Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
11. Kecemburuan Tika


__ADS_3

Varen kembali ke kelas dengan senyuman mengembang. Akhirnya dia berhasil membujuk Ticia untuk melihatnya bertanding. Dia seolah memiliki semangat baru.


Akan tetapi, setelah dia masuk ke dalam kelas. Varen melihat Tika yang kembali murung tanpa bersemangat. "Kenapa lo?" tanyannya dengan lembut.


"Gue kangen papa sama mama gue." jawab Tika pelan.


"Ntar pulang sekolah mau ziarah? Biar gue anter," Varen menawarkan diri untuk mengantar Tika ke makam orang tuanya.


"Lo mau?" Tika menoleh dengan senang. Dan Varen hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum.


"Makasih ya Gi?" Tika bisa tersenyum kembali. Kemudian dia memeluk Varen dengan bahagia.


"Jangan sedih lagi!" ucap Varen.


Waktu pulang sekolah, seperti biasa Ticia berjalan sampai depan gang komplek sekolahnya. Udah beberapa minggu terakhir, Ticia lebih memilih naik angkot berangkat dan pulang sekolah. Dan biasanya Varen akan mengikutinya di belakang angkot yang dia naiki.


Waktu Ticia sedang berjalan menuju depan. Ticia dihadang beberapa lelaki yang biasa nongkrong di sekitar sekolahnya. Mereka adalah kakak kelas Ticia, murid kelas 12.


"Hei, Leticia kan? Tumben sendiri? Biasanya ditemenin cowok sok keren itu." Yang mereka maksud adalah Varen.


Bukan rahasia lagi jika Varen dan kakak kelasnya itu sering kali berselisih. Meskipun lebih muda, tapi Varen sama sekali tidak takut dengan kakak kelasnya itu. Perselisihan itu dipicu karena rasa cemburu.


Kakak kelas itu merasa cemburu karena Varen lebih populer daripada mereka. Bahkan Varen bisa menembus skuad tim basket sekolah yang kebanyakan senior Varen. Bahkan di tim inti, Varen satu-satunya yang tak pernah terganti posisinya.


Sejak saat itu nama Varen mulai melejit. Selain keren dia juga memiliki paras yang rupawan. Tak salah jika seketika dia menjadi populer di sekolah.


"Misi kak," Ticia tidak mau menanggapi seniornya.


"Gue anterin pulang aja yuk!" salah satu dari mereka bahkan berani meraih tangan Ticia. Dengan marah Ticia menghempaskan tangan seniornya.

__ADS_1


"Kakak jangan kurang ajar!!" seru Ticia yang mampu terdengar oleh beberapa siswa yang masih ada di sekitar sekolah.


"Lo cantik banget waktu marah gitu," Bukannya berhenti, kakak kelas itu malah semakin kurang ajar dengan mencolek dagu Ticia. Dengan cepat Ticia menepis tangan seniornya.


Ticia tidak mau menanggapi mereka lalu memilih untuk meneruskan langkahnya. Tapi kakak kelasnya itu semakin menjadi. Salah satu dari mereka bahkan mengulurkan kakinya, mengakibatkan Ticia tersandung dan terjatuh dalam pelukan salah satu dari mereka.


Bersamaan dengan itu, Varen baru keluar dari sekolah dengan berboncengan dengan Tika. Mereka sengaja pulang bersama, karena akan ziarah ke makam orang tua Tika.


Melihat Ticia terjatuh dalam pelukan lelaki lain. Seketika Varen menghentikan motornya dan turun dari motor dengan cepat.


Sebelum Varen memberi pelajaran untuk kakak kelasnya. Ticia sudah lebih dulu menampar kakak kelas itu dengan sangat keras. Mereka tidak tahu jika Ticia sebenarnya jago karate.


Mereka yang merasa dihina oleh Ticia pun mulai mengeroyok Ticia. Dengan kemampuan bela dirinya Ticia mencoba melawan mereka semua. Tapi karena kalah jumlah, Ticia akhirnya kena pukul juga.


"Brengs*k beraninya lawan cewek, keroyokan lagi.." Varen mulai memukul kakak kelas mereka yang berjumlah orang orang.


