Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
69. Varen dan Rosalinda Jadian


__ADS_3

"Apa yang mau di omongin Rose?" tanya Varen melepaskan tangan Rosalinda yang menggandengnya.


"Kak, maaf kalau gue lancang, tapi kak Gio kan udah janji untuk melupakan Ticia, tapi kenapa kak Gio bareng dia lagi? Kak Gio nggak ngertiin perasaan gue!" ucap Rosalinda sedikit marah.


"Gue tadi nggak sengaja ketemu sama dia. Lagipula nggak ada salahnya kan, jika gue sama Ticia berteman?" Varen agak sedikit malas membahas itu dengan Rosalinda. Dia selalu tidak suka dengan wanita posesif, kecuali Ticia.


"Nggak ada yang namanya mantan jadi teman. Itu cuma alibi aja, sebenarnya kak Gio masih suka kan sama dia?" Rosalinda semakin tidak terkendali.


"Iya." Varen tidak bermaksud menyembunyikan perasaannya. Harus diakui, cinta untuk Ticia masih ada di dalam hatinya. Bahkan Varen selalu berharap bisa balikan dengan Ticia.


"Kak Gio... Kenapa kak Gio tega sama gue? Kak Gio tidak menghargai perasaan gue!" Rosalinda semakin marah.


"Maafin gue Rose, gue tidak bisa bohongin perasaan gue sendiri."


"Jadi selama ini kak Gio cuma mainin perasaan gue?" tanya Rosalinda yang hendak menangis saat itu.


"Mainin perasaan lo gimana maksudnya? Gue tidak pernah sama sekali bilang kalau gue cinta sama lo kan?"


"Tapi kenapa kak Gio janji akan lupain Ticia?" Rosalinda semakin tidak mengerti dengan perasaan Varen.


"Gue nggak pernah janji, tapi waktu itu gue cuma curhat ke lo, kalau gue akan berusaha lupain Ticia. Tapi kenyataannya gue nggak bisa." jawab Varen apa adanya.


"Kak Gio.." Rosalinda sudah tidak kuat menahan air matanya. Rosalinda kemudian memeluk Varen.


"Itu karena kak Gio nggak mau buka hati kak Gio untuk orang lain. Kak, izinin gue dekat dengan kak Gio, gue pasti bisa buat kak Gio lupain Ticia." ucap Rosalinda sembari tersedu. Dia juga masih terus memeluk Varen.


"Iya, udah jangan nangis lagi!" ucap Varen sembari mengusap air mata Rosalinda.


Varen ingin mencoba membuka hatinya untuk orang lain. Mungkin dengan begitu dia bisa benar-benar melupakan Ticia. Karena sebenarnya Varen juga bingung dengan perasaannya sendiri.


"Gue akan mencoba," ucapnya. Karena Ticia tidak mau balikan sama dia. Varen hanya bisa mencoba untuk membuka hatinya untuk orang lain.


Varen dan Rosalinda ke kantin bersama-sama. Dengan senyuman yang cerah, Rosalinda menggandeng tangan Varen. Dia merasa sangat bahagia. Karena Varen mengatakan jika dia akan mencoba hatinya untuk dia.

__ADS_1


Melihat Rosalinda yang menggandeng tangan Varen. Membuat beberapa murid berbisik-bisik tetangga. Mereka menduga jika Varen dan Rosalinda sudah jadian.


Gosip itu juga terdengar di telinga Ticia. Meskipun hatinya terasa tidak enak. Tapi Ticia selalu berusaha untuk baik-baik saja. Dia selalu meyakini jika itu memang yang terbaik untuk mereka. Karena dialah yang menginginkan kebahagiaan Varen.


"Cia, lo baik-baik saja?" tanya Anabella ketika melihat Ticia melamun.


"Iya, gue baik-baik saja kok." jawab Ticia sedikit tersenyum.


"Gue saranin sih, lo juga cari cowok deh Cia, biar lo bisa move on juga." ucap Indah sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Setuju." sahut Anabella.


"Ganpanglah, dipikir nanti aja!" jawab Ticia masih belum memikirkan tentang dekat dengan cowok lain.


Dua kali dia terluka karena cinta. Pertama, karena cowok itu kasar. Sampai berani menamparnya. Kedua, karena cinta yang berbeda agama.


Itu membuat Ticia masih trauma untuk kembali dekat dengan seorang lelaki. Luka itu masih belum sembuh.


"Hari semuanya gue yang traktir!" ucap Rosalinda ketika duduk di meja dimana ada teman-teman Varen.


"Nggak usah Rose, kita bayar sendiri saja!" ucap Ticia menolak traktiran Rosalinda.


