
"Ehem.." Ticia dan Varen dikagetkan dengan suara deheman dari mamanya Varen yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
"Tante,"
"Mama."
"Gi, besok mama mau dulu, besok kan hari minggu, resto pasti rame banget, kamu ditemenin Ticia dulu, ya!" ucap mamanya.
"Ada papa juga." imbuh Dina ketika melihat wajah cemberut anaknya.
Varen tidak menanggapi perkataan mamanya. Dia masih tidak mau ditinggal oleh mamanya. Dina pun juga sebenarnya enggan meninggalkan anaknya lagi. Tapi bisnisnya tidak bisa ditinggal dalam waktu yang lama. Sudah satu minggu dia meninggalkan restorannya.
"Jangan marah dong, sayank!" bujuk mamanya. Tapi tetap saja, Varen hanya terdiam tanpa berkata apapun.
"Atau gimana kalau kamu ikut mama pulang, kamu nginep di rumah mama gimana?" Dina memberi ide yang mungkin akan membuat anaknya senang.
"Nggak mau, Ticia pasti nggak akan diizinin sama ayah dan ibunya." ucap Varen menolak permintaan mamanya. Dalam artian, jika dia menginap di rumah mamanya. Ticia juga harus ikut.
Varen sangat tahu jika kekasihnya tersebut adalah anak rumahan. Orang tua Ticia pasti akan melarang Ticia menginap dimana pun tanpa mereka. Orang tua Ticia termasuk orang tua yang overprotektif. Mengingat Ticia adalah perempuan mereka satu-satunya.
Sedang yang Varen inginkan. Dia hanya mau menginap di rumah mamanya jika Ticia juga ikut kesana. Varen tidak bisa sehari saja tidak ketemu dengan Ticia. Itu akan membuatnya menjadi badmood.
"Kalau gitu kamu sendiri aja yang nginep dirumah mama!"
"Nggak mau. Kalau Ticia nggak ikut, Gio juga nggak mau. Gio nggak bisa jauh dari Ticia." jawab Varen terus terang di depan mamanya.
Tak lama kemudian. Bi Suti memberitahu jika teman-teman Varen pada datang. Dan, mendengar kehebohan dari luar kamar. Varen yakin jika yang datang adalah teman satu gengnya.
"Suruh masuk aja," jawab Varen mulai merasa sedikit senang teman-temannya datang menjenguknya. Pasalnya selama satu minggu di rumah. Baru kali ini teman-temannya datang menjenguk.
Ternyata yang datang bukan hanya teman satu geng Varen saja. Tapi juga teman-teman satu tim basketnya. Ada juga beberapa perwakilan guru, dan pelatih sekaligus guru olahraga mereka.
"Ini mamanya Varen?" tanya salah satu guru Varen.
__ADS_1
"Iya, saya mamanya Varen. Terima kasih, bapak dan adik-adik sekalian telah menjenguk anak saya." Dina mengucapkan terima kasih kepada guru dan teman-teman Varen.
Dalam rombongan tersebut. Juga terlihat Anabella dan Indah yang ikut menjenguk Varen. Terlihat juga ada Rosalinda dalam rombongan tersebut.
Rosalinda sudah beberapa kali datang menjenguk Varen.
Saat itu, papanya Varen baru selesai meeting dengan klien barunya. Ketika sampai di rumah. Dia melihat teman-teman anaknya dan juga gurunya ada di rumahnya.
Darwis pun menyapa mereka semua dan mengucapkan terima kasih. Sekilas dia melirik Rose yang sepertinya tidak senang melihatnya. Tapi Darwis masih menyapanya dengan lembut. Meskipun Rose tidak mau menjawab dan hanya menganggukan kepalanya sekali.
Tak lama kemudian, mereka pamit pulang. Dikarenakan hari juga sudah menjelang malam. Sebelum pulang, Darwis sempat menahan Rose. Darwis mengikuti Rose sampai ke halaman depan rumahnya "Gimana kabar mama kamu, Rose?" tanyanya.
"Baik, dan belum depresi." jawab Rosalinda ketus.
"Om minta maaf," ucap Darwis lagi.
"Udahlah om, permintaan maaf om juga nggak bisa kembaliin hati mama yang hancur." Rose berkata dengan sinis. Kalau bukan karena ingin melihat Varen. Rose tidak akan mau datang ke rumah Varen saat weekend seperti saat ini.
"Mama kamu belum punya keinginan? Sebagai kompensasi dari om." tanya Darwis. Karena sudah lebih dari tiga hari. Sejak Darwis membatalkan rencana pernikahan mereka. Jane belum kasih kabar sama sekali.
Rosalinda tidak tahu maksud dari pertanyaan Darwis. Dia memilih untuk tidak menjawab dan masuk ke dalam mobilnya.
....
Dina sedang beberes dan bersiap untuk pulang. Saat Darwis masuk ke dalam rumah. Dia kaget melihat Dina yang sudah dandan rapi membawa tas pula. Lebih kaget lagi, saat Dina pamit mau pulang.
