Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
83. Provokasi Rosalinda


__ADS_3

"Nggak ada Indah sepi ya, Cia?" keluh Anabella. Setelah Arka memutuskan bertanggung jawab. Indah juga memutuskan keluar dari sekolah. Seminggu lagi, mereka akan menikah.


"Hmm, biasanya ada yang cerewet, sekarang cuma lo doang, kan bosen." jawab Ticia dengan tertawa.


"Sialan lo!" Anabella mendorong kepala Ticia pelan.


"Hallo ciwi-ciwi.." sapa Iqbal yang baru datang ke kantin. Dia lalu duduk di sebelah Ticia. Eh, tapi malah keduluan sama Varen.


Iqbal kemudian duduk di sebelah Anabella yang memang kosong. Iqbal menyapa Anabella dengan genit. Sementara Anabella hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya saja.


"Kalian cocok loh," ucap Ticia.


"Mulai, mulai," omel Iqbal. Itu bukan pertama kalinya Ticia menjodoh-jodohkan dirinya. Kemarin sama Tika, sekarang sama Anabella.


"Kenapa kak? takut kak Tika marah?" tanya Ticia.


"Aw, aw, aw," erang Ticia karena tetiba Tika menjewer telinganya.


"Sakit Tik," Varen menepis tangan Tika. Dia tidak rela melihat pacarnya dia sakiti siapapun.


Meskipun sebenarnya Tika tidak bermaksud menyakiti Ticia. Karena Tika juga hanya pelan menjewer telinga Ticia.


"Iya, iya, hmm, dasar bucin." olok Tika melepaskan tangannya sembari tersenyum.


Tika menyomot makanan milik Ticia. Kemudian duduk di sebelah Ticia. Jadi Ticia duduk di tengah-tengah antara Varen dan Tika. Kedua orang yang Ticia sayangi.


Tak lama muncullah Rafa bersama Digta. Mereka datang bersama beberapa adik kelas dengan gaya genitnya. Rafa dan Digta duduk di tempat biasa bersama adik kelasnya.


"Tuh dua kunyuk udah pedekate aja sama adik-adik kelas." gumam Varen sambil menatap kedua sahabatnya yang sedang bersendau gurau dengan adik kelasnya.


"Kenapa? Pengen? Sama ikutan!" ucap Ticia dengan wajah yang manyun.


"Nggak, gue udah nggak kepengen dekat sama siapapun, gue kan udah punya lo." kata Varen sambil menatap Ticia yang cemberut.


"Jangan cemberut gitu! Ntar lo makin cantik!" rayu Varen sambil mencubit pipi Ticia.


"Hoek..." seru Iqbal membantah perkataan Varen yang mengatakan bahwa Ticia semakin cantik ketika cemberut.


"Lo makin buta aja ya Gi! Masa kayak gini, lo bilang cantik." imbuh Iqbal melempar kacang ke arah Ticia.


"Kak Iqbal!!!" Ticia yang merasa tidak terima pun balik melempar Iqbal dengan bungkus camilannya.

__ADS_1


"Woii, lo kira gue tempat sampah?" omel Iqbal.


"Emang, lo emang tempat sampah." jawab Ticia cepat.


"Mana ada tempat sampah ganteng kayak gini?" ucap Iqbal sambil mengusap rambutnya berkali-kali dengan gaya sombong.


Maka Tika dan Ticia kompak melempar Iqbal dengan bungkus camilan lainnya. Dan membuat Iqbal kembali mengomel.


"Marah mulu, kayak emak-emak yang ditinggal selingkuh." ucap Varen.


"Pacar lo noh, bikin gedeg aja kerjaan, untung cakep, kalau nggak, beuh udah gue gibeng dia." kata Iqbal.


"Ngakui juga kan lo kalau gue cakep?"


"Anj*r salah ngomong lagi gue, ah." keluh Iqbal yang membuat teman-temannya tertawa.


Saat bel masuk berbunyi. Ticia meminta Anabella untuk duluan ke kelas. Sementara dirinya pergi ke toilet. Dengan langkah cepat, Ticia menuju toilet. Dia sudah merasa tidak kuat menahan.


Terdengar gemercik air dan nafas lega dari Ticia.


Akan tetapi saat Ticia keluar dari kamar kecil. Di depan pintu sudah berdiri seorang Rosalinda dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Pantas saja, orang temenannya sama orang kayak lo." lanjut Rosalinda dengan tersenyum sinis.


"Orang kayak gue gimana maksud lo?" Ticia seketika berbalik dan bertanya balik.


Ticia menatap Rosalinda dengan tatapan tajam. Sementara Rosalinda hanya tersenyum kecil dan sinis. Tapi sama sekali tidak berani menatap Ticia yang mungkin sedang kesal saat itu.


