
Ticia datang bersama Anabella saat Digta sudah berhasil melewati masa kritisnya. Tika dan Varen yang memberitahunya.
Sama seperti yang lain. Ticia dan Anabella tidak melihat orang tua Digta di ruangan tersebut. Ticia pun sempat mikir yang nggak-nggak juga. Dia juga tahu tentang masalah yang dihadapi Digta akhir-akhir ini.
Satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh Ticia. Kalau Digta bisa melakukan hal yang senekad ini. Dari luar dia seperti orang yang cuek dengan semua hal, ceria, dan juga konyol.
Tapi beban hidup seseorang siapa yang tahu. Mungkin karena pandainya Digta menyimpan semua masalahnya seorang diri.
"Kak Digta jangan lagi lakuin hal bodoh gini yak! Jangan putus harapan, kan kak Digta masih punya sahabat-sahabat yang sangat sayang sama kak Digta." Ticia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Digta. Sementara Anabella sedang ribut dengan Iqbal, karena Iqbal yang terus saja mengganggunya.
Digta tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Kalau lo sayang nggak sama gue?" tiba-tiba Digta menanyakan hal konyol yang membuat Varen seketika melotot.
"Sayanglah. Tapi sebagai kakak," jawab Ticia sembari tersenyum.
"Kalau lo jadi pacar gue, mungkin gue nggak akan lagi lakuin hal bodoh ini."
"Gue hajar juga lo!" Ticia belum sempat menjawab, Varen sudah ngamuk duluan.
Melihat Varen yang tiba-tiba marah membuat Digta justru malah ketawa. Apa yang dia ucapin ke Ticia tadi hanyalah becandaan saja. Digta hanya ingin melihat ekspresi Varen jika ada seorang lelaki yang menyatakan cintanya ke Ticia, di depannya.
"Lo lihat kan, dia bucin banget ke lo. Nggak kasian apa lo gantungin dia mulu?" ucap Digta ke Ticia.
"Nggak usah ngaco deh," Ticia berusaha bersikap biasa saja.
"Lagian, siapa suruh mutusin gue." imbuh Ticia sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Iya gue minta maaf, kita balikan ya!" pinta Varen sambil berjongkok di depan Ticia.
"Nggak mau gue. Enakan jomblo, nggak ribet." Ticia kembali menolak permintaan Varen. Mungkin itu sudah permintaan yang kesekian kalinya. Dan juga penolakan yang kesekian kalinya.
"Lagian lo kan juga udah punya cewek yak?" tutur Ticia.
"Mereka hanya temen aja,"
"Temen jadi demen."
"Enggak, beneran cuma temen." Varen meyakinkan Ticia kalau semua wanita yang dekat dengan dia hanyalah teman.
"Cuma lo wanita yang mampu bikin gue jatuh cinta," Varen menatap Ticia yang mungkin sudah memerah wajahnya.
__ADS_1
Sementara teman-temannya yang lain, harap-harap cemas menunggu jawaban Ticia. Mereka ingin Ticia dan Varen kembali pacaran. Karena, mereka yakin jika pasangan itu masih saling mencintai.
Tok tok tok tiba-tiba suster masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin ke Digta. Ticia pun mulai bernafas lega. Setelah sebelumnya dia sangat tegang, dan hampir tidak bisa bernafas.
"Silahkan sus!" kesempatan Ticia menjauh dari Varen.
Akan tetapi, Varen tetaplah Varen yang tidak mau jauh dari wanita yang dia cintai. Varen mengikuti kemana Ticia duduk. Dia juga menunggu jawaban dari Ticia atas pernyataan cintanya kembali.
Sementara Ticia merasa risi karena Varen terus mengikutinya. Iqbal berjalan mendekat ke tempat tidur Digta. Dengan gaya sok cool, Iqbal memperkenalkan diri kepada suster yang masih muda itu.
"Hai sus, boleh kenalan nggak? Nama aku Joe," ucapnya yang hanya di balas senyuman oleh suster tersebut.
"Nama panjangnya, Jomblo sus," seru Ticia yang membuat semua orang tertawa.
"Anj*r bisa diem nggak sih lo! Orang lo juga jomblo," omel Iqbal serta sekalian mengatai Ticia.
"Sesama jomblo dilarang saling mendahului," sahut Anabella yang kembali membuat semua orang tertawa.
"Pantes kalian temenan, sama-sama songong." Iqbal mendengus mendengar ejekan Anabella.
