
"Cia, lo tahu nggak ada murid baru? Dia satu kelas sama kita." seru Indah berlarian ketika Ticia baru sampai di sekolah. Ticia bahkan belum turun dari motor Varen.
"Oh ya?" Ticia tidak terlalu antusias.
"Heem, anaknya cantik,"
"Cewek? Anak barunya?" Indah menganggukan kepalanya.
Tapi Ticia masih tidak terlalu antusias. Lalu Ticia bersama Indah berjalan menuju kelasnya. Sementara Varen berjalan ke kelasnya sendiri.
Di kelas Varen, ada Risma bersama teman-temannya sedang ngobrol dengan ketiga teman lelaki Varen. Semakin lama, Risma semakin akrab dengan teman-teman Varen. Akan tetapi, Varen tidak mengindahkannya.
"Va, ke..kemarin hari minggu, gue kayak lihat lo di depan gereja Bethany, ngobrol sama satpam," ucap Nathan ketika Varen baru aja duduk.
"Iya, gue nungguin Ticia. Lo dimana?" tanya Varen yang sduah bersikap baik kepada Nathan setelah berhasil mendapatkan hati Ticia.
"Gue juga ada di gereja itu, tapi gue ibadah yang jam 9 pagi. Satpam yang lo ajak ngobrol itu, bokap gue.." ucap Nathan yang membuat Varen seketika menoleh.
Varen berpikir betapa bahagianya hidup Nathan memiliki papa yang sangat menyayanginya. Varen memang sering ngobrol dengan satpam bernama Agung tersebut. Tapi dia tidak pernah bertanya lebih dalam lagi keluarganya. Hanya saja, pak Agung itu sering ngomongin anak dan istrinya.
"Lo anaknya pak Agung?" tanya Varen kaget.
"Lo kenal bokap gue?" Nathan sudah tidak lagi terlalu gugup saat berbicara dengan Varen. Sudah lebih dari dua bulan mereka duduk satu meja. Dan sering ngobrol juga.
Varen menganggukan kepalanya pelan. "Lo beruntung punya bokap yang sayang sama lo, baik lagi." ucap Varen sedikit sedih.
"Se..semua orang tua pasti sayang sama anak-anaknya." ucap Nathan.
Varen terdiam sejenak. Setelah itu dia memasukan tasnya ke dalam laci. Lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana Gi?" tanya Tika ketika melihat Varen hendak keluar kelas.
"Ke kelas Ticia.." jawabnya lalu kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Tika berlari kecil mengikuti Varen. Tika juga males dengan Risma dan teman-temannya yang begitu sombong. Makanya dia lebih memilih untuk ikut Varen ke kelas Ticia.
"Mau kemana lo?" tanya Varen saat Tika berjalan disampingnya, mensejajarkan langkahnya dengan Varen.
"Ikut lo." jawab Tika sambil tersenyum.
__ADS_1
"Gue dengar, kelasnya Ticia ada murid baru yah?" tanya Tika.
"Katanya sih gitu, tapi gue belum tahu juga." jawab Varen masih dengan langkah anggunnya.
Di kelas Ticia..
Ticia terhenyak tatkala mengetahui jika murid baru yang ada di kelasnya adalah seorang wanita yang kapan hari ketemu dengan dia dan Varen. Wanita tersebut adalah Rosalinda, sering dipanggil Rose.
Berbeda dengan Rosalinda. Dia sama sekali tidak terkejut mengetahui dirinya satu kelas dengan pacar calon kakak tirinya. Pasalnya, dirinya sendiri yang meminta supaya satu kelas dengan Ticia.
"Rose?" gumam Ticia pelan, tapi masih mampu di dengar oleh Indah yang ada di sampingnya.
"Lo kenal?" tanya Indah sembari menyenggol tangan Ticia. Dari cara Ticia memandang dan raut wajah terkejutnya. Indah yakin jika Ticia mengenal murid baru tersebut.
"Iya. Eh, bukan kenal deng, tapi tahu.." jawabnya ambigu. Ticia tidak mengatakan jika Rose adalah calon adik tiri Varen. Karena itu bukan kapasitasnya.
Sementara Ticia dan Indah berjalan menuju tempat duduk mereka. Rose menyapa Ticia dengan lembut. "Hai, Leticia..." ucapnya.
"Hai,,, Rose..salinda.." jawab Ticia masih bingung mau memanggil Rose dengan nama aslinya atau nama panggilannya.