Dengan bantuan Varen, akhirnya Ticia bisa mengalahkan kakak kelasnya yang semua adalah cowok. Meskipun dia terkena pukulan dan juga tendangan dari kakak kelasnya. Tapi dia dan Varen mampu membuat kakak kelas itu lari tunggang langgang.


"Nggak kok kak, makasih ya kak," jawab Ticia sembari memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan dari salah seorang seniornya tadi.


"Banci bener mereka," Varen masih tidak bisa meredakan emosinya, apalagi ketika melihat Ticia yang meringis menahan sakit.


"Gue anterin ke dokter!"


"Nggak usah kak, gue nggak kenapa-napa kok.." Ticia berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja, akan tetapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya.


"Nggak usah sok kuat!" omel Varen. Meskipun dia marah tapi ucapannya terdengar sangat lembut.


"Gi, buruan! Keburu sore!" seru Tika berjalan mendekat dan menarik tangan Varen.

__ADS_1


Varen baru ingat kalau dia harus nganterin Tika ke makam orang tuanya. Akan tetapi Varen juga tidak tega meninggalkan Ticia yang kesakitan. "Tik, sorry, kita ke makam besok aja ya, gue harus anterin Ticia ke rumah sakit," tanpa sadar Varen menarik tangannya dari Tika.


"Lo gimana sih Gi? Lo kan udah janji sama gue mau nganterin gue. Lo berubah tahu nggak sekarang.." Tentu saja Tika merasa sangat kecewa terhadap Varen. Dia marah dan hampir menangis.


"Sorry, tapi gue harus anterin Ticia dulu.." Varen bingung. Dia tidak tega melihat Tika bersedih, dan tidak mungkin meninggalkan Ticia yang kesakitan.


"Kak Varen anter kak Tika aja, gue nggak apa-apa kok, beneran.." ucap Ticia.


Dan saat itu kebetulan Varen melihat ketiga temannya yang berhenti di dekat motornya. Varen kemudian memanggil salah satu dari ketiga temannya. Dia memintanya untuk mengantar Tika ke makam.


"Anterin Tika ziarah ke makam orang tuanya, gue mau anterin Ticia ke rumah sakit!" ucap Varen.


"Lo beneran udah berubah demi cewek baru ini, gue kecewa sama lo!!" Tika justru semakin marah. Apa yang dia harapkan ialah bisa ziarah ke makam orang tuanya dengan diantar oleh Varen.


Tanpa berkata lagi, Varen menarik tangan Ticia. Varen memaksa Ticia untuk ke rumah sakit. Varen takut terjadi apa-apa dengan Ticia. Di dalam pikiran Varen, dia berpikir jika Tika hanya kangen dengan papa dan mama saja. Jadi siapapun yang mengantarnya, itu tidak jadi masalah. Padahal intinya bukan itu. Yang Tika inginkan bisa lebih dekat lagi dengan Varen. Tapi Varen tidak peka dengan perasaan Tika.


Melihat Varen pergi begitu saja membuat hati Tika semakin sakit.


"Yuk berangkat sekarang! Keburu sore." ajak Digta sembari menepuk jok motornya. Tika pun naik ke motir Digta dengan sedikit kecewa.


Kejadian itu semakin membuat Tika benci kepada Ticia. Sangat benci. Tika berpikir jika Ticia telah merebut perhatian Varen dari dirinya.


"Udahlah, nggak usah sedih lagi! Kita bertiga akan selalu ada buat lo kok." Digta mencoba menghibur Tika.


"Iya Tik, lagian Gio juga bukannya nggak peduli sama lo, dia cuma khawatir aja sama Ticia." Rafa juga mengingatkan Tika supaya tidak berprasangka buruk kepada Varen.


Sementara Tika hanya tersenyum kecut, dan menganggukan kepalanya saja. Tetap saja Tika berpikir jika Ticia telah merebut perhatian Varen darinya.


Selama ini Varen selalu akan mendahulukan dia dibanding yang lain. Tapi semenjak Ticia hadir. Varen bahkan tidak pernah sama sekali memprioritaskan dirinya. Varen telah berubah demi cintanya ke Ticia.

__ADS_1


Tika tidak bisa menerima itu semua.


__ADS_2