Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
67. Diiman Yang Berbeda, Tapi Amin Yang Sama


__ADS_3

Sepanjang pertandingan berlangsung. Varen selalu merasa kesal. Karena Ticia yang semakin akrab dengan Roman. Maksud dia mendekati Rosalinda dan adik-adik kelasnya. Karena ingin membuat Ticia cemburu. Tapi rencananya sepertinya gagal. Ticia justru semakin leluasa dekat dengan lelaki lain.


Karena emosi yang tidak stabil mengakibat Varen menjadi hilang fokus. Kemudian dia pun diganti oleh temannya yang lain.


"Kak Gio nggak enak badan?" tanya Rosalinda mendekat ke bangku cadangan.


"Iya, agak capek." jawab Varen sembari menengguk botol minuman yang ada di tangannya.


Rosalinda kemudian berinisiatif membantu Varen mengelap keringat yang ada di wajahnya. Dengan lembut Rosalinda menyapu keringat di wajah Varen menggunakan handuk kecil milik Varen. Sesaat Varen terkejut dengan apa yang dilakukan Rosalinda.


Apa yang dilakukan Rosalinda sama seperti apa yang biasanya Ticia lakukan. Dan itu kembali mengingatkan Varen kepada wanita yang memiliki senyum manis tersebut.


"Gue bisa sendiri Rose, makasih ya?" ucap Varen sembari tersenyum kecil. Varen mengambil handuk miliknya yang dipegang Rosalinda.


Akhir pertandingan itu di menangkan oleh tim Varen. Dengan selisih poin cukup jauh. Untungnya, pertandingan tersebut hanyalah pertandingan persahabatan untuk memeriahkan acara pentas seni saja. Jika tidak, bukankah itu akan memalukan untuk sekolah Tunas Bangsa karena kalah telak di kandang sendiri.


Karena puncak acara akan segera di mulai. Varen dan teman-temannya memutuskan untuk pulang nanti. Mereka ingin menyaksikan puncak acara yang di selenggarakan setahun sekali tersebut.


Bagitu juga Ticia dan teman-temannya. Mereka juga ingin menyaksikan acara tersebut.


"Kalau kak Roman mau pulang, pulang aja dulu nggak apa-apa, ntar gue biar di jemput sama sopir gue." ucap Ticia.


"Serius nggak apa-apa gue pulang dulu? Gue masih ada urusan soalnya." Roman merasa tidak enak meninggalkan Ticia. Karena sebelumnya dia janji akan mengantar Ticia pulang. Tapi karena Ticia masih ingin melihat puncak acara pentas seni tersebut. Akhirnya Roman harus meninggalkan Ticia. Karena, dia juga sedang buru-buru dengan urusannya.


"Iya, ada Anabella juga. Nanti biarin Indah dijemput cowoknya." jawab Ticia tidak mau menghalangi urusan orang lain. Karena saat itu, Roman benar-benar terlihat sangat terburu-buru.


Setelah Roman pergi. Ticia bersama kedua temannya, mendekat ke sebelah kiri panggung. Meski agak jauh dari panggung. Tapi dari tempatnya berdiri cukup untuk menyaksikan pertunjukan pentas seni tersebut dengan nyaman.

__ADS_1


"Hai, kalian juga disini?" tanya Rosalinda sambil menarik tangan Varen. Awalnya Varen ingin melihat dari kejauhan. Akan tetapi Rosalinda terus saja menariknya, mengikuti teman-temannya yang lain.


Ticia hanya tersenyum kecil. Dia sebenarnya ingin menghindari Varen dan teman-temannya. Tapi malah mereka bertemu kembali.


"Gue perhatiin kalian berdua nggak saling sapa, apa kalian masih marahan?" tanya Iqbal tanpa basa basi.


"Kepo." jawab Ticia dan Varen secara bersamaan.


"Ih, ciee, kompak.." goda Iqbal membuat Ticia dan Varen membulatkan matanya.


"Berisik!!" seru Ticia dan Varen secara bersamaan lagi. Dan sudah pasti itu membuat Iqbal menjadi semakin senang menggoda Varen dan Ticia.


Saat band penutup acara mulai naik ke panggung. Sang vokalis meminta semua penonton untuk bernyanyi bersamanya.


"Oke, gue minta kalian nyanyi bareng sama gue, ya, untuk pertama lagu yang melow dulu ya!" ucap sang vokalis.


"Tolong tanyakan pada TuhanMu, bolehkah aku yang bukan umatNya, mencintai hambaNya. Kalau memang cinta ini salah, mengapa kita yang harus terjatuh, terlalu dalam." Semua kompak menyanyikan lagu itu bersama band yang sedang tampil di atas panggung.


