
Sudah tiga bulan berlalu semenjak Ticia masuk ke sekolah barunya. Ticia merasa senang sekolah di tempat itu. Selain karena teman-temannya baik, guru-gurunya juga kebanyakan humoris.
Selama itu juga Varen tidak pernah menyerah mendekatinya. Meskipun sering kali dia cuekin. Tapi Varen masih kekeh mendekatinya. Tak jarang juga datang ke rumah Ticia. Tapi Ticia tidak mau menemuinya.
Akan tetapi namanya cinta. Varen tidak berhenti berusaha. Seperti saat pagi hari dimana Ticia yang baru masuk ke kelasnya menjadi sangat malu karena tulisan di papan tulis kelasnya. Disana tertulis jelas 'Leticia Putri Keinara, i love you'. Dan distu juga ada secarik kertas berisi puisi cinta. Dan ada nama Varen disana.
Tentu saja itu membuat Ticia malu bukan main. Belum lagi karena teman-teman sekelasnya menggodanya. Mereka heboh saat tahu kertas yang menempel di papan tulis dan tulisan itu dari Varen, pria terpopuler di sekolah mereka.
"Apa-apaan sih ini," Ticia marah bercampur malu lalu melepas dan menghapus tulisan di papan tulis itu.
"Ciee Ticia, bikin iri aja lo..." begitu teman-teman wanitanya menggoda dia.
Ticia yang marah kemudian bergegas menuju kelas Varen. Disana dia melihat Varen yang sedang bermain gitar dan bernyanyi bersama-sama teman-temannya.
Brakkk....
Ticia menggebrak meja Varen. Dan dengan marah dia memohon kepada Varen untuk tidak lagi mengganggunya.
"Kalau lo mau balas chat gue, dan juga jawab telepon gue, gue nggak akan lagi lakuin ini." Varen mencoba bernegosiasi dengan Ticia.
"Nggak akan! Udah bagus gue nggak block nomer lo," jawab Ticia masih geram karena Varen terlihat biasa aja dengan apa yang telah dia lakukan.
"Ya udah kalau gitu gue akan kirim surat sehari tiga kali buat lo," jawab Varen masih santai.
"Wuiss, nggak kalah sama minum obat dong, sehari tiga kali.." sahut Iqbal sedikit berseru dan itu membuat temannya yang lain tertawa.
"Mau lo apa sih? Lo pikir dengan apa yang lo lakuin ini akan buat gue suka sama lo gitu? Nggak sama sekali, norak tahu nggak!!" Ticia semakin marah karena dia sedang tidak ingin bercanda.
"Kalau lo nggak berhenti buat mempermalukan gue, ya nggak apa-apa. Gue akan bilang sama ayah gue buat mindahin gue ke sekolah lain.." lanjut Ticia. Tentu saja Varen terkejut dengan ucapan Ticia.
Bukan maksud Varen ingin mempermalukan Ticia. Apa yang dia lakukan hanya untuk menunjukan kalau dia serius dengan perasaannya untuk Ticia. Tapi siapa sangka jika Ticia merasa dipermalukan oleh tindakannya.
"Jangan! Oke gue bakal berhenti kirim-kirim tulisan dan surat di depan umum lagi. Tapi please jangan pindah, gue nggak bisa jauh dari lo!!" Varen dengan cepat meraih tangan Ticia, ketika Ticia hendak keluar dari kelasnya.
__ADS_1
Ticia dan Varen saling bertatapan. Ticia terpaku dengan apa yang diucapkan oleh Varen. Saat itu entah kenapa hati Ticia merasa sangat senang. Dia juga merasakan jantungnya mau copot karena berdetak dengan sangat cepat.
"Gue mau balik ke kelas!" Kemesraan itu tidak berlangsung lama. Dan begitu Ticia tersadar dia mulai menarik tangannya.
Karena saking salting-nya, Ticia masih menggenggam surat yang sebenarnya akan dia kembalikan ke Varen. Begitu dia tersadar, Ticia hanya menepuk jidatnya, dan mengumpat dirinya sendiri karena terlalu bodoh. Kemudian Ticia melipat kertas itu dan memasukannya ke dalam saku. Dia juga penasaran dengan isi surat puisi itu. Tadi dia belum habis membacanya.
"Darimana lo?" tanya Indah.
"Kencan sama kak Varen ya?" giliran Anabella bertanya.