"Nggak apa-apa Cia, anggap aja ini pajak jadian gue sama kak Gio." ucap Rosalinda dengan bangga.


Tentu saja ucapan Rosalinda itu membuat teman-teman Varen dan juga teman-teman Ticia menjadi terkejut. Ticia bahkan sampai tersedak ketika sedang minum. Karena saking kagetnya.


"Oh, selamat kalau gitu. Semoga hubungan kalian langgeng." Ticia berdiri dan berjalan mendekat ke meja Varen. Dia mengulurkan tangannya sambil memberikan selamat kepada Rosalinda.


"Selamat ya kak, semoga langgeng sampai kakek dan nenek." Tidak lupa, Ticia juga memberikan selamat kepada Varen. Dia mengulurkan tangannya. Dan disambut oleh Varen.


Varen menggenggam erat tangan Ticia dan menatapnya. Tapi Ticia dengan cepat menarik tangannya. Setelah itu Ticia meninggalkan kantin karena bel masuk sudah berbunyi. Diikuti oleh Indah dan Anabella dibelakang.


"Kuat ya sayank!" Anabella memeluk Ticia dari belakang. Ticia menganggukan kepalanya tiga kali.

__ADS_1


"Jangan sedih lagi! Nanti sepulang sekolah, kita ke Mall, terus cari tuh gebetan yang tak kalah cakep dari kak Varen." ucap Indah penuh semangat.


Berakhir. Semua sudah berakhir. Tidak ada alasan lagi untuk Ticia terus mencintai Varen. Ticia tidak menyangka jika sakitnya akan seperti ini.


Hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk hubungan Varen dan Rosalinda. Mungkin mereka memang sudah ditakdir untuk menjadi pasangan.


Hati Ticia merasakan sakit yang tak mampu terucapkan. Bahkan air matapun tak mampu menetes. Hanya merasakan hatinya yang tidak nyaman.


Ya, mungkin memang jalan mereka harus berlawanan. Meskipun cinta itu akan selalu ada. Tapi mereka tidak akan pernah bisa sejalan. Maka, perpisahanlah yang terbaik.


Ucapkan selamat tinggal kepada masa lalu. Bukalah lembaran baru. Hidup tidak sesedih itu kawan. Tataplah masa depan yang penuh dengan harapan.


Karena perbedaan keyakinan tidak akan pernah bisa di satukan.


"Bener, tumben pinter." ucap Ticia menutupi kesedihannya. Dia tidak ingin semua orang tahu tentang kesedihannya. Terlebih kedua sahabatnya. Dia tidak ingin membuat kedua orang yang sudah begitu baik ke dia. Menjadi ikutan sedih karenanya.


Di kantin, Tika masi bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Tika tahu, jika Rosalinda bukanlah tipe idaman Varen. Apa mungkin Varen berubah selera. Atau dia memilih untuk menerima perjodohan dari orang tuanya. Dibanding memperjuangkan cintanya untuk Ticia.


"Ini sebenarnya ada apa sih Gi?" tanya Tika pelan.


"Iya, ini kenapa sih? Lo beneran jadian sama dia? Lo terima perjodohan lo? Terus Ticia?" tanya Iqbal ikutan penasaran.


"Gue udah berakhir sama dia." jawab Varen terdengar begitu menyedihkan.


"Oh, akhirnya lo sadar jika harta lebih pentung daripada cinta?" tanya Tika dengan tersenyum sinis.


Dulu sewaktu Varen tahu dia dijodohkan dengan Rosalinda. Dia sempat bilang, jika dia tidak mau dijodohkan. Dia lebih baik kehilangan harta warisannya daripada meninggalkan cintanya.


"Atau mungkin lo sudah mulai jatuh cinta sama Rosalinda?" lanjut Tika.


Varen pun terdiam. Dia juga tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Apa yang dia lakukan ini betul atau salah. Sesaat kemudian, Varen beranjak dari tempatnya duduk. "Ini urusan gue, kalian nggak perlu ikut campur. Masalah gue sama Ticia, itu sudah selesai. Gue cuma butuh support dari kalian!" ucapnya kemudian berjalan meninggalkan kantin. Diikuti oleh Rosalinda yang harus kembali berlari mengejar Varen yang berjalan dengan cepat.


"Kayaknya kita ketinggalan cukup banyak nih," ucap Rafa yang juga penasaran dengan perubahan Varen akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Lo tanya sama Ticia, Tik! Apa yang sebenarnya terjadi." pinta Digta.


"Kenapa gue kok ngerasa Gio lebih dingin dari sebelumnya. Gue takut dia akan menjadi liar lagi." gumam Tika masih memperhatikan Varen yang berjalan tanpa menoleh ke belakang.


__ADS_2