Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
51. Selamat Ulang Tahun, Leticia.


__ADS_3

Setelah hampir satu bulan. Akhirnya Jane mulai menerima kenyataan. Jane mulai berani bertemu dengan Darwis.


Sore itu selepas pulang dari kantor, Jane dan Darwis bertemu untuk pertama kalinya semenjak perpisahan mereka. Dan terlihat Jane maupun Darwis merasa canggung satu sama lain.


"Gimana kabar kamu?" tanya Darwis memulai pembicaraan.


"Baik. Mas sendiri?"


"Aku juga baik. Gimana kalau kita langsung pada intinya saja!" pinta Darwis.


Mendengar perkataan Darwis membuat Jane merasa sedikit tersinggung. Dia berpikir jika Darwis sudah tidak mau lagi dekat dengan dia walau hanya sebagai teman.


"Iya kita langsung pada intinya saja." ucap Jane sedikit kesal.


"Mas bilang mau kasih aku kompensasi kan?" Darwis pun menganggukan kepalanya.


"Kalau gitu aku mau kita jodohin anak-anak kita!" lanjut Jane membuat Darwis membulatkan matanya.


Darwis tidak pernah menyangka jika permintaan Jane adalah untuk menjodohkan anak-anak mereka. Darwis tidak langsung menyetujui permintaan Jane. Karena dia tahu anaknya sudah memiliki kekasih saat ini. Bahkan dia terlihat bahagia dengan kekasihnya. Darwis tidak akan tega menghancurkan kebahagiaan anaknya.


"Apa nggak ada permintaan lain? Atau aku kasih kamu 5 persen saham aku sebagai kompensasi." Darwis mencoba bernegosiasi dengan Jane.


"Mas!! Kamu pikir aku nikahin kamu itu karena harta kamu? Aku ingin menjodohkan anak-anak kita juga bukan karena uang. Tapi karena Rose suka sama Gio." seru Jane dengan marah. Jane sebenarnya juga baru tahu beberapa hari yang lalu, jika anaknya suka dengan Varen.


"Ingat mas, kamu udah hancurin hati aku dan hidup aku. Aku rasa perjodohan anak-anak kita sebanding dengan kompensasi yang kamu janjikan." lanjut Jane.


"Tapi Gio sudah punya pacar, kamu tahu itu."


"Terus kenapa? Kenapa kalau Gio udah punya pacar? Toh mereka juga tidak akan pernah bisa menikah, mereka kan beda keyakinan. Lebih baik mereka pisah sekarang kan, daripada mereka semakin jauh menyebrangi jembatan itu." Darwis terdiam mendengar perkataan Jane. Apa yang dikatakan Jane ada benarnya.


"Ya udah gitu aja, mas pikirin permintaan aku. Aku hanya minta itu sebagai kompensasi dari kamu," imbuh Jane setelah akhirnya dia berdiri dan meninggalkan Darwis sendirian di kafe tersebut.


Sesungguhnya Darwis juga memiliki kecemasan mengenai hubungan anaknya dengan Ticia. Tapi melihat anaknya yang begitu bahagia, Darwis menekan kecemasannya.


Apa yang Jane katakan tadi memang ada benarnya. Lebih baik mereka pisah sekarang. Daripada mereka semakin dalam mencintai. Dan akhirnya harus terpisah karena perbedaan yang tidak bisa disatukan.

__ADS_1


....


Di kafe tempat biasa Varen dan teman-temannya nongkrong. Varen dan Ticia merayakan hari jadi mereka yang ke enam bulan. Dan hari itu juga bertepatan dengan hari ulang tahun Ticia.


Kebahagian Ticia bertambah di hari ulang tahunnya. Selain dia yang sudah memiliki pacar di ulang tahunnya yang ke 16. Dia juga bahagia karena ulang tahunnya di rayakan bersama dengan kekasih dan teman-temannya.


Sebelumnya, sebelum dia pindah ke kota S. Dia akan selalu merayakan hari ulang tahunnya bersama keluarga saja. Karena di kota yang lama, Ticia tidak memiliki banyak teman dekat.


Ketika teringat almarhum kakaknya. Tanpa sadar Ticia meneteskan air matanya. Itu tahun ketiga dia merayakan ulang tahun tanpa kakaknya.


"Kok nangis?" tanya Varen menjadi panik karena tetiba Ticia menangis.


"Lo nggak bahagia dengan kejutan dari gue?" tanya Varen masih dengan panik.