"Biarin songong, yang penting cantik ya kan?"
"Tanya kak Varen kalau nggak percaya! Gue cantik nggak kak?" Varen dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Iya lo tanya Gio pasti dia jawab lo cantik, orang dia bucin sama lo, coba lo nanya Rafa pasti dia bilang nggak." Iqbal masih tidak terima Ticia memuji dirinya sendiri cantik.
"Cantik kok, lo cantik banget kaya bidadari," Ticia hanya menatap Rafa. Rafa sudah menjawab duluan.
"Kalau gitu gue pacarin lo aja, lo juga ganteng kok." Ticia akan mendekat ke Rafa. Tapi dengan cepat Varen menarik lengannya. Tidak membiarkan Ticia mendekati Rafa yang duduk di pojokan bersama Tika.
Melihat Varen yang sangat posesif, membuat teman-temannya tertawa. Mereka juga meledek Varen yang dulunya kulkas berjalan, sekarang menjadi lelaki bucin.
"Gue nggak nyangka bisa melihat Gio yang dulunya sering nolak cewek, sekarang dia jadi bucin gini." Rafa tertawa dengan bahagia.
"Tapi lo harus ngaku kalah sama gue, tadi Ticia bilang mau pacarin gue, ya kan Cia?" Rafa semakin ketagihan menggoda Varen.
Ticia menganggukan kepalanya dengan cepat. Varen pun semakin erat menggenggam tangan Ticia. Membuat Ticia kesakitan. "Sakit kak," keluh Ticia. Tanpa berkata, Varen seketika melonggarkan genggaman tangannya. Tapi tidak berniat melepaskan genggaman tangannya.
"Kalau gitu gue pulang dulu! Yuk An!" Ticia berpamitan.
__ADS_1
"Gue anter!" ucap Varen masih belum mau melepaskan genggamannya.
"Gue bawa mobil." dan Ticia masih berusaha menarik tangannya.
"Gue ikutin kalian dari belakang!" Varen tidak tega membiarkan Ticia dan Anabella pulang berdua tanpa seorang lelaki. Apalagi udah malam gini.
Ticia terlebih dulu mengantar Anabella pulang. Saat itu Varen terus mengikutinya. Dia tidak tenang melepaskan Ticia pulang sendiri. Meskipun Ticia membawa mobil. Tapi Varen ingin memastikan jika Ticia sampai rumah dengan selamat.
"Nggak mampir dulu?" Ticia tidak enak jika langsung menyuruh Varen pulang.
"Boleh?" Ticia menganggukan kepalanya. Kebetulan malam itu, ayah Ticia sedang ada kerjaan di luar kota. Jadi Ticia berani mengajak Varen mampir ke rumahnya.
Ticia dan Varen duduk di tepi kolam ikan. Sama seperti dulu, sewaktu mereka masih pacaran.
"Lo jadi dijodohin?" tanya Varen.
"Nggak. Gue udah mohon ke ayah, dan akhirnya ayah batalin perjodohan itu." jawab Ticia terus terang.
"Cia, lo masih cinta nggak sama gue?" seketika Ticia menoleh mendengar pertanyaan Varen.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kita itu sudah sangat jelas, jika kita memang ditakdirkan tidak untuk bersama." ucap Ticia seolah menghancurkan harapan Varen terhadapnya.
"Kasih gue kesempatan untuk memperbaiki semua! Please!" semakin Varen memohon semakin membuat Ticia kekeh untuk mengakhiri semuanya.
"Kita bisa jadi temen."
"Gue nggak mau." sahut Varen cepat. Dia ingin memiliki Ticia seutuhnya. Tidak mai hanya dianggap teman.
"Kalau gitu kita musuhan," Ticia beranjak, taoi dengan cepat Varen meraih tangannya.
"Jawab jujur! Lo masih cinta nggak sama gue?" Varen berdiri kemudian menatap mata Ticia dalam.
"Ya." jawab Ticia singkat. Dia tidak mau membohongi perasaannya. Tapi...
"Tapi cinta hanya mempertemukan kita bukan menyatukan kita. Gue cinta, gue sayang sama lo, tapi gue lebih sayang Tuhan gue." air mata Varen pecah mendengar perkataan Ticia.
Kenapa mereka harus berbeda. Kenapa mereka bertemu dan akhirnya jatuh cinta. Jika, pada akhirnya mereka harus terpisah oleh perbedaan tersebut.
Varen merasa jika semua ini tidak adil.
__ADS_1