
Sikap Rosalinda berbeda dengan biasanya. Dia lebih pendiam kali ini. Saat Varen menawarkan makanan pun Rosalinda hanya menjawab singkat. Wajahnya juga cemberut terus.
"Rose, kenapa sih cemberut terus?" tanya Digta yang memperhatikan Rosalinda sedari tadi.
Tapi dengan cuek, Rosalinda tidak mengindahkan pertanyaan Digta. Sedangkan Varen hanya menoleh dan tidak menanyakan apapun kenapa Rosalinda tidak seperti biasanya.
"Cia, cakep banget sih lo?" seru Iqbal kepada Ticia yang duduk di meja yang tidak jauh dari mejanya.
"Nggak usah sok ngerayu, gue nggak bakal tertarik sama lo, gue nggak akan khianatin kak Tika." ucap Ticia dengan santai dan sambil memasukan makanan ke dalam mulut.
"Anj*r nih anak kepedean banget." Iqbal melempar bungkus makanan ke arah Ticia.
"Woi, lo pikir gue tempat sampah, lo lempar-lempar bungkus makanan ke gue!!" seru Ticia dengan marah.
"Emang bukan?" tanya Iqbal sambil tertawa.
"Bukanlah, kak Rafa noh, mirip tong sampah." jawab Ticia sembari terbahak.
"Nj*r kenapa gue jadi ikut-ikutan." omel Rafa. Sementara teman-temannya pada menertawakannya, termasuk Varen.
Sedangkan Rosalinda masih saja cemberut. Padahal teman yang lain pada bercanda. Rosalinda melirik ke arah Ticia yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Dia selalu kesal ketika melihat Ticia bisa tertawa lepas.
Rosalinda melirik Varen yang sedari tadi justru tidak memperhatikannya. Rosalinda kesal karena Varen sama sekali tidak peka.
"Cia, malam minggu jalan yuk!" seru Digta ikutan menggoda Ticia.
"Nggak mau, ntar gue di jambak Risma." jawab Ticia. Membuat teman-teman Digta tertawa. Karena mereka tahu, Digta dan Risma tidak pernah jadian. Risma hanya memanfaatkan Digta supaya bisa dekat dengan Varen.
"Enggak kok, gue ama Risma udah putus." ucap Digta lagi.
"Bentar-bentar, putus? sama Risma? Emang lo pernah jadian sama Risma?" tanya Rafa yang semakin membuat heboh.
Untuk menutupi rasa malunya. Digta memukul lengan Rafa sembari mengomel. Yang semakin membuat suasana menjadi heboh.
__ADS_1
"Lagian ngapa sih kalian pada berebut ingin kencan sama Ticia? Kayak nggak ada yang lebih cakep aja." ucap Iqbal dengan sedikit tersenyum. Maksud dari perkataannya memang ingin membuat Ticia kesal.
"Halah, bilang aja, kalau lo juga pengen kencan sama gue kan? Tapi sorry doi stoberi ini yak, gue udah ada janji, jadi monmaap, lo belum beruntung." ucap Ticia yang membuat Rafa dan Digta terbahak karena mereka akhirnya bisa ledekin Iqbal.
"Kampret emang lo!!" omel Iqbal sembari berjalan mendekat. Iqbal pun kemudian menarik kuncir Ticia. Maka terurailah rambut Ticia yang hitam dan lurus tersebut.
"Kak Iqbal!!" seru Ticia menoleh ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan Iqbal yang kesana kemari. Dan rambut indahnya pun ikutan tersibak kesana kemari mengikuti kemana arah gerakan kepalanya.
"Anj*m cantik banget," gumam Digta membulatkan matanya.
"Bidadari cuy.." gumam Rafa juga baru sadar betapa cantiknya Ticia.
Varen pun tak kalah terpesona melihat kecantikan Ticia. Akan tetapi, ketika melihat kedua temannya melongo sembari menatap Ticia. Varen pun menutup mata Digta dan Rafa supaya tidak bisa terus-terusan menatap Ticia.
"Jangan lihat!!" ucap Varen dengan kesal.
Saat itu Ticia berusaha mengejar Iqbal yang membawa lari kuncir milik Ticia.
"Kak Iqbal, kembaliin nggak!" seru Ticia berlari mengejar Iqbal.
Varen sempat menepis tangan Rosalinda. Dia tidak mau terlihat seperti lelaki cemen yang selalu nurut apa kata wanita. "Jangan berlebihan!" ucap Varen dengan sedikit marah.
