
Saat istirahat pun Varen lebih memilih ke kantin bersama Nathan daripada teman-temannya. Digta semakin kesal melihat perubahan sikap Varen tersebut. "Kenapa sih dia jadi kayak gini?" tanyanya dengan kesal.
"Mungkin dia masih marah sama kita karena masalah kemarin," jawab Rafa.
"Kita juga salah sih, harusnya kita hargai perasaannya Gio." sahut Iqbal.
Sementara Digta dan Tika terdiam mendengar ucapan Rafa dan Iqbal. Apa yang dikatakan Rafa dan Iqbal ada benarnya. Varen adalah seorang lelaki normal, dia juga berhak buat jatuh cinta. Meskipun menjauh, tapi Varen masih mau diajak bicara oleh teman-temannya.
"Udah yuk ke kantin!" ajak Rafa menepuk lengan Digta. Ada lebih yang penting dari itu semua, yaitu urusan perut.
"Gue nggak ke kantin, gue masih kenyang.." Tika tidak semangat sama sekali setelah didiamkan oleh Varen, dan memilih untuk menyendiri di dalam kelas.
Di kantin, Varen sedang makan bersama Nathan. Di meja sebelah ada Ticia bersama Indah dan Anabella. Meskipun Varen sudah baik kepada Nathan. Tapi terlihat Nathan masih agak takut-takut kepada Varen.
Sementara Ticia hanya menatap Varen yang terlihat sangat tampan ketika sedang makan. Tapi tetiba seorang wanita datang dan minta izin duduk di sebelah Varen.
"Duduk aja!" jawab Varen dengan dingin.
"Makasih kak," ucap wanita itu dengan senang. Wanita itu Risma, ketua geng yang menyebut dirinya Girlfriend. Teman sekelas Ticia.
Di meja yang tak jauh dari tempat duduk Varen. Segerombol wanita tersenyum senang sambil menatap Risma yang akhirnya bisa duduk semeja dengan Varen.
"Ngapain sih dia?" Indah merasa tidak terima melihat Risma mendekati Varen.
"Iya ih, ngapain sih dia.." Anabella juga tidak terima. Sedangkan Ticia memilih untuk tidak bersuara.
Hanya saat dia menatap Risma yang ngobrol dengan Varen, hati Ticia merasa aneh. Seolah dia tidak rela melihat Varen bersama wanita lain. "Katanya cuma gue yang bisa bikin seneng, itu apa malah senyum-senyum gitu." gumam Ticia dalam hati. Dari tempat Ticia duduk, dia bisa melihat jelas jika Risma selalu tertawa. Itu artinya Varen pasti berbicara sesuatu yang lucu. Masa iya, Risma tertawa seorang diri. Gila dong.
Padahal kenyataannya, Varen hanya bicara sekenanya saja. Varen bahkan tidak menatap Risma sama sekali saat berbicara. Tapi Ticia tidak bisa melihat ekspresi Varen, karena posisi duduk Varen yang berpindah membelakanginya.
Tadi sewaktu Risma duduk, Varen meminta Nathan untuk bertukar tempat duduk. Varen tidak mau duduk dekat Risma atau wanita lain. Dan bersamaan dengan itu, ketiga teman-temannya Varen ikut bergabung satu meja dengan mereka.
__ADS_1
Ticia sempat cemberut karena itu semua. Akan tetapi ketika Ticia teringat mata Varen yang berkaca-kaca tadi pagi, membuatnya kembali merasa bersalah.
"Lo marahan sama kak Varen?" tanya Indah.
"Cuma salah paham aja." jawab Ticia masih menatap punggung Varen.
Tak lama kemudian, Arka datang bersama kedua temannya. Arka adalah kakak kelas mereka, dan juga pacar Indah. Mereka kemudian ikut gabung dengan Indah dan Ticia serta Anabella.
Mereka sudah saling kenal dan cukup dekat. Karena sering jalan bareng juga. "Tumben lo nggak sama Varen?" tanya Arka kepada Ticia.
"Kalian marahan? Tuh dia malah sama si Risma," sahut Adi, teman Arka.
"Salah paham doang." jawab Ticia.
