
Varen dan temannya yang lain membantu proses keluarnya jenazah orang tua Tika dari rumah sakit. Sekalian menunggu adik dari papanya Tika sampai ke kota S.
Tika masih saja menangis di samping jasad kedua orang tuanya. Disampingnya ada Varen yang berusaha menenangkannya. Saat itu sebenarnya pikiran Varen terbelah. Di satu sisi dia kasihan kepada Tika. Disisi lain dia memikirkan Ticia yang nekad pulang sendirian, tanpa pamit ke dia juga.
Setelah menunggu beberapa jam. Tepatnya jam 02.00 dini hari. Jenazah orang tua Tika sudah keluar dari rumah sakit dan akan dipulangkan ke rumah duka.
"Gue pulang dulu, nanti gue kesini lagi!" pamit Varen dan juga ketiga temannya.
Karena disitu juga sudah ada keluarga Tika yang lain yang menemani Tika. Lagipula mereka juga perlu istirahat.
Sesampainya di rumah, Varen justru tidak bisa memejamkan matanya. Dia kepikiran terus sama Ticia. Karena setelah pulang dari rumah sakit duluan. Ticia sama sekali tidak membalas chat atau mengangkat teleponnya.
"Kenapa nggak balas sih?" gumam Varen kesal kemudian melempar ponselnya ke kasur. Tapi kemudian dia ambil lagi, dan mempertimbangkan untuk menelepon lagi.
"Nyenyak banget sih tidurnya?" gumam Varen lagi saat lagi lagi teleponnya tidak dijawab oleh Ticia. Dan karena tidak mau menganggu istirahat Ticia, Varen berhenti untuk menelepon. Dia yakin besok juga akan dijawab oleh Ticia. Makanya dia pun mulai memejamkan matanya dan tertidur.
*KEESOKAN PAGINYA*
Varen terbangun dengan terkejut karena panggilan telepon. Ketika dia membuka matanya dia tersenyum kecil karena yakin jika panggilan itu dari Ticia.
"Iya," ucapnya lembut.
Tapi seketika berubahlah raut wajahnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata panggilan itu bukan dari Ticia, melainkan dari Iqbal yang mengomel karena Varen tidak datang ke rumah Tika untuk melayat.
Awalnya Varen masih malas-malas karena menyangka jika itu masih pagi. Tapi begitu dia melihat ke arah jam dinding. Seketika melompatlah dia dari ranjangnya. "Gue mandi bentar.." ucapnya mengakhiri percakapan di telepon dengan Iqbal.
Dengan terburu-buru Varen bersiap melayat ke rumah Tika. Dia juga sempat melihat chat whatapps-nya. Berharap ada balasan dari Ticia. Tapi yang ada hanya chat dari ketiga temannya yang ngomel karena Varen tidak menjawab panggilan mereka.
"Kenapa sih lo," desah Varen sedikit kesal.
Tepat pukul 11 siang, orang tua Tika dimakamkan di pemakaman umum yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Suasana berubah haru saat jenazah orang tua Tika dimasukan kedalam laing lahat.
__ADS_1
Tika kembali histeris melihat kedua orang yang paling dia sayangi harus pergi untuk selama-lamanya.
"Mau kemana lo?" tanya Rafa ke Varen yang terlihat seperti sedang terburu-buru.
"Mau ke sekolah gue," jawab Varen sembari menyalakan motornya.
Varen sudah tidak bisa lagi menahan rindu kepada Ticia. Dia buru-buru menuju sekolah setelah pemakaman orang tua Tika selesai. Dia dan teman-temannya sengaja tidak masuk sekolah hari ini.
Setibanya di sekolah, ternyata Varen sedikit terlambat karena sudah waktunya pulang sekolah. Dan tanpa sengaja dia melihat Ticia yang sedang diboncengi oleh Nathan.
Seketika Varen putar balik dan menyusul laju motor Nathan yang tak terlalu cepat. Tepat ketika berada di samping motor Nathan. Varen menyuruh Nathan untuk berhenti.
"Berhenti di depan! Gue mau ngomong sama Ticia!" perintahnya yang tidak berani ditolak oleh Nathan.
