
Setelah membayar mereka pun mulai lapar. Papanya Varen mengajak Varen dan Ticia makan malam sekalian. Sebelumnya dia sudah menghubungi pacarnya kalau mereka akan makan malam di Mall tersebut.
Varen melirik jam tangannya. Dia baru sadar kalau dia belum sholat mahrib. Dan sekarang juga sudah lewat jam sholat isya'.
"Kak Vava belum sholat kan?" Ticia sangat peka dengan gerak gerik kekasih. Begitu Varen melirik jam tangannya dengan sedikit terkejut. Ticia menyadari jika lelaki tersebut lupa sholat. Mungkin karena di dalam Mall tidak bisa terdengar suara adzan.
"Iya, gue sholat dulu ya!"
"Pa, Gio mau sholat, papa sholat sekalian yuk!" ajak Varen.
Papanya Varen kembali terdiam. Dia juga sama seperti Varen dulu. Dia lupa kapan terakhir dia sholat. Mungkin sejak istrinya pergi, papanya Varen sudah tidak lagi menjalankan ibadahnya dengan baik.
"Ayok pa!" Varen menarik tangan papanya, membuat papanya seketika tersadar dari lamunannya.
"Lo tunggu disini bentar ya yank!" ucap Varen kepada kekasihnya.
"Leticia nggak sholat sekalian?" tanya papanya.
"Leticia kristen pa." jawab Varen masih menarik tangan papanya.
Sekitar lima belas menit kemudian Varen dan papanya sudah kembali ke tempat dimana Ticia menunggu. Lalu mereka ke restaurant yang ada di Mall tersebut.
"Hai Jane, sudah lama?" papanya Varen menghampiri seorang wanita paruh baya bersama seorang gadis berkacamata.
Varen sempat mengerutkan keningnya. Varen kenal dengan wanita tersebut. Wanita itu adalah salah satu teman mamanya. Varen tidak curiga sama sekali dengan kedekatan papanya dengan wanita tersebut. Varen mengira jika mereka bertemu secara kebetulan.
"Gio, kamu udah gede nak,," ucap wanita bernama Jane tersebut.
"Iya tan," sapa balik Varen.
Varen mulai curiga tatkala papanya memintanya untuk makan bersama dengan Jane dan anak gadisnya. Tapi Varen masih belum bisa menebak dengan tepat. Tebakan Varen ialah, jika dia akan dijodohkan dengan anaknya teman mamanya.
__ADS_1
"Kamu masih ingat Rosalinda, Gi? Anaknya tante?" tanya Jane sembari memperkenalkan anaknya.
"Iya, masih.." jawab Varen dingin.
"Oh ya, ini?" Jane menunjuk Ticia yang sedari tadi terdiam.
"Pacar aku, Leticia." jawab Varen cepat.
Makan malam tersebut terasa begitu aneh buat Ticia yang adalah orang luar. Ketika membicarakan masa lalu, Ticia hanya menjadi pendengar saja. Akan tetapi, Varen tidak ingin pacarnya merasa jenuh. Dia berulang kali menggenggam tangan Ticia dengan selalu mengajaknya bercanda.
Rose, bernama asli Rosalinda. Menatap Varen dengan lekat. Rose kagum dengan ketampanan Varen. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Tapi memang jarang ketemu. Dan dari kecil juga Rose sudah menyukai Varen. Anak lelaki yang pemberani dan selalu ceria.
"Gi, Rose ini baru pulang dari rumah neneknya, rencananya dia akan menetap disini dan akan sekolah di SMK yang sama dengan kamu.." ucap papanya Varen seolah dia tahu segalanya tentang Jane dan anak perempuannya.
"Ya sekolah aja sih pa, kenapa harus laporan Gio?"
"Ya, papa cuma mau kamu jagain dia di sekolah nanti, karena kalian akan jadi saudara." ucapan papanya Varen seketika membuat Varen kaget dan menghentikan tangannya yang hendak memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Saudara? Maksudnya?" Varen bertanya dengan serius. Bahkan raut wajahnya mulai berubah masam. Dipastikan jika dia sebenarnya tahu maksud dari ucapan papanya. Tapi dia hanya ingin mengkonfirmasi dugaannya.
