu adalah kamar khusus yang disiapkan untuk Varen. Ketika dia lelah setelah melakukan tugasnya, biasanya Varen akan beristirahat sebentar di kamar tersebut. Kali ini dia hanya akan mandi, dan akan segera ke rumah sang kekasih.
Sewaktu Varen sedang bercermin. Dia melihat pipinya yang agak lebam akibat tamparan papanya. Varen menyentuh dan melihatnya dengan seksama. "Papa nggak pernah berubah," gumamnya sedikit kesal.
Bahkan Varen juga sempat berpikir, apakah kepergian mamanya ada kaitannya dengan sikap temtramen papanya. Entahlah. Teringat akan mamanya membuat Varen jadi sedih. Dia kangen dengan sosok penyayang dan penyabar seperti mamanya.
__ADS_1
"Mama kemana sih ma? Gio kangen," gumam Varen dengan mata berkaca-kaca, sembari memandang foto mamanya yang tergantung di kamar tersebut.
Sudah hampir dua tahun, mamanya Varen meninggalkan rumah tanpa berpamitan. Dan sampai sekarang tidak pernah ada kabarnya. Varen tidak tahu kemana harus mencari mamanya. Karena mamanya adalah seorang yatim piatu yang tanpa memiliki saudara satupun.
Varen melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 18.30 WIB. Varen bergegas ke rumah Ticia dengan cepat. Dan hanya memerlukan waktu selama 10 menit untuk sampai di rumah Ticia.
Dan kebetulan Ticia juga sudah siap. Jadi setelah berpamitan kepada ayah dan ibunya Ticia. Mereka berdua langsung berangkat.
"Kak, nanti kakak pulang dulu atau kemana dulu aja! Takutnya nanti kakak bosen kalau nungguin," pinta Ticia.
"Ya." jawab Varen dengan lembut, sambil menganggukan kepalanya.
Tak lama, mereka sampai di depan gereja bernama Bethany. Gereja yang cukup besar di kota tersebut. Meskipun Ticia terbilang jemaat baru, tapi dia juga mulai beradaptasi di tempat ibadah barunya. Dia juga sudah memiliki teman rohani di tempat tersebut.
"Iya," jawab Varen.
Varen baru sadar kalau dia belum sempat sholat mahrib tadi. Dan begitu Ticia masuk ke dalam gereja. Varen mulai melajukan motornya mencari mesjid terdekat untuk menunaikan kewajibannya. Dan ternyata tak butuh waktu lama. Varen sudah menemukan sebuah masjid yang tak jauh dari gereja tempat Ticia beribadah. Maka bergegaslah Varen menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Tak lama setelah selesai sholat. Adzan isya' pun berkumandang. Varen melanjutkan kewajibannya kembali. Dia ikut sholat berjamaah bersama muslimin yang lain.
Setelah selesai, Varen bingung menunggu Ticia dimana. Akhirnya dia memutuskan menunggu Ticia di depan gereja tadi. Varen menunggu di dekat pos satpam, dan sempat berbincang-bincang juga dengan satpam yang saat itu berjaga.
"Kok nggak masuk dek?" tanya satpam tersebut.
__ADS_1
"Enggak pak, cuma nungguin teman aja kok," jawab Varen dengan sopan. Perbincangan pun berlanjut, sampai akhirnya Varen bertanya, apakah seorang muslim boleh masuk ke dalam gereja.
"Boleh aja dek, tidak larangan khusus yang melarang seorang muslim masuk ke gereja. Siapa saja boleh masuk kok," jawab satpam tersebut.
"Oh gitu, yang paling toleransinya ya pak?"
"Iya betul. Ya penting saling menghargai, dan saling menghormati, saya rasa Indonesia akan lebih damai lagi." Dan semakin lama permbicaraan kedua pria beda generasi itu semakin seru. Bukan hanya membahas tentang agama, dan toleransi antar umat beragama. Tapi juga tentang kehidupan masing-masing. Varen sangat senang bisa mengobrol dengan seseorang yang penyayang seperti satpam tersebut. Varen sempat merasa iri, karena ketika bapak itu bercerita tentang anak dan istrinya terlihat jika bapak itu sangat menyayangi keluarganya.
Meskipun dengan kehidupan yang apa adanya, tapi sayangnya tercurah berlimpah untuk anak dan istrinya. Sementara berbanding terbalik dengan kehidupan Varen. Dia terlahir dari keluarga yang cukup mampu. Bahkan bisa dibilang keluarga kaya raya. Akan tetapi dia tidak merasakan kasih sayang papanya sama sekali. Bahkan mamanya juga pergi meninggalkan dia.
"Jangan pernah benci papa sama mama kamu ya dek! Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anak-anaknya. Mungkin mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, sehingga mereka sedikit melupakan kamu." ucap satpam tersebut memperingati Varen, agar tidak membenci orang tuanya, terlepas dari apa yang sudah mereka lakukan.
"Karena itu aku lebih banyak dapat uang jajan daripada perhatian." ucap Varen dengan tersenyum getir. Jujur, dia sangat mendambakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Setelah mamanya pergi, setiap hari dia hanya akan selalu ditemani oleh assisten rumah tangga. Setiap kali dia punya masalah di sekolah, yang mengurus juga hanya assisten papanya saja. Dan yang lebih menyakitkan, setiap kali dia tanding. Tidak ada orang tuanya yang menyaksikan kemenangannya.
Tepat saat itu, Ticia sudah selesai dengan ibadahnya. Ticia melihat dari jauh Varen berada di pos satpam. Maka, Ticia segera menghampirinya.
"Kak Varen daritadi disini?" tanyanya kaget.
"Iya," jawab Varen dengan tersenyum manis.
"Nemenin pak Agung," imbuhnya sambil menoleh ke arah satpam gereja tersebut. Lalu kemudian sepasang kekasih tersebut pamit.
"Ingat ucapan bapak, tidak ada orang tua yang tidak sayang sama anaknya!" sebagai penutup, satpam bernama Agung tersebut memperingatkan Varen lagi.
__ADS_1
Sementara Varen hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya pelan. Setelah akhrinya dia melajukan motorkan keliling kota bersama sang kekasih. Malam itu adalah malam minggu pertama mereka kencan sebagai sepasang kekasih. Tentu saja mereka sangat bahagia dan menikmati kebersamaan itu.