
Di kantin, Tika merasakan hal yang aneh karena Ticia dan Varen tidak seperti biasanya. Bukan hanya Tika, tapi ketiga sahabatnya juga merasakan hal yang sama. Apalagi saat Varen membiarkan adik-adik kelas yang suka sama dia, mendekatinya.
Iqbal yang penasaran mulai mencari tahu dengan mendekati Ticia yang sedang makan bersama Anabella. Dia tahu, dia tidak akan mendapat informasi jika bertanya ke Varen. Makanya dia mencoba mencari informasi ke Ticia.
"Hallo ciwi-ciwi.." Iqbal dengam genit mencolek dagu Ticia dan Anabella.
"Woi, lo kira kita sabun colek apa?" seru Ticia menepis tangan Iqbal.
"Jangan marah mulu ngapa! Ntar nggak cantik lagi." Ticia melirik sinis mendengar ucapan Iqbal.
"Cia, lo nggak marah? Tuh adik kelas kita pada genit ke Gio," Iqbal mencoba memprovokasi Ticia.
Ticia kemudian menoleh dan benar saja. Dia melihat Varen yang sedang bersendau gurau dengan beberapa adik kelasnya. Setelah itu dia merapatkan bibirnya.
Sebenarnya diakui atau tidak. Ticia merasakan cemburu melihat Varen bersama beberapa wanita. Tapi dia bisa apa. Mereka sudah putus. Tidak punya hak lagi untuk marah.
"Lo marahan sama Gio?" Iqbal semakin penasaran.
"Kita udah putus," Ticia tidak menyembunyikannya dari Iqbal. Juga berkata sangat santai, sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Pantes. Gue rasa Gio udah sadar sekarang, dia akhirnya tahu kalau kucing itu lebih menggemaskan dibanding singa," Ticia melototi Iqbal. Dia paham arti perkataan Iqbal tersebut.
"Brengs*k lo, pergi sana!!" seru Ticia dengan sebal. Dia mendorong Iqbal yang duduk disebelahnya tanpa perasaan.
"Sakit anj*r." Iqbal mengomel, pant*tnya sakit karena jatuh saat didorong Ticia.
Sebenarnya tidak terlalu sakit sih. Hanya saja dia malu karena banyak mata yang melihat terjatuh. Dan tidak sedikit yang menertawakannya juga.
"Balik ke kelas yuk An!" ajak Ticia tidak mau lagi mengindahkan Iqbal.
"Mau kemana lo! Tanggung jawab!" ucap Iqbal menahan tangan Ticia sembari memegangi bagian belakangnya.
"Tanggung jawab apanya? Emang lo hamil?" Ticia menghempaskan tangan Iqbal.
"Pokoknya lo harus tanggung jawab! Traktir gue makan!"
"Idih, pemerasaan.."
"Kalau nggak lo harus mau jadi pacar gue!"
"Nggak usah ngadi-ngadi deh!"
__ADS_1
"Terserah lo, milih traktir gue, atau jadi pacar gue!"
"Gue milih pergilah, males banget nanggepi orang stres..." ucap Ticia sembari berlari kecil dan menarik tangan Anabella.
"Woi!!!" seru Iqbal tidak terima Ticia meninggalkannya begitu saja. Sementara Ticia menengok ke belakang sembari menjulurkan lidahnya.
Mendengar keributan itu. Varen akhirnya menoleh. Dengan wajah tidak senang dia melihat Iqbal bersama dengan Ticia. Entah apa yang dia rasakan. Yang jelasnya dia ingin sekali marah.
"Kak Varen mau kemana?" tanya adik kelas itu ketika Varen berdiri.
"Ke toilet." jawab Varen dengan tersenyum. Meskipun dia tersenyum. Tapi entah kenapa, nada suaranya terdengar begitu dingin.
"Nanti siang jadi kan pulang bareng?" tanyanya lagi.
"Lihat aja gimana nanti," Varen kemudian meninggalkan kantin dengan wajah suram.
Saat Iqbal menyapanya. Varen tidak hanya bersikap dingin tanpa menjawab sama sekali. Dia juga melewati Iqbal begitu saja tanpa tersenyum. Seperti dia sedang berpapasan dengan orang asing.
"Gio kenapa sih? Dia nggak kayak biasanya?" Digta juga merasa aneh dengan sikap sahabatnya saat itu.
"Gue juga merasa aneh, dia kayak perang dingin sama Ticia. Dan raut wajahnya itu loh, nyeremin banget anj*r." ucap Rafa merasakan hal yang sama.
"Bener, meskipun terlihat senyum, tapi senyumnya itu aneh, kayak dia sedang marah gitu." imbuh Digta.
"Ha? Putus?" Tika dan Rafa bertanya secara bersamaan.
"Hmm, kata Ticia sih gitu tadi."
