Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
31. Terima Kasih Untukmu Cinta


__ADS_3

Dalam amarahnya Varen mengemudikan mobilnya tanpa arah dan tujuan. Selama lebih dari satu jam, Varen hanya mutar-mutar tanpa tujuan. Selama itu jiga dia tidak berucap sepatah kata pun.


Sampai akhirnya Varen menghentikan mobilnya di sebuah jembatan yang sedikit gelap karena kurangnya lampu penerangan. Varen keluar dari mobil tersebut dan berlari sampai tepi jembatan itu.


"Ah......" teriaknya dengan marah. Marah dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui. Varen hendak naik ke jembatan tersebut.


Tentu saja Ticia yang melihatnya langsung berlari keluar. Ticia lalu memeluk Varen dari belakang. "Lo mau ninggalin gue?" tanyanya dengan air mata yang sudah tidak lagi bisa dia bendung. Sebetulnya dia sudah ingin menangis saat di restaurant tadi. Tapi dia berusaha menahannya.


"Lo udah nggak sayang sama gue?" lanjutnya masih dengan terisak.


Pelukan hangat sangat efektif meredakan amarah yang meledak-ledak. Varen berbalik dan memeluk Ticia dengan erat. Mungkin pikirannya, hanya wanita itu yang dia miliki sekarang. Varen mengecup puncak kepala Ticia dengan sangat lembut.


"Maafin gue udah bikin lo takut.." ucapnya pelan. Pada saat itu juga air mata Varen mengalir tanpa kendali.


"Kenapa hidup gue kayak gini? Kedua orang tua gue nggak ada yang sayang sama gue, mereka semua egois, nggak mau ngertiin gue.." Varen berkata dengan sengit, tapi dia sama sekali tidak melepaskan pelukannya.


Ticia mendongakan kepalanya. Dengan tangan kecilnya dia mengusap air mata lelaki yang mampu membuatnya jatuh cinta tersebut. "Masih ada gue, gue akan selalu sayang sama lo.." ucapnya lembut. Matanya saling bertatapan dengan mata Varen. Kedua mata yang sama-sama mengalirkan air mata.


"Janji jangan pernah tinggalin gue?" ucap Varen menempelkan dahinya ke dahi Ticia. Sedangkan Ticia hanya menganggukan kepalanya pelan.


Varen memegang kepala Ticia, dan mereka saling bertatapan. Di bawah cahaya bulan yang meredup karena awan hitam yang menutupinya. Sepasang kekasih itu saling memautkan bibirnya. Semakin erat dan seolah tak mau melepas satu sama lain.


"Uhm... " deruan nafas terdengar jelas di tengah kesunyian yang merajalela.

__ADS_1


Varen dan Ticia lalu kembali ke mobil. Varen mengajak Ticia ke sebuah tempat yang terlihat seperti padang rumput. Dari tempat itu terlihat lampu kota yang berkelip begitu indah di jauh sana. Bintang juga terlihat jelas dari tempat tersebut.


Varen tahu tempat tersebut ketika dia masih kecil. Di dekat tempat tersebut dulu sahabat Varen tinggal. Ketika Varen masih kecil, Varen sering main ke tempat tersebut. Tapi bukan malam hari tapi sore hari.


Di tempat tersebut, Varen dan sahabat kecilnya bermain mengejar kupu-kupu. Kala itu umur Varen baru tujuh atau sekitar delapan tahun. Ketika papanya berkunjung ke rumah temannya. Varen akan selalu ikut dan bermain dengan anak dari teman papanya. Yang kemudian menjadi sahabat masa kecilnya.


"Wow, indah banget kak.." Ticia tidak menyangka ada tempat seperti itu di daerah kota yang seperti terlihat padat.


"Duduk sini!" Varen menarik tangan Ticia supaya duduk di sampingnya.


Varen dan Ticia duduk di depan mobil Varen. Sejenak keheningan terjadi. Varen masih terlihat sangat sedih. Ticia tidak mau ikut campur masalah keluarga Varen. Karena itu bukan kapasitasnya. Yang bisa dia lakukan hanya menghibur dan selalu disamping Varen untuk memberikan dukungan moral.


"Cia, apa bener ya mama selingkuh?" sekitar sepuluh menit hening. Varen mulai membuka mulutnya.


