
Varen menyendiri di halaman belakang sekolah disaat jam istirahat. Di tempat itulah biasanya dia menenangkan pikirannya. Tempat itu cukup teduh dan sepi. Biasanya hanya ada beberapa pasang murid yang pacaran di tempat itu. Tapi, kali ini tidak terlihat satupun. Mungkin mereka masih di kantin.
Saat itu posisi Varen ada di bawah pohon berbatang besar yang ada di halaman belakang sekolahnya. Tanpa alas duduk, Varen menyenderkan tubuhnya membelakangi pohon tersebut.
Varen mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya. Dia melihat-lihat foto yang ada di galeri ponselnya. Senyumnya mengembang ketika melihat satu foto yang sangat dia sukai.
Ya, itu adalah foto Ticia yang masih dia simpan. Foto yang pernah dia jadikan wallpaper di ponselnya.
Varen lalu mempertimbangkan untuk menghubungi Ticia. Dia sudah mengetik pesan dan tinggal kirim. Tapi Varen terhenti. Dia ragu ingin mengirim pesan tersebut.
Di saat sedang berpikir. Tiba-tiba dia menerima pesan dari Rosalinda. Rosalinda mengatakan dia mencari Varen kemana-mana, tapi tidak dapat menemukan Varen. Akhirnya dia menanyakan posisi Varen sekarang.
"Gue di toilet." tulis Varen berbohong. Setelah itu Varen beranjak dari tempat duduknya. Dengan menepuk-nepuk celana belakangnya membersihkan debu yang menempel di celananya.
Tapi, siapa sangka jika dari balik pohon tersebut. Ticia juga melakukan hal yang sama. Saat mereka sama-sama berdiri, tanpa sengaja mereka melihat satu sama lain.
Sama seperti Varen. Ticia juga sering menyendiri di tempat teduh itu.
"Kak Vava," gumam Ticia kaget.
"Cia," gumam Varen juga kaget. Tapi Varen terlihat senang bisa bertemu Ticia di tempat itu. Dulu sewaktu masih pacaran. Mereka juga sering ke tempat itu.
"Lo disini juga?" tanya Varen dengan tersenyum senang.
"Iya, kak Vava, eh, kak Varen nggak ke kantin?" tanya Ticia balik.
"Ini juga mau ke kantin." jawab Varen sedikit gugup.
"Kalau gitu gue duluan ya kak!" pamit Ticia juga terlihat gugup. Untuk menghindari kegugupannya, Ticia memilih untuk mendahului Varen meninggalkan tempat tersebut.
"Cia," akan tetapi Varen menahan tangannya.
"Cia, maafin gue karena udah salah menilai lo, maafin gue karena udah mikir yang nggak-nggak tentang lo." ucap Varen sambil berjalan mendekati Ticia. Tanpa melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Maafin gue, Cia!" ucapnya lagi.
Ticia sedikit tertegun mendengar permintaan maaf Varen. Tapi kemudian dia tersenyum dan berkata:"Yang lalu biarkan berlalu. Sekarang kak Varen sudah memiliki kehidupan baru. Dan semoga kak Varen akan selalu bahagia."
Tiba-tiba tanpa peringatan. Varen menarik Ticia dalam pelukannya. Erat. Dan semakin erat. Seolah Varen tidak mau melepaskan pelukan itu.
Ticia merasakan jika pelukan itu semakin lama semakin membuatnya sesak. Tapi anehnya, dia tidak berniat mendorong Varen untuk melepaskan pelukannya.
Tapi tak lama. Ketika dia tersadar, Ticia mulai berusaha meronta dalam pelukan Varen. "Kak tolong jangan kayak gini! Kak Varen sudah punya Rosalinda sekarang, gue nggak mau dianggap sebagai perusak hubungan orang lain." ucap Ticia berusaha mendorong Varen.
"Biarin gue meluk lo sebentar saja. Cuma sebentar." lirih Varen tanpa mau melepaskan pelukannya. Meskipun Ticia terus saja meronta-ronta dalam pelukannya.
"Gue kangen banget sama lo, cuma sebentar aja kok." ucap Varen lagi.
Saat itu, entah kenapa Ticia tidak lagi meronta-ronta. Dia mendengar jelas permintaan Varen yang terdengar menyedihkan.
Ticia seketika terdiam. Dia membiarkan lelaki itu memeluknya dengan erat.
