Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
71. Nasehat Tika Untuk Varen


__ADS_3

"Gi, kamu nggak main?" tanya Dina kepada anaknya yang sedang malas-malasan di kamar.


"Nggak ma, Gio males kemana-kemana." jawab Varen menoleh ke arah mamanya yang masuk ke kamarnya.


"Ada Tika tuh di bawah." ucap Dina.


"Tika? Sama siapa?" Varen terkejut mengetahui Tika ada di rumahnya. Dia memicingkan matanya, sudah lama juga Tika tidak main ke rumahnya.


"Sendiri."


"Ticia kok udah nggak pernah main kesini?" Semenjak memutuskan kembali dengan suaminya. Dina selalu tinggal di rumah itu, hanya akan meninjau restonya setiap akhir pekan. Tapi, selama itu dia belum pernah melihat Ticia main.


"Gio udah nggak sama Ticia kok ma, Gio saat ini dekat sama Rose." jawab Varen dengan raut wajah sedih.


"Kamu beneran mau terima perjodohan itu?" Dina merasa kasihan melihat kesedihan anaknya. Mungkin karena itu juga, Varen selalu murung akhir-akhir ini.


"Nggak tahu ma, tapi Gio akan berusaha menerima Rose."


"Nak, sebenarnya kamu nggak harus menanggung semua ini. Karena semua yang terjadi antara papa kamu dan tante Jane, itu karena ulah tante Jane."


"Maksud mama?" Varen menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tante Jane yang udah fitnah mama, sehingga membuat mama dan papa bertengkar hebat." ucap Dina tanpa menutupi apapun lagi dari anaknya.


"Jadi papa kamu marah ke tante Jane, dia akan memaafkan tante Jane sebagai ganti kompensasi yang papa kamu janjikan." lanjut Dina.


"Jadi?"


"Jadi jika kamu menolak perjodohan itu, papa dan mama tetap akan kembali rujuk, karena kita masih saling mencintai." jawab Dina sembari memegang kedua pipi anaknya. Dina berharap apa yang dia katakan itu bisa membuat anaknya kembali bersemangat.

__ADS_1


Tapi ternyata Varen malah menjadi sedih. "Gio sama Ticia udah putus, dan sekarang Gio dekat sama Rose. Gio harus gimana ma? Gio nggak mau sakitin Rose, terlepas dari perbuatan jahat mamanya, Rose adalah orang yang paling mencintai Gio." ucapnya sedih.


"Tanyakan pada hati kamu, apakah kamu menyukai Rose atau kamu hanya merasa berterima kasih aja. Apapun keputusan kamu, siapapun yang menjadi kekasih kamu, mama hanya akan mendukung kamu." Dina menatap anaknya yang jelas sedang gundah gulana.


"Gio cinta sama Ticia, tapi Ticia tidak pernah mencintai Gio." ucap Varen dengan sedikit marah.


Sementara Dina hanya memeluk anaknya tanpa berkata sepatah katapun. Dia tahu anaknya sedang marah. Jadi dia tidak mau membela akannya, karena itu akan membuatnya jadi besar kepala. Juga tidak mau membela Ticia, karena itu akan membuat kecewa anaknya.


Dina lebih memilih untuk diam adalah emas. Meskipun dia sendiri ragu dengan apa yang diucapkan anaknya. Karena, Dina melihat dengan mata kepalanya sendiri. Betapa perhatiannya Ticia kepada anaknya. Dina bisa melihat cinta yang besar dari Ticia untuk anaknya.


Tak berlama-lama lagi. Varen pun beranjak dari tempat tidurnya. Dia tidak mau membuat Tika menunggu begitu lama.


"Tumben lo kesini? Sendiri lagi," ucap Varen begitu menuruni anak tangga. Dia melihat Tika yang sedang mainan hape di ruang tamu rumahnya.


"Kangen gue ama lo, semenjak punya pacar baru lo jarang kumpul sama kita." ucap Tika sedikit memonyongkan bibirnya.


"Udah seminggu lebih gue nggak pernah keluar rumah kecuali sekolah. Males." jawab Varen sambil melemparkan diri di sofa empuk di sebelah Tika.