"Kok jadi kak Gio yang marah? Harusnya gue yang marah!" seru Rosalinda dan orang-orang disekitar mampu mendengarnya dengan jelas.
"Ikut gue!" Varen menarik tangan Rosalinda dan membawa keluar dari kantin. Varen tidak mau pertengkarannya dengan Rosalinda diketahui oleh seisi kantin.
"Lepasin kak Gio, sakit!" erang Rosalinda sambil menarik tangannya yang digenggam erat oleh Varen.
Akan tetapi, tanpa menjawab dan tidak mau menurut. Varen terus menarik tangan Rosalinda. Varen membawanya ke halaman belakang sekolah. Disana sepi, jadi pertengkaran mereka tidak akan menjadi konsumsi gosip teman-temannya.
"Gue nggak suka orang yang berlebihan!" ucap Varen melepaskan tangan Rosalinda begitu mereka sampai dia halaman belakang sekolah.
"Gue berlebihan? Kakak mikir nggak sih tentang perasaan gue?" tanya Rosalinda dengan marah.
__ADS_1
"Kenapa gue dari tadi diam aja, dan kak Gio sama sekali nggak peduli." ucap Rosalinda dengan meneteskan air matanya.
Melihat Rosalinda menangis. Membuat Varen menjadi tidak tega. Dia pun akhirnya menekan kembali emosinya. "Jangan nangis, oke gue minta maaf, gue emang bukan cowok yang peka." ucap Varen mengusap air mata Rosalinda.
"Kak, gue cemburu. Gue nggak suka lihat kak Gio deket sama Ticia lagi. Kak Gio tolong hargai perasaan gue!" ucap Rosalinda lagi. Akhirnya Rosalinda mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Disisi lain.
Ticia akhirnya berhasil merebut kuncirnya. Ketika dia hendak kembali ke kantin. Tiba-tiba ayahnya menelepon. Ticia pun memilih halaman belakang sekolah yang sepi untuk menerima telepon.
Begitu dia selesai menerima telepon. Dia akan kembali ke kantin. Tapi ketika dia berbalik dari kejauhan dia tidak sengaja melihat Varen yang berpelukan dengan Rosalinda.
Seketika hati Ticia berdenyut. Dia merasakan sakit yang tak bisa dijelaskan di dalam hatinya. Ketika dia mengingat perkataan Varen tadi pagi. Ticia pun tersenyum kecut.
Posisi Ticia sebelumnya, ada di balik pohon besar. Jadi Varen maupun Rosalinda tidak bisa melihat Ticia sebelumnya.
Varen hendak mengulurkan tangannya. Akan tetapi kemudian dia mengurungkannya. Varen tidak menolak pelukan Rosalinda. Juga tidak membalas pelukan Rosalinda.
Ketika Varen melayangkan pandangannya. Dia melihat Ticia yang berdiri agak jauh dari tempatnya berdiri. "Cia!!" serunya.
Mendengar namanya dipanggil, Ticia pun mulai tersadar dari lamunannya. Dia kemudian menjadi salah tingkah. Ingin sekali menghindar tapi takut dituduh sengaja menguping. Akhirnya Ticia memutuskan untuk berjalan mendekat. Karena Varen dan Rosalinda berdiri di depan jalan untuk kembali ke depan.
"Maaf, gue nggak sengaja lihat, gue habis terima telepon dari ayah gue." ucap merasa tidak enak. Apalagi melihat pandangan tajam dari Rosalinda.
"Nggak apa kok," tanpa sadar Varen mendorong Rosalinda dari pelukannya. Tentu saja itu membuat Rosalinda membulatkan matanya. Dan juga membuat Rosalinda semakin benci sama Ticia.
"Gue balik ke kelas dulu!" ucap Ticia dengan sedikit gugup.
Varen pun mundur selangkah untuk memberi jalan kepada Ticia. Dengan langkah cepat Ticia meninggalkan tempat itu.
Melihat Ticia yang pergi tanpa menoleh ke belakang. Membuat Varen menjadi semakin galau. Dia yakin Ticia pasti akan salah paham terhadapnya lagi.
Rosalinda juga semakin kesal. Ketika dia melihat Varen yang terus menatap kepergian Ticia dengan wajah yang sedih. Rosalinda yakin jika Varen masih memiliki perasaan kepada Ticia.
__ADS_1
(Sial, udah hampir dua bulan, tapi kak Gio masih belum bisa lupain, cewek murah*n itu) gumam Rosalinda di dalam hati.