Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
87. Prankk


__ADS_3

Ticia meminta maaf kepada Samuel karena dia ngajak Varen ikut serta. Akan tetapi reaksi Samuel yang dingin membuat Varen tak suka.


Ticia tahu jika Varen menahan amarah. Jadi dia menggenggam tangan Varen dengan lembut. Dia tahu, sentuhan lembutnya mampu meredakan amarah kekasihnya. Dan itu terbukti manjur.


"Its ok." ucap Varen yang berada di posisi sebagai sopir. Sementara Ticia berada di sebelahnya. Dan Samuel ada di kursi belakang.


Varen melajujan mobilnya ke universitas-universitas yang ada di kota tersebut. Sembari menjadi guide untuk Samuel.


Seiring berjalannya waktu. Samuel mampu berbaur dengan Varen. Dan sudah terlihat sangat akrab. Tapi masih sangat dingin ke Ticia.


"Thank ya bro." ucap Samuel menepuk bahu Varen yang duduk di depannya.


"Sama-sama bro, anggap aja ini fasilitas tambahan karena lo dan keluarga lo udah nginep di hotel gue." jawab Varen sudah tidak marah lagi.


Mungkin kedinginan Samuel hanya kepada wanita saja. Buktinya dengan Varen, dia bisa bersikap lebih hangat.


"Oke." jawab Samuel lagi.


"Makasih ya Cia!" kali ini Samuel mau mengucapkan terima kasih kepada Ticia. Dan tentunya itu membuat Ticia sedikit gelapan.


Dia terlalu kaget mendengar perkataan Samuel. "I..ya kak." ucapnya terbata-bata.


Setelah puas keliling kota. Mereka akhirnya memilih tempat untuk makan dan istirahat. Sudah lebiha dari dua jam mereka mengelilingi kota yang tidak terlalu luas tersebut.


"Grace kemana sih kak? Kok nggak ikut?" tanya Ticia. Dia baru berani bertanya sekarang. Karena sebelumnya dia takut akan dikacangin Samuel.


"Ikut papa belanja batik katanya." jawab Samuel yang sudah terbiasa dengan Ticia.


"Kak Sam nggak ikut?"


"Nggak, males." jawab Samuel cepat.


Setelah tiba di restoran terdekat. Varen meminggirkan mobilnya ke area parkiran. "Kalian pesan aja dulu, gue mau sholat dulu.." ucap Varen yang sudah tertinggal waktu sholatnya.


Ticia pun menganggukan kepalanya kemudian masuk ke restoran tersebut bersama Samuel. Sementara Varen mencari mushola terdekat.


Saat Ticia berjalan masuk. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Rosalinda bersama dengan seorang wanita. Kelihatannya adalah temannya.


Baik Ticia maupun Rosalinda pun sama-sama kaget saat mereka bertemu. Saat itu Rosalinda sedang makan bersama temannya. Sementara Ticia masih mencari tempat duduk bersama Samuel.

__ADS_1


"Wow, bukannya ini Leticia si cewek nggak tahu malu?" ucap Rosalinda dengan cukup keras.


Sebenarnya Ticia tidak berniat meladeni Rosalinda. Tapi karena namanya disebut-sebut. Maka Ticia mau tidak mau harus meladeni Rosalinda.


"Maksud lo tidak tahu malu itu apa ya?" tanya Ticia dengan menghentikan langkahnya.


"Pikir aja sendiri! Gitu aja pakai nanya!" jawab Rosalinda dengan sewot. Apalagi saat tahu lelaki yang bersama Ticia tidak kalah cakep dari Varen.


"Oh gue tahu, apa mungkin yang lo maksud dengan tidak tahu malu itu, orang yang sudah ditolak tapi masih aja ngejar-ngejar dan bahkan berusaha telanj*ng di depan lelaki, eh malah lelaki itu kabur." Ticia sengaja membisikan kata 'telanj*ng' supaya Rosalinda tidak terlalu malu.


Karena setelah dia berkata dengan cukup keras tadi. Banyak pelanggan yang lain yang memperhatikan mereka.


Ini adalah salah satu kebaikan Ticia yang tidak mau membuat Rosalinda malu.


"Diem lo!!" bentak Rosalinda. Dia menggertakan giginya, dan bertanya-tanya dari mana Ticia tahu semua itu. Akhirnya di tersadar, pasti Varen-lah yang telah memberitahunya.


"Brengs*k." ucap Rosalinda dan hati sambil mengepalkan tangannya.


Melihat wajah Rosalinda yang tiba-tiba menjadi suram. Membuat Ticia tersenyum smirk. "Makanya kalau ngomong, ngaca dulu!" ucap Ticia lalu melanjutkan langkahnya.


Tapi, begitu Ticia melangkah tiga langkah. Tiba-tiba Rosalinda mengambil gelas berisi orange jus, dan menyiramnya ke arah Ticia.


"Awas Cia!!" Karena Samuel yang berada tepat di belakang Ticia. Dia melihat Rosalinda yang mengarahkan gelas berisi orange jus tersebut. Kemudian dengan sigap Samuel menghadap orange jus itu untuk Ticia.


"Lo udah gila ya Rose!!" seru Ticia dengan marah.