Dengan cepat Nathan menghentikan laju motornya di pinggir jalan. Nathan takut jika dia menolak permintaan Varen. Dia akan kembali di perlakukan tidak baik oleh Varen dan teman-temannya. Karena beberapa hari ini, dia bisa bernafas lega. Varen dan teman-temannya tidak lagi mengganggunya.
"Turun, gue mau ngomong!" Varen menarik tangan Ticia.
"Lo kenapa nggak angkat telepon gue? Lo juga nggak balas chat gue," tanya Varen sedikit kesal karena Ticia seperti cuek lagi ke dia.
"Nggak kenapa-napa, udah ya, panas nih gue mau pulang.." Ticia berjalan meninggalkan Varen. Tapi dengan cepat Varen menahan tangan Ticia.
"Lo kenapa? Lo marah sama gue karena gue nggak perhatiin lo kemarin? Oke gue minta maaf, gue nggak bermaksud cuekin lo, tapi kemarin Tika butuh gue banget," jelas Varen supaya Ticia tidak salah paham kepadanya.
"Gue ngerti kok. Kak Tika butuh banget support dari lo, makanya gue nggak mau ganggu lo saat ini."
"Gue nggak pernah terganggu oleh kehadiran lo, gue justru seneng, lo ada di deket gue," jawab Varen cepat sembari menatap mata Ticia dalam-dalam. Seketika Ticia menghindari kontak mata dengan Varen. Jantungnya berdetak dengan cepat.
"Gue mau pulang!" Ticia berlari kecil dan dengan cepat naik kembali ke motor Nathan. Dia meminta Nathan untuk segera menjalankan motornya.
"Gue anterin!" Varen kembali menahan Ticia.
__ADS_1
"Nggak perlu, gue mau main ke rumah kak Nathan dulu." jawab Ticia berbohong. Mendengar jawaban Ticia seketika membuat Varen menatap Nathan dengan tajam. Nathan menjadi gugup dan panik sendiri karena tatapan tajam dari Varen.
"Ayo buruan kak, keburu sore!" ucap Ticia.
Nathan dengan takut-takut mulai menjalankan motornya meninggalkan Varen yang masih saja melotot. Untuk saat ini mungkin dia bisa lolos dari amarah Varen. Tapi tidak tahu untuk besok.
Akan tetapi meskipun begitu, Nathan juga senang karena bisa mengantar Ticia pulang. Sejak saat Ticia menolongnya waktu itu. Nathan sudah menaruh hati kepada Ticia. Tapi dia terlalu takut untuk mengakuinya. Belum lagi saingannya adalah Varen, pria terpopuler di sekolahnya.
"Kenapa lo bohong? Lo marahan sama Varen?" tanya Nathan ingin tahu apa maksud Ticia berbohong dan melibatkan dirinya juga
"Siapa yang bohong? Emangnya nggak boleh, kalau gue main ke rumah lo?"
"Lo mau main ke rumah gue?" Nathan tidak pernah menduga jika Ticia ingin main ke rumahnya.
"Kenapa? Nggak boleh? Kalau nggak ya udah anterin gue pulang aja!"
"Boleh..boleh, boleh kok. Tapi rumah gue kecil, jelek lagi.."
"Muat nggak buat gue?"
"Muat sih, hehe ,bukan gitu maksudnya-"
"Ya udah kalau muat, jadi boleh atau nggak nih?"
Nathan tertawa kecil kemudian dia menganggukan kepalanya,"iya, boleh.." katanya.
"Besok kalau kak Varen atau teman-temannya yang lain gangguin lo lagi, lo kasih tahu ke gue. Dan gue sekalian minta maaf.."
"Kok jadi minta maaf? Tenang aja, gue udah terbiasa kok dengan kelakuan mereka., jadi nggak perlu merasa bersalah gitu!" ucap Nathan. Padahal sebenarnya dia juga agak takut jika Varen akan marah karena masalah itu. Tapi Nathan juga tidak mungkinkan membiarkan Ticia merasa bersalah seperti itu.
Tapi tanpa mereka sadari. Di belakang, Varen sengaja mengikuti mereka. Dia benar-benar tidak rela membiarkan Ticia harus berboncengan dengan lelaki lain. Tapi dia juga tidak bisa buat perhitungan dengan Nathan di depan Ticia.
__ADS_1