"Bukan begitu, gue cuma keinget sama kakak gue. Dulu waktu gue ulang tahun, dia akan menjadi orang yang paling sibuk nyiapin ini itu." kenang Ticia sambil mengusap air matanya. Varen lalu memeluk kekasihnya dengan erat.


"Gue akan selalu ada buat lo." ucap Varen.


"Makasih sayank," ucap Ticia memeluk balik sang kekasih.


"Iya buruan make a wish! Gue udah nggak sabar pengen makan kuenya." sahut Iqbal.


"Nih makan!" tapi dengan jail, Rafa dan Digta mencolek kue tersebut dan mengusapkan cream-nya ke wajah Iqbal. Tentu saja itu membuat Iqbal mencak-mencak. Dan setelah Ticia make a wish. Iqbal membalas perbuatan Rafa dan Digta sebelumnya.


"Hei..." seru Tika yang juga terkena imbasnya. Maka terjadilah keributan di kafe tersebut. Beruntung satu kafe tersebut sudah di booking oleh Varen untuk merayakan ulang tahun pacarnya. Yang diundang dalam acara tersebut, hanyalah teman-teman dekat mereka saja.


"Kayak bocah kalian!" seru Varen sambil bergidik melihat tingkah konyol teman-temannya yang saling mencoret wajah dengan cream yang ada di kue ulang tahun Ticia.


"Selamat ulang tahun ya Cia." Indah dan Anabella memberi ucapan selamat untuk sang sahabat. Mereka juga memberikan hadiah untuk sahabatnya tersebut.


"Makasih kalian udah jadi sahabat terbaik gue." Ticia memeluk kedua sahabatnya itu.


Ada yang tak biasa di moment ulang tahun Ticia tersebut. Pemandangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tika dan Nathan mengobrol dengan begitu akrab.


Ya, setelah kejadian beberapa hari di tempat pemakaman umum waktu itu. Tika dan Nathan mulai berteman dan mulai dekat. Mereka juga terbiasa ngobrol tanpa gugup lagi. Meskipun mereka hanya akan ngobrol di luar sekolah.

__ADS_1


Melihat pemandangan yang tak biasa. Varen dan temannya yang lain saling berpandangan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mereka sudah paham dengan maksud satu sama lain.


"Kayaknya ada yang pedekate nih.." ucap Iqbal sembari berjalan di belakang Tika dan Nathan yang sedang mengobrol.


"Makan-makan dong!" Rafa mengikuti jejak Iqbal.


"Apaan sih.." Tika memukul pundak Rafa yang memintanya untuk menjauh.


"Cie yang pengennya dua-duaan aja.." Digta tak mau kalah dari kedua temannya.


"Udahlah Than, gas! Nunggu apa lagi? Tika udah harap-harap cemas tuh." Varen mendekat dan menepuk pundak Nathan.


"A..apaan sih Va..." ucap Nathan sedikit malu karena diolok-olok oleh teman-teman Tika.


"Udahlah nggak usah dengerin mereka!" Tika mengacungkan tinjunya ke arah Varen dan teman-temannya yang lain.


"Gas kak Tika." Ticia mendekat dan memeluk Tika dari belakang.


"Ini lagi," gerutu Tika tapi tidak berniat melepas pelukan Ticia.


"Kalian cocok kok," ucap Ticia lagi.


Tika hanya memutar bola matanya. Selama ini dia dengan Nathan memang tidak memiliki perasaan apapun. Tepatnya belum memiliki perasaan. Dia dekat dengan Nathan, karena Nathan enak dijadikan teman curhat. Meskipun terlihat cupu dengan kacamata tebalnya. Tapi pikiran Nathan jauh lebih dewasa dibanding dirinya.


Di balik sikapnya yang cupu. Sebenarnya Nathan orang yang sangat tegar dan kuat. Itu yang membuat Tika ingin berteman dengan Nathan.


"Buruan gas kak Nathan! Ntar keduluan kak Iqbal loh.." ucap Ticia.


"Apaan sih Cia.." Nathan menundukan kepalanya karena malu.


Tapi siapa sangka. Tanpa peringatan Iqbal menjitak kepala Ticia. Membuat Ticia kesakitan dan mengadu ke Varen. "Kak Vava, sakit. Kak Iqbal nakal." ucapnya dengan manja.


"Ish, beraninya ngadu." sindir Iqbal.


"Bal.." Varen mengacungkan tinjunya ke arah Iqbal.

__ADS_1


Sementara Iqbal hanya mendengus melihat kebucinan Varen. Dan Ticia diam-diam menjulurkan lidahnya ke arah Iqbal.


__ADS_2