"Panggil aja Rose.." ucap Rose dengan tersenyum.
Karena ucapannya yang lembut dan sopan. Membuat Indah tidak keberatan untuk pindah tempat duduk. Indah berdiri dan pindah tempat duduk di belakang Ticia, bersama dengan Anabella.
"Dia teman Ticia?" bisik Anabella.
"Bukan katanya.." jawab Indah dengan berbisik juga.
"Hallo, kenalin nama gue Anabella." Anabella memperkenalkan dirinya kepada Rose.
Rose tersenyum kecil, lalu memperkenalkan dirinya. Dia juga menyebut jika dia adalah teman Ticia. Sedangkan Ticia merasa aneh dengan tingkah Rose. Dia berbeda dengan waktu itu saat pertama kali bertemu. Waktu itu dia lebih banyak diam, sedangkan sekarang lebih banyak bicara. Penampilannya juga berbeda jauh. Waktu itu dia pakai kacamata tapi sekarang kayaknya pakai softlens.
Tak lama kemudian Varen masuk ke kelas bersama dengan Tika. Dengan langkah ceria, Tika menghampiri Ticia. Kedua remaja itu sudah berdamai dan saling menyayangi sekarang.
"Hello, hello.." ucap Tika dengan ceria.
"Ish, ceria amat lo?" tanya Ticia.
__ADS_1
"Gue kan emang orang yang ceria.." jawab Tika menarik pipi Ticia membuat Ticia sedikit kesakitan.
"Yank, sakit.." rengkeknya ketika Varen mendekat ke mejanya.
"Ceileh, yang punya yayank.." sindir Tika sembari tertawa. Lalu Tika duduk di kursi seberang tempat duduk Ticia yang kebetulan kosong.
"Kak Gio!" sapa Rose yang duduk di sebelah Ticia. Awalnya Varen sempat terkejut melihat Rose di sebelah Ticia. Akan tetapi dia berniat mengabaikannya. Siapa sangka jika Rose akan menyapanya duluan.
Varen hanya menganggukan kepalanya dengan dingin.
"Kantin yuk!" Varen malah lebih fokus kepada Ticia. Ya iyalah, Ticia kan pacarnya.
"Gue boleh ikut nggak Cia?" ketika tahu dia diabaikan oleh Varen. Rose beralih ke Ticia. Rise yakin Ticia pasti akan sungkan untuk menolaknya.
"E..e.." Ticia ragu untuk memutuskan. Dia tahu jika kekasihnya tidak suka dengan Rose. Tapi dia tidak enak untuk menolak.
"Gue kan baru disini, jadi gue belum tahu mana-mana, boleh ya Cia, gue laper tadi belum makan." ucap Rose sedikit memaksa.
Ticia tidak langsung menjawab. Dia menatap Varen yang seperti dalam suasana hati yang buruk. Ticia menggenggam tangan Varen lembut sambil menatapnya. Varen tahu apa yang ada dalam pikiran sang kekasih. Dia pun mengangguk pelan.
"Yaudah yuk!" ucap Ticia sembari berdiri.
Varen menggandeng tangan Ticia. Diikuti oleh Tika dan Rose dibelakang mereka. Dari belakang Rose bisa melihat betapa Varen sangat menyayangi Ticia. Sesekali Ticia akan bermanja dengan bergelayutan di lengan Varen. Sering kali juga Varen akan menyentuh kepala Ticia. Juga kadang memeluknya sambil berjalan.
"Gue jadi obat nyamuk, anj*r.." seru Tika dengan cemberut.
"Kalau butuh perhatian, ya minta sama Iqbal noh!" ucap Varen sambil tertawa melihat Tika manyun.
"Cieee, kak Tika sama kak Iqbal.." goda Ticia juga.
"Nggak ada, gue sama Iqbal pure cuma temen, jangan ngadi-ngadi deh!!" omel Tika sambil menjitak kepala Varen pelan.
"Kak Tika..." seru Ticia sambil menepis tangan Tika.
"Sakit yank.." Varen membungkukan badannya sedikit dan menempelkan dagunya ke pundak Ticia sambil merengek.
"Uluh..uluh sayank.." Ticia memgelus kepala Varen pelan dan dengan lembut. Tentu saja pemandangan seperti itu membuat Tika semakin mendengus, melihat keuwuan pasangan itu.
__ADS_1
"..." Disisi lain, Rose hanya menatap keuwuan Varen dengan kekasihnya. Sambil sedikit merapatkan bibirnya.