Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
105. End


__ADS_3

Varen dan Ticia ke tepi kolam renang, tempat favorit mereka sewaktu mereka masih pacaran dulu. Semua orang memberi mereka ruang untuk ngobrol berdua.


"Kak, selamat ulang tahun ya, semoga kakak mendapatkan kebahagiaan, panjang umur, sehat selalu.." Ticia memberikan hadiahnya ke Varen.


Varen menerima hadiah tersebut dengan sangat bahagia. Dia buru-buru ingin membuka hadiah itu. Akan tetapi, Ticia memintanya untuk membuka hadiah itu setelah dia pulang.


"Makasih ya," ucap Varen tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Kak, apa jadi temen gue itu sangat menyiksa sih?" tanya Ticia tanpa basa basi lagi.


"Kakak beneran mau keluar negeri?" Ticia menatap Varen.


Varen kemudian menarik Ticia ke dalam pelukannya. Varen juga mengecup puncak kepala Ticia dengan lembut.


"Lo tahu gue nggak bisa jauh dari lo, gue pergi karena gue ingin kejar cita-cita gue." ucap Varen pelan.


"Meskipun kita tidak lagi pacaran, setidaknya kita kan bisa mendukung satu sama lain." ucap Ticia.


Varen sebenarnya tidak mau hanya berteman dengan Ticia. Lebih tidak bisa lagi jauh dari Ticia. Akan tetapi, dia juga ingin mengejar cita-citanya. Apalagi papanya juga sudah bayar semua kebutuhannya di luar negeri.


"Gue cuma pergi 3 tahun, gue harap waktu gue balik, lo masih mau berteman sama gue, kita juga masih bisa saling berhubungan melalui sosial media, atau melalui telepon." Varen kembali mengecup kepala Ticia.


"Gue nggak akan tertarik sama cewek-cewek bule kok, lo tenang aja." ucapnya dengan tersenyum.


Ticia mencubit pinggang Varen, kemudian mendorong Varen. "Tertarik juga nggak apa-apa! Kita kan masih bisa jadi saudara." ucap Ticia.


"Lo jangan pernah lupain gue!" pinta Varen.


"Jangan sembarangan milih pacar, pokoknya cari pacar yang bisa hargai lo, jangan yang kasar kayak si brengs*k yang pernah tampar lo itu." wejangan Varen buat Ticia. Meskipun dia merasakan sakit ketika mengatakan pesan itu ke Ticia. Masih belum rela, jika Ticia harus dimiliki laki-laki lain. Tapi dia juga tidak bisa melupakan jurang perbedaan itu.


"Lo juga jangan sembarangan milih pacar! Cari yang baik dan tulus, yang sama orang tua lo, dan yang paling penting, seiman." sama seperti Varen, Ticia juga merasa sakit ketika mengatakan hal itu. Apakah dia bisa rela melihat Varen bersanding dengan orang lain.


Varen menatap Ticia dalam. Dia berpikir, apakah dia bisa membuka hatinya lagi untuk wanita lain. Yang pasti, dia tidak akan pernah bisa melupakan Ticia seumur hidupnya.

__ADS_1


Karena wanita itulah, dia mengenal apa itu cinta. Karena wanita itu juga, dia bisa menjadi dirinya sendiri yang konyol dan manja.


"Iya, nanti kalau gue pedekate, gue tanya pendapat lo dulu deh, kalau lo nggak cocok, ya gue nggak akan terusin, tapi kalau lo cocok, gue bakal ikutin saran lo." ucap Varen sembari tersenyum.


"Janji jangan pernah lupain gue!" Varen mengangkat jari kelingkingnya. Ticia pun menganggukan kepalanya dan mengaitkan jari kelingkingnya juga.


"Mintalah gue kepada Tuhan lo, sebaliknya, gue akan minta lo pada Tuhan gue, doa kita beda, tapi akan bertemu pada amin yang sama." ucap Ticia terisak. Varen tidak bisa menahan kesedihannya. Dia memeluk Ticia lebih erat dari sebelumnya.


Seandainya ada jalan lain. Dia ingin melewatinya bersama. Meskipun harus putar balik, dan prosesnya lama.


Hal paling menyakitkan dalam hidup, bukan karena kita berpisah karena pengkhianatan. Tapi terpisah karena perbedaan, disaat hati masih saling mencintai.


Keesokan paginya, Ticia mengantar Varen ke bandara. Dia tidak bisa menahan rasa sedihnya. Bahkan dia juga menangis, membuat Varen menjadi tidak tega.