"Apa itu cuma alasan papa aja, supaya papa bisa nikah sama tante ganjen itu.." tapi Varen yakin papanya juga sangat mencintai mamanya.


Ticia lagi lagi hanya mempererat genggamannya tanpa menjawab keluh kesah kekasihnya. Karena dia tidak mau memperburuk keadaan. Karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Lo pasti kepikiran waktu papa nampar gue tadi kan?" sejujurnya pikiran Ticia memang masih terusik dengan kejadian tadi.


"Seperti itulah papa dua tahun terakhir ini. Setiap kali gue nggak sependapat dengan keinginannya, dia akan menampar gue." Varen memegang sudut bibirnya yang masih sedikit bengkak karena tamparan papanya.


Ticia menoleh dan menyentuhnya juga. Dengan lembut Ticia mengelus sudut bibir Varen dengan ibu jarinya. "Masih sakit?" tanyanya lembut dan perhatian.

__ADS_1


"Nggak, tapi hati gue yang sakit.." Varen menuntun tangan Ticia yang satunya ke dadanya.


Ticia tersenyum kecil dan menatap kekasihnya dengan lekat. "Kak, terlepas dari apa yang dilakukan mama sama papa lo, mereka tetap orang tua lo. Hormati mereka! Jangan benci mereka!" ucap Ticia mengingatkan supaya Varen jangan membenci kedua orang tuanya.


Varen tersenyum lalu menarik Ticia ke dalam pelukannya. Dengan lembut Varen mengecup puncak kepala Ticia. Dia sangat bersyukur. Meskipun papa dan mamanya tidak peduli lagi dengannya. Masih ada wanita yang kini peluk sebagai penyemangat hidupnya.


"Untungnya Tuhan itu baik, sehingga Dia mempertemukan gue sama lo. Gue nggak bisa bayangin seandainya gue nggak ketemu lo sebelumnya, apa gue kuat ngadepin ini semua."


"Harus kuat!" sahut Ticia dengan cepat sambil melepas pelukannya dan menatap Varen dalam.


"Lo harus kuat demi diri lo sendiri! Kebahagiaan itu hanya tercipta karena lo sendiri, orang lain hanya memicu kebahagiaan lo bukan menentukan kebahagiaan lo. Dan tolong jangan lakuin hal bodoh kayak tadi! Lihatlah orang yang sayang sama lo!" Ticia masih ketakutan ketika kejadian sebelum itu. Ticia tidak tahu apa yang akan terjadi jika seandainya dia tidak keluar dari mobil dengan segera tadi.


Varen menatap Ticia dengan tersenyum bahagia. Serius, hatinya merasa sejuk mendengar ucapan kekasihnya tersebut. Varen lalu mengusap air mata sang kekasih, dan mencium pipinya. "Maafin gue kalau gue bikin lo takut. Tadi gue sebenarnya cuma mau naik dan berteriak sekeras-kerasnya, bukan seperti yang lo pikirin. Tapi gue seneng, karena dengan itu gue tahu jika ada seseorang yang sangat mencintai gue, dan takut kehilangan gue.." ucap Varen sambil tersenyum lebar.


"Cinta banget sama gue?" goda Varen.


Ticia membulatkan matanya mendengar ucapan Varen. Ticia melepas pelukannya dan mendorong tubuh Varen pelan. Tapi Varen sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya. "Siapa juga yang cinta sama lo.." sanggah Ticia dengan sedikit cemberut.


Varen kembali tersenyum dan menatap Ticia yang berusaha melepaskan pelukannya. Melihat Ticia yang semakin berusaha melepaskan pelukannya. Membuat Varen justru semakin tidak mau melepaskan pelukan.


"Biarin gue meluk lo bentar aja!" barulah setelah ucapan Varen itu, Ticia tidak lagi berusaha melepas pelukannya. Dia justru nurut dan diam dalam pelukan sang kekasih.


Ticia tahu bagaimana perasaan Varen saat ini. Ticia juga mengulurkan tangannya dan memeluk Varen. Ticia sedikit mengelus punggung Varen dengan lembut. Seperti dia ingin berkata, "jangan sedih, ada gue disini bersama lo."

__ADS_1


"Terima kasih karena lo mau mencintai gue yang nggak sempurna ini!" lirih Varen. Dan Ticia tidak menjawab hanya mempererat pelukannya.


__ADS_2