"Pulang kemana? Rumah kamu disini!" ucap Darwis yang tidak rela ditinggal oleh Dina lagi.
"Iya ma, rumah mama kan disini." sahut Varen. Dia masih saja belum rela jika harus terpisah lagi dengan mamanya.
"Mama harus pulang nak, restoran mama nggak ada yang ngurusin." ucap Dina. Sebenarnya Dina cuma nggak mau aja tinggal lama-lama di rumah itu. Dina tidak mau mengganggu hubungan antara Darwis dengan Jane. Dina belum tahu, kalau Darwis sudah meninggalkan Jane dan memilih dirinya.
"Mama lebih suka ngurusin restoran daripada ngurusin Gio?" tanya Varen dengan sedikit marah lagi.
__ADS_1
"Bukan..Bukan gitu. Mama sama papa kan sudah berpisah, mama tidak mau mengganggu hubungan papa kamu dengan tante Jane."
"Ma," Darwis menarik tangan Dina ke dalam pelukannya.
"Aku sudah batalin rencana pernikahan aku dengan Jane. Aku mau memperbaiki hubungan kita, demi Gio." ucap Darwis sembari menatap Dina.
Dina yang selalu salah tingkah tiap kali Darwis menatapnya. Dina bahkan tidak berani menatap balik mata Darwis. "Aku masih mencintai kamu, ma." ucap Darwis semakin membuat Dina jadi salah tingkah. Apalagi Ticia dan Varen ada disitu dan juga mendengar ucapan Darwis tersebut.
"Mas, ada anak-anak." lirih Dina dengan wajah memerah.
Darwis tersenyum melihat Dina yang malu-malu. "Aku anterin aja ya! Besok kamu urus semuanya, setelah itu kamu pulang kesini lagi. Kasian kan Gio selalu kamu tinggalin." Darwis selalu menggunakan nama anaknya untuk membuat Dina menjadi dilema.
"Kamu masih bisa tinjau restoran kamu setiap akhir pekan." lanjut Darwis. Dan sesaat kemudian Dina menerima usulan Darwis. Itu membuat Varen dan Darwis menjadi sangat senang.
Setelah papa dan mamanya Varen pergi. Barulah Ticia mulai mengatakan kalau papanya Varen itu sama seperti Varen. Kekanak-kanakan.
"Om Darwis itu juga tidak malu ngungkapin cintanya di depan orang, sama kayak anaknya." ucap Ticia dengan sedikit melirik Varen.
Varen yang merasa tersindir pun menoleh dan tersenyum. "Mama itu juga cinta pertama papa. Apakah mungkin ya, kita bisa kayak mereka? Menjadi sepasang suami istri?" ucap Varen menatap Ticia yang seketika berubah raut wajahnya.
Pertanyaan Varen itu tentunya membuat Ticia menjadi dilema. Ketakutan dalam hatinya kembali muncul. Dia tahu jika semua itu pastilah tidak mungkin. Tapi dia juga enggan untuk mengakhiri hubungannya untuk saat ini.
Ada ketakutan di dalam hatinya yang tidak bisa dia katakan. Takut kehilangan disaat hatinya sudah benar-benar nyaman. Hanya saja selama ini, dia selalu berlindung di balik kata jalani saja dulu.
Varen yang tahu tentang kegelisahan hati Ticia pun meraih tangan Ticia. Dengan lembut dia mencium tangan Ticia. Sama seperti Ticia. Varen juga merasakan ketakutan yang sulit untuk dikatakan.
Mereka sama-sama tahu jika cinta mereka tidak akan pernah berujung. Pernikahan hanya sebuah angan-angan untuk mereka. Akan tetapi, mereka tidak bisa melepaskan keterikatan hati mereka satu sama lain. Semakin hari, cinta itu bahkan semakin bertambah besar.
"Jangan terlalu dipikirin terlalu jauh, kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Jadi, jalani aja apa yang ada saat ini." ucap Varen masih menggenggam tangan Ticia.
"Gue takut, gue takut jika hati itu tiba, gue belum bisa lepasin tangan ini untuk melihat lo menjalani kehidupan dengan wanita lain." ucap Ticia dengan suara sendu.
Tanpa menjawab dan berkata. Varen menarik Ticia ke dalam pelukannya. Varen tidak mau membayangkan hal itu untuk saat ini. Dia hanya memeluk, dan menggenggam tangan wanita yang dia cintai untuk saat itu. Varen juga tidak tahu. Apakah dia bisa melepas tangan itu untuk selamanya.
__ADS_1
Varen mencium pipi Ticia. Dia juga mengesap air matanya yang telah menetes di pipi Ticia. Varen ingin membuat Ticia merasa lebih baik. Tidak memikirkan hal jauh itu. Tapi pikirkan apa yang ada di depannya saat ini. Yaitu hati mereka yang terjerat satu sama lain oleh cinta yang memabukan keduanya.