"Kencan apaan? Dari toilet gue," jawab Ticia sembari duduk ke tempat duduknya.
"Cia, kenapa lo nggak mau terima kak Varen aja?"
"Terima? Emang dia nembak gue?"
"Lah itu tadi dia nulis di papan kalau dia cinta sama lo,"
"Heh, kalau dia emang cinta ya ngomong, emang dia nggak punya mulut? Udahlah nggak usah bahas itu lagi!" Selama ini Varen memang belum pernah ngomong kalau dia cinta sama Tucia secara langsung. Sedangkan yang Ticia mau. Jika ada seorang lelaki yang suka sama dia, ya ngomong. Entah dia mau atau nggak, yang penting ngomong.
"Seandainya kak Varen nembak lo, apa lo mau nerima dia?" tanya Indah tiba-tiba, setelah sebelumnya dia fokus dengan pelajaran.
Ticia terdiam begitu lama. Dia tidak tahu ingin menjawab apa. Sejujurnya dia merasa senang dengan perhatian yang diberikan oleh Varen. Tapi disisi lain dia sadar perbedaan diantara mereka. Yaitu keyakinan mereka yang berbeda.
"Diam artinya mau," ucap Indah lagi mengagetkan lamunan Ticia.
"Gue udah setengah tahun jadi adik kelas kak Varen, dan baru pertama kali ini lihat kak Varen deketin cewek. Sebelumnya dia cuma dekat sama kak Tika."
"Mereka pacaran?" Itu yang selama ini juga menganggu pikiran Ticia. Melihat kedekatan Varen dengan Tika, dan juga gosip-gosip yang beredar membuat Ticia enggan untuk dekat dengan Varen.
"Nggak tahu juga, gosipnya sih iya. Tapi kalau iya kenapa kak Varen deketin lo?" Indah juga tidak tahu pasti apa hubungan antara Varen dan Tika.
"Kenapa nggak lo tanya aja ke kak Varen langsung?"
__ADS_1
"Nggak ah, ntar disangkanya gue ada apa-apa lagi,"
"Daripada lo penasaran," goda Indah.
"Ish, siapa juga yang penasaran." ucap Ticia berdalih.
Saat jam istirahat, seperti biasa Ticia bersama Indah dan Anabella sedang makan di kantin. Tapi tiba-tiba Varen duduk di salah satu kursi yang kosong di meja mereka. Varen menyapa Indah dan Anabella dengan senyuman mautnya.
"Hai kak," balas Indah dan Anabella bersamaan.
Varen mencomot camilan yang ada di depan Ticia tanpa meminta izin. Tentu saja membuat Ticia kesal. "Ini camilan gue!!" Ticia memukul tangan Varen dan menyembunyikan camilan itu. Bukannya marah, Varen justru tertawa melihat betapa konyolnya gadis pujaannya itu.
"Emang lo suka banget sama camilan itu?" tanya Varen dengan tersenyum. Karena setiap hari Ticia selalu memesan camilan itu.
"Hmm,"
Varen lalu mengeluarkan uang kertas seratusan ribu, dan memberikannya ke Indah. Varen meminta Indah dan Anabella membeli camilan seperti yang biasa Ticia pesan. Tak lupa Varen juga menyuruh kedua gadis itu untuk membeli makanan yang mereka suka.
"Makasih kak," ucap Indah dan Anabella dengan senang. Lalu mereka mulai memesan makanan sesuai permintaan Varen.
"Ntar malam jalan yuk!" ajak Varen.
"Nggak bisa, gue ada ibadah ke gereja." jawab Ticia menolak ajakan Varen.
"Lah, bukannya kalau ke gereja itu hari minggu ya?" protes Varen yang yakin jika itu hanyalah alasan Ticia untuk menolak ajakannya.
"Hari minggu itu ibadah raya, dan umum. Tapi kalau nanti malam itu ibadah khusus remaja."
"Oh," Varen menganggukan kepalanya.
"Emang tahu?"
"Enggak," Varen menjawab dengan tertawa, membuat Ticia memutar bola matanya.
__ADS_1
"Nggak lucu!!"
"Emang nggak lucu, tapi ganteng kan?" ucap Varen dengan percaya diri sembari menatap Ticia. Sementara Ticia sudah tidak berani menatap Varen karena salah tingkah. Dia takut tidak bisa mengendalikan perasaannya.