"Kak Samuel nggak kenapa-napa?" tanya Ticia terlihat panik.


"Nggak kok, cuma basah dikit aja." jawab Samuel sembari mengkibas-kibaskan tanganya ke bajunya yang basah.


Sementara Rosalinda yang melihat Ticia begitu perhatian ke Samuel menjadi yakin jika Ticia ada hubungan dengan Samuel. Lalu, dengan cepat Rosalinda mengambil ponselnya dan memvideo Ticia yang sedang membantu Samuel mengelap bajunya. Rosalinda bahkan juga mengirim pesan kepada Varen supaya datang ke restoran tersebut.


"Mau lo apa sih Rose?" tanya Ticia dengan marah. Dia bahkan sudah tidak mempedulikan lagi pandangan para pelanggan yang lain.


"Mau gue gampang, lo tinggalin kak Gio! Dia nggak pantes sama lo,"


"Terus pantesnya sama siapa?" tanya Ticia yang sudah muak dengan perselisihan yang tiada berujung ini. Dan alasannya masih tetap sama. Varen.


"Sama gue lah, gue cinta sama kak Gio dan nggak akan pernah khianati dia. Harusnya dia lebih milih gue daripada lo, lihat diri lo! Lo kencan dengan lelaki lain di belakang kak Gio. Dasar nggak tahu terima kasih!" ucap Rosalinda sambil menunjuk-nunjuk Ticia.

__ADS_1


Akan tetapi, sebelum Ticia membalas perkataan Rosalinda. Manager dari restoran tersebut datang dan meminta mereka untuk membuat keributan di tempat tersebut.


"Mohon untuk mbaknya berdua, untuk tidak mengganggu kenyaman pelanggan yang lain!" ucap manager restoran tersebut dengan sopan.


"Maaf mbak." ucap Ticia kemudian menarik tangan Samuel untuk segera memilih tempat duduk.


Tak lama setelah Ticia dan Samuel memesan makanan. Varen masuk ke dalam restoran tersebut. Melihat Varen yang berjalan dengan tergesa-gesa. Membuat Rosalinda yakin jika Varen pasti marah karena video yang dia kirim tadi.


Dengan percaya diri Rosalinda berdiri dan menghampiri Varen. "Lihat kak, itu Ticia sama selingkuhannya." ucap Rosalinda sembari menggandeng tangan Varen.


Tapi dengan kasar Varen menghempaskan Rosalinda bahkan sampai hampir jatuh. Teman Rosalindalah yang menolong Rosalinda.


"Lo nggak kenapa-napa Rose?" tanya temannya.


"Nggak. Sebentar lagi kita akan lihat pertunjukan yang menyenangkan." ucap Rosalinda sembari terus memperhatikan Varen yang menuju ke meja Ticia dan Samuel.


"Sayank.." seru Ticia dengan suara manja. Dia tahu jika Rosalinda terus memperhatikannya. Dan Ticia juga tahu apa yang dipikirkan Rosalinda.


Ticia lalu dengan sengaja bersikap manja. Dia juga meminta Varen untuk mencium keningnya di depan Samuel. Sementara Varen hanya nurut aja apa kata pacarnya.


"Kenalin sayank, ini selingkuhan gue, kalian yang rukun ya! Jangan berantem, gue akan bagi cinta gue secara adil." ucap Ticia dengan cukup keras dan mampu terdengar oleh Rosalinda.


Awalnya Varen tidak mengerti apa yang dikatakan Ticia. Tapi kemudian Ticia memberinya kode dengan gerakan matanya. Kemudian Varen paham apa yang dimaksud Varen.


"Nggak kok, kita nggak akan berantem kok, ya nggak bro!" Varen menepuk lengan Samuel supaya mengikuti aktingnya dengan Ticia.


"Iya." Samuel menjawab singkat dan menganggukan kepalanya.


"Ah sayank, makin cinta deh.." Ticia dengan gemas mencubit kedua pipi Varen. Dan Varen kemudian kembali mencium kening Ticia dengan lembut. Dan mungkin membuat iri semua orang yang melihatnya.


"Sial!" Rosalinda menghentakan kakinya karena kesal. Apa yang dia pikirkan tidak sesuai dengan kenyataannya.


Bukannya melihat Varen yang marah besar ke Ticia. Eh malah melihat Varen yang bersikap uwu dengan Ticia. Karena merasa sangat kesal. Rosalinda akhirnya keluar dari restoran tersebut dengan marah. Disusul oleh temannya.


Melihat Rosalinda pergi dengan marah. Ticia pun tersenyum penuh kemenangan. Lalu dia meminta maaf kepada Samuel atas semua yang baru saja terjadi. Termasuk yang mengakuinya sebagai selingkuhan.


Ticia juga menjelaskan siapa Rosalinda. Dan kenapa dia selalu bersikap seperti itu kepadanya.


"Lo udah tumbuh dewasa sekarang. Salut gue, lo nggak balas dia dengan kekerasan, pinter lo." puji Samuel sembari tersenyum.

__ADS_1


Dipuji Samuel membuat Ticia menjadi senang. Apalagi ketika melihat senyum Samuel yang los. Karena sebelumnya, Samuel hanya tersenyum kecil dan dingin.


__ADS_2