Varen juga harus menenangkannya kembali. "Jangan nangis, nanti gue sedih!" ucap Varen memeluk Ticia.


"Gue janji, kalau ada libur, gue bakal balik buat jengukin lo." ucap Varen lagi.


"Gi, pesawat kamu udah mau landing," ucap papanya mengingatkan Varen.


"Iya pa," Varen masih belum tega melepaskan pelukannya. Apalagi Ticia yang masih terus menangis.


"Gue pamit, tolong jagain Ticia ya!" ucapnya ke teman-temannya yang tidak kalah sedih dari Ticia.


"Jangan lupain kita ya Gi!" ucap Iqbal yang sudah meneteskan air matanya.


"Nggak akan. Kalian sahabat terbaik gue, hari ini, besok, dan selamanya." ucap Varen membuat suasana semakin mengharukan.


"Tik, jangan nangis lagi! Tolong jagain Ticia buat gue ya!" ucap Varen kepada Tika yang tidak henti-hentinya menangis dari kemarin, sampai matanya bengkak.


"Nggak mau, biarin aja Ticia punya cowok lain, siapa suruh lo tinggalin dia." ucap Tika dengan tersedu.


"Ya, nanti gue juga bakal cari pacar bule." goda Varen. Tapi tiba-tiba mendorongnya. Menyadari jika Ticia tidak suka, dia pun tertawa dan kembali memeluk Ticia.

__ADS_1


Varen menangkup kedua pipi Ticia. Menatapnya lekat. Wajah itu yang akan dia rindukan beberapa tahun ke depan. Wajah itu yang membuatnya kuat menghadapi hidup yang mungkin tidak sesuai kenyataan ke depannya.


"Gue pamit dulu, jaga diri lo baik-baik!" Varen kemudian mencium bibir Ticia di depan teman-teman dan kedua orang tuanya.


"Gi!!" Darwis sebenarnya tidak mau menggangu moment anaknya. Tapi dia takut akan ketinggalan pesawat.


"Gue berangkat, doain supaya sampai tujuan dengan selamat." Varen berjalan meninggalkan Ticia dan teman-temannya. Langkahnya berat, tapi dia harus pergi.


"Kak Vava..." Ticia berlari ke arah Varen dengan air mata berderai. Varen berbalik dan menangkap Ticia yang melemparkan dirinya ke dalam pelukannya.


"Jaga diri ya kak, jangan lupain adik lo yang imut ini." ucap Ticia tersedu dalam pelukan Varen.


"Iya bawel.. Nanti kalau udah sampai, gue kabarin lo." ucap Varen lagi.


Ticia menganggukan kepalanya. Dengan berat hati dia harus melepaskan Varen mengejar cita-citanya. Lagipula cinta itu juga telah berakhir. Yang tersisa hanyalah kenangan yang mungkin tidak akan pernah bisa mereka lupakan.


**Buka lembaran baru untuk hubungan yang baru. Yaitu, hubungan pertemanan. Saling mendukung, saling mendoakan, dan saling peduli.


Kenangan yang pernah terjalin akan menjadi album memori di dalam hati. Tersimpan rapi dalam relung sanubari. Cinta yang pernah terjalin, tidak akan mudah untuk terganti.


Cinta itu tulus. Tapi perbedaan itu nyata. Jalannya juga tidak sama. Terbentang jauh jarak pemisah, sangat jauh..


Tapi doa dalam hati, selalu inginkan yang terbaik untuk kebahagianmu. Terima kasih pada cinta, yang telah mempertemukan kita pada rasa yang mendalam dalam dada.


Cinta hadir hanya untuk mempertemukan bukan untuk menyatukan. Bukan karena diatas perbedaan, tapi karena keyakinan.


Terima kasih untukmu, yang telah hadir dalam hidupku. Memberikan warna dan cinta dalam hidupku. Biarkan pelangi terus berwarna-warni. Seperti cinta yang tersimpan rapi dalam hati. Biarkan dia terus menghuni relung hati.**


Varen meneteskan air mata membaca surat yang ada di dalam kotak hadiahnya. Dia menggenggam erat surat itu selama di dalam pesawat.


"I love you, forever.." gumam Varen sembari mengusap air matanya yang netes di pipinya.


"Cinta ini akan tersimpan rapi di hati. Lo adalah kenangan terindah dalam hidup gue, semoga lo juga mendapatkan kebahagiaan. Terima kasih untuk cerita singkat kita." gumam Varen di dalam hati. Mungkin saat itu dia bisa dengan lapang dada menerima kenyataan. Jika dia dan Ticia tidak akan pernah bisa bersatu.

__ADS_1


__ADS_2