"Papa mau nikah sama tante Jane." jawab papanya Varen dengan yakin, seolah yakin jika Varen tidak akan menolak ide papanya.
"Nikah? Sama tante Jane? Terus mama?" Varen terlihat sangat kecewa dengan keputusan papanya.
"Mama kamu sudah pergi, nggak tahu sekarang ada dimana, dia nggak peduli sama kamu-"
Brakkk.. Varen menggebrak meja karena marah. "Mama orang yang paling mencintai Gio, terus papa pikir, papa peduli sama Gio?" Varen tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Papa sayang sama kamu, kamu anak papa satu-satunya, kamu kelanjutan hidup papa, nak.." ucap papanya berusaha menenangkan amarah anaknya. Sebelumnya papanya Varen juga sudah memprediksi. Tapi dia terlalu yakin jika Varen akan mengesampingkan ego-nya untuk papanya.
"Sejak kapan papa sama tante Jane pacaran? Apa waktu mama masih ada kalian udah pacaran? Apa karena ini mama pergi ninggalin aku?" tanya Varen sedikit berteriak karena terlalu marah.
__ADS_1
Dia berpikir papanya tulus mengakui kesalahannya siang tadi. Dan berusaha menebusnya sekarang. Tapi ternyata semua itu sudah di rencakan sebelumnya.
"Tante pasti sudah godain papa aku kan? Tante gatel banget sih! Dari sekian banyak pria, kenapa harus papa aku sih, yang jelas-jelas suami dari teman dekat tante!" ucap Varen dengan marah.
"Gio!! Jangan kurang ajar sama tante Jane!! Mama kamu pergi karena-"
"Mas!" Jane memotong ucapan papanya Varen, dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Karena apa pa? Karena papa ketahuan selingkuh dengan wanita gatel ini,"
Plakkkk.. Untuk kesekian kalinya, papanya Varen menampar Varen di depan umum.
"Ah.." Ticia berseru karena kaget dengan tindakan papanya Varen. Di depan umum papanya tega memukul anaknya sendiri.
"Jaga mulut kamu!! Mama kamu pergi karena dia ketahuan selingkuh.." seru papanya Varen.
Jleb... Varen membulatkan matanya mendengar perkataan papanya. Varen tidak percaya dengan apa yang papanya ucapkan. Dia yakin mamanya bukan wanita seperti itu. Varen bisa melihat jika mamanya sangat mencintai papanya.
"Mama kamu tega selingkuhin papa, padahal papa sayang banget sama mama kamu, kamu juga tahu itu.." lanjut papanya Varen dengan sedih. Sedih atau mungkin menyesal telah memukul anaknya lagi.
"Sampai kapanpun Gio nggak akan setuju papa nikah sama orang lain.. Dan lagi, Gio nggak percaya dengan apa yang papa bilang!" ucap Varen lalu menarik tangan Ticia untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Gio!!!" seru papanya tapi Varen sama sekali tidak menoleh. Bahkan dia meninggalkan sepatu yang dibelikan oleh papanya tadi.
"Udah biarin Gio tenang dulu mas!" Jane menahan tangan papanya Varen yang hendak mengejar Varen. Dari raut wajahnya terlihat jelas jika papanya Varen merasa sedih. Apalagi saat dia melihat sepatu yang ia belikan untuk anaknya ditinggal di meja makan tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan? Dia pasti sangat marah dengan kenyataan ini?" ucap papanya Varen dengan wajah menyesal. Selama dua tahun dia menutup rapat-rapat rahasia dibalik kepergian istrinya. Supaya Varen tidak akan terluka dengan kenyataan tersebut. Tapi semakin lama kamu menyimpan bangkai. Baunya akan tercium juga.
"Biarin Gio menenangkan pikirannya dulu! Sekarang kita makan aja dulu!"
"Kamu aja sama Rose yang makan, aku nggak laper.." dalam keadaan seperti itu papanya Varen sama sekali tidak punya napsu untuk makan. Dia kepikiran dengan anaknya yang terlihat sangat kecewa tadi.
__ADS_1