"Atau mungkin dia udah nggak buta kali, jadi dia udah nggak mau kejar lo.." ledek Arka sambil menjulurkan lidahnya.
"Gue juga heran, secara Varen kan cakep yak, masa dia bisa suka sama cewek jadi-jadian kayak dia," ucap Dika sambil tertawa, dia tak mau kalah dari Arka.
"Indah juga buta, karena dia mau sama lo." gantian Ticia yang meledek Arka.
"Apaan, gue cakep gini. Ya nggak yank?" ucap Arka sambil mencolek dagu Indah. Dan Indah hanya mengangguk dan tersenyum senang.
"An, lo nggak pengen kayak Indah?" tanya Adi kepada Anabella.
"Em modus tuh, bilang aja kalau lo pengen macarin Anabella kan?" sahut Ticia.
"Tau aja lo," ucap Adi dengan malu-malu. Begitu juga Anabella yang hanya tersenyum dengan wajah yang merah.
"Lo nggak pengen rayu Ticia, Dik?" tanya Arka.
"Nggak, gue udah punya cewek." jawab Dika cepat.
__ADS_1
"Gue juga udah, wekkk.." ucap Ticia.
"Siapa? Kak Varen?" tanya Anabella yang membuat Ticia menjadi malu. Melihat wajah Ticia yang tersipu malu, membuat Arka dan teman-temannya jadi heboh mengolok-olok Ticia.
"Nggak usah ngaku-ngaku!" seru Adi sambil terbahak.
"Makanya jangan sok cantik, tuh si Varen diambil cewek lain." Arka yang paling seneng saat mengolok-olok Ticia. Pasalnya selama ini, dia yang selalu diolok-olok oleh Ticia.
"Gue emang cantik," Ticia tidak menanggapi serius ucapan Arka. Ticia yakin jika saat ini Varen hanya masih kecewa sama dia. Dia juga yakin setelah dia berhasil menjelaskan semuanya, Varen akan kembali perhatian kepada dirinya.
Ticia kembali menatap Varen. Tapi secara kebetulan Varen yang mendengar keributan di belakangnya pun ikut menoleh. Maka secara tidak sengaja Ticia dan Varen saling berpandangan dan tersenyum.
Akan tetapi moment itu tak berlangsung lama. Karena Varen menjadi cemberut saat melihat Ticia duduk di bersama lelaki lain. Meskipun itu bukan pertama kalinya. Tapi Varen tetap saja cemburu melihat Ticia bersama lelaki lain.
Tak lama kemudian Rafa dan Iqbal ikutan menoleh ke arah Ticia. Mereka tahu jika wajah cemberut Varen itu karena melihat Ticia sedang bercanda dengan lelaki lain. Padahal bukan pertama kalinya Ticia bercanda bersama Arka dan kedua temannya.
Sementara Digta lebih asyik ngobrol dengan Risma. Dan Nathan cenderung lebih diam.
"Balik yuk!" Varen beranjak dari tempat duduknya.
"Kak Varen mau kemana?" tanya Risma.
"Ke kelas." jawab Varen masih dengan dingin. Apalagi kali ini dia sedang marah karena cemburu. Orang ketika dia tidak marah aja dia sangat dingin, apalagi saat marah.
Rafa dan Iqbal menarik Nathan bersama mereka, mengikuti Varen. Sedangkan Digta masih ragu meninggalkan Risma. Sepertinya Digta mulai naksir Risma. "Kakak nggak balik kelas?" tanya Risma sedikit risih dengan Digta. Dari awal yang Risma incar adalah Varen.
"Gue balik dulu ya!" pamit Digta dengan tersenyum lembut. Risma hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya saja.
Sedangkan Ticia menatap Nathan yang semakin akrab dengan Varen dan teman-temannya. Ticia pun merasa senang melihat pemandangan yang indah itu. Meskipun sedang marah, tapi Varen tidak sama sekali mengingkari janjinya kepada Ticia, untuk tidak menggangu Nathan, dan temannya yang lain.
Ticia semakin tidak rela jauh dari Varen. Bahkan mungkin dalam hatinya saat ini. Ticia merasa telah jatuh cinta kepada lelaki berzodiak scorpio tersebut.
__ADS_1