"Alah nggak usah sok suci deh, bentar lagi lo juga akan sama seperti temen lo itu. Asal lo tahu aja, kak Gio tidak sebaik yang lo pikir, waktu kita pacaran kemarin, dia juga lakuin hal yang kayak gitu." ucap Rosalinda dengan ekspresi kesal.


Tentu saja rasa kesal itu bukan karena Varen benar-benar melakukan seperti yang dia katakan. Tapi kesal karena teringat Varen yang pergi begitu saja saat dia mencoba merayunya.


Rasa marah, kesal dan malu bercampur jadi satu. Apakah dia tidak semenarik itu. Sampai Varen lari tunggang langgang ketika melihatnya telanj*ng. Bukankah lelaki normal akan tergoda dengan bentuk tubuh yang indah tanpa busana.


Mendengar perkataan Rosalinda, sebenarnya Ticia tidak mau berpikir negatif ke Varen. Tapi saat melihat ekspresi wajah Rosalinda yang kesal. Membuat Ticia tidak bisa tidak berpikiran negatif.


Akan tetapi, Ticia tetap bersikap biasa saja di depan Rosalinda. Dia tidak mau kalah dengan provokasi Rosalinda. Walaupun sebenarnya ada berjuta pertanyaan yang memenuhi pikirannya.


"Terus kenapa?" tanya Ticia berusaha biasa saja.


"Kenapa? Lo tanya kenapa? Ya kak Gio harus tanggung jawab lah!" ucap Rosalinda semakin kesal sendiri saat melihat Ticia yang terlihat biasa saja.

__ADS_1


Padahal yang Rosalinda harapkan adalah kemarahan Ticia. Tapi kenapa Ticia malah terlihat tidak peduli.


"Oh, kalau mau kak Vava tanggung jawab ya minta ke dia dong, ngapain bilan sama gue?" Ticia berusaha tetap mengendelikan emosinya.


"Lalu lo tinggalin kak Gio! Kalau lo masih deketin dia, dia juga nggak akan mau tanggung jawab!"


"Jadi masalahnya tuh gue atau emang kak Vava-nya yang nggak cinta sama lo?" Bisa dibilang, Ticia pandai memainkan emosi orang.


Dan jelas saja. Perkataannya tersebut merupakan olokan terhadap Rosalinda yang ditolak mentah-mentah oleh Varen.


"Udahlah, intinya kalau lo mau minta pertanggung jawaban, minta ke kak Vava langsung!" ucap Ticia lalu pergi meninggalkan Rosalinda dengan tatapan marah dan raut wajah kesal.


Ticia berpikir jika Rosalinda memang gila karena terlalu terobsesi sama Varen. Bahkan tanpa malu dia mengatakan semua itu kepada Ticia.


Ticia tidak mau berpikiran negatif. Dia akan mengkonfirmasi kebenarannya kepada Varen langsung. Jangan sampai dia akan terprovokasi dengan ucapan dari salah satu pihak. Itu tidak adil untuk Varen jika dia tiba-tiba marah dan menjauhi Varen.


Ticia kembali ke kelas dengan wajah yang sedikit kesal. Akan tetapi selalu berusaha untuk positif tinking.


"Lama banget sih?" tanya Anabella.


"Iya, tadi ada sedikit halangan sih."


"Halangan apa?" Anabella penasaran.


"Tadi si Rose nemui gue, dia bilang kalau wakti dekat dengan kak Vava, dia dan kak Vava lakukan hal yang tidak seharusnya dilakuin oleh pasangan yang belum menikah, jadi Rose pengen kak Vava tanggung jawab." Ticia tidak menyembunyikan apapun dari Anabella.


"Dia hamil?" tanya Anabella kaget.


Ticia mengangkat bahunya. Dia juga tidak tahu apa yang dimaksud Rosalinda soal tanggung jawab itu. "Nggak tahu," jawab Ticia sedih.


"Terus lo bilang apa?"


"Gue suruh dia ngomong langsung ke kak Vava-nya. Kan dia yang ngelakuin, kenapa laporan ke gue, kan aneh."


"Bener, gue yakin dia cuma mau provokasi hubungan kalian. Jangan mudah percaya, lo harus konfirmasi ke kak Varen dulu." Anabella curiga jika itu hanyalah kebohongan Rosalinda untuk membuat hubungan Ticia dan Varen menjadi berantakan.


"Itu juga yang gue pikirin. Gue yakin kak Vava bukan tipe lelaki kayak gitu." jawab Ticia sepemikiran dengan Anabella.


"Kalau kak Varen dan Rose beneran..?"


"..."

__ADS_1


__ADS_2