"Tapi kenapa? Bukannya kemarin mereka masih baik-baik saja?" tanya Tika yang selalu tidak rela jika pasangan itu harus putus.
"Lupa nanya gue," Iqbal tersenyum beg* sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Digta dan Rafa mendesak Tika untuk cari tahu alasan Varen dan Ticia putus. Mereka penasaran kenapa pasangan yang terlihat saling mencintai itu bisa putus secara tiba-tiba.
Tidak mungkin kan karena merasa sudah tidak saling mencintai. Tidak mungkin perasaan bisa berubah secepat itu. Apalagi mereka tahu seberapa besar pasangan itu saling mencintai.
"Apa mungkin mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah karena sadar jika cinta mereka tidak berujung?" Rafa menebak-nebak.
Selama ini memang yang menjadi penghalang cinta Varen dan Ticia adalah keyakinan mereka yang berbeda. Mungkinkah akhirnya mereka sadar akan perbedaan itu.
"Bisa jadi," jawab Digta berpikiran sama seperti Rafa.
__ADS_1
****
Sepulang sekolah. Ticia tanpa sengaja melihat Varen berboncengan dengan adik kelas mereka. Adik kelas itu melingkarkan tangannya di perut Varen. Seperti sangat bahagia bisa berboncengan dengan Varen. Lelaki tampan berwajah dingin.
Di dalam mobil, Ticia terus memperhatikan Varen dan adik kelas tersebut. Dia teringat masa-masa indah bersama lelaki itu.
Karena terus mengingat-ingat masa pedekate sampai akhirnya pacaran dengan Varen. Ticia jadi tidak konsentrasi menyetir mobil. Sampai-sampai tidak sadar jika di depannya ada motor yang nyaris dia tabrak.
Beruntung, Ticia tersadar tepat waktu. Karena saking kagetnya, Ticia menginjak rem secara mendadak. Ciiittttt. Mobil berhenti tepat di belakang motor tersebut.
"Aw,," kepala Ticia tidak sengaja membentur stir kemudinya.
Ticia lalu menepuk-nepuk kedua pipinya. "Sadar Cia! Lo nggak bisa kayak gini terus, lo harus move on!" ucapnya seorang diri.
Tiiiinnnnnn.
Dari belakang, beberapa kendaraan juga mengklakson Ticia terus menerus. Bahkan ada juga pengendara yang berseru memarahi Ticia karena ngerem mendadak tadi.
Tidak mau membuat pengendara lain semakin marah. Ticia buru-buru mejalukan mobilnya lagi. Sambil terus berkata pada dirinya sendiri untuk segera move on.
"Mending gue mampir beli jajanan di depan dulu aja." gumamnya lagi.
Sekitar 300 meter, Ticia menghentikan mobilnya di pinggir lapangan dengan begitu banyak orang berjualan jajanan. Ada sekitar tiga puluh pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam jajanan. Ada siomay, batagor, pecel, sampai cilok yang dijual di tempat tersebut.
Ticia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari tempat itu. Kemudian berjalan menuju tempat pedagang jajanan yang ingin dia beli.
Ternyata Ticia lebih tertarik untuk makan seblak, makanan khas bandung. Ticia memesan satu porsi, makan di tempat. Sebelumnya dia sudah membeli minuman cappucino cincau kesukaannya.
Karena saking antrinya, Ticia harus menunggu terlebih dahulu. Dan, untuk menghilangkan rasa bosannya. Dia main game.
Tiba-tiba dia seperti mendengar suara yang sangat familiar baginya. Seketika menolehlah Ticia. Dia melihat seorang lelaki dan wanita yang sedang bingung mencari tempat duduk.
"Ngapain sih kesini juga." gumam Ticia merasa tidak suka melihat Varen bersama dengan adik kelasnya yang pulang bersama Varen tadi.
"Kak Leticia kan? Boleh kita duduk sini, udah nggak ada tempat lagi soalnya?" tanya adik kelas itu.
"Boleh kok, gue juga udah mau balik," jawab Ticia kemudian memilih untuk berdiri daripada satu meja dengan Varen.
Ticia lalu meminta pedagang seblak itu untuk membungkus pesanannya tadi. Kebetulan pesanannya juga hampir jadi. Lalu Ticia meninggalkan tempat tersebut begitu pesanannya jadi.
Tanpa menoleh lagi ke belakang Ticia meninggalkan tempat tersebut. Sementara Varen, dia terus menatap Ticia yang berjalan tanpa menoleh sama sekali.
__ADS_1
Hatinya terasa nyeri saat melihat wanita berambut hitam nan lurus itu berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Juga tidak mau menyapanya saat bertemu tadi.
"Apakah semuanya harus berakhir seperti ini?" gumam Varen dalam hati. Tanpa sadar tangannya mengepal menahan amarah.