Sejujurnya, Ticia juga sangat merindukan lelaki itu. Merindukan pelukan hangat lelaki itu. Merindukan kemanjaan lelaki itu. Rindu semua hal konyol yang dilakukan oleh lelaki itu.
"Gue juga cinta sama lo." entah mendapat dorongan dari mana. Ticia juga mengungkapkan perasaannya kepada Varen. Saat itu Ticia tidak lagi memikirkan tentang hubungan Varen dan Rosalinda.
Bahkan Ticia menginginkan waktu berhenti saat itu juga.
Ticia dan Varen saling berpelukan dengan erat. Mereka dua orang anak manusia yang saling mencintai. Akan tetapi harus berpisah karena perbedaan yang ada di depan mereka. Perbedaan keyakinan yang tidak mungkin bisa bersatu.
"Kenapa kita nggak balikan aja?" tanya Varen.
"Kak Varen kan udah punya Rosalinda. Gue nggak mau rusak hubungan kalian." jawab Ticia melepaskan pelukannya.
"Terima kasih sudah pernah mencintai gue, antara kita sudah berakhir, hargai wanita yang ada bersama lo sekarang. Jangan permainkan perasaan orang lain." ucap Ticia.
"Gue nggak pernah cinta sama Rose, lo yang gue cinta." Varen tidak mau melepaskan Ticia begitu saja.
__ADS_1
"Kak Varen sudah sama Rosalinda. Kak Varen harus jaga perasaan dia, gue nggak mau orang lain akan mikir gue wanita yang kejam karena rebut kak Varen dari Rosalinda." apa yang dikatakan Ticia cukup jelas. Dia ingin Varen menyelesaikan masalahnya dengan Rosalinda terlebih dahulu. Karena jika Varen tiba-tiba meninggalkan Rosalinda dan balikan dengannya. Semua orang pasti akan menuduh Ticia sebagai perusak hubungan orang.
Sebagai sesama wanita. Ticia tidak mau menyakiti perasaan wanita lain. Meskipun dia masih mencintai Varen. Tapi hubungan mereka masih berjalan.
"Kita masih bisa berteman kok, gue orang pertama yang akan selalu dukung kalian." lanjut Ticia sebelum meninggalkan Varen.
"Gue akan selesain masalah gue ama Rose tanpa harus menyakitinya. Gue harap lo bisa menunggu sampai saat itu tiba!" seru Varen yang sempat membuat Ticia menghentikan langkahnya.
Akan tetapi, Ticia tidak menjawab perkataan Varen tersebut. Dia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan halaman belakang sekolah tersebut.
...
"Cia, lo lihat kak Gio nggak?" tanya Rosalinda sewaktu Ticia berjalan dari jaln samping toilet yang terhubung ke halaman belakang sekolah.
"Eh, gue-"
"Kak Gio?" belum sempat Ticia menjawab pertanyaan Rosalinda. Ternyata Varen sudah berjalan dari jalan yang sama dengan Ticia.
"Kak Gio sama Ticia?" Rosalinda bertanya dengan ragu atas dugaannya. Karena Ticia dan Varen sama-sama berjalan dari tempat yang sama. Membuat Rosalinda sedikit curiga jika mereka diam-diam masih berhubungan.
"Iya tadi nggak sengaja ketemu Ticia di halaman belakang saat gue terima telepon dari papa." jawab Varen kembali membohongi Rosalinda.
"Oh, kalau gitu ke kantin yuk kak, lo belum makan kan?" Rosalinda menarik tangan Varen dengan bahagia.
"Yuk." jawab Varen dan mengikuti kemana Rosalinda menarik tangannya.
Melihat Rosalinda yang tersenyum bahagia, membuat Ticia bisa bernafas lega. Setidaknya Rosalinda percaya dengan apa yang diucapkan Varen.
Tapi, saat melihat Rosalinda yang menarik tangan Varen. Membuat Ticia sedikit tersenyum pahit. Ada sesuatu yang tidak nyaman di dalam hatinya. Apalagi Varen juga tidak menolak tarikan tersebut. Dan terkesan mengikuti apa mau Rosalinda.
"Mungkin mereka memang ditakdirkan untuk bersama." gumam Ticia seorang diri sembari terus memperhatikan Rosalinda dan Varen yang berjalan semakin menjauh.
Dengan tersenyum kecut, Ticia melanjutkan langkahnya. Tapi tidak ke arah kantin. Melainkan ke arah kelasnya sendiri.
__ADS_1
Padahal awalnya dia ingin ke kantin karena merasa lapar. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia merasa kenyang seketika.