Entah kebetulan atau bagaimana. Lagu tersebut memang lagu yang lagi hits. Dan lagu itu sangat mewakili perasaan mereka yang sedang menjalani hubungan beda agama.


"Untuk kalian yang sedang menjalani ldr palin jauh ini, semoga kalian kuat dalam menjalani hidup, dan menemukan kebahagian kalian. Semangat untuk kalian, tak masalah jika kalian berada diiman yang berbeda, tapi semoga selalu diamin yang sama." ucap vokalis itu semakin membuat hati mencampur aduk.


Sesaat Ticia dan Varen saling bertatapan. Setelah kemudian Ticia mengalihkan pandangannya. Kenapa lagu itu sama seperti yang dia alami. Ticia berusaha sekuat mungkin menahan air mata yang sudah menumpuk di sudut matanya.


Bagitu juga Varen yang terus mencuri-curi pandang ke arah Ticia. Dia merasa lagu tersebut telah mewakili perasaannya.


Sepulang dari acara tersebut. Varen melihat Ticia yang sendirian berdiri di pinggir jalan. Sepertinya sedang menunggu seseorang. Karena, dia terus melihat ke arah ponselnya.

__ADS_1


Saat itu Indah dan Anabella sudah pulang duluan. Awalnya Indah ingin pacarnya menjemput. Tapi ternyata Arka tidak bisa. Jadinya Ticia meminta sopir untuk menjemputnya. Sementara Indah pulang bersama Anabella.


Tapi, berkali-kali Ticia menelepon sopirnya, belum dijawab juga. Sebenarnya tadi juga Rosalinda menawarkan diri mengantar Ticia. Akan tetapi Ticia menolak dengan alasan arah rumah mereka yang berlawanan.


Sementara teman-teman Varen sudah tidak ada lagi tempat kosong. Karena mereka saling berboncengan. Hanya Varen yang sebenarnya masih sendiri. Tapi tidak menawarkan dan hanya melewati Ticia saja.


"Gue temenin ya!" ucap Tika, tapi Ticia tetap aja menolak.


Selang satu jam kemudian. Sopir Ticia baru memberi kabar kalau dia sedang mengantar ibunya Ticia keluar kota. Akhirnya Ticia memutuskan untuk memesan taksi online saja.


Dari kejauhan, seseorang terus memperhatikan Ticia. Dia adalah Varen. Ternyata Varen tidak benar-benar meninggalkannya. Begitu sampai di jalan besar, Varen sengaja kembali ke sekolahan Tunas Bangsa. Varen sengaja bersembunyi dan memperhatikan Ticia dari kejauhan.


Varen hanya ingin memastikan jika Ticia baik-baik saja. Dia takut Ticia akan kenapa-napa ketika sedang nunggu jemputanya.


Sejujurnya, ingin sekali dia mendekat dan mengantar wanita keras kepala itu. Tapi dia tertahan oleh sakit yang telah menggores di dalam hatinya.


Akan tetapi, meskipun hatinya sakit. Varen sama sekali tidak bisa membenci wanita yang membuatnya merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Semakin dia melihat wanita itu. Semakin dia akan merasakan rindu.


Sementara Ticia pun merasa ada yang sedang memperhatikannya. Tapi ketika dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang yang dia kenal. Hanya satu, dua siswa sekolah Tunas Bangsa yang terlihat.


Ticia merasa aneh. Karena dia merasa orang tersebut adalah orang yang dia kenal. Sementara disitu, hanya ada murid dari sekolah Tunas Bangsa yang tidak ia kenal.


"Mungkin perasaan gue aja." gumamnya seorang diri.


Sepuluh menit kemudian taksi pesanan Ticia tiba. Karena ingin memastikan Ticia selamat sampai rumah. Varen pun memutuskan untuk mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Ticia tersebut.


Varen hanya akan benar-benar merasa tenang saat melihat Ticia sampai di rumah dengan selamat. Varen benar-benar khawatir kepada mantan pacarnya tersebut. Apalagi saat dia ingat beberapa bulan yang lalu. Saat Ticia di keroyok oleh kakak kelasnya. Itu membuat Varen menjadi tidak bisa tenang.

__ADS_1


Ketika Ticia sudah sampai di rumah. Barulah Varen bisa pulang ke rumah dengan tenang. "Meskipun lo udah bukan pacar gue, tapi gue akan tetep jagain lo, meski dari kejauhan." gumam Varen seorang diri. Varen tersenyum kecil penuh misteri. Setelah itu, dia kembali dengan wajahnya yang dingin. Lebih dingin dari sebelum kenal dengan Ticia.


__ADS_2