"Lah, masa nggak pacaran gitu sama Rosalinda?" tanya Tika sengaja memancing Varen.


"Nggak, sebenarnya gue ama dia belum jadian sih, gue cuma bilang kalau gue akan berusaha buka hati gue buat dia." Varen berkata dengan lesu.


"Lah lo php-in dong anak orang? Tega lo."


"Dia minta kesempatan buat deket sama gue, dan karena gue juga jomblo ya gue iyain aja. Meskipun sebenarnya gue kasihan sih sama dia, karena sampai sekarang gue masih belum bisa buka hati gue buat dia."


"Lo masih suka sama Ticia?" tanya Tika yang membuat Varen seketika menjadi terdiam.


Lama. Dan cukup lama Varen terdiam. Tanpa dia harus menjawabpun, Tika pasti sudah sangat paham dengan dirinya.

__ADS_1


"Dia nggak pernah cinta sama gue." lirih Varen setelah sekian lam terdiam.


"Dia hanya merasa kasihan sama gue, dia nggak benar-benar suka sama gue, dia cuma mainin perasaan gue." semakin Varen berkata, semakin dia akan merasakan sakit. Dan semakin lama nada bicaranya pun terdengar seperti orang yang sedang marah.


"Hanya karena dia melarang lo pindah agama, terus lo mikir kalau dia mainin perasaan lo?" tanya Tika dengan tersenyum sinis. Betapa konyolnya lelaki yang pernah membuatnya jatuh cinta itu.


"Dia berkorban terlalu banyak untuk lo!" ucap Tika sedikit ngegas.


"Apa yang dia korbankan? Dia mutusin gue disaat gue sedang merasakan dilema antara memilih dia atau keutuhan keluarga gue." Varen semakin marah, bahkan dia berkata dengan sedikit berteriak.


"Dia korbanin perasaannya supaya keluarga lo bis bersatu kembali. Dia sama kayak lo, dia dihadapkan pada pilihan yang sulit, tapi dia tidak egois, dia memilih mengorbankan cintanya." Tika tidak mau terpancing emosinya hanya karena teriakan Varen. Dia sebisa mungkin membuat Varen untuk menekan emosinya.


"Lo bilang dia mainin lo karena dia melarang lo pindah agama? Lo mikir nggak, lo aja bisa ninggalin Tuhan lo, bukan tidak mungkin suatu saat lo juga bisa tinggalin dia."


"Dengerin ini!" ternyata Tika merekam pembicaraannya dengan Ticia beberapa hari yang lalu saat dia main ke rumah Ticia.


Harus diakui jika tindakan itu termasuk jenius. Mengingat Varen adalah orang yang sangat keras kepala. Maka Tika merencanakan semua itu, untuk membuktikan jika dia tidak memihak salah satu dari mereka. Tapi mendukung mereka berdua.


Varen mendengarkan rekaman itu secara seksama. Dia bisa yakin jika suara tersebut memang suara Ticia. Dia sangat hapal dengan suara wanita itu meskipun dia tidak melihat wajahnya.


Karena suara wanita itulah yang menemaninya selama lebih dari enam bulan, setiap malamnya.


Senyuman mengembang di wajah tampannya ketika mendengar jika Ticia mencintai dirinya. Tapi sesaat kemudian, wajah tampan itu berubah menjadi sedih. Disaat mendengar suara Ticia yang serak, karena menahan air matanya. Apalagi saat Ticia menguntaikan doa untuk hubungannya dengan Rosalinda.


Varen tidak bisa mengendalikan sesuatu yang menusuk di dalam hatinya. Dia mencengkeram dadanya yang terasa sangat menyakitkan. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi wajah tampannya.


"Dia lakuin semua demi lo. Dia sangat mencintai lo." ucapan Tika itu semakin membuat Varen tersedu.


"Gi, gue nggak mau maksa lo buat balikan sama Ticia. Karena sekarang lo sudah sama Rose, dan semua orang tahu itu. Gue cuma minta supaya lo sama Ticia tidak saling membenci satu sama lain. Meskipun tidak bisa balikan, setidaknya kalian masih bisa berteman." nasehat Tika untuk Varen.

